Skip to main content

Mengalahkan Rasa Takut akan Tenggelam

Makanan setelah renang di KOOD Sanur (serba vegan) Dari dulu takut banget sama air dengan volume yang besar. Mungkin di kehidupan gw sebelumnya gw pernah tenggelem kali ya. Makanya nggak pernah bisa renang. Karena ya takut tenggelam. Bahkan sekedar kecipak kecipuk aja takut. Sampai pindah ke Bali. Pindah ke Bali nggak berekspektasi setinggi itu sih. Ternyata, jadi lebih sering main air di pantai. Nggak renang, cuma berendam aja. Lama-lama jadi kebiasaan dan udah mulai terbiasa dengan air. Ternyata seru juga yaa. Kemudian dilatih suami gw buat berani snorkeling. Iya takut awalnya, nggak percaya meskipun dia bilang nggak akan tenggelam karena pake fin. Hmm masaaaa~~ Ya tetep pake pelampung sih. Pertama kali nyemplung, tentu saja heboh takut tenggelam padahal udah pake pelampung, pake fin, mana dipegangin juga. Tapi heboh aja, takut tenggelem. Ada 3 spot waktu itu, gw cuma nyemplung satu spot aja belum juga 15 menit udah naik kapal. Beberapa kali snorkeling akhirnya baru berani lepas pela

Freaky

 

Kucing ini semacem nggak tau diri. Ceritanya bermula ketika gw sama HJ pindahan rumah ke Malang. Tetiba ini kucing parkir di atas mobil papa. Duduk manis gitu lah diatas kap mobil.

Nah kita beberapa hari langsung aja cabut dari Malang dalam rangka yahhh honeymoon part 1, balik-balik ke Malang kok ya ini kucing semakin nempel ke catman yang ada dirumah. Dikasih makan nggak mau, maunya dielus-elus dikasih perhatian gitu. Sampai akhirnya HJ kasih nama dia Freaky.

Semakin aneh aja karena dia pasti dateng kalo kita buka pintu dapur. Tiap dibuka, nggak sampai lah 5 detik si kucing udah sampai depan pintu. Apalagi kalau dipanggil FREAKY, ehh langsung meong-meong.

HJ dengan bangganya ngeklaim kalau Freaky ini memilih kita untuk menjadi bosnya (berasa kayak 'terimakasih nak kau telah memilih kami sebagai orangtuamu' 😯), jadi kalau nanti kita pindah dari Malang, kita harus bawa Freaky ini. Dari semua hal terkait kepindahan rumah, yang diinget pertama kali 'Pokoknya kalo kita pindah kita harus bawa Freaky, dia milik kita'. Bahkan sebelum HJ balik kerja aja yang dipesenin pertama kali 'Jangan lupa kasih makan freaky! Awas kalo nggak kamu kasih makan' 😕

Sekarang si Freaky lagi hamil, ntah siapa yang menghamilimu nak. Apakah si Friko kucing blok belakang? Ataukah si hitam legam yang selalu mengejar cintamu tapi selalu kau campakkan nak?

Comments

  1. si freaky dijodohin sama kucingku asyik
    itemnya dominan
    klo sama kucingku putih bakalan kece anaknya
    sayang udah gak perawan huhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jarang ada kucing prawan sekarang mah... jadi kamu menerima ketidakperawanan Freaky apa ndak?

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Book : Semakin Dalam Di Jejak Langkah

  Buku ketiga dari Buru Tetralogi ini lebih berat dari Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa . Disini banyak disinggung tentang Multatuli yang mengungkap "kotornya" birokrasi. Kotor disini tentu saja soal korupsi. Semakin dalam membaca ternyata semakin paham kalo kemungkinan besar korupsi ini "warisan budaya" kolonial. Buku ini pun mengatakan bahwa kolonial berhutang banyak gulden kepada Hindia Belanda atas semua hitungan 'meleset'nya penerimaan pajak dan penyalurannya. Siapa yang nggak mau untung banyak? Ya kolonial menang banyak. Bahkan kalau mau benar-benar dihitung, bisa jadi mereka kalah. Tapi nggak mungkin kan diusut karena kolonial tau kalau mereka bakal ketauan salah dan memungkiri itu. Jadi yaaa, lenyap begitu saja. Disini Minke kawin setelah ditinggal Annelies yang Indo dia kawin dengan yang orang tionghoa. Lagi-lagi pula dia ditinggalkan karena istrinya sakit (kemudian kawin lagi dengan Prinses yang ntah darimana tapi yang jelas dia berpendid

Traveling During Pandemic

CGK to DPS I am one of the people who travel (relatively a lot) during a pandemic. Unfortunately, me being in a long-distance marriage, need mental and physical support once in a while.  In the beginning, we met after 8 months of the pandemic and then 3 or 4 months, then every 2 months. I went wild the first 8 months of the pandemic. Everything felt harder. I know many people feel the same, I am not the only one. We're just coping with the best we can do.  The island I call home 💙 It was so stressful the first time traveling during the pandemic. Like I said here , it's not really worth the effort if you're traveling "for fun". PCR price was crazy, every time we have to calculate the time, make it double as well as the price. Because we buy the time with money. I usually book a ticket at least 2-4 weeks before my travel, then went to the airport 2 hours before my flying time, everything felt so efficient but not during the pandemic. I booked my ticket a week befor

[Piknik] Prambanan lagi

Salah satu pesona Jawa Tengah adalah Candi Prambanan. Saya sudah 3 kali berkunjung ke situs warisan dunia ini. Candi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan jogja ini selalu menimbulkan kesan mistis bagi saya. Terletak tak jauh dari jalan raya, sehingga mengunjunginya pun sangat mudah. Berbeda dengan Candi Borobudur yang letaknya sangat jauh dari jalan raya besar.  Ok, menurut saya ada 3 cara menuju candi ini. Menggunakan bus transjogja, taksi, dan kendaraan pribadi. Bagi yang menggunakan transjogja, saya pernah menggunakannya berangkat dari daerah kampus UNY, daerah Depok Sleman. 1 kali transit, 2 kali berganti bus. Dengan harga transjogja yang kala itu, 2014, seharga 3500 rupiah. Tapi sampai saat ini masih sama harganya, menurut info dari teman. Lokasi shelter bis berada agak jauh dari pintu masuk lokasi candi, mungkin kira-kira 500meter sampai 1kilometer. Kalau jalan, menghabiskan waktu sekitar 15-20menit. Bisa juga naik becak untuk opsi yang lain. Lagi-lagi, jangan lupa men