Skip to main content

Praktisnya Menggunakan e-meterai

Sebagai pelaku kawin campur, meterai adalah hal kecil yang sering kali luput karena dikit-dikit tempel meterai untuk perihal pengajuan visa. Seringnya beli satu, dua taro dompet, eh nggak tau keselip di mana. Belum lagi kalau ternyata setelah dokumen dicetak - ditempel matere - lalu ditandatangani - kemudian discan, ini prosesnya kayak berulang banget dan bisa berkali-kali karena salah tanggal atau orang yang dituju atau dokumen udah keburu expired. Udah kecil, nggak murah, sering ilang pula wkwkwk.  e-meterai mulai diluncurkan tahun 2021. Gw belum pernah coba karena jujur masih bingung apa iya ini imigrasi nanti nerima e-meterai gw? Hingga hari ini, Januari 2023 gw harus kirim dokumen bermeterai untuk update alamat gw sebagai penjamin visa. Iya, nggak bisa via website langsung, harus kirim permohonan via email yang dilengkapi dokumen permohonan dg tanda tangan di atas meterai.  Hah hoh karena nggak ada printer di rumah, kalau ngeprint cuma perlu sebiji. Meterai udah ga ada juga. Akhir

[Piknik] Mengintip Merapi dari Ketep Pass

Berencana melihat gunung Merapi dari Ketep Pass, berangkatlah kita dari Borobudur menuju Ketep Pass menggunakan motor. Sumpah jauh banget. dari Borobudur ke jalan gede aja setengah jam, dan menuju Ketep Pass juga sekitar setengah jam. Melalui jalan berkelok-kelok dan menanjak, untung saja si motor bebek bisa diajak kompromi. Sehingga kita bisa sampai diatas dengan selamat hehhee

*yang nggak selamat itu warna kulitnya si dia, terbakar gosong sempurna*

Jalan menuju sana merupakan jalan pegunungan yang menanjak berkelok-kelok. Lebih mudah jika menggunakan motor menuju Ketep Pass. Bisa juga sih menggunakan mobil, tapi jalanan sangat kecil, berkelok-kelok, menanjak menurun, jadi kalau supirnya amatiran sepertiku yaaa nggak bakalan bisa lah nyetir disana. Bisa-bisa malah nabrak rumah orang lagi.

Lebar jalan mungkin sekitar 5 meteran untuk 2 arah. Jadi ya bisa dibayangkan bagaimana kecilnya. Untuk orang yang sudah terbiasa mah nggak masalah. Tapi untungnya, meskipun beberapa sisi jalan ada yang rusak, namun 80% jalanan beraspal bagus kok. Layak untuk dilalui.

Sisi kanan kiri sepanjang perjalanan, tentu saja hamparan hijau daerah pegunungan. Sejenak ketika memasuki daerah Ketep, saya pun membayangkan saya sedang berada di daerah yang gunungnya pernah mengamuk beberapa tahun yang lalu. Beberapa tahun yang lalu, ada juru kunci yang tidak mau mengungsi karena menganggap Merapi butuh dia untuk menjaganya yang berakhir dengan hilangnya nyawa sang juru kunci akibat sapuan abu panas gunung Merapi. Agak ngeri sih waktu itu. Tapi Merapi sudah berbenah. Jadi tidak ada bekas yang terlalu terlihat dari letusan itu. *Dan saya lupa siapa nama mbah fenomenal itu*

Sampai di Ketep Pass, tempat pengamatan gunung Merapi, seperti biasa harga tiket masuk lokal dan mancanegara dibedakan. Beda harga maksudnya. Lokal hanya membayar sekitar 6ribu atau berapa, dibawah 10ribu seingat saya. Sedangkan mancanegara membayar sekitar 24ribu. Lagi-lagi itu tiket weekend *kapan lagi bisa halan-halan kalo nggak weekend*. Setelah membayar tiket masuk dan parkir motor, kami menuju kantin. Ya gegara si dia pengen ngopi cantik sambil menikmati Merapi.

Oiya, tiket sudah termasuk free softdrink.

Sayangnya, saat itu sedang mendung. Jadi Merapi bersembunyi tepat dibalik awan. Antara bagus nggak bagus sih. bagus karena mendung, means nggak terlalu terik. Nggak bagus karena kita jadi nggak bisa liat Merapi dari dekat. Yahh apa boleh buat, akhirnya bisa melihat dan menikmati Merapi dari dekat bersama kekasih heehe. Eh iya, ngopi cantik sambil makan mendoan yang cuman seribuan lho. Lagi-lagi, harganya masih normal untuk ukuran tempat wisata.

Disana ada fasilitas museum dan movie. Waktu membeli tiket bapaknya sempet nanya nama dan asal saya, sempet mikir juga ngapain sih nih orang nanya-nanya. Eh ternyata itu digunakan untuk memanggil kita ketika kita nggak juga hadir di teater mereka untuk melihat film dokumenter tentang Merapi.

"Ibu Prisca dari Malang", gue kira cuman halusinasi ternyata beneran hahaha

Kemarin nggak sempet masuk museumnya, nggak sempet liat-liat karena si dia pengennya cuman liat Merapi dari dekat. Ya ujung-ujungnya kita foto-foto sih.

Dan yea, sepanjang perjalanan hawa menuju Merapi sangat segar sekali. Kanan kiri hijau, liat anak-anak sekolah bergerombol jadi ingat masa muda haha.. Mereka juga rajin menyapa si dia dengan panggilan mister lah, difoto eh mereka keranjingan. Lucu aja liatnya

*no picture, saya lupa taro fotonya dimana*

Comments

Popular posts from this blog

Praktisnya Menggunakan e-meterai

Sebagai pelaku kawin campur, meterai adalah hal kecil yang sering kali luput karena dikit-dikit tempel meterai untuk perihal pengajuan visa. Seringnya beli satu, dua taro dompet, eh nggak tau keselip di mana. Belum lagi kalau ternyata setelah dokumen dicetak - ditempel matere - lalu ditandatangani - kemudian discan, ini prosesnya kayak berulang banget dan bisa berkali-kali karena salah tanggal atau orang yang dituju atau dokumen udah keburu expired. Udah kecil, nggak murah, sering ilang pula wkwkwk.  e-meterai mulai diluncurkan tahun 2021. Gw belum pernah coba karena jujur masih bingung apa iya ini imigrasi nanti nerima e-meterai gw? Hingga hari ini, Januari 2023 gw harus kirim dokumen bermeterai untuk update alamat gw sebagai penjamin visa. Iya, nggak bisa via website langsung, harus kirim permohonan via email yang dilengkapi dokumen permohonan dg tanda tangan di atas meterai.  Hah hoh karena nggak ada printer di rumah, kalau ngeprint cuma perlu sebiji. Meterai udah ga ada juga. Akhir

Ujian hari senin

Kejadian ini terjadi tepat senin minggu lalu. Baru kali itu aku merasa 'WOW.. ini senin yeay'. Karena biasanya 'haduhh udah senen lagi'. Kebayang kan kalo seneng begitu dihari senen menyambut pagi dan hari itu rasanya langka banget. Otomatis pengennya hari itu berlangsung indah. Jam setengah 9 pagi, seperti biasa ke pantry ambil minum bareng sama temen sebangku. Dia bikin teh, aku nyuci botol sekalian ngisi dong. Seperti biasa juga, kadang aku males sih nyuci botol dengan ritual lengkapnya, akhirnya cuman bilas pake air panas. Ya mungkin nggak sampe 50 ml juga. Dikit banget deh. Temen juga selalu bersihin gitu gelasnya pake air panas. Pic source is here Eh lakok lakok... si bapak pantry yang serem itu tiba-tiba bilang 'Gak bisa ya gak nyuci botol pake air panas? Tiap sore itu banyak komplain gara-gara airnya abis'. Yakaliii air abis tinggal isi aja, ibu yang dulu aja nggak pernah ada komplain. Ya aku bilang lah ini cuman dikit, lagian yang ngelakuin ini

Dapet Visa UAE (Dubai) Gampang Banget

Dubai creek Beberapa waktu yang lalu, kita pusing berat karena H dapet libur kali ini cuman 10 hari. 10 hari dari yang biasanya 14 hari. Akhrinya diputuskan untuk tetap mengambil libur tapi nggak ke Indonesia.  Ternyata, beberapa hari kemudian, dia bilang, kalau liburnya malah jadi 7-8 hari aja. Mau ga mau saya yang harus kesana. Maksudnya terbang mendekatinya. Udah milih-milih negara mana yang harganya rasional, yang ga banyak makan waktu buat terbangnya H, dan tentunya ga ribet urus visa buat pemegang paspor hijau yang ga sesakti paspornya H.  Btw warna paspor Indonesia jadi biru ya sekarang?? Pilihan jatuh ke Dubai. Pemegang paspor hijau harus bikin visa, ya pusing lagi deh cara bikin visa Dubai nih gimana. Apa iya sesusah bikin visa schengen, visa US, visa lainnya. dari persyaratan sih standar ya, termasuk  record  bank account selama 3 bulan. Emang nggak pernah bikin visa Dubai sebelumnya ya, apalagi H yang paspornya super sakti kemana-mana (hampir) ga perlu visa, dia ga pernah ad