Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Menjadi Istri Di Hari Kartini

designed by a friend of my friend. although I am originally coming from Java, not Bali, but seems that Bali is the icon of Indonesia. to tell them that Bali is part of Indonesia haha

Cerita tentang menikah ini terjadi begitu cepat. Begitu mendadak. Bukan karena saya hamil duluan makanya saya dinikahkan. Tapi menurut pertimbangan HJ yang merasa bahwa apa lagi yang harus ditunggu? Kita sudah mempersiapkan dokumen dan sedang dalam proses sekarang. Dulu memang saya tidak diperbolehkan nikah secara agama terlebih dahulu, dikarenakan jarak pengurusan dokumen masih terlalu jauh, bulanan, terlalu beresiko (katanya). Tapi ini jaraknya 2 minggu sebelum pernikahan official yang tanggalnya baru bisa fix pasti seminggu sebelum the day.

HJ mengajukan proposal ke papa mama untuk memperbolehkan kami berdua menikah secara agama terlebih dahulu. Papa mama juga berpikir, sehari dua hari bolehlah tinggal dirumah, tapi kalau dua minggu nanti orang lebih mikir aneh-aneh, kalau nyuruh dia tinggal di hotel juga nggak mungkin. Mending buat traveling daripada stay di hotel, sedangkan kita juga sudah ada rumah di Malang, tapi dia nggak mau tinggal sendirian dirumah itu. Solusinya, ya nikahkan!

Orangtua juga berpikir nenek sudah kritis. Istilahnya itu papa mama bagi pikiran. Satu ke urusan pernikahan kita, satunya ke nenek yang sakit. Akhirnya sepulang dari Singapura yang 4 hari itu, kami langsung menuju Surabaya mengurus CNI di konsulat jam 2 siang, kemudian jam 3 langsung ke notaris yang jaraknya (untungnya) cuma 1km dari konsulat Belanda.

Rencana pulang kerumah hari kamis gagal, karena ternyata pengurusan CNI di konsulat bisa dipercepat dan hasilnya bisa diambil besoknya. Karena senin tanggal merah, pihak konsulat berbaik hati mempercepat prosesnya. Jadilah hari jumat kita baru pulang kerumah. Sampai dirumah sekitar pukul 4 sore, dan jam 6 sore mama tanya 'pake baju apa nanti?'. Yeee meneketehek. Manten rock n roll. Bener-bener apa adanya hahaha. Ada stok kebaya dirumah,yang kebtulan udah kesisetan 😑😒

Akad nikah di lakukan pukul setengah 8 malam, tanggal 21 April 2017, menggunakan bahasa Inggris. Dihadiri keluarga dan tetangga sekitar. Jangan tanya gimana perasaannya. Nggak begitu deg deg an. Cuman pas abis 'sah' itu tetiba mikir 'oemji! I am now a wife. I have a husband now'. Karena pikiran larinya ke dokumen aja, sampe yang paling penting aja kayak asal lewat aja. Temen-temen juga kaget kalo status saya sudah berubah. Kayak nothing change aja, soalnya juga biasanya jalan bareng, kemana-mana bareng, eh tiba-tiba udah bukan fiance atau gf-bf lagi. But husband and wife.

Semua memang sudah ada skenario yang tersusun dibalik semuanya. Menikah ini, melengkapi impian terakhir nenek, yang ingin kuat bertahan sampai saya dinikahkan. Meskipun nenek tidak hadir, tapi saya yakin spiritnya hadir bersama keluarga besar.

Comments

  1. Saya hanya bisa mengucapkan selamat ,selamat. Bahagia dan langgeng terus. Dimudahkan rezeki dan diberi keturunan yang sholeh.

    ReplyDelete
  2. selamat mbak
    wis semoga barokah
    sing sabar ngladeni mas HJ, insha allah pahalae akeh
    aduh melok seneng

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha pengen melu ngeladeni a mas? Uhuuuiii
      Makasih yo mas doae

      Delete
  3. Selamat ya, jadi akadnya bulan April ya? Semoga jd keluarga samawa ya. Trus moving Belanda dong..

    ReplyDelete
    Replies
    1. akadnya jadi dua kali haha, april sama mei. sementara di malang aja dlu, soale suami ga kerja di negaranya. nanti kedepannya masih gatau. masih rahasia ilahi hahaha

      Delete
  4. Tulisan nya bagus mbak, salam kenal. Oh iya, kalau boleh kasih saran, pengaturan tema versi seluler nya di nonaktifkan aja, soalnya template situs ini saya cek sudah responsif.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo mas salam kenal juga. Iya ini juga tahap beta nih, belum utak atik lg, mau nengahin judul kok ya diutak atik codingannya ga bs haha

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Getting my Hands on Film Camera

In attempts to slow_myself_down_away_from_digital_life, I am getting my hands on film camera. Yes, the kind of camera where you need to put the film roll in and then start snapping. If you are lucky, the pictures will turn up good but if not then we let the fate decide. This is not my first rodeo on using film camera, but it definitely is the first ever to buy the film and develop it using my own money. It is not cheap, which I know.  What can I say, it's an expensive hobby.  I used my first film roll to take photos of my favorite people. So it has more human than random pictures. It was on family event. After the last shot, I wanted to develop it before I flew to Bali but they had no lab. Luckily we have the lab in Bali. I developed and scanned the film in Ojisanfilmlab Bali. They're just a google away. They sell the roll as well. I had to tell the TSA to do the hand checking rather putting it through the scanner. They understood.  Cimol hides himself in his favorite sp...

[Piknik] Jejak sejarah di Malang

Beberapa bulan yang lalu ketika si mas ke Bromo, dengan waktu yang mepet banget, akhirnya kita niat jelajah singkat jejak sejarah di Kota Malang. Biasa lah ya, dia selalu bawa buku panduan. Selain nerd, dia juga nggak mau oon ketika dia berada di suatu tempat baru. Dia terlalu nggak percaya sama kemampuan sejarahku akan kota Malang, karena pasti kalo nanya sejarahnya yang aku tahu paling juga nggak jauh-jauh dari lapak baju buku murah. Sejarahnya, tanyain mbah mbah jaman dulu dah. kantor balaikota Malang Perjalanan kita mulai dari hotel Tugu. Kita mulai dari naik becak. Tadinya saya kira aja sampai seratus ribu ya nganter ke daerah pasar besar (alun-alun kotak), eh ternyata cuman 30ribu. Terheran-heran juga kok, ini muka bule nggak dimahalin?? Derita punya partner bule, harga dibedain.   dari sampul sih nggak beda banyak, tapi begitu buka dalemnya...hmm kalah deh cetakan Indonesia sama cetakan luar negeri buku ini bagus kok, ada peta-peta jelajahnya juga Malang saat...