Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Mencari Tempat Bernaung di Bali



Hal pertama yang dilakukan disini adalah hunting tempat tinggal. Yaiyalah. Gw terbang dari Surabaya ke Denpasar hari kamis dan bermalam di Sanur 2 malam. Sengaja milih Sanur sih emang, yang sekiranya yaaa 5 menit jalan ke pantai.

Barang-barang gw macem mesin cuci, kulkas dkk sudah duluan berangkat pakai jasa pick-up sore hari dan tiba di Denpasar esok pagi harinya (barang gw kirim ke kantor). Kita berterimakasih sekali kepada Mas Firda dan kawannya yang amat sangat bertanggungjawab bahkan melakukan final check takutnya barang pecah belahnya pecah dijalan. Terima kasih banget. Duh jasamu begitu kurindukan disini lol.

Selama beberapa hari barang gw tidur di kantor sampai gw nemuin tempat tinggal. Nah nyari tempat tinggal disini yaaaa susah susah gampang. Karena kita nggak cari rumah (mahal juga untuk rumah yang lumayan nyaman), jadi kita cari apartemen atau biasa disebut kos eksklusif begitu. Nah kos kan kebanyakan dan umumnya hanya satu kamar, plus dapur mini dan juga kamar mandi. Cukup sih, masalahnya adalah seberapa besarnya. Karena gw bakal ada suami yang datang dan dia cukup lah cerewet kalo soal space, as well as me yang juga sering butuh space luas buat kerja dan goler-goler.

Susahnya disitu. Udah nemu satu tempat yang 10 menit dari tempat kerja, 10 menit ke pantai, luasnya 3x8m (cukup besar), eh ternyata fully booked. Baru kosong tanggal 17. Nah trus gw tinggal dimana sampai tanggal 17? Disuruh di homestay aja sih sampai tempatnya available. Cuma... kok jadi mamang setelah liat tempatnya yang agak "suram". Milih tempat tinggal kan kudu klik ya kan?

Yaudah cari lagi lainnya, terkendala pasti karena lebarnya. Ada satu tempat yang amat sangat menarik hati. Tapi lokasinya di sekitar Seminyak yaaa duh jauh kali. Ya setidaknya 20 menit menuju tempat kerja dan nggak terlalu familiar disana juga sih. Tapi desain tempatnya, sungguh membuatku jatuh hati.

lantai 1 (ruang santai, dapur, toilet)

lantai 2 (kasur)

Cantik kan desainnya? Sederhana dalam penataan dan fungsionalis. Tapi karena terlalu jauh jadi ya harus kurelakan saja lah. Cari tempat lain, hingga hari kedua kutemukan satu tempat yang cukup oke dengan desain yang keren, ada kamar (ruang kamar, bukan hanya kasur yang langsung satu ruangan jadi satu dengan dapurnya). Jadi kalau masak juga kamar nggak akan bau dapur, ruang TV sudah termasuk sofa yang bisa dijadikan tempat tidur ekstra, toiletnya luas terpisah kaca jadi super kering (kita suka toilet kering), dan ada tempat mesin cuci yang sudah disesuaikan jadi nggak bingung gimana meletakkan mesin cuci. Sudah termasuk kulkas (jadi kulkas gw tinggal di kantor dan dipasang dikantor dulu haha! Make your office homey). Bahkan ada beberapa fasilitas yang harus diambil empunya karena gw udah bawa sendiri. 

Jadi hari kedua di Bali gw udah dapet tempat tinggal dan esoknya check out hotel sekaligus pindah masukin barang ke tempat baru, juga sewa pick up yang hmm ga usah di ceritain gimana slow nya. Intinya barang masuk rumah baru hari itu dan gw berbenah dari sore sampai tengah malam. Btw, landlord gw dan juga mbak yang bersih-bersih tiap sore baik banget. Setidaknya mereka murah senyum banget dan helpful banget.

Cukup luas untuk satu orang plus satu suami. Meskipun gw masih butuh tempat untuk buku, mungkin nanti gw bisa nambah satu lemari kecil untuk buku. Tapi yang gw suka dari tempat ini adalah, transformasi gw dari rumah yang super gede ke tempat tinggal kecil minimalis, nyapu ngepelnya sangat less effort. Tiap hari ngepel pun oke gw 😂

Pencahayaan bagus banget, gw jadi punya spot foto bagus dirumah sendiri. Cukup banget lah buat gw tinggal sendiri (juga berdua kalau suami datang). Nanti gw mau cari tumbuhan biar keliatan lebih hidup, gw bikin nyaman lah. Soal harga, yaaaa akhirnya sedikit overbudget sih 😅. Tapi ya sudahlah. Nyaman banget, cocok, klik, sekali liat langsung jatuh cinta. Kayaknya sih bakalan lama disitu wkkwkw. Kemudian, yang gw nggak sadari, tetangga gw kebanyakan WNA haha! Jadi sepi adem ayem 😁

Comments

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Getting my Hands on Film Camera

In attempts to slow_myself_down_away_from_digital_life, I am getting my hands on film camera. Yes, the kind of camera where you need to put the film roll in and then start snapping. If you are lucky, the pictures will turn up good but if not then we let the fate decide. This is not my first rodeo on using film camera, but it definitely is the first ever to buy the film and develop it using my own money. It is not cheap, which I know.  What can I say, it's an expensive hobby.  I used my first film roll to take photos of my favorite people. So it has more human than random pictures. It was on family event. After the last shot, I wanted to develop it before I flew to Bali but they had no lab. Luckily we have the lab in Bali. I developed and scanned the film in Ojisanfilmlab Bali. They're just a google away. They sell the roll as well. I had to tell the TSA to do the hand checking rather putting it through the scanner. They understood.  Cimol hides himself in his favorite sp...

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

BERDIKARI

Kau tahu kawan kepanjangan dari Berdikari?? Aku rasa, kebanyakan dari kita pasti tau itu kan??!! Yah, BERDIKARI adalah berdiri di kaki sendiri. Artinya??? Mandiri, tangguh, tidak bergantung pada orang lain. Itu yang sejak dulu di gaung-gaungkan kepada kita. Indonesia merupakan salah satu negara yg berkembang. Kita emang sih belum menjadi negara maju seperti Eropa atau Amerika atau negara manapun lah itu. Tapi jika sedikit ditelisik nih ya, kita merdeka adalah hasil perjuangan atau hasil pemberian?! Pasti kita dengan kepala tegak akan mengatakan "Perjuangan sendiri, kerja keras kami selama ratusan tahun". Iya! Benar. Kita merdeka atas keringat dan darah seluruh warga negara. Kita berdiri di tanah merdeka ini dengan kerja keras. Patut bangga? Patut!!! Karena merdeka dengan hasil sendiri, tidak ada negara lain yg menopang hidup kita. Kita berdiri, berjalan, dan berlari atas kemauan kita sendiri. Akibatnya apa? Akibatnya tidak akan ada negara lain yg mengurus kepentingan intern...