Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Ke Jodipan Kita Berfoto



Karena adik terkecil belum pernah ke kampung warna warni + kampung tridi, jadilah liburan ini dia minta kesana. Tiket masuk 3ribu per orang dan dapet gantungan kunci flanel yang bisa dicantolin dimanapun yang engkau suka.

Ini kampung warna warni dan kampung tridi ini beda pintu masuk ya, mereka tersambung jembatan kaca sih. Tapi kalau mau nyebrang kesana kudu bayar lagi 3ribu. Semacam pintu masuk didalam pintu masuk lainnya. 

Parkiran motor tersedia didalam, tapi parkir mobil yang ntah sebelah mana. Bahkan kalau naik taksi pun agak susah turun yang pinggir jalan raya yang rame itu, karena sering bikin macet juga. Jadi harus pinter milih tempat turun aja sih. Oiya parkir motor harganya 3-4ribu.

Kampung ini menurut gw keren sih. Bisa berubah dari kampung kumuh pinggir kali brantas, tiba-tiba modal cat aja nih bisa bikin banyak orang dateng. Dan usut punya usut (ini nenek gw kepoin si tukang tiket karena si nenek ga mau jalan masuk krn udah pernah), sehari kalau pas rame weekend atau hari libur gini bisa hasilin 3juta dari tiket tadi. Per tiket 3ribu, kalau 3juta berarti kan bisa sampe 1000orang per harinya. Tapi kalau pas sepi yaaa penghasilan dari tiket dibawah sejuta.

 

Modal cat sekampung dan juga gambar yang menarik 3dimensi di tembok-temboknya, ditambah dengan warganya yang menjual berbagai jenis makanan seperti pecel, sempol, cilok, es krim aice, es degan, dan es es lainnya pun, mereka bisa menambah penghasilan untuk hidup sehari-hari.

Meskipun dengan kata lain, privasi mereka pun akan sedikit terganggu seperti obrolan atau teriakan manusia-manusia pengunjung di siang hari dan menggangu tidur manis para bayi maupun para orangtua. Yaaa... you lose something, you get something else in return.

Tapi tipe-tipe kampung bertema seperti ini rupanya sangat bagus untuk menambah penghasilan warga lokal. Selain kampung tridi dan kampung warna warni ini, di seberangnya ada kampung biru yang warnanya emang bener-bener biru dari depan sampai belakang. Ada juga Kampoeng heritage yang belum terlalu terjamah turis (mungkin karena banyak orang yg nggak terlalu suka konsep heritage. mungkin). Jadi disini bisa dilihat kalau orang-orang sedang berlomba menarik turis dengan konsep blusukan ke kampung begini.

Sederhana aja sih harapannya, semoga bentuk wisata sederhana seperti ini bisa mendukung perekonomian lokal tapi disisi lain semoga Malang ga tambah macet dengan banyaknya wisatawan yang datang berkunjung LOL! Mana bisa marimaarrrrr 😂

Yawess itulah pokoknya 😄

Comments

  1. Wah keren ya mbak, dari kampung biasa jadi luar biasa.. didaerah lain juga ada nih yang kaya begini termasuk di kampung sebelah juga diginiin :D Yaa apapun itu asalkan positif lanjutkan.. Hehehe
    salam kenal yaa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya banyak juga di daerah lain diginiin. sekarang masanya berkunjung ke tempat yg instagramable, jd wisata gini pasti menarik perhatian dan tentunya bawa penghasilan tambahan juga yaa

      salam kenal juga yaaaa :)

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Getting my Hands on Film Camera

In attempts to slow_myself_down_away_from_digital_life, I am getting my hands on film camera. Yes, the kind of camera where you need to put the film roll in and then start snapping. If you are lucky, the pictures will turn up good but if not then we let the fate decide. This is not my first rodeo on using film camera, but it definitely is the first ever to buy the film and develop it using my own money. It is not cheap, which I know.  What can I say, it's an expensive hobby.  I used my first film roll to take photos of my favorite people. So it has more human than random pictures. It was on family event. After the last shot, I wanted to develop it before I flew to Bali but they had no lab. Luckily we have the lab in Bali. I developed and scanned the film in Ojisanfilmlab Bali. They're just a google away. They sell the roll as well. I had to tell the TSA to do the hand checking rather putting it through the scanner. They understood.  Cimol hides himself in his favorite sp...

Gampangnya Apply e-visa Rusia

Red square Jadi, WNI diberi kemudahan untuk ke Rusia. Cukup dengan apply e-visa yang bisa didapatkan dalam hitungan hari saja. Meskipun sudah sering apply e-visa, tapi e-visa Rusia ini agak unik formulirnya. Jadi sebelum apply, gw baca gimana caranya di sini yang amat sangat runtut dan mudah dipahami. Sebelum isi formulir online, ada baiknya siapkan foto 3.5 x 4.5 dengan background putih dulu. Setelah itu jangan lupa untuk beli asuransi. Karena agak kepikiran, gw putuskan untuk beli asuransi dari perusahan yang ada di sana. Asuransi yang gw beli dari sini . Tadinya setelah beli kok nggak ada info apapun, bahkan bukti bayar pun nggak ada. Tapi petugasnya cukup tangkas setelah gw email, gw langsung dapat asuransinya. Nomer asuransi diperlukan untuk mengisi formulir, jadi harus beli asuransi sebelum apply visa.  Nah, bagi gw, ini formulir baru kali ini dapat pertanyaan yang unik-unik semacam apakah pernah pelatihan militer, wajib militer, pernah pegang / punya senjata, bahkan sampai ...

Setelah Schengen Visa Ditolak Jerman

Bentheim Gw tau Jerman tuh emang meticulous banget, tapi gw nggak sangka bakal se- meticulous itu. Kira-kira bulan Maret gw apply Schengen via Jerman. Kenapa via Jerman? Karena Belanda nggak ada slot heheheee. Rencana perginya bulan April kalau nggak salah waktu itu. Karena suami ada libur tapi cuma pendek banget, dan dia pengen banget pulang ke sana, yaudah lah coba aja. Dapet antrian, mana bayarnya 700ribu pula 😅 lalu pergilah gw submit semua dokumen gw.  Gw bukan yang pertama kali mengajukan Schengen, jadi gw udah "tau" harus submit apa aja. Karena sebagai orang yang menikah dengan warga EU, kami berhak untuk tidak menunjukkan buku tabungan (yg penting tabungan pasangan yang EU yg ditampilkan), dll. Dengan ina inu, eh ternyata diminta surat kerja lah, kalau freelancer harus kasih tau bukti kerjaan juga. Gw rasa ribet ya karena nggak formal kerjanya, jadi ya udah gw tulis ibu rumah tangga. Itu juga masih harus bikin surat pernyataan siapa yg membiayai biaya hidup gw kala...