Skip to main content

Mengalahkan Rasa Takut akan Tenggelam

Makanan setelah renang di KOOD Sanur (serba vegan) Dari dulu takut banget sama air dengan volume yang besar. Mungkin di kehidupan gw sebelumnya gw pernah tenggelem kali ya. Makanya nggak pernah bisa renang. Karena ya takut tenggelam. Bahkan sekedar kecipak kecipuk aja takut. Sampai pindah ke Bali. Pindah ke Bali nggak berekspektasi setinggi itu sih. Ternyata, jadi lebih sering main air di pantai. Nggak renang, cuma berendam aja. Lama-lama jadi kebiasaan dan udah mulai terbiasa dengan air. Ternyata seru juga yaa. Kemudian dilatih suami gw buat berani snorkeling. Iya takut awalnya, nggak percaya meskipun dia bilang nggak akan tenggelam karena pake fin. Hmm masaaaa~~ Ya tetep pake pelampung sih. Pertama kali nyemplung, tentu saja heboh takut tenggelam padahal udah pake pelampung, pake fin, mana dipegangin juga. Tapi heboh aja, takut tenggelem. Ada 3 spot waktu itu, gw cuma nyemplung satu spot aja belum juga 15 menit udah naik kapal. Beberapa kali snorkeling akhirnya baru berani lepas pela

Tindakan Amoral

Cerita ini bermula dari suami seorang teman yang bercerita kepada istrinya yaitu teman kami dan kemudian teman kami menceritakan ulang kepada kami ......skip.....

  
sheknows.com

Alkisah seorang suami dari seorang teman ini bercerita bahwa kejadian kasus pembuangan bayi meningkat di bulan September ini, di kota seberang. Analisa sementara mengacu pada kemungkinan kasus free sex without protection pada awal tahun baru 2017. Pas ya, 9 bulan kan?


Terlepas dari siapa pelakunya, usia berapa pelakunya, bagaimana latar belakang sosialnya, ingin hati saya mengatakan mereka adalah bajingan, namun apa daya... mungkin saja kebanyakan dari mereka juga korban. Korban pemerkosaan misal. Untuk kasus pemerkosaan, jelas saya tidak bisa menulis lebih jauh karena memang kejadiannya adalah kecelakaan. Tapi bagaimana dengan kasus suka sama suka yang ingin mengejar nikmatnya duniawi tanpa memikirkan hal yang jauh ke depan?

Saya tidak berbicara soal agama disini. Karena semua agama yang saya tahu melarang hubungan seksual sebelum nikah. Yang saya ingin tuliskan disini adalah bagaimana pendidikan seks masih dianggap tabu hingga tidak pantas diajarkan kepada anak. Hal yang paling sederhana dari kegiatan koitus adalah proses sperma bertemu dengan ovum, dan berpotensi menjadikan itu suatu kehamilan. Sederhana kan? Tapi kenapa banyak yang nggak paham?

Kita anggap saja remaja belasan tahun pelakunya, yang masih bau kencur dan ingin merasakan hal-hal 'enak' tanpa mengetahui efek samping dari hal yang dilakukannya. Efek samping pasti sudah diketahuinya, tapi dia tidak menghiraukan efek samping tersebut. Yang penting enak, klimaks, enak lagi. Jangankan yang belasan tahun, yang sepantaran saya aja, ada yang begitu. Seks sebelum nikah, tapi tanpa peduli proteksi apapun, ntah kondom ataupun pil. Dia hanya ingin enak, klimaks, enak lagi.

Saya kira ini juga tergantung dari faktor sosial budaya kita yang nggak mengijinkan hubungan seks sebelum nikah, lingkungan beragama yang taat yang tak layak memperbincangkan soal seks (ini nggak cuma islam aja lho, serius), lingkungan yang terlalu konservatif dan menganggap hal itu terlalu kebarat-baratan. Well yea to be honest, meskipun itu hal kebarat-baratan dan nggak cocok dilakukan disini, toh anak-anak jaman sekarang suka meniru trend dari barat. Mau nggak mau sebagai orang tua harusnya mengikuti trend tersebut. Maksudnya, mereka harus up to date biar anak-anaknya nggak kebobolan. Bukan malah menutup mata. Ya susah juga sih, tapi kan kita harus berusaha. Eh tapi di barat, mereka terbuka dan usia remaja diberikan pendidikan seksual dan kalau bisa diberikan penyuluhan tentang kontrasepsi juga. Jadi kasus bayi dibuang atau kehamilan tak diinginkan pun tidak sebanyak disini.

Dengan beberapa hal yang saya kira menjadi pemicunya, akhirnya menjadikan anak-anak berontak. 'Ah kan cobain cuman dikit', atau 'Ah nggak mungkin hamil kalo sekali', atau mungkin 'hamil ga hamil urusan nanti'. Lagi-lagi soal pendidikan ya. Pendidikan yang kurang, pengetahuan yang sempit, akan menjadikan hal ini seperti lingkaran setan. Terus berulang. Jikalau memang sudah kebobolan, orangtua akan dengan terpaksa menikahkan anaknya dan 3 bulan kemudian sudah melahirkan.

Guys, gw ga halangi kalian mau berhubungan seks sebelum nikah ataupun nggak itu urusan kalian. Kalopun kalian percaya dosa, ya itu dosa kalian bukan dosa gw. Tapi satu hal yang kalian mesti tau, anak itu tanggungjawabnya luar biasa gede. Gw belom punya anak sih, tapi ngebayangin mendidik mereka secara moral dan spiritual serta emosional, itu nggak melulu soal duit juga. Tapi tentang kesiapan. Ada jutaan pasang suami istri yang pengen banget punya anak, tapi belom dikasih sama yang punya hidup, tapi ada banyak pasang orang yang tak bertanggungjawab melakukan seks pranikah dan hamil dan membuang bayinya. Kalau toh kalian hamil, ga masalah. Tapi jangan dibuang bayinya plis. Mereka nggak salah, mereka juga nggak bisa milih untuk dilahirkan dikeluarga apa.

Kalaupun kalian hamil dan merasa masih belum siap dengan kehadiran bayi ini, tolong belajar lah. Belajarlah lebih untuk menjadi orangtua yang setidaknya memberikan yang terbaik untuk anak. Terus belajar dan belajar. Membuang bayi kalian tidak akan menyelesaikan masalah.

Kalau kalian yang ingin melakukan hubungan seksual sebelum nikah, tolong lakukan dengan proteksi dan bertanggungjawab. Jangan sampai demi yang enak-enak kalian nggak menghiraukan resiko penyakit kelamin dan juga resiko kehamilan yang mungkin terjadi.

Kalau kalian takut dengan resiko yang terjadi, yaudah jangan lakuin sampai kalian nikah nantinya. Gampang kan?!

Pilihan ada ditangan kalian, tanggungjawab juga ditangan kalian sendiri.

Comments

Popular posts from this blog

Book : Semakin Dalam Di Jejak Langkah

  Buku ketiga dari Buru Tetralogi ini lebih berat dari Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa . Disini banyak disinggung tentang Multatuli yang mengungkap "kotornya" birokrasi. Kotor disini tentu saja soal korupsi. Semakin dalam membaca ternyata semakin paham kalo kemungkinan besar korupsi ini "warisan budaya" kolonial. Buku ini pun mengatakan bahwa kolonial berhutang banyak gulden kepada Hindia Belanda atas semua hitungan 'meleset'nya penerimaan pajak dan penyalurannya. Siapa yang nggak mau untung banyak? Ya kolonial menang banyak. Bahkan kalau mau benar-benar dihitung, bisa jadi mereka kalah. Tapi nggak mungkin kan diusut karena kolonial tau kalau mereka bakal ketauan salah dan memungkiri itu. Jadi yaaa, lenyap begitu saja. Disini Minke kawin setelah ditinggal Annelies yang Indo dia kawin dengan yang orang tionghoa. Lagi-lagi pula dia ditinggalkan karena istrinya sakit (kemudian kawin lagi dengan Prinses yang ntah darimana tapi yang jelas dia berpendid

Traveling During Pandemic

CGK to DPS I am one of the people who travel (relatively a lot) during a pandemic. Unfortunately, me being in a long-distance marriage, need mental and physical support once in a while.  In the beginning, we met after 8 months of the pandemic and then 3 or 4 months, then every 2 months. I went wild the first 8 months of the pandemic. Everything felt harder. I know many people feel the same, I am not the only one. We're just coping with the best we can do.  The island I call home 💙 It was so stressful the first time traveling during the pandemic. Like I said here , it's not really worth the effort if you're traveling "for fun". PCR price was crazy, every time we have to calculate the time, make it double as well as the price. Because we buy the time with money. I usually book a ticket at least 2-4 weeks before my travel, then went to the airport 2 hours before my flying time, everything felt so efficient but not during the pandemic. I booked my ticket a week befor

[Piknik] Prambanan lagi

Salah satu pesona Jawa Tengah adalah Candi Prambanan. Saya sudah 3 kali berkunjung ke situs warisan dunia ini. Candi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan jogja ini selalu menimbulkan kesan mistis bagi saya. Terletak tak jauh dari jalan raya, sehingga mengunjunginya pun sangat mudah. Berbeda dengan Candi Borobudur yang letaknya sangat jauh dari jalan raya besar.  Ok, menurut saya ada 3 cara menuju candi ini. Menggunakan bus transjogja, taksi, dan kendaraan pribadi. Bagi yang menggunakan transjogja, saya pernah menggunakannya berangkat dari daerah kampus UNY, daerah Depok Sleman. 1 kali transit, 2 kali berganti bus. Dengan harga transjogja yang kala itu, 2014, seharga 3500 rupiah. Tapi sampai saat ini masih sama harganya, menurut info dari teman. Lokasi shelter bis berada agak jauh dari pintu masuk lokasi candi, mungkin kira-kira 500meter sampai 1kilometer. Kalau jalan, menghabiskan waktu sekitar 15-20menit. Bisa juga naik becak untuk opsi yang lain. Lagi-lagi, jangan lupa men