Skip to main content

BUKU

Ganesha - Ubud. Toko buku favorit, sering jual buku antik. Benda yang gw sayang banget yaa buku-buku gw. Gw mau minjemin buku gw, tapi kalau buku gw diminta orang... hmmm... nggak dulu deh ya. Kalau minjemin pun pasti mikir-mikir dulu, orangnya bertanggungjawab apa nggak hehehee. Dari kecil, orangtua gw selalu minta untuk berhemat ya karena kita memang dari keluarga yang biasa saja. Uang jajan gw biasanya setengah dari uang jajan temen-temen gw. Bukannya mereka pelit, ya emang dibiasain hidup gak foya-foya aja. Lagian juga gw nggak punya alasan kan, karena belum punya duit sendiri haha!  Tapi kalau soal buku, nggak usah ditanya. Semahal apapun pasti dibeliin kalo emang perlu. Royal banget kalo soalan buku. Karena prinsip mereka, "Orangtua kamu ini nggak kaya, nggak mampu ngasih kamu duit banyak. Tapi kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk memberi kamu pendidikan terbaik yang kamu bisa dapatkan. Buku salah satunya. Jadi nggak boleh pelit." Betul, nilai kehidupan tersebut

[Tradisi Budaya] Menilik tradisi Lamongan

Jika proses lamaran pada umumnya adalah sang lelaki yang melamar wanita, sedikit berbeda halnya dengan Lamongan. Di Lamongan, sangatlah wajar jika para wanita yang melamar lelakinya. Hal itu masih terjadi hingga saat ini.

Agak sedikit kaget ketika mendengarkan cerita dari seorang teman yang berasal dari sana. Karena penasaran, saya akhirnya bertanya apakah nanti dia juga melakukan hal yang sama. Namun ternyata kekasihnya ingin melamarnya. Berbeda dari tradisi asal mereka.

Prosesi lamaran pun, umumnya di Indonesia lelaki datang kerumah wanitanya dan memberikan hantaran seperlunya. Nah kalau di Lamongan, wanitanya nanti akan menghantar juga kerumah lelakinya dengan hantaran yang lebih banyak dari hantaran lelakinya. Ini sih berdasarkan kasus teman saya dan dia pun mengatakan bahwa hal itu wajar terjadi di Lamongan.

Setelah melamar, prosesi selanjutnya adalah menikah. Ini juga nggak kalah ramainya. Umumnya, para undangan mendapatkan souvenir atau kue dalam kardus kecil untuk dibawa pulang setelah kondangan. Namun untuk resepsi di desa teman saya yang wanita, lagi-lagi sedikit berbeda. Setelah pulang kondangan, yang mereka bawa berupa minyak goreng seperempat liter, mi kriting seperempat kilo, dan beberapa sembako lainnya. Sehingga 'terkesan' budget yang dikeluarkan untuk resepsi lebih besar daripada jumlah amplopan. No offense ya. Jika memang niatnya mencari untung, ohh anda tidak akan bisa. Jika niatnya hanya syukuran dan berbagi, ya benar-benar harus menyiapkan budget yang besar.

Setiap kali mengunjungi teman yang ada di Lamongan, saya selalu terkesan dengan hal baru yang berbau tradisi.

Ada satu hal lagi yang ntah bagaimana, namun menurut saya itu salah satu bentuk gagal paham. Dont mean to offense ya, tapi yang ini benar-benar unik. Pertama kali kesana, kami jalan-jalan pagi. Kala itu saya belum berjilbab. Saya menggunakan celana olahraga yang panjang dan kaos yang pantas. Namun semua mata orang di desa memandangi saya dan salah seorang teman lainnya. Penasaran, saya pun bertanya kepada teman saya kenapa. Diapun menjawab jika berjilbab adalah penting disana. Tidak masalah apakah menggunakan celana atau rok pendek dengan kaos pendek, yang penting kepala tertutup jilbab. What??? Jadi nggak penting kamu pakai baju dan celana pendek asalkan kamu berjilbab.

Hmmm... agak gagal paham 😯

Nahh kemarin kan si dia abis lairan. Pulang dari sana, kami diberikan bingkisan seperti sabun deterjen setengah kilo, pewangi cucian, dan juga permen satu bungkus. Dan semua dibungkus kertas kado. Saya cuman bisa mikir, "selalu ada hal yang unik dari Lamongan setiap kali berkunjung".

Satu tempat di Indonesia memiliki tradisi yang unik dan berbeda. Cuman bisa bayangin aja, ada berapa macam wilayah di Indonesia? Dikalikan dengan tradisi tiap daerah, betapa kayanya tradisi dan budaya Indonesia ini..

Comments

Popular posts from this blog

BUKU

Ganesha - Ubud. Toko buku favorit, sering jual buku antik. Benda yang gw sayang banget yaa buku-buku gw. Gw mau minjemin buku gw, tapi kalau buku gw diminta orang... hmmm... nggak dulu deh ya. Kalau minjemin pun pasti mikir-mikir dulu, orangnya bertanggungjawab apa nggak hehehee. Dari kecil, orangtua gw selalu minta untuk berhemat ya karena kita memang dari keluarga yang biasa saja. Uang jajan gw biasanya setengah dari uang jajan temen-temen gw. Bukannya mereka pelit, ya emang dibiasain hidup gak foya-foya aja. Lagian juga gw nggak punya alasan kan, karena belum punya duit sendiri haha!  Tapi kalau soal buku, nggak usah ditanya. Semahal apapun pasti dibeliin kalo emang perlu. Royal banget kalo soalan buku. Karena prinsip mereka, "Orangtua kamu ini nggak kaya, nggak mampu ngasih kamu duit banyak. Tapi kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk memberi kamu pendidikan terbaik yang kamu bisa dapatkan. Buku salah satunya. Jadi nggak boleh pelit." Betul, nilai kehidupan tersebut

Lessons Learned in 2021

March '21. Me, during the lowest point of my life. Yes, I still smile and dead inside lol. 2021 is personally not an easy year. It's the year where I questioned my existence as a human being. I thought being a kind person was enough.  Obviously, I felt insecure when the closest person told me how I was not special, doing less than what I could. That triggered me and I started to ask myself "What am I doing on this earth? What's my purpose as a human? What am I going to do? What do I want to do? What do I want to become? What kind of future do I want? What am I?"  That person only became the trigger, yet the problems existed inside me. So I realized completely that it was about me, not someone else. There was something wrong with me. When I knew that the problem is me, I seek help. Lucky me (or should I say, unlucky me?), I didn't have those scary nights alone. My best friend went through the same, so we're kinda helping each other. Though the trigger was d

Klerek tok seng awakmu gak gelem

“ Koen iku opo seng gak doyan, klerek tok seng awakmu gak gelem ”. Iya, itu adalaah statement dari ibundaku tersayang saat mengetahui anaknya tercinta ini adalah pemakan segala. Ya mau gimana lagi, pas cobain jenis makanan baru, ya doyan. Contohnya makanan dari negeri ginseng. Dari beberapa makanan korea yang pernah aku coba, bahkan dibuat langsung dari guruku yang korea itu, aku ya doyan-doyan aja tuh. Abis enak sih. Gitu mama ga doyan, katanya gini, “ ndelok ae wes gak nafsu aku ”. Lah yawes itu kan lidah si emak. Lah lidah gue beda, doyan aja. Yaa asal ndak terlalu bersantan dan pedes banget deh.   yaiyalah nggak doyan, la wong emang nggak untuk dimakan. pic source tempo.co Ga masalah, dari hobiku yang pemakan segala ini adek kosku ada yang ngiri. Dia bilang, “mbak ini lho, makannya banyak, semuanya doyan, tapi badannya nggak bisa gemuk. Ngiri aku”. Ahhaaa!!! Itu dia. aku banyak makan dan badan tetep langsing aja hahahhaa.. Alhamdulillah banget deh hehehe. Berat badan sih n