Skip to main content

Romanticizing My Cooking

Bakso I have to admit that my love for cooking is growing. It's growing and I can't believe it myself. This feeling has been like this since probably two years ago. Before, cooking felt like a hard work that I had to fulfill. It still is, but the difference is I enjoy it now. So it does not feel like I am forcing myself.  Back then whenever I cooked, it's either wrong recipe or incorrect measurement. It never tasted right. So I gave up cooking just because I never found the right one. And then I started to feel that I wanna eat better. I don't want to just eat whatever, I want to know what goes into my body. If I prepare it myself, then I know it's good one.  I don't eat too much sugar, sometimes it is hard to buy one thing outside and has a lot of sugar in it. So cooking it myself will allow me to control the amount of sugar. So I found recipes and I tried to make them. As to my surprise, they taste right! Exactly how they should have tasted. That made me happy

SUDAH (setengah) VAKSIN COVID!

Belum bisa dibilang sudah selesai sih, tapi menuju selesai. Tanggal 29 Mei gw memberanikan diri datang ke RS Surya Husadha Sanglah untuk vaksin covid pertama kali. Bukan karena gw nggak berani vaksin, bukan! Tapi gw berdoa semoga dapet jatah vaksin karena per hari kuotanya hanya 200 dosis. Gw vaksin pakai AstraZeneca dan tentunya gratis.

Btw keinginan untuk vaksin ini makin gede karena temen-temen deket gw udah dapet vaksin di minggu gw dapet vaksin. Iya, gw kompetitif. Soalan vaksin aja gw kompetitif banget 😂 Jujur gw iri banget sama temen gw yang dapet vaksin duluan. Jadi yaa... 😎

Rencana gw berangkat jam setengah 8 gagal karena gw bangun jam 8 kurang seperempat 😓 Selesai mandi dll, pukul 8.15 gw berangkat ke RS. Nggak jauh RS nya cuma 8 menitan. Sesampainya di sana, kok di meja ada tulisan "Vaksin tutup" Harah mak deg. Ternyata itu cuma kertas pengumuman kalau kuota sudah terpenuhi. Ditanyain udah booking atau belum, lah gw ga nemu link booking dari kemarinan. Untungnya gw masih masuk jatah dan dapet nomer antrian 64.

Deg-degan tentu saja. Di Bali, kegiatan vaksin sudah masuk ke grup ketiga yaitu umum. Maksud hati ingin masuk grup kedua 3 bulan lalu karena gw pengajar (masuk prioritas), tapi harus daftar ina inu ke dinas ina inu, yaudah gw nunggu aja lah bentar lagi. Ternyata beneran, ga lama udah masuk umum dan dikebut banget di sini (katanya). Juga penduduk Bali total cuma 4 jutaan. 

Karena gw bukan KTP Bali, otomatis gw harus bawa surat keterangan bekerja. Nah dari situ kita antri nunggu giliran dan dimasukkan data kita. Lalu geser ke kursi sampingnya untuk tes tensi darah dan pertanyaan seputar riwayat penyakit yang harus dijawab dengan jujur. Karena kalau boong, yang rugi juga kita sendiri. Kemudian jalan suntik ke sampingnya, yang sesungguhnya gw juga nggak tau apakah itu harus antri lagi atau gimana, karena giliran gw dipake orang. Bisa jadi gw juga pake giliran orang. Tapi begitu data masuk, sampai proses suntik sih nggak lama. 

Dari datang sampai nunggu kertas untuk vaksin kedua keluar, ada kali satu jam. Karena gw cek jam setengah 10 gw dapet SMS yang menyatakan gw udah vaksin yang pertama dan data tersebut langsung terhubung dengan aplikasi Peduli Lindungi. 

Perasaan gw begitu liat aplikasi itu senengnya bukan main. Bener-bener "OMG GW UDAH BANTU DUNIA MENYELESAIKAN SATU MASALAH". Ya iya dong, makin banyak yang divaksin makin cepet pandemi usai. Lalu gw masih nunggu kertas yang dicetak tadi sembari dijelaskan kalau ada efek sampingnya harus gimana. 

Gw disuruh minum paracetamol langsung setelah vaksin. Mungkin untuk pereda nyeri di lengan. Tapi temen gw nggak pake gituan. Hanya ketika demam saja. Nah mereka bilang kalau dalam waktu 4-6 jam ke depan demam, paracetamolnya harus diminum lagi sampai nggak demam. Sembari mengkonsumsi vitamin C selama 7 hari ke depan. 

Temen gw juga ada yang bilang buat ngeliat kondisi di hari ke-4. Karena gw pake AZ, disarankan juga mengawasi kondisi tubuh terutama hari ke-8 sampai hari ke-20. AZ yang punya kasus pembekuan darah jadi lebih diawasi aja dan harus sensitif ke perubahan yang ada dalam tubuh. 

Suntik kedua gw nanti di bulan Agustus. Jarak AZ lama juga ya sampai hampir 3 bulan itu. Lalu gw mampir minimarket beli jajanan dan roti karena gw belum sarapan. Setelahnya gw diem, mikir, "Gw udah vaksin. Baru setengah tapi gw udah vaksin." Pengen nangis hey rasanya! SAKING BAHAGIANYA!!

Bebarengan dengan antrian tadi, beberapa orang WA mereka kaget karena gw vaksin. "Kok berani sih vaksin? Kan banyak yang mati! Temenku demam sampai seminggu, tetanggaku lumpuh! Katanya ada efek sampingnya" AK ELAHHH makanya sebelum vaksin itu harus tau kondisi tubuh gimana, harus dalam kondisi sehat & fit. Jangan sampai ada penyakit bawaan yang bisa jadi terpantik karena kandungan bahan vaksin. 

Sebaiknya sebelum vaksin periksa dulu ke dokter. Kalau ada penyakit, harus periksa dulu. Kalau dokter sudah oke, barulah petugas berani suntik vaksin. Tentu saja gw berharap gw nggak akan ada efek apapun setelah vaksin. Semoga nggak ada efek samping serius. Temen gw di Singapura ada yang vaksin kedua langsung masuk UGD karena ternyata, ga ada angin ga ada hujan, dia alergi sama bahan vaksinnya. Alergi dengan bahan vaksinnya.

Kejadian tak terelakkan itu juga sudah di luar kendali kita. 

Tentunya, dengan vaksin ini BUKAN BERARTI kita NGGAK akan kena covid. Tolong dicatat ya. Gw kira ini udah materi umum yang semua orang wajib tahu karena vaksin toh kita juga dapet dari bayi kan? Tapi ternyata masih ada yang beranggapan males vaksin karena vaksin nggak vaksin juga masih bisa kena 😓 Nggak gitu cara mainnya hey Madona. 

Kalau kita vaksin, kemungkinan kena penyakitnya ya masih ada. Tapi diharapkan, memiliki kemungkinan kecil untuk menjadi parah. Gejalanya diharapkan akan lebih ringan. Seenggaknya, kalau situ vaksin sedangkan yang satunya nggak vaksin, dan ternyata sama-sama kena covid barengan, peluang kamu yang vaksin untuk sampai makai alat bantu oksigen itu kecil. 

Perlu dicatat ya, kalau semuanya juga tergantung dengan imunitas tubuh kita masing-masing. Satu kasus tentunya tidak sama dengan kasus lainnya. 

Lalu ada kasus yang udah vaksin lengkap ternyata malah meninggal karena covid? Ya tetep ada kasus seperti itu. Tapi kenapa bisa meninggal? Bisa saja ada faktor penyakit bawaan yang nggak disadari. Bisa saja waktu vaksin dalam kondisi tidak fit. Banyak faktor lainnya. Tapi bukan berarti harus takut lalu memutuskan untuk tidak vaksin. 

Soal demam, nyeri di bekas suntikan, lemes, laper berlebihan, itu sih efek normal dari semua jenis vaksin yang ada, bukan vaksin covid aja. Jangan lupa aja, kalau memang gejala berlanjut segera ke dokter. Yang penting kita tau tubuh kita kondisinya gimana, perubahan apa yang terjadi dalam tubuh sebelum dan sesudah vaksin. Tetap pantau kondisi tubuh setelah vaksin.

Btw, gw hari kedua sukses menjadi manusia gombal dan nyeri di lengan. Nggak yang luar biasa banget sakitnya, tapi lebih dari biasanya. Hari ketiga udah mulai normal lagi. 

If you have that privilege to get a vaccine, just go grab yours! I can't do this alone. Let's do this together, shall we? 😉

Comments

  1. Ya ya, pengalaman seperti ini yang saya butuhkan, karena saya agak mikir² mau vaksin sebenarnya, takut resikonya.

    Karena saya sendiri sadar gak sadar kayanya pernah kena covid19 hanya OTG dan sembuh sendiri, karena dari gejalanya covid banget.

    Kemudian ada masalah nyeri² dada yang ditakutkan itu jantung. Saya takut covid yg dl pernah sempet kena sbg OTG membangkitkan masalah di jantung. Nanti malah mati sebelum waktunya hahaha

    Emang urusan mati, urusan Yang Kuasa, kita hanya bisa mempersiapkan saat kematian itu tiba. Bukan begitu ... 😂😇

    ReplyDelete
    Replies
    1. kabarnya kalau udah pernah covid, 3 bulan setelahnya boleh vaksin. tapi kayaknya harus nanya petugas juga sih. Aturannya ganti2 juga sih. Karena ini juga vaksin baru juga jadi pastikan aja nggak ada penyakit bawaan pas screening sebelum suntik. Kalau emang bener-bener takut, bisa aja check up dulu ke dokter dan pastiin dokternya bilang ok baru bisa berangkat vaksin. intinya emang kitanya harus terbuka soal apa yang kita rasain atau derita, biar ga salah sasaran juga.

      Vaksin aja, biar cepet2 musnah si virus ini.

      Delete
  2. Pakai vaksin AZ berarti nggak masalah ya MBak Prisca? Temen2 guru disini yang udah senior udah pada vaksin duluan kebagiannya Sinovac.. ini tinggal yang semi bapak-bapak sama semi ibu-ibu nunggu giliran vaksin, dan kayaknya kebagiannya vaksin AZ.. jujur aja lumayan was-was sih :-D

    Tapi ya mau gimana lagi, semoga nanti aman-aman aja... soalnya emang mikirnya kayaknya udah lega banget ya kalau udah vaksin ~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gimanaaa semi bapak-bapak ibu-ibu ini 😂
      Was-was kenapa masnya? Kalau ada dan dapet jatah mending ambil aja sih. Asal kesehatannya mendukung ya. Kalau hipertensi dan punya penyakit yg ga boleh vaksin ya jangan diambil hehe.

      Ini udah hari ke-10 setelah vaksin dan so far so good. Masih tetep dipantau 10 hari lagi. Semoga badannya tahan banting. Kalau demam atau nyeri setelah vaksin malah pertanda bagus sih soalnya vaksinnya mulai bekerja di tubuh. Yang penting abis vaksin makan yang banyak aja wkwkw

      Semoga ini pertanda pandemi segera usai. Uda capek banget yaallah pandeminya kepanjangan ini 😩

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Romanticizing My Cooking

Bakso I have to admit that my love for cooking is growing. It's growing and I can't believe it myself. This feeling has been like this since probably two years ago. Before, cooking felt like a hard work that I had to fulfill. It still is, but the difference is I enjoy it now. So it does not feel like I am forcing myself.  Back then whenever I cooked, it's either wrong recipe or incorrect measurement. It never tasted right. So I gave up cooking just because I never found the right one. And then I started to feel that I wanna eat better. I don't want to just eat whatever, I want to know what goes into my body. If I prepare it myself, then I know it's good one.  I don't eat too much sugar, sometimes it is hard to buy one thing outside and has a lot of sugar in it. So cooking it myself will allow me to control the amount of sugar. So I found recipes and I tried to make them. As to my surprise, they taste right! Exactly how they should have tasted. That made me happy

Cerita Karantina di Hotel

Cerita karantina selanjutnya 2 kali di hotel. Kali ini, semuanya berjalan lebih terkoordinir. List hotel karantina bisa dilihat di sini . Jadi nggak ada lagi drama nggak diladenin karena ina inu. Tinggal pilih hotel, hubungi hotel via WA atau email, kirim dokumen yang diperlukan, lalu kita dapat QR code yang nantinya ditunjukkan ke pihak bandara.  Karantina pertama kali di hotel gw bulan September kalau nggak Oktober 2021 dan bulan Januari 2022. Gw pesen di dua hotel berbeda. Karantina di hotel pertama dapet rejeki cuma 3 hari, jadi biaya yang dikeluarkan juga nggak sebanyak kemaren yang 7 hari.  dipakein gelang rumah sakit, dilepas pas check out. Nah, alurnya secara detail ada yang berubah sedikit tapi secara garis besar masih sama. Begitu datang, urus dokumen ini itu, lalu kita di PCR di lokasi. PCR ini hasilnya didapat dalam waktu 1 dan 2 jam karena ada dua lab yang berbeda. Waktu pertama kali gw karantina, gw harus nunggu hasil di bandara sebelum diangkut ke hotel. Tapi karantina k

Gojek ke bandara juanda

While waiting, jadi mending berbagi sedikit soal gojek. Karena saya adalah pengguna setia gojek, saya pengen cobain ke bandara pake gojek. Awalnya saya kira tidak bisa *itu emang sayanya aja sih yang menduga nggak bisa*, trus tanya temen katanya bisa karena dia sering ke bandara pakai motornya. Nah berarti gojek bisa dong?? Sebelum-sebelumnya kalo naek gojek selalu bayar cash, tapi kali ini pengen cobain top up go pay. Minimum top up 10ribu. Jadi saya cobain deh 30ribu dulu. Eh ternyata lagi ada promo 50% off kalo pake go pay. Haiyaaaaa kenapa ga dari dulu aja ngisi go pay hahaha. Dari kantor ke bandara juanda sekitar 8km. Kantor saya sih daerah rungkut industri. Penasarannn banget ini abang mau lewat mana ya. Tertera di layar 22ribu, tapi karena pakai go pay diskon 50% jadinya tinggal 11ribu. Bayangin tuhh... pake bis damri aja 30ribu hahaha. 11ribu udah nyampe bandara. Biasanya 15ribu ke royal plaza dari kantor haha. Lagi untung. Bagus deh. Nah sepanjang perjalanan, saya mikir ter