Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

[Piknik] Mengintip Merapi dari Ketep Pass

Berencana melihat gunung Merapi dari Ketep Pass, berangkatlah kita dari Borobudur menuju Ketep Pass menggunakan motor. Sumpah jauh banget. dari Borobudur ke jalan gede aja setengah jam, dan menuju Ketep Pass juga sekitar setengah jam. Melalui jalan berkelok-kelok dan menanjak, untung saja si motor bebek bisa diajak kompromi. Sehingga kita bisa sampai diatas dengan selamat hehhee

*yang nggak selamat itu warna kulitnya si dia, terbakar gosong sempurna*

Jalan menuju sana merupakan jalan pegunungan yang menanjak berkelok-kelok. Lebih mudah jika menggunakan motor menuju Ketep Pass. Bisa juga sih menggunakan mobil, tapi jalanan sangat kecil, berkelok-kelok, menanjak menurun, jadi kalau supirnya amatiran sepertiku yaaa nggak bakalan bisa lah nyetir disana. Bisa-bisa malah nabrak rumah orang lagi.

Lebar jalan mungkin sekitar 5 meteran untuk 2 arah. Jadi ya bisa dibayangkan bagaimana kecilnya. Untuk orang yang sudah terbiasa mah nggak masalah. Tapi untungnya, meskipun beberapa sisi jalan ada yang rusak, namun 80% jalanan beraspal bagus kok. Layak untuk dilalui.

Sisi kanan kiri sepanjang perjalanan, tentu saja hamparan hijau daerah pegunungan. Sejenak ketika memasuki daerah Ketep, saya pun membayangkan saya sedang berada di daerah yang gunungnya pernah mengamuk beberapa tahun yang lalu. Beberapa tahun yang lalu, ada juru kunci yang tidak mau mengungsi karena menganggap Merapi butuh dia untuk menjaganya yang berakhir dengan hilangnya nyawa sang juru kunci akibat sapuan abu panas gunung Merapi. Agak ngeri sih waktu itu. Tapi Merapi sudah berbenah. Jadi tidak ada bekas yang terlalu terlihat dari letusan itu. *Dan saya lupa siapa nama mbah fenomenal itu*

Sampai di Ketep Pass, tempat pengamatan gunung Merapi, seperti biasa harga tiket masuk lokal dan mancanegara dibedakan. Beda harga maksudnya. Lokal hanya membayar sekitar 6ribu atau berapa, dibawah 10ribu seingat saya. Sedangkan mancanegara membayar sekitar 24ribu. Lagi-lagi itu tiket weekend *kapan lagi bisa halan-halan kalo nggak weekend*. Setelah membayar tiket masuk dan parkir motor, kami menuju kantin. Ya gegara si dia pengen ngopi cantik sambil menikmati Merapi.

Oiya, tiket sudah termasuk free softdrink.

Sayangnya, saat itu sedang mendung. Jadi Merapi bersembunyi tepat dibalik awan. Antara bagus nggak bagus sih. bagus karena mendung, means nggak terlalu terik. Nggak bagus karena kita jadi nggak bisa liat Merapi dari dekat. Yahh apa boleh buat, akhirnya bisa melihat dan menikmati Merapi dari dekat bersama kekasih heehe. Eh iya, ngopi cantik sambil makan mendoan yang cuman seribuan lho. Lagi-lagi, harganya masih normal untuk ukuran tempat wisata.

Disana ada fasilitas museum dan movie. Waktu membeli tiket bapaknya sempet nanya nama dan asal saya, sempet mikir juga ngapain sih nih orang nanya-nanya. Eh ternyata itu digunakan untuk memanggil kita ketika kita nggak juga hadir di teater mereka untuk melihat film dokumenter tentang Merapi.

"Ibu Prisca dari Malang", gue kira cuman halusinasi ternyata beneran hahaha

Kemarin nggak sempet masuk museumnya, nggak sempet liat-liat karena si dia pengennya cuman liat Merapi dari dekat. Ya ujung-ujungnya kita foto-foto sih.

Dan yea, sepanjang perjalanan hawa menuju Merapi sangat segar sekali. Kanan kiri hijau, liat anak-anak sekolah bergerombol jadi ingat masa muda haha.. Mereka juga rajin menyapa si dia dengan panggilan mister lah, difoto eh mereka keranjingan. Lucu aja liatnya

*no picture, saya lupa taro fotonya dimana*

Comments

Popular posts from this blog

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Jumat ceria

Hari ini memang bukan hari jumat, tapi cuman mau bilang aja sih kalo hari yang paling aku tunggu-tunggu itu hari jumat. Why?   Karena jumat itu selalu ceria, kalopun ada meeting besar pasti di hari jumat dan banyak cemilan, orang-orang pada berangkat sholat jumat, yang nasrani juga mengikuti misa di kantor, bisa pake baju bebas dan bebas berekspresi sepuas-puasnya, dan..... bisa video call sepuasnyaaaaaa kapanpun karena dia libur kerja 😍😍 gambarnya lucu 😁  taken from internet

Jangan minta oleh-oleh!

    Taken from internet Pernah nggak kalau kita mau bepergian, trus orang-orang pada bilang 'Jangan lupa oleh-olehnya ya' ? Pasti pernah dong ya... Yang jelas saya nggak pernah ngerti kenapa orang sering meminta sesuatu ketika kita pergi somewhere. Dulu waktu kecil juga saya suka bilang begitu. Siapa yang pergi kemana pasti deh 'jangan lupa oleh-olehnya ya om, tante pakdhe, budhe, mas, mbak'. Tapi lama kelamaan saya mikir 'saya cuman ngomong aja tanpa niat minta oleh-oleh', kecuali kalo memang kita menitipkan hal itu karena memang hanya ada ditempat yang akan dikunjungi orang tersebut, misal buku. Pernah nitip beliin buku di Korea karena emang adanya disana. Jadi esensinya oleh-oleh itu apa? Saya juga kurang tau soalnya udah nggak pernah lagi minta dibawain oleh-oleh. HJ pulang ke Belanda sana saya cuma minta beliin buku. Itupun nggak dibeliin gara-gara bukunya nggak bagus kata dia. Oleh-oleh pun ada yang sekedar apa adanya karena emang adanya begitu...