Skip to main content

Tiga bulan pertama hidup di luar Indonesia

Gw kira rasanya akan sama aja. Ada rasa kangen ya wajar karena jauh dari tempat yang selama ini kita sebut familiar. Tapi ternyata ada rasa rindu yang pukulannya berbeda.  Di kasus gw, gw cuma kenal satu orang Indonesia. Beliau bilang kalau mau temen jalan-jalan bisa lah berkabar biar jalan bareng. Tapi karena gw ada kerja dari senin-jumat, sedangkan beliau nggak, jadinya waktu kami seringkali nggak pas. Sedangkan di akhir pekan, gw habiskan bersama suami.  Bulan pertama masih terasa integrasi. Berusaha mengenal supermarket mana yang jual apa. Cari ini itu di mana. Menghafal jalur transportasi umum. Mengenal, membaca dan memahami nama daerah atau tempat dari huruf cyrilic-nya untuk sekedar "kalau nyasar, bisa kasih tau suami lagi ada di mana" karena seringkali online maps dihambat pemerintah.  Bulan kedua sudah mulai mengenal banyak hal. Sudah punya kartu atm untuk pembayaran. Visa panjang juga sudah di tangan. Mulai berhati-hati dengan banyak hal, mana yang boleh mana ya...

The Spell of the Ocean

Vavuu atol

Someone once told me that he couldn't live far from the beach and ocean. Wherever he lives, it must be somewhere next to the beach. Preferably 10 mins walking. I didn't get that until I feel it myself. 

Holy shit! When did I fall in love with the beach?

Grew up in Malang, they don't have calm beaches. They have only southern beaches, with crazy waves and deadly ones. Never crossed my mind that I'd fall in love with beaches. Too noisy, too crowded, I don't like it. Because the beaches there are always so crowded with people. Then I moved to Bali, living practically close to the beach. Only 3 KM from Sanur. The first time I came to Sanur, I fell in love with that beach from first sight. 

I do love Seminyak beaches too, the sunsets are always crazy beautiful, but it's pretty far. For many people, Sanur may not be that special but for me it is. I can feel the energy whenever I need to recharge myself. It's always sweeping away my negative thoughts/energy. I always come here when I need to get any positive energy. 

I believe that the universe provides energies around. Of course, you can't create the energy and you can't destroy energy. That's why I pick it up when I need it. I became more sensitive about everything (not moody, it's a different thing), I absorb energy pretty quick like a sponge now. So when I feel burdened with energies that are not mine, I visit the beach. Need to release the negative ones. 

The wind, the wave crashing slowly, the blue sky, the quietness, it's all making me feel that I am blending in with nature. Make me feel at peace somehow. This beach is just so natural that it become part of my life. Not something that I'd visit only when I am on holiday kind of thing (like the beaches in Malang).

Maldives

Then I went to the Maldives to finish my Open Water Diving course. I hated it. Really. But, the moment I went down to 5 meters then 8 meters and then 10 meters going on to 12 meters swept away to 16 meters and 22 meters... I realized something new. I couldn't hear any noise but the bubbles of carbon dioxide that came out from my mouth. Blub blub blub... I hear nothing else. Nothing. Else. I didn't even terrify of going down deeper than 10 meters.

Sure, let's not forget about the current inside. That's kind of creepy somehow. Or any poisonous creatures that I won't recognize because there are a lot of them that look so innocent and cute. Also, I need to learn how to take better photos and videos underwater. Nevertheless, I fell in love with diving for reasons. 

H loves to dive because of the underwater creatures. Yea of course they are cute, unique, and awesome. But I fell in love with diving because it offers a quiet world for me. The world is so quiet, so nice, it's really a different place compared to the land. It's a whole new world for me. Complete escape said somebody to me.  It is so addictive! 

My brain tends to be so noisy. I am getting much more sensitive to the lights and sounds. While diving, the underwater world, offers me something I really need (or want). Quietness, stillness. I didn't even feel the need to plan things ahead. I really enjoyed the moment and being present while I was deep underwater. I would probably say that the ocean cast a spell on me lol. I am in love with it. 

Though I can't even swim! UGH, I'll work on it. It should be easy, right?

Now I understand what he meant. I get it now. 

So... do you like them both like I do?

Comments

  1. Hey there. Thanks for stopping by :) So, you do like diving eh?

    ReplyDelete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Jumat ceria

Hari ini memang bukan hari jumat, tapi cuman mau bilang aja sih kalo hari yang paling aku tunggu-tunggu itu hari jumat. Why?   Karena jumat itu selalu ceria, kalopun ada meeting besar pasti di hari jumat dan banyak cemilan, orang-orang pada berangkat sholat jumat, yang nasrani juga mengikuti misa di kantor, bisa pake baju bebas dan bebas berekspresi sepuas-puasnya, dan..... bisa video call sepuasnyaaaaaa kapanpun karena dia libur kerja 😍😍 gambarnya lucu 😁  taken from internet

Melewati Pusuk Pass, Lombok

Kembali ke Pulau Lombok setelah dari Gili Air, kita pun 'turun' gunung menuju daerah selatan. Kita pun melewati Pusuk Pass atau orang suka bilang monkey forest. Tadinya sih dikira kayak kita masuk hutan trus yang banyak monyetnya, tapi ternyata jalanan pinggir tebing yang ada banyak monyet main-main disana. Sama persis kayak jalanan kearah rumah nenek. sampahnya nggak seharusnya disitu ya? Berhentilah kita disana. Takutnya monyetnya kayak yang di Bali itu, yang suka nyuri, eh ternyata nggak sih. Monyetnya anteng diem, makan mulu. Salah satu kesalahan pengunjung adalah memberikan makanan ke si monyet-monyet. Nggak apa sih kasih makan tapi plastiknya ya jangan dibuang disana juga lah. Sebenernya bukan dibuang disana sih, tapi monyetnya aja yang narik ngambil plastik makanan disana. Jadilah disitu kotor semua gara-gara plastik sisa makanan tadi. Eh namanya monyet ya masa iya bisa dikasih tau, 'hey monyet jangan buang sampah sembarangan!', kan ya nggak mun...

Selamat hari guru

Saya pernah lho jadi pengajar, and I found myself in it. Ya kurang lebih 2 tahunan lah saya mengajar. Awalnya sih nggak mau ngajar, karena malu dan nggak bisa ngomong didepan umum. Eh setelah dicoba ternyata keranjingan. Tapi saya nggak mau disebut sebagai guru, kenapa? Berat banget artinya. digugu lan ditiru, kalo kata orang Jawa. Dalem kan artinya? dijadikan sebagai seorang panutan, contoh dan teladan. Alesan lain nggak mau disebut guru karena saya masih doyan petakilan, kalo jadi guru kan kudu kalem ahaiiii. Saya nggak kalem. Saya lebih suka menyebut diri saya pendidik (educator) kala itu, bukan pengajar (teacher). Meskipun secara arti kayaknya lebih berat pendidik deh ya, tapi saya nggak mau aja related sama pengajar yang nggak memperdulikan anak didikannya, nggak menjaga moralitas dan tata krama anak didiknya, saya nggak suka meskipun nggak semuanya lho. Nggak semua, catet, nggak semua! Karena sebagai pendidik memberikan saya tanggung jawab lebih kepada anak didik saya.  ...