Skip to main content

Getting my Hands on Film Camera

In attempts to slow_myself_down_away_from_digital_life, I am getting my hands on film camera. Yes, the kind of camera where you need to put the film roll in and then start snapping. If you are lucky, the pictures will turn up good but if not then we let the fate decide. This is not my first rodeo on using film camera, but it definitely the first ever to buy the film and develop it using my own money. It is not cheap, which I know.  What can I say, it's an expensive hobby.  I used my first film roll to take photos of my favorite people. So it has more human than random pictures. It was on family event. After the last shot, I wanted to develop it before I flew to Bali but they had no lab. Luckily we have the lab in Bali. I developed and scanned the film in Ojisanfilmlab Bali. They're just a google away. They sell the roll as well. I had to tell the TSA to do the hand checking rather putting it through the scanner. They understood.  Cimol hides himself in his favorite spot ...

Cerita Karantina di Hotel

Cerita karantina selanjutnya 2 kali di hotel. Kali ini, semuanya berjalan lebih terkoordinir. List hotel karantina bisa dilihat di sini. Jadi nggak ada lagi drama nggak diladenin karena ina inu. Tinggal pilih hotel, hubungi hotel via WA atau email, kirim dokumen yang diperlukan, lalu kita dapat QR code yang nantinya ditunjukkan ke pihak bandara. 

Karantina pertama kali di hotel gw bulan September kalau nggak Oktober 2021 dan bulan Januari 2022. Gw pesen di dua hotel berbeda. Karantina di hotel pertama dapet rejeki cuma 3 hari, jadi biaya yang dikeluarkan juga nggak sebanyak kemaren yang 7 hari. 

dipakein gelang rumah sakit, dilepas pas check out.

Nah, alurnya secara detail ada yang berubah sedikit tapi secara garis besar masih sama. Begitu datang, urus dokumen ini itu, lalu kita di PCR di lokasi. PCR ini hasilnya didapat dalam waktu 1 dan 2 jam karena ada dua lab yang berbeda. Waktu pertama kali gw karantina, gw harus nunggu hasil di bandara sebelum diangkut ke hotel. Tapi karantina kedua gw langsung diangkut ke hotel. Kata pihak hotel, "Ya kalau ibu tdk ada telpon atau kabar dari pihak hotel artinya tes ibu negatif. Kalau positif ya ibu harus karantina, dengan ambulan sendiri seharga 900ribu. Bayar sendiri." Ini buat hotel yang katanya di luar wilayah Jakarta. Kalo di dalem gw nggak tau ya. 

Lah setelah dijemput, dianter ke hotel, udahlah mulai sudah kita karantina. Karantina ini paketnya sama, makan 3x sehari, laundry 5pc sehari, 2x tes PCR, transport dari bandara ke hotel (dan sebaliknya kalau hotel dekat bandara, kalau jauh nggak ada). Percayalah, makanannya ENAK BANGET. Padahal di hotel yang beda ya, tapi kateringnya beneran enak banget. Suka aja gw mereka bener-bener serius. 

Isi makanannya pasti makanan inti yang terdiri dari 2 menu utama (misal ayam dan daging, ikan dan ayam, ayam dan daging, seafood dan daging, dll), nasi, buah atau makanan penutup, dan minuman seperti jus atau teh. Isinya nggak kaleng-kaleng. Banyak banget. Kalau di wisma satu menu aja cukup, kalau di hotel 2 menu utama tiap jam makan. 

Pasti kenyang. Nggak mungkin laper.

Lalu kamar tidak dibersihkan, tapi ada juga yang dibersihkan. Tergantung hotel sih ini. Nah bentukan hotel beda-beda ya. Ada yang nggak ada jendela sama sekali, ada yang pakai jendela tapi nggak bisa dibuka. Ada yang pake balkon. Jadi sesuaikan aja lah dengan kebutuhan. Yang jelas dikarantina 7 hari tanpa udara segar itu nggak enak sih. 

Nggak boleh dijenguk (YAIYALAH), nggak boleh order makanan atau barang online juga ya via ojol, nggak boleh ngapa-ngapain kalau dari luar pokoknya. Jadi pastikan pas karantina udah bawa barang yang diperlukan buat karantina. 

Beda dari wisma atlet, kita masih bisa keluar kamar jalan-jalan singkat, cari udara seger lah ya, tapi di hotel nggak boleh keluar kamar. Keluar kamar boleh ketika tes PCR sehari sebelum check out. Ini pun juga sama. Kalau negatif nggak bakal dikasih tau hasilnya. Jadi siap-siap aja jam 9 pagi buat telpon hotel buat check out. Karena hasil PCR ada di hotel maksimal jam 9 pagi. Hasil PCR bisa saja keluar jam 6 sore sebelumnya, maksimal 9 pagi pas check out. 

Waktu di hotel pertama kali, karena gw nggak tau, akhirnya gw pesen pesawat jam 9 pagi abis nelpon hotel. Karena emang nggak dikasih tau sama sekali. Tapi di hotel yang kedua kemaren gw nggak ngerasa apa-apa, badan gw baik-baik aja, jadi setelah PCR langsung beli tiket pesawat. 

Bagi gw, lebih membosankan karantina di hotel karena emang di dalem kamar aja. Gw ini orang rumahan tapi karena dikekep gitu nggak dapet udara seger rasanya kek meledak. Tapi ya gw kerja juga sih, jadi yaaa abis kerja nonton netflix heheeheee. Abis 3 drakor gw lol. Makan juga tepat waktu, jam 7 pagi, 12 siang, 6 sore LOL.

Tapi ini pengalaman di Jakarta ya. Kalau hotel di Bali gw belum pernah. Mungkin udah mulai karena pintu Indonesia udah dibuka buat orang asing. Kita tunggu aja. 

Comments