Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit. Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya. Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego. Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...
Jika proses lamaran pada umumnya adalah sang lelaki yang melamar wanita, sedikit berbeda halnya dengan Lamongan. Di Lamongan, sangatlah wajar jika para wanita yang melamar lelakinya. Hal itu masih terjadi hingga saat ini. Agak sedikit kaget ketika mendengarkan cerita dari seorang teman yang berasal dari sana. Karena penasaran, saya akhirnya bertanya apakah nanti dia juga melakukan hal yang sama. Namun ternyata kekasihnya ingin melamarnya. Berbeda dari tradisi asal mereka. Prosesi lamaran pun, umumnya di Indonesia lelaki datang kerumah wanitanya dan memberikan hantaran seperlunya. Nah kalau di Lamongan, wanitanya nanti akan menghantar juga kerumah lelakinya dengan hantaran yang lebih banyak dari hantaran lelakinya. Ini sih berdasarkan kasus teman saya dan dia pun mengatakan bahwa hal itu wajar terjadi di Lamongan. Setelah melamar, prosesi selanjutnya adalah menikah. Ini juga nggak kalah ramainya. Umumnya, para undangan mendapatkan souvenir atau kue dalam kardus kecil untuk dibawa pul...