Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Cerita Karantina di Hotel

Cerita karantina selanjutnya 2 kali di hotel. Kali ini, semuanya berjalan lebih terkoordinir. List hotel karantina bisa dilihat di sini. Jadi nggak ada lagi drama nggak diladenin karena ina inu. Tinggal pilih hotel, hubungi hotel via WA atau email, kirim dokumen yang diperlukan, lalu kita dapat QR code yang nantinya ditunjukkan ke pihak bandara. 

Karantina pertama kali di hotel gw bulan September kalau nggak Oktober 2021 dan bulan Januari 2022. Gw pesen di dua hotel berbeda. Karantina di hotel pertama dapet rejeki cuma 3 hari, jadi biaya yang dikeluarkan juga nggak sebanyak kemaren yang 7 hari. 

dipakein gelang rumah sakit, dilepas pas check out.

Nah, alurnya secara detail ada yang berubah sedikit tapi secara garis besar masih sama. Begitu datang, urus dokumen ini itu, lalu kita di PCR di lokasi. PCR ini hasilnya didapat dalam waktu 1 dan 2 jam karena ada dua lab yang berbeda. Waktu pertama kali gw karantina, gw harus nunggu hasil di bandara sebelum diangkut ke hotel. Tapi karantina kedua gw langsung diangkut ke hotel. Kata pihak hotel, "Ya kalau ibu tdk ada telpon atau kabar dari pihak hotel artinya tes ibu negatif. Kalau positif ya ibu harus karantina, dengan ambulan sendiri seharga 900ribu. Bayar sendiri." Ini buat hotel yang katanya di luar wilayah Jakarta. Kalo di dalem gw nggak tau ya. 

Lah setelah dijemput, dianter ke hotel, udahlah mulai sudah kita karantina. Karantina ini paketnya sama, makan 3x sehari, laundry 5pc sehari, 2x tes PCR, transport dari bandara ke hotel (dan sebaliknya kalau hotel dekat bandara, kalau jauh nggak ada). Percayalah, makanannya ENAK BANGET. Padahal di hotel yang beda ya, tapi kateringnya beneran enak banget. Suka aja gw mereka bener-bener serius. 

Isi makanannya pasti makanan inti yang terdiri dari 2 menu utama (misal ayam dan daging, ikan dan ayam, ayam dan daging, seafood dan daging, dll), nasi, buah atau makanan penutup, dan minuman seperti jus atau teh. Isinya nggak kaleng-kaleng. Banyak banget. Kalau di wisma satu menu aja cukup, kalau di hotel 2 menu utama tiap jam makan. 

Pasti kenyang. Nggak mungkin laper.

Lalu kamar tidak dibersihkan, tapi ada juga yang dibersihkan. Tergantung hotel sih ini. Nah bentukan hotel beda-beda ya. Ada yang nggak ada jendela sama sekali, ada yang pakai jendela tapi nggak bisa dibuka. Ada yang pake balkon. Jadi sesuaikan aja lah dengan kebutuhan. Yang jelas dikarantina 7 hari tanpa udara segar itu nggak enak sih. 

Nggak boleh dijenguk (YAIYALAH), nggak boleh order makanan atau barang online juga ya via ojol, nggak boleh ngapa-ngapain kalau dari luar pokoknya. Jadi pastikan pas karantina udah bawa barang yang diperlukan buat karantina. 

Beda dari wisma atlet, kita masih bisa keluar kamar jalan-jalan singkat, cari udara seger lah ya, tapi di hotel nggak boleh keluar kamar. Keluar kamar boleh ketika tes PCR sehari sebelum check out. Ini pun juga sama. Kalau negatif nggak bakal dikasih tau hasilnya. Jadi siap-siap aja jam 9 pagi buat telpon hotel buat check out. Karena hasil PCR ada di hotel maksimal jam 9 pagi. Hasil PCR bisa saja keluar jam 6 sore sebelumnya, maksimal 9 pagi pas check out. 

Waktu di hotel pertama kali, karena gw nggak tau, akhirnya gw pesen pesawat jam 9 pagi abis nelpon hotel. Karena emang nggak dikasih tau sama sekali. Tapi di hotel yang kedua kemaren gw nggak ngerasa apa-apa, badan gw baik-baik aja, jadi setelah PCR langsung beli tiket pesawat. 

Bagi gw, lebih membosankan karantina di hotel karena emang di dalem kamar aja. Gw ini orang rumahan tapi karena dikekep gitu nggak dapet udara seger rasanya kek meledak. Tapi ya gw kerja juga sih, jadi yaaa abis kerja nonton netflix heheeheee. Abis 3 drakor gw lol. Makan juga tepat waktu, jam 7 pagi, 12 siang, 6 sore LOL.

Tapi ini pengalaman di Jakarta ya. Kalau hotel di Bali gw belum pernah. Mungkin udah mulai karena pintu Indonesia udah dibuka buat orang asing. Kita tunggu aja. 

Comments

Popular posts from this blog

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Jumat ceria

Hari ini memang bukan hari jumat, tapi cuman mau bilang aja sih kalo hari yang paling aku tunggu-tunggu itu hari jumat. Why?   Karena jumat itu selalu ceria, kalopun ada meeting besar pasti di hari jumat dan banyak cemilan, orang-orang pada berangkat sholat jumat, yang nasrani juga mengikuti misa di kantor, bisa pake baju bebas dan bebas berekspresi sepuas-puasnya, dan..... bisa video call sepuasnyaaaaaa kapanpun karena dia libur kerja 😍😍 gambarnya lucu 😁  taken from internet

Jangan minta oleh-oleh!

    Taken from internet Pernah nggak kalau kita mau bepergian, trus orang-orang pada bilang 'Jangan lupa oleh-olehnya ya' ? Pasti pernah dong ya... Yang jelas saya nggak pernah ngerti kenapa orang sering meminta sesuatu ketika kita pergi somewhere. Dulu waktu kecil juga saya suka bilang begitu. Siapa yang pergi kemana pasti deh 'jangan lupa oleh-olehnya ya om, tante pakdhe, budhe, mas, mbak'. Tapi lama kelamaan saya mikir 'saya cuman ngomong aja tanpa niat minta oleh-oleh', kecuali kalo memang kita menitipkan hal itu karena memang hanya ada ditempat yang akan dikunjungi orang tersebut, misal buku. Pernah nitip beliin buku di Korea karena emang adanya disana. Jadi esensinya oleh-oleh itu apa? Saya juga kurang tau soalnya udah nggak pernah lagi minta dibawain oleh-oleh. HJ pulang ke Belanda sana saya cuma minta beliin buku. Itupun nggak dibeliin gara-gara bukunya nggak bagus kata dia. Oleh-oleh pun ada yang sekedar apa adanya karena emang adanya begitu...