Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Akhirnya Ambil Kelas Belanda Juga

 

Akhirnya jumat kemarin ambil juga kelas Bahasa Belanda secara resmi LOL. Ini demi bertanggungjawab ke diri sendiri dan juga demi konfirmasi tentang banyak hal yang tidak bisa dikonfirmasikan ke mertua karena ya mereka hanyalah native speakers yang kurang paham soal literatur. Sama lah seperti kita yang ditanya soal bahasa Indonesia pasti juga mikir dulu.

Oh iya, kelas bahasa ini gw ambil ditempat gw ngajar. Mumpung lah. Gw ambil kelas dari dasar dulu, meskipun banyak darinya sudah kupahami tapi mending belajar dari awal, menyamakan persepsi aja biar teratur lah ya.

Nah, karena gw ngomong sehari-hari (bahasa asing) pakai bahasa Korea, Inggris, dan juga pasif Jerman, mau ga mau bahasa ini mempengaruhi cara belajar Bahasa Belanda gw. Gampangnya ya, Bahasa Korea nya iya itu kan "Ne", sedangkan "Nee" dalam Bahasa Belanda itu artinya Nggak. Jadi sering banget gw maunya bilang "Ja" tapi malah bilang "Ne" karena mix sama Bahasa Korea. Nah pas mau ngomong "nggak" pakai Bahasa Belanda, gw salah ngomong pake "Nein" (bahasa Jerman).

Lebih sering lagi gw mix sama cara pengucapan Bahasa Jerman. Karena udah terlalu nyantol dipikiran kalau dua bahasa ini agak mirip. Misal mau bilang "Vriend" (dibaca : Frin) dalam Bahasa Belanda eh malah yang keluar cara ngomongnya "Freund" (baca : Froin). Dan banyak lagi lainnya. Apalagi kemarin temen gw ngajar bilangnya kalo logat gw krasa kek logatnnya Orang Jerman. Mungkin aja karena gw lama banget nangkring bareng orang-orang yang ngomong bahasa itu, dan juga mertua gw kan tinggalnya nggak jauh dari Jerman juga. Jadi ya latah. Gw gampang latah kok.

Tapi soal kosakata, nggak perlu khawatir. Beruntungnya banyak bahasa Indonesia yang diserap dari Bahasa Belanda. Jadi ya nggak terlalu PR banget kalo soal ini. Ada tas, tegel, dongker, wastafel, klompen, kantoor, gratis, hem, portret, bioskop (bioscoop), dan banyak lagi lainnya. Cari aja sendiri lah. Biasanya pas ngobrol sama mertua, mereka bingung cari bahasa Inggrisnya apa eh ternyata lebih mirip bahasa Indonesia malahan. Jadi ya di sisi ini jauh lebih mudah 😁

Jadi sepertinya salah satu target tahun ini bisa ngobrol sama mertua pake Bahasa Belanda bakalan tercapai karena merekalah terutama papa mertua yang paling semangat kalo bisa ngobrol pake bahasanya 💓

Comments

  1. Nah udah muncul sekarang kolom komentar nya, siip.. Jadi bisa nambah ilmu di blog ini.

    Mbak prisca jago bahasa asing ihh, saya ngiri, bahasa yg saya kuasai hanya bahasa Sunda, dan bahasa Indonesia itupun gak sempurna masih campur aduk, hehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iya mang jadinya template nya rusak :(
      makasih infonya lho mang. jd harus ganti template ngatur lagi dari awal smuanya haha

      haha kita smua kalo ngomong bahasa indonesia pasti masih dicampur aduk sama bahasa lokal mang, saya juga campur-campur. terbukti di tulisan blog ini hahah!

      Belajar bahasa itu candu :D

      Delete
  2. Wahaaa, semangat ya Mba :D dirimu sudah belajar Belanda saja, sementara saya baru belajar Inggris :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Weeehhh semangat ya belajar bahasa inggrisnya. Cpet cas cis cus de ya 😆

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Getting my Hands on Film Camera

In attempts to slow_myself_down_away_from_digital_life, I am getting my hands on film camera. Yes, the kind of camera where you need to put the film roll in and then start snapping. If you are lucky, the pictures will turn up good but if not then we let the fate decide. This is not my first rodeo on using film camera, but it definitely is the first ever to buy the film and develop it using my own money. It is not cheap, which I know.  What can I say, it's an expensive hobby.  I used my first film roll to take photos of my favorite people. So it has more human than random pictures. It was on family event. After the last shot, I wanted to develop it before I flew to Bali but they had no lab. Luckily we have the lab in Bali. I developed and scanned the film in Ojisanfilmlab Bali. They're just a google away. They sell the roll as well. I had to tell the TSA to do the hand checking rather putting it through the scanner. They understood.  Cimol hides himself in his favorite sp...

Gampangnya Apply e-visa Rusia

Red square Jadi, WNI diberi kemudahan untuk ke Rusia. Cukup dengan apply e-visa yang bisa didapatkan dalam hitungan hari saja. Meskipun sudah sering apply e-visa, tapi e-visa Rusia ini agak unik formulirnya. Jadi sebelum apply, gw baca gimana caranya di sini yang amat sangat runtut dan mudah dipahami. Sebelum isi formulir online, ada baiknya siapkan foto 3.5 x 4.5 dengan background putih dulu. Setelah itu jangan lupa untuk beli asuransi. Karena agak kepikiran, gw putuskan untuk beli asuransi dari perusahan yang ada di sana. Asuransi yang gw beli dari sini . Tadinya setelah beli kok nggak ada info apapun, bahkan bukti bayar pun nggak ada. Tapi petugasnya cukup tangkas setelah gw email, gw langsung dapat asuransinya. Nomer asuransi diperlukan untuk mengisi formulir, jadi harus beli asuransi sebelum apply visa.  Nah, bagi gw, ini formulir baru kali ini dapat pertanyaan yang unik-unik semacam apakah pernah pelatihan militer, wajib militer, pernah pegang / punya senjata, bahkan sampai ...

Setelah Schengen Visa Ditolak Jerman

Bentheim Gw tau Jerman tuh emang meticulous banget, tapi gw nggak sangka bakal se- meticulous itu. Kira-kira bulan Maret gw apply Schengen via Jerman. Kenapa via Jerman? Karena Belanda nggak ada slot heheheee. Rencana perginya bulan April kalau nggak salah waktu itu. Karena suami ada libur tapi cuma pendek banget, dan dia pengen banget pulang ke sana, yaudah lah coba aja. Dapet antrian, mana bayarnya 700ribu pula 😅 lalu pergilah gw submit semua dokumen gw.  Gw bukan yang pertama kali mengajukan Schengen, jadi gw udah "tau" harus submit apa aja. Karena sebagai orang yang menikah dengan warga EU, kami berhak untuk tidak menunjukkan buku tabungan (yg penting tabungan pasangan yang EU yg ditampilkan), dll. Dengan ina inu, eh ternyata diminta surat kerja lah, kalau freelancer harus kasih tau bukti kerjaan juga. Gw rasa ribet ya karena nggak formal kerjanya, jadi ya udah gw tulis ibu rumah tangga. Itu juga masih harus bikin surat pernyataan siapa yg membiayai biaya hidup gw kala...