Skip to main content

Pentingkah Memiliki Asuransi?

sunset di Kuta Bali
Dulu tiap kali denger kata asuransi, gw selalu antipati. Rasanya seperti, "Apaan sih asuransi-asuransi? Udah duit ilang, nggak dapet apa-apa, mending diinvestasikan aja lah" Asuransi yang gw punya cuma asuransi kesehatan aja karena otomatis terdaftar di Askes sebagai anak dari PNS.

Asuransi adalah pertanggungan atau perjanjian antara dua belah pihak, di mana pihak satu berkewajiban membayar iuran atau kontribusi atau premi. Pihak yang lainnya memiliki kewajiban memberikan jaminan sepenuhnya kepada pembayar iuran/kontribusi/premi apabila terjadi sesuatu yang menimpa pihak pertama atau barang miliknya sesuai dengan perjanjian yang sudah dibuat) -  Wikipedia
Tentu saja akhir-akhir ini sudah berubah dong opini gw terhadap asuransi. Tak kenal maka tak sayang. Gw pelajari tentang asuransi lebih jauh beserta manfaatnya. Tapi, benahi dulu definisi awal asuransi. Banyak orang yang salah kira kalau asuransi adalah soal "investasi." Asuransi bukan investasi.

Saatnya mengubah orientasi


Orang sering salah mengartikan jika bersekolah nanti kau harus menyelesaikannya dengan tepat dan lulus dengan nilai yang bagus. Dulu saya memang seperti itu. Dulu saya sangat memandang kalau nilai yang bagus akan membawa dampak yg bagus. Iya memang, tapi itu bonus. Itu bukan tujuan utama orang bersekolah. Jika saja mereka tau dan menyadarinya.
Nilai yang bagus, lulus kuliah dengan predikat kumlot, menjadi juara internasional, jelas menjadi satu kebanggan tersendiri bagi seseorang, atau sebut saja orangtua. Orangtua seringkali menginginkan anaknya menjadi juara kelas dan mendapatkan nilai terbaik. Pola pikir yang seperti itu menjadikan kita salah jalan. Salah jalan gimana maksudnya? Yang kita kejar hanya nominal, bukan intisarinya. Nilai tentu saja menjadi barometer penilaian tingkat pemahaman siswa. Tapi lagi-lagi itu bukan tujuannya. Nilai bagus itu bonus kawan. Saya ingat betul kata guru saya, beliau mengatakan “kowe arep njaluk nilai piro? Ngomongo ae, aku lo nilai gak kulakan. Nilaiku gratis, sak njalukmu tak kek I”. artinya kurang lebih beliau akan memberikan kita nilai berapapun karena nilai itu gratis dan tidak membeli di grosiran terlebih dahulu. Tapi nilai yg gratis itu tetap harus sebanding dengan pemahaman yang didapat. Jika ingin nilai 9, maka pemahaman yg didapat juga harus selevel 9 dong. Hal itu juga saya terapkan ketika mengajar.

Orientasi akan nilai membuat siswa-siswa kita berorientasi kosong. Bukan pada pemaham tapi pada “ah yang penting lulus dapat nilai bagus”. Tanpa disadari itu sudah menjadi salah satu kelemahan bangsa ini. Siswa akan cenderung menghafal tanpa memahami. Itu juga terjadi juga kepada saya dahulu. Tapi setelah merubah orientasi, langkah menjadi pemahaman bukan menghafal. Kalau dipikir-pikir, kita sekolah minimal sampai SMA dan apa yg kita dapatkan sebanyak belasan tahun tersebut? Tidak ! yang kita dapatkan mungkin hanya secuil persen dari belasan tahun yg kita habiskan untuk besekolah. Sekolah memang menyenangkan dg adanya teman seperjuangan, atau guru yg menyenangkan. Apapun itu sekolah memang menyenangkan. Tapi alangkah lebih menyenangkan dan menguntungkan jika kita mendapatkan banyak hal juga selama itu.

Jika kita terus berorientasi pada nilai, ini akan menjadikan kita orang yang selalu berpegang teguh pada hafalan dan kita akan jadi sarjana hafalan. Hanya paham dan unggul dalam teori tapi nol dalam praktek itu juga percuma. Ketika terjun dalam kehidupan, apakah kita hanya akan mengatakan “LAh, dibuku seperti itu pak? Lho dibuku kok gak kayak gitu?”. Apa yg terjadi dalam kehidupan adalah hal yg fleksibel. Tidak semua hal bisa disamakan dengan teori atau buku  diktat.

Saya bukan seorang sarjana dengan lulusan terbaik. Nilai saya pas-pasan, saya akui. Soal ilmu semua hanya ilmu yg saya sukai saja yg saya ingat, selebihnya tidak. Tapi saya akui selama kuliah saya mendapatkan banyak hal, kemampuan berpikir juga berkembang, skill yang lain juga berkembang. Saya bisa mempelajari bahasa asing yang mana membawa saya ke pekerjaan saya saat ini.

Kalau ada yang tanya, orang diterima kerja kan yg nilainya bagus? Hmm gak juga sih, itu semua tentang manajemen diri kita sendiri. Saat kita bisa me-manage diri  kita dengan baik dan kita bisa adaptasi dengan lingkungan baru dengan baik, kita bisa kok. Buktinya, dengan IP pas-pasan saya bisa juga diterima di perusahaan yg bagus *kata orang*. Ini kita kalau mengejar soal pekerjaan itu. Tapi semuanya kembali kepada diri kita sendiri dan mendengar apa yg benar2 kita inginkan. Soft skill itu jauh lebih dibutuhkan dalam kehidupan. Kembangkan soft skill yang dimiliki, cari keinginan dan kemampuan yg ingin dikembangkan, gali lebih dalam dan berjuanglah. Karena pintu rezeki itu datangnya tidak dari satu pintu saja, dia bisa datang dari arah mana saja 😊

Comments

Popular posts from this blog

[Piknik] Prambanan lagi

Salah satu pesona Jawa Tengah adalah Candi Prambanan. Saya sudah 3 kali berkunjung ke situs warisan dunia ini. Candi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan jogja ini selalu menimbulkan kesan mistis bagi saya. Terletak tak jauh dari jalan raya, sehingga mengunjunginya pun sangat mudah. Berbeda dengan Candi Borobudur yang letaknya sangat jauh dari jalan raya besar. 
Ok, menurut saya ada 3 cara menuju candi ini. Menggunakan bus transjogja, taksi, dan kendaraan pribadi. Bagi yang menggunakan transjogja, saya pernah menggunakannya berangkat dari daerah kampus UNY, daerah Depok Sleman. 1 kali transit, 2 kali berganti bus. Dengan harga transjogja yang kala itu, 2014, seharga 3500 rupiah. Tapi sampai saat ini masih sama harganya, menurut info dari teman. Lokasi shelter bis berada agak jauh dari pintu masuk lokasi candi, mungkin kira-kira 500meter sampai 1kilometer. Kalau jalan, menghabiskan waktu sekitar 15-20menit. Bisa juga naik becak untuk opsi yang lain. Lagi-lagi, jangan lupa menaw…

Pake Jenius

Beberapa waktu lalu sering liat counter Jenius di Matos, yang lalu kutemui pula di MOG. Anak Malang tau lah dua mall ini. Nah udah cari info sana sini ya, kok kayaknya asik gitu. Jadi memberanikan diri untuk sign up. Apakah perlu kujelaskan fitur dan fungsinya secara mendetail? Karena sudah banyak tercecer informasinya di internet. Nggak ah, gw mau bahas pengalaman gw pake kartu ini selama sebulan ini.

Sign up lah aku di counter MOG (ya gusti kejebak lagi gw pake nambah kartu-kartuan begini). Kemudian, berkatalah mbaknya "Transfer aja mbak satu juta kesini, kita lagi ada promo kalau transaksi pertama kali satu juta akan ada free kartu member starbucks dengan saldo 50ribu. Lumayan lho mbak Starbucks". Gw nggak fanatik Sbucks (cuma kalo harus beli Chai tea selalu kesini). Dan tanpa sadar pun gw transfer sejuta ke akun jenius gw. Because, why not? Lagian juga mindah duit gw sendiri ke rekening yang lain kan? Nggak ilang duit juga.

Jadilah kudapat kartu Jenius beserta k…

Punya Rekening Lagi : CIMB on Account

Saya cenderung males bawa uang cash. Kenapa? Ribet, nominal rupiah yang gede banget kebanyakan nol, dan seringnya di dompet isinya duaribuan. Pernah lho duaribuan itu ada kali 30lembar. Serasa kaya, kalo duitnya merah haha

Saya lebih suka debet. Lebih praktis kan, tapi nggak bisa dipake beli di toko kelontong. Jatohnya malah lebih mahal sih emang, dipakenya juga kalo nggak ke toko kelontong kan. Tapi... Saya juga sebenernya rada takut akhir-akhir ini. Karena uang di rekening bisa aja tiba-tiba ilang. Ada temen, satu kali gaji ilang. Untung aja dia urusin bener-bener dan bisa balik duitnya. Ada lagi OB juga gitu, duitnya juga ilang mendadak. Takutnya itu kan di hack atau diduplikat kartu ATM nya. Semakin canggih lah pokoknya.

Nah karena banyak kejadian kayak gitu, saya jadi lebih protektif ke kartu mana yang bisa dipake sembarangan dan mana yang nggak boleh. For sure, ini berhubungan dengan berapa banyak jumlah rekening yang dimiliki. Menurut saya sih minimal harus punya 2. Satu buat …