Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Setelah Schengen Visa Ditolak Jerman

Bentheim

Gw tau Jerman tuh emang meticulous banget, tapi gw nggak sangka bakal se-meticulous itu. Kira-kira bulan Maret gw apply Schengen via Jerman. Kenapa via Jerman? Karena Belanda nggak ada slot heheheee.

Rencana perginya bulan April kalau nggak salah waktu itu. Karena suami ada libur tapi cuma pendek banget, dan dia pengen banget pulang ke sana, yaudah lah coba aja. Dapet antrian, mana bayarnya 700ribu pula 😅 lalu pergilah gw submit semua dokumen gw. 

Gw bukan yang pertama kali mengajukan Schengen, jadi gw udah "tau" harus submit apa aja. Karena sebagai orang yang menikah dengan warga EU, kami berhak untuk tidak menunjukkan buku tabungan (yg penting tabungan pasangan yang EU yg ditampilkan), dll. Dengan ina inu, eh ternyata diminta surat kerja lah, kalau freelancer harus kasih tau bukti kerjaan juga. Gw rasa ribet ya karena nggak formal kerjanya, jadi ya udah gw tulis ibu rumah tangga. Itu juga masih harus bikin surat pernyataan siapa yg membiayai biaya hidup gw kalau gw ibu rumah tangga. Ya suami gw dong, masa suami tetangga sih.

Singkat cerita, udah semua dokumen gw berusaha lengkapi dengan terseok-seok mencari print fotokopi buka sehari setelah Nyepi, dan juga tidak ada tempat foto paspor yang decent. Gw tanya prosesnya berapa hari, ternyata 21 hari. Lama juga ya, dan itu termasuk mepet juga dari tanggal gw rencana berangkat cuma 25 hari. Nekad emang. 

Nah setelah 21 hari kok nggak ada kabar sama sekali. 2 bulan juga ga ada kabar. Tentu saja rencana berangkat jadi gagal. Tapi yaudah lah siapa tau bisa dipake buat summer visanya. Ternyata, kedutaan udah email gw minta submit kekurangan dokumen yaitu foto yang betul. YAHH. Itu juga entah kenapa emailnya kefilter nggak masuk inbox. Yasudah.

Ada satu dokumen yang mereka minta, yaitu sponsor keluarga atau teman yang tinggal di Jerman. Karena gw nggak punya yaudah gw kasih alasan ke mereka kenapa gw nggak bisa lampirin hal tersebut. 

Setelah gw kirim foto dan dokumen pelengkap revisi termasuk itinerary terbaru, 3 hari kemudian paspor gw dikirim. Nggak deg-deg an gw. Pasrah. Begitu buka amplop "Lho kok ada surat full Bahasa Jerman? Lho kok ndak ada visanya?" Bukannya nangis malah ngakak karena nggak dapet visa. 

Iya gw nggak dapet visa via Jerman dengan alasan "Kedatangannya tidak jelas" 😂 Curiga gw ada di itinerary yang gw kasih ke mereka. Karena versi revisi singkat, gw cuma kasih detail yang di Jerman dan negara atas aja. Bagian bawah mendekati akhir trip gw cuma tulis "Meeting some friends, and strolling around the old city and enjoy the sightseeing." Sampai sekarang kalau gw inget lagi, masih ngakak gw.

Lalu setelah visa ditolak, gw langsung bikin appointment via Belanda yang kebetulan kok ya ada slot kosong di bulan depannya, pas sebulan setelah paspor gw balik dengan penolakan. Semua dokumen gw submit dan 3 minggu kemudian disetujui. Schengen sekarang lama juga prosesnya bisa sampai 3 minggu. Padahal sebelum pandemi bisa 5 hari selesai.

Diepenheim

Sebenernya setelah ditolak, kita berhak mengajukan banding ke kedutaan sambil kasih alasan yang jelas kenapa ini tidak seharusnya ditolak. Gw nggak ngajuin banding karena gw kira yaaaaa kalau emang itinerary gw yang kurang detail yaudah sih emang salah gw. Kecuali kalau alasannya dokumen gw palsu misal, yang mana gw bisa ngamuk kalau dokumen gw dibilang palsu hoho!

Jadi gw pikir yaudahlah pengalaman apply schengen via Jerman sekali aja lah ya. Untung visanya gratis. Mending juga bayar penuh deh via Belanda tapi rate persetujuannya sangat tinggi. 

Jadi catat ya, kalau mengajukan visa via Jerman, TELITI banget dokumen apa yang diminta, be as meticulous as you can be. Mereka mau kok menerima alasan kenapa kalian nggak bisa menyediakan dokumen yang diminta. Asal ya itu tadi, jelas dan beralasan. 

Tapi buat gw mah, I'll stick with The Netherlands aja deh meski harus bayar penuh.

Comments

  1. Ternyata Jerman seribet itu ya Mbak haha ... Butuh waktu yang lumayan juga sampe berminggu-minggu. Itu kalau pas misal rencananya penting banget dan gagal disetujui pasti stresss jadinya😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas sayangnya emang ada kedutaan yg seteliti itu, jadi nggak bisa asal juga. Apalagi sbg WNI yaaaaa yang masih nggak punya privilege buat asal lompat negara cuma pake paspor aja. Sedih banget T_T

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Jumat ceria

Hari ini memang bukan hari jumat, tapi cuman mau bilang aja sih kalo hari yang paling aku tunggu-tunggu itu hari jumat. Why?   Karena jumat itu selalu ceria, kalopun ada meeting besar pasti di hari jumat dan banyak cemilan, orang-orang pada berangkat sholat jumat, yang nasrani juga mengikuti misa di kantor, bisa pake baju bebas dan bebas berekspresi sepuas-puasnya, dan..... bisa video call sepuasnyaaaaaa kapanpun karena dia libur kerja 😍😍 gambarnya lucu 😁  taken from internet

Sudah Vaksin Covid Lengkap

Sei sapi yang kucintai Yes, it's my biggest flex this year.  Setelah vaksin pertama akhir Mei kemarin, akhirnya gw udah dapet suntikan kedua tanggal 21 Agustus 2021. Cantik kan tanggalnya?  Masih di RS yang sama, Surya Husadha, kali ini gw berangkat pagi. Yaa... 15 menit lebih pagi daripada vaksin pertama 😬 Karena gw ketiduran, seperti biasa. Hari itu hari sabtu, memang sengaja milih akhir pekan waktu vaksin pertama. Kita nggak tau efeknya bakalan gimana kan.  Vaksin pertama gw bisa bilang hampir ga ada efek apapun sih. Cuma ke UGD aja hari ketiga karena asam lambung naik banget. Setelah gw inget-inget, gw emang nggak banyak makan setelah vaksin malah gegoleran dan kata dokternya "Kalau abis vaksin tuh makan mbak yang banyak, protein yang banyak, jangan malah ga makan. Jadinya asam lambung naik kan?" Yasudah abis disuntik ranitidin, sejam juga gw udah mendingan.  Jadi gw bertekad "Ok setelah vaksin kedua, gw harus makan yang banyak!!!" Setelah gw datang di RS,...