Skip to main content

Romanticizing My Cooking

Bakso I have to admit that my love for cooking is growing. It's growing and I can't believe it myself. This feeling has been like this since probably two years ago. Before, cooking felt like a hard work that I had to fulfill. It still is, but the difference is I enjoy it now. So it does not feel like I am forcing myself.  Back then whenever I cooked, it's either wrong recipe or incorrect measurement. It never tasted right. So I gave up cooking just because I never found the right one. And then I started to feel that I wanna eat better. I don't want to just eat whatever, I want to know what goes into my body. If I prepare it myself, then I know it's good one.  I don't eat too much sugar, sometimes it is hard to buy one thing outside and has a lot of sugar in it. So cooking it myself will allow me to control the amount of sugar. So I found recipes and I tried to make them. As to my surprise, they taste right! Exactly how they should have tasted. That made me happy

Aturan Berbagi Kontak Personal


Pernah nggak tiba-tiba dikontak orang, ntah WA atau telpon tiba-tiba dari nomer yang nggak dikenal? Apalagi kalau yang tiba-tiba bilang "Lupa ya sama aku?" 

Gw cenderung nggak ganti-ganti nomer hanya karena harga paketan A lebih murah daripada yang B. Nomor gw dari SMA sampai kuliah sama satu nomer. Lalu Indosat jadi super lemot akhirnya ganti ke Telkomsel sampai sekarang tetap nomer yang sama. Gw aja nggak bagi nomer WA gw waktu kerja di Surabaya karena gw males kalo tiba-tiba mereka hubungi di akhir pekan 😂 Gw cuma bagi ID BBM gw tapi BBM juga nggak pernah gw buka. Hanya beberapa orang di kantor yang tau nomer gw, hingga menjelang gw resign mereka bikin grup WA yang tidak bisa gw hindari 😅 

Gw selalu membiasakan diri untuk nanya ke orang yang kontaknya dimintai dari gw. Kenapa? Ya basic manner lah. Selain itu juga gw ga suka kalau tiba-tiba orang kontak gw, apalagi waktu ditanya dapet kontak gw dari mana jawabnya "ADA DEH" Oh plis! I am not that young anymore for another Ada Deh answer. 😒

Kenapa harus nanya? Ya siapa tau tuh orang lagi menghindari orang yang nanya kontak tersebut. Ya nggak? Bayangin kalau kita lagi hindari seseorang (dg alasan apapun), ehh ternyata dia dapet kontak dari kenalan kita yang lain. Amsyong lah. Bisa aja kita emang membatasi orang-orang yang bisa kontak kita secara langsung. 

Bagi gw nomer HP adalah kontak paling krusial karena yang paling nempel di HP. Kalau sosmed atau email kan nggak selalu ada di HP kita aplikasinya, atau kita jarang ada di situ. Tapi kalau nomer telpon, ini krusial banget. 

Juga ketika kontak orang baru, jangan tiba-tiba nelpon kenapa sih 😂 Orang macem gw yang jarang banget nerima telpon sebelum jam 10 pagi dan setelah jam 9 malam kecuali emergency dan dari inner circle, sudah bisa dipastikan nggak akan nerima telpon dari nomer tak dikenal (kecuali kalau bener-bener penting biasanya kirim pesan dulu konfirmasi boleh gaknya nelpon). Coba kirim pesan dulu bilang ini siapa, dapet nomer dari siapa, ada keperluan apa, apakah penting banget sampai harus nelpon atau cuma menyambung tali silaturahmi aja yang bisa ditunda untuk dibalas ketika longgar. 

Beberapa orang yang beneran menghargai privasi orang lain selalu nanya, "Eh pengen ngobrol nih, nggak penting sih, catch up aja, ada waktu longgar kapan? Aku pengen nelpon, udah lama nggak ngobrol kita" Itu biasanya temen yang udah kenal gw banget. Tentunya sebisa mungkin gw bikin jadwal buat mereka karena kalau ngobrol nggak mungkin semenit dua menit. Ini macem hang out tapi via telpon. Bisa dipastikan akan berjam-jam. 

Oh dan lagi, gw nggak akan berbagi nomer telpon gw ke stranger yang baru gw kenal dengan alasan "Biar gampang aja chat nya atau ngobrolnya". Gw hanya bagi kontak personal gw ke orang yang udah gw kenal gimana karakter orang tersebut.

Telpon yang pasti selalu gw angkat jam berapapun cuma telpon suami gw, orangtua gw dan mertua gw. Selebihnya, bisa nunggu. Ada sih satu sahabat gw yang nelponnya gatau aturan, tapi dia juga tau kalau nggak diangkat berarti lagi gw lagi sibuk dan pasti gw telpon balik kalau udah longgar. Karena gw juga gitu ke dia 😂

Kalian gimana, suka nanya dulu nggak sebelum berbagi kontak orang?

Comments

  1. Iya sama Mbak, kalau masalah kontak HP saya juga males kalau terlalu nyebar...
    Jadi guru pun nomer WA-nya tak pisah sama nomer utama, soalnya bakalan nyimpen banyak nomer orangtua siswa tiap tahun..

    kadang kalau WA diluar jam kerja juga nggak tak buka-buka :-D

    Indosat ternyata masih lemot juga ya, nomerku juga dulu indosat.. dan pindah telkomsel juga karena lemot

    btw, walaupun nomer HP-nya bener2 dijaga banget biar nggak nyebar tapi tetep dapet sms abal-abal dari PT Shopee Indonesia sama koperasi yang pada suka nawarin pinjaman nggak Mbak? :-D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh iya kalau emang harus nyimpen nomer orang banyak sih emang harus dipisah nomer kerja sama personal ya dan bener tuh kalau di luar jam kerja ya gausah dibuka haha! Kerja gak 24 jam juga :D

      Nggak tau sih kalo indosat sekarang. Kayaknya udah nggak selemot dulu ya, soale banyak yg lebih lemot lainnya hahahaha!

      SMS abal2? Ya tentu! Kayaknya kalo dijumlah udah jadi milyarder sih aku, wong tiap sms kasih duit 100juta juga, trus yg lainnya nawarin pinjaman online, lainnya minta dikirimin duit. Apa gak kayak bank kita ini jadinya ðŸĪŠ

      Delete
  2. ehm kalau saya sih ya enggak se menjaga gitu
    memang saya punya satu nomor dari jaman sma
    cuman karena saya kerjanya jadi marketing jadi nomor hp saya udah kayak kacang goreng dan sering dihubungi orang2

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh iya kalau marketing mau ga mau ya jadinya. Itu nomernya gak dipisah gitu mas? Yg personal sendiri, yg kerja sendiri?

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Romanticizing My Cooking

Bakso I have to admit that my love for cooking is growing. It's growing and I can't believe it myself. This feeling has been like this since probably two years ago. Before, cooking felt like a hard work that I had to fulfill. It still is, but the difference is I enjoy it now. So it does not feel like I am forcing myself.  Back then whenever I cooked, it's either wrong recipe or incorrect measurement. It never tasted right. So I gave up cooking just because I never found the right one. And then I started to feel that I wanna eat better. I don't want to just eat whatever, I want to know what goes into my body. If I prepare it myself, then I know it's good one.  I don't eat too much sugar, sometimes it is hard to buy one thing outside and has a lot of sugar in it. So cooking it myself will allow me to control the amount of sugar. So I found recipes and I tried to make them. As to my surprise, they taste right! Exactly how they should have tasted. That made me happy

Mengenal Nyai, Eyang Buyut Orang Indo Kebanyakan

  Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya tentang darah campuran Eropa, saya pernah janji nulis tentang orang Indo dan Nyai, nenek buyut dari para Indo kebanyakan. Sekarang kita liat definisi dari Indo sendiri. Jadi Indo (Indo-Europeaan atau Eropa Hindia) adalah para keturunan yang hidup di Hindia Belanda (Indonesia) atau di Eropa yang merupakan keturunan dari orang Indonesia dengan orang Eropa (Kebanyakan Belanda, Jerman, Prancis, Belgia). Itulah kenapa saya agak risih mendengar orang menyebut Indonesia dengan singkatan Indo. Karena kedua hal itu beda definisi dan arti. Sekarang apa itu Nyai? Apa definisi dari Nyai? Nyai adalah seorang perempuan pribumi (bisa jadi orang Indonesia asli), Tionghoa dan Jepang yang hidup bersama lelaki Eropa di masa Hindia Belanda. Hidup bersama atau samenleven yang artinya kumpul kebo, tidak menikah. Fungsinya nyai itu apa? Fungsinya diatas seorang baboe dan dibawah seorang istri, tapi wajib melakukan kewajiban seorang baboe dan istri. Karena mem

[Piknik] Prambanan lagi

Salah satu pesona Jawa Tengah adalah Candi Prambanan. Saya sudah 3 kali berkunjung ke situs warisan dunia ini. Candi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan jogja ini selalu menimbulkan kesan mistis bagi saya. Terletak tak jauh dari jalan raya, sehingga mengunjunginya pun sangat mudah. Berbeda dengan Candi Borobudur yang letaknya sangat jauh dari jalan raya besar.  Ok, menurut saya ada 3 cara menuju candi ini. Menggunakan bus transjogja, taksi, dan kendaraan pribadi. Bagi yang menggunakan transjogja, saya pernah menggunakannya berangkat dari daerah kampus UNY, daerah Depok Sleman. 1 kali transit, 2 kali berganti bus. Dengan harga transjogja yang kala itu, 2014, seharga 3500 rupiah. Tapi sampai saat ini masih sama harganya, menurut info dari teman. Lokasi shelter bis berada agak jauh dari pintu masuk lokasi candi, mungkin kira-kira 500meter sampai 1kilometer. Kalau jalan, menghabiskan waktu sekitar 15-20menit. Bisa juga naik becak untuk opsi yang lain. Lagi-lagi, jangan lupa men