Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit. Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya. Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego. Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...
Bosen kali ya gw sering nulis soal beginian. Tapi kali ini (lagi-lagi) gw liat sendiri kalo ternyata minat generasi muda menguasai Bahasa Inggris masih jauh dari harapan. Jujur gw mulai demen Bahasa Inggris sejak SMP. SD gw ga bisa sama sekali, tapi masuk SMP semacem gw dapet ilham gitu. Belajarnya lebih gampang dan lebih nyantol aja. Karena gw juga mikir, banyak keluarga gw yang bisa Bahasa Inggris dan sebagian tinggal di Belanda sana, masa iya ntar kalo ketemu nggak bisa ngobrol kan nggak asik. Tantangannya simple ketika kita bisa ngobrol (atau berusaha) ngobrol Bahasa Inggris, mereka yang nggak bisa dan nggak mau bicara Bahasa Inggris bakal nyinyir dan bilang kalau kamu nggak nasionalis karena nggak pakai Bahasa Indonesia. Atau kalau nggak gitu, emang Bahasa Indonesia kamu udah bagus sampai kamu belajar bahasa asing?? Screw em. Gw sendiri levelnya masih level intermediate (6 dari 16, based on EF placement test ) tapi gw masih dan tetep belajar karena target gw bis...