Skip to main content

Taking a Train from Moscow City to Yaroslavky

walking to the wagon We chose deliberately in the winter to travel from Moscow to Yaroslavsky. In my defense, we kinda had to use the holiday a little bit. If we're waiting for the good weather, it probably not gonna happen for 3 months and then nothing again. So this trip was taken on February 2026. So we've decided to take a few days off going from Moscow to half of the golden ring. The name ring, means literally ring. Refers to a few cities that used to be very important in the past. Starting from Moscow city (where which we're coming from, technically). I have to mention the cities here anyway; Sergiyev Posad, Pereslavl Zalessky, Rostov Veliky, Yaroslavl, Kostroma, Ivanovo, Vladimir, and Suzdal. there will be info about the train  We took the train trip from Moscow. I would say it's the "normal type" of train. So we sat next to each other. Two seaters next to each other. I think my husband took the non-economy one. He booked the train from the app, tutu. T...

Makanan dan Bahasa Pengobat Rindu Kampung


Gw demen banget makan atau cobain makanan baru. Sebenernya lebih ke lidah gw aja gampang nerima rasa baru dari makanan selain Indonesia. Tapi ketika jauh dari rumah, akhir-akhir ini gw sering tiba-tiba craving makanan Indonesia. Kayak susah ditahannya aja. Apalagi waktu sebulan di sana, rasanya tiap hari pengen nangis gara-gara pengen makan sambel coba.

Tempat yang kebetulan sering banget gw datengin ya Dubai. Di sana kita udah nemu satu restoran Indonesia yang rasanya Indonesia banget. Seleraku namanya. Kenapa gw bilang Indonesia banget? Cuko pempeknya nggak kalah dari Pempek Palembang asli. Bakso Malangnya, ehmmmmmm mantep! Makanan yang lainnya tentu saja nggak kalah rasanya. 

Bakso Malang

Kemarin, terakhir kali gw ke sana, kebetulan bareng dengan banyak orang Indonesia. Kayak mereka ngumpul-ngumpul bareng gitu. Ada yang ngerayain ulang tahun, ada yang ngerayain hal-hal kecil dalam hidup, ada yang sekedar melepas rindu kampung halaman untuk sekedar memuaskan lidah untuk makan dan berbicara bahasa ibu. 

Dari pengalaman gw makan masakan Indonesia di luar negeri, pemilik rumah makan akan selalu menjamu tamunya secara personal. Mereka lebih seperti tuan rumah yang menjamu tamu. Pun begitu dengan Seleraku. Kita beberapa kali berbincang juga. 

Kebayang nggak, senangnya mereka yang jauh dari rumah bisa sekedar berbagi cerita tentang gimana sukanya mereka sama tempe, tahu, atau koleganya yang ternyata suka makanan Indonesia. Restoran masakan asli seperti ini lebih menjadi tempat kongkow orang-orang yang kangen rumah. Ada yang bilang belum pulang 2 tahun, 3 tahun, belum pulang lama sekali. 

cumi balado 

Gw bisa liat orang bermacam-macam di situ. Cuma kalo pas restoran penuh, H pasti nanya mereka ngobrol pake bahasa apa, lagi ngobrolin apa. Lah dikira gw kepo gitu. Ntah kenapa, waktu gw ngeliatnya tuh seneng juga karena mereka bisa kumpul sesama orang Indonesia buat ngobrol pake bahasa ibunya. Buat sekedar bilang "Ya ampun gw suka banget dadar jagung ini", "Eh di tempat kamu ini disebutnya terang bulan apa martabak manis?" Seneng banget dengernya meskipun ga ikutan ngobrol.

pempek palembang

ayam bakar

Sama halnya ketika kami menginap di Bur Dubai, salah satu butik hotel di sekitar creek - Mazmiwaktu gw bilang gw dari Indonesia si masnya jawab "Eh kita punya staf dari Indonesia lho" Gw ya wow aja dong, gw nggak pernah ketemu orang Indonesia di sana yang kerja di tempat yg gw datengin. Esok paginya waktu sarapan selesai, gw didatengin. Kaget dong, gw kira doi mau beresin piring gw tapi tiba-tiba "Halo apa kabar?" 

"EHHHH ya ampun, masnya yang kerja di sini?"
"Iya tadi diceritain temenku katanya ada tamu dari Indonesia. Ya ampun seneng banget bisa ngobrol pake bahasa Indonesia lagi. Jarang banget orang Indonesia main ke sini. Kalo kesini jangan lupa mampir sini dong, biar bisa ketemu lagi. Seneng banget akutu bisa ketemu orang Indonesia gini"

view dari Mazmi

Jujur gw speechless. Nggak gw sangka aja gw bisa juga bikin orang asing seneng hanya karena gw di sana. Sayangnya, tak berlanjut lama karena dia harus kerja dan gw sudah ada rencana. Besoknya waktu check out  nggak nyangka ketemu lagi dan dadah-dadah "Eh jangan lupa mampir lagi ya", "Iya nanti kapan lagi kita main ke sini ya, sekarang kita balik dulu ya. DAAAAHHH" kayak temen sendiri aja 😂

Tapi gw juga sadari kalau sejauh apa kaki melangkah, makanan cita rasa kampung halaman akan selalu menjadi identitas yang kecil kemungkinan akan bisa berubah. Pun begitu dengan bahasa ibu. Saat kita besar dengan bahasa tersebut, secara otomatis kecil kemungkinan kita akan kehilangan kemampuan untuk berbahasa tersebut. Oh ya, jangan salah, ada banyak orang yang merasa "alergi" ketika berbicara dengan bahasa ibunya saat mereka sudah pindah ke luar negeri. Bilang kalau mereka sudah lupa bahasa mereka. Agak nggak masuk akal aja buat gw 😅

Ah! Makanan Indonesia memang selalu bikin rindu rumah 😊💙

Comments

Popular posts from this blog

Surviving -20 Celcius in Moscow

frozen lake in Moscow I'd say surviving because I am a tropical girl coming from 30-35 degree Celcius. So yes, this is about surviving such differences in temperature. I spent my whole life in a tropical country then I have to be in a -20 celcius, not an easy situation.  Obviously, I came prepared. I have been in a 0 celcius and learned that double triple layering is the right answer. Moscow has heater that runs nonstop since the beginning of (probably, I dont remember) November until early May. So you technically can not turn it off or on. Many days it gets too hot inside. Going to the mall in Moscow got me super sleepy and tired because it feels most of the time like in Sauna. So, double triple layering in Moscow is the right thing to do.  November temperature usually started to feel chilly, still not lower than 0. December will get colder can be minus. But January and February are the coldest season. This year dropped to -20 (that I can remember). The average temperature wa...

Happiness is ...

Few days ago I met new friends. They are friends of my friend. I helped them for their competition. It's good to know them since the way they think about something is unique and quite close to mine. Until one of them ask me : 'What is happiness for you?' I told them that for me happiness is when I stop compare myself with others and not being compared with anybody else (well, you can compare me with others but don't tell me if you do haha!). I used to compare myself with people. For following their success path might be ok, but for having the same life as theirs who seen successful and happy, I don't think so. So I stop to compare myself with others and it make me feel enough. I feel more relax, since I don't have to pretend or to be somebody else. I feel more 'me' because I only think about me and free to do what I want to do (or to think what I want to think). But one of them said 'For me happiness is when you can breathe, eat, sleep, and p...

Tiga bulan pertama hidup di luar Indonesia

Gw kira rasanya akan sama aja. Ada rasa kangen ya wajar karena jauh dari tempat yang selama ini kita sebut familiar. Tapi ternyata ada rasa rindu yang pukulannya berbeda.  Di kasus gw, gw cuma kenal satu orang Indonesia. Beliau bilang kalau mau temen jalan-jalan bisa lah berkabar biar jalan bareng. Tapi karena gw ada kerja dari senin-jumat, sedangkan beliau nggak, jadinya waktu kami seringkali nggak pas. Sedangkan di akhir pekan, gw habiskan bersama suami.  Bulan pertama masih terasa integrasi. Berusaha mengenal supermarket mana yang jual apa. Cari ini itu di mana. Menghafal jalur transportasi umum. Mengenal, membaca dan memahami nama daerah atau tempat dari huruf cyrilic-nya untuk sekedar "kalau nyasar, bisa kasih tau suami lagi ada di mana" karena seringkali online maps dihambat pemerintah.  Bulan kedua sudah mulai mengenal banyak hal. Sudah punya kartu atm untuk pembayaran. Visa panjang juga sudah di tangan. Mulai berhati-hati dengan banyak hal, mana yang boleh mana ya...