Skip to main content

Sayang Bumi Sayang Anak

Sharjah - UAE Gw suka banget belanja online. Ya karena praktis aja. Tentu saja gw juga suka banget belanja langsung on the spot  kalau lagi stress dan lagi ada waktu buat muter-muter. Tapi... ternyata gw jadi kesel tiap abis belanja online, gw harus berurusan dengan plastik-plastik bekas belanja.  "Dih plastik lagi." Emang, beberapa barang tentu saja perlu plastik/ bubble wrap  ekstra. Tapi banyak dari belanjaan gw yang nggak perlu itu semua. Tebel banget. Gw paham juga beberapa toko lebih milih dibungkus plastik tebel biar tokonya nggak dikomplain. Tapi bagi gw, udah kebangetan.  Gw tau kita nggak bisa sepenuhnya nggak pakai plastik. Kita masih akan pakai plastik. Konsekuensinya, ya kita harus tau sampah plastik ini harus diolah gimana biar nggak kebuang sia-sia. Mana nggak bisa terurai ratusan tahun lagi.  Masalahnya, plastik ini seringkali nggak bisa dipake lagi karena selotip yang muter. Susah lah di- breakdown lagi biar bisa dipakai ulang. Akhirnya, tentu saja dibuang pe

Lebih Sensitif Sejak di Bali

Sanur

Sejak tinggal di Bali gw ngerasa sehat mentalnya 🙈 Ada hal lain yang gw sadari. Gw jadi lebih sensitif ke alam. Seperti yang kita ketahui, persembahan orang Bali setiap harinya selalu tentang tuhan dan alam. Rasanya gw ikut melebur di situ. Akibatnya gw jadi lebih sensitif. 

Gw sadari sejak bulan pertama di Bali gw udah bisa ngerasain getaran gempa 3 kali dalam sebulan. Sehalus apapun itu gw bisa kerasa. Dulu di Jawa, kalo nggak gempa gede banget yang sampe pintu lemari buka tutup sendiri, gw nggak akan bisa ngerasain.


Sumpah ya, sunset di Seminyak ini selalu keren

Selain itu, gw jadi lebih sadar tiap bulan purnama datang. Ya karena orang Bali pasti pake kebaya lengkap buat sembahyang. Terutama jika bulan purnama yang terjadi bukan di hari kamis (orang Bali tiap kamis pake kebaya ke tempat kerja). Tiap bulan purnama, otomatis laut akan pasang. Pagi hari pasti ombaknya gede banget deh. Tapi siangnya, bisa dipake berendam enak karena airnya banyak banget. Jadi nggak perlu jauh-jauh nyemplung buat berendam. 

Tentu saja gw juga jadi lebih bisa mengetahui arah mata angin sesederhana mana utara, selatan, barat, timur. Karena Bali, lagi-lagi, arah mata angin penting banget untuk kepercayaan mereka. Jadi semua bangunan ngadepnya genah. Gw bisa tau banget tempat tinggal gw menghadap barat, pas. Bener-bener pas teng. Jadi gw tau banget kalo mau ke Sanur arahnya kemana. 

Mau ditanyain arah sama orang juga sekarang bisa dengan pedenya jawab, "Oh ke utara dikit, nanti jalan aja ke barat" Nggak lagi jawab, "oh nanti ada indomart, nah di sampingnya itu ke kiri dikit, kira-kira ada tong sampah nah itu ke kanan" 😂 

Agak ngerasa pinter gw jadinya 😎

Kalian gimana? Blend-in juga sama lingkungan sekitar? 😆

Comments

  1. Kayaknya klop banget sama Bali ya Mbak, sampai bisa kuat banget chemistry-nya 😁

    Jadi bisa ngerasain ada gempa juga nggak kayak di Jawa 😁

    btw, itu semua tempat kerja mbak Kamis pakai kebaya? Guru di sekolah jugakah?

    Jujur kalo saya orangnya juga susah tahu arah ... kayaknya sekalipun udah di Bali pun tetep aja mudah hilang arah 😆

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahhaa perlu waktu sebentar buat kenal arah di sini mas. Idup di Jawa 20 tahun lebih masih gatau arah, di bali blm 2 tahun udah tau mana utara selatan timur barat dan pemetaannya. Lebih gampang sih emang, kotak-kotak soalnya kayak masang lego wkwkkw.

      Di Bali serunya tiap kamis emang semuanya berkebaya. Udah hampir 2 tahun ini nggak ngeliat orang sekolah pake kebaya. Cantik2 semua mereka si siswa2 ini berkebaya. bisa jadi inspirasi cari gaya kebaya juga hehehee. Wajibnya terutama di lingkungan yang di bawah naungan pemerintah sih ya. Kalau yg swasta bisa ngikut bisa nggak, tapi lebih banyak yg ikut daripada yang enggak. Jadi suka bgt kalo hari kamis hehehe

      Delete
  2. Oh Indra keenam nya makin terasah sejak tinggal di Bali ya, ada gempa sedikit juga terasa.

    Baru tahu kalo di Bali tiap hari Kamis semua pakai kebaya.😄

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya asik juga tiap kamis ngeliat semua orang pake baju adat begini. jadi lebih dapet aja rasanya

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

The Reward of Teaching

Buku belajar Bahasa Indonesia dalam berbagai bahasa. I've become a teacher since semester 9. That being said, my teaching journey started in 2013. Took hiatus for 2 something years then I came back to these exam sheets, students, books, and social interactions. Didn't even want to become one but I fell in love right after I jumped in.  I guess I need to ask to apologize to my dad. I was mad at him a long time ago because he asked me to be one lol. Well, maybe I just didn't like the idea of being a teacher in a class where your students don't even care about you telling stuff in front of the class. That actually made me realize that I prefer to teach whoever wants to learn. Although sometimes I just need to teach without knowing what's their reasons to learn, and that is also fine. I do what I had to do. That is why I hate grading because I don't mind giving them a perfect score but what's the point if they know nothing after the course ended? I never teach a

[Book] Dunia Cecilia

'apakah kalian membicarakan hal semacam itu di surga?' 'tapi kami berusaha tidak membicarakannya dekat-dekat Tuhan. ia sangat sensitif terhadap kritik' Yap, sepenggal dialog antara Cecilia dan malaikat Ariel. Saya mengenal Jostein Gaarder sejak kuliah. Ehhhh 'mengenal' dalam artian kenal bukunya ya, kalo bisa kenal pribadi mah bisa seneng jingkrak-jingkrak hehehe. Jadi karena teman saya mendapat tugas kuliah membaca satu novel filsafat berjudul Dunia Sophie, saya jadi sedikit mengetahui si bapak Gaarder ini. Enak ya tugasnya anak sastra baca novel, tugas anak matematika ya baca sih, tapi pembuktian kalkulus -_- Dunia Cecilia ini buku pertama Jostein Gaarder yang saya baca, karena buku Dunia Shopie sangatlah berat berdasar review teman saya. Saya sih nggak perlu baca buku itu karena teman saya sudah benar-benar mahir bercerita. Jadilah saya sudah paham bener cerita Dunia Sophie tanpa membacanya. Novel ini atas rekomendasi teman saya, dia bilang kala

Feeling Balanced

Never thought that I could feel this balanced. I now understand what zen is.  After all ups and downs that made me question my existential (probably won't be the last), I am starting to feel only love and less hate. As if love and compassion filling my heart every day. It's easy to annoy me normally, but so far, this past couple of months I feel less annoyed. So weird, crazy, yet amazing. Say, when I hear people talking about things I prefer not to talk about, like polygamy, I don't feel hate anymore. Usually, I'll say bad words, cursing them, you name it. But last night I watched a video about that and it made me feel "HA HA HA Stupid ignorant reasons" that was it. I thought I'll be emotional and angry, but I didn't. I even take pity for them. I know it's their right to do so, but the youngest wife wanted to go to college, and instead, she is married to that old guy who promised her to pay for her college. But that never happens (yet) even after 3