Skip to main content

Romanticizing My Cooking

Bakso I have to admit that my love for cooking is growing. It's growing and I can't believe it myself. This feeling has been like this since probably two years ago. Before, cooking felt like a hard work that I had to fulfill. It still is, but the difference is I enjoy it now. So it does not feel like I am forcing myself.  Back then whenever I cooked, it's either wrong recipe or incorrect measurement. It never tasted right. So I gave up cooking just because I never found the right one. And then I started to feel that I wanna eat better. I don't want to just eat whatever, I want to know what goes into my body. If I prepare it myself, then I know it's good one.  I don't eat too much sugar, sometimes it is hard to buy one thing outside and has a lot of sugar in it. So cooking it myself will allow me to control the amount of sugar. So I found recipes and I tried to make them. As to my surprise, they taste right! Exactly how they should have tasted. That made me happy

Perjalanan Panjang Lukisan Diri

 

Mama mertua ceritanya membuat sketsa diriku sebagai hadiah ulangtahun kala itu. Namun ternyata sketsanya disempurnakan menjadi sebuah lukisan nan apik.

Cerita bermula ketika lukisan ini berangkat dari Amsterdam menuju Istanbul. Karena papa itu orang yang sangat kreatif dalam hal permak dan produksi sesuatu, dibikinkanlah frame untuk lukisan tersebut. Dengan ukuran yang pas, kemudahan untuk memasang lukisannya, semuanya sudah diperhitungkan secara matang. Bahkan bertanya kepada pihak bandara Ams apakah diperbolehkan membawa frame kayu ke kabin, dan mereka bilang okay nggak masalah.

bentuk mulanya begini, dengan frame kayu melingkar ke roll lukisannya

Tibalah lukisan cantik itu di Istanbul. Amsterdam - Istanbul tanpa ada masalah sedikitpun. Aman. Dan mereka berdua bilang 'Unpack aja kalau udah sampai Indonesia, jangan disini nanti susah packingnya lagi'. Manut.

Setelah 9 hari di Istanbul, saatnya saya dan suami terbang ke Tbilisi. Drama pun dimulai. Ketika melewati security check tiba-tiba mbak yang tanpa senyum menghiasi wajahnya itu bilang 'What is this?', kita jelasin aja panjang lebar dan dia seketika bilang 'NO'. Apa ya 'NO' ini? alasannya apa? Wong ini dari Amsterdam baek-baek aja lho. Kita minta penjelasan dan dia cuman bisa bilang NO tanpa senyum. Mamer bilang 'Elu ga senyum sama sekali, mau gw lukis lu?'. Saya nangis sih waktu itu, bukan karena gimana ya, karena saya nggak dapet perlakuan dan penjelasan baik dari petugasnya, plus itu hadiah dan papa sendiri yang bikin. Bayangin lah kita dikasih hadiah sama orang eh trus suruh dibuang, kan sakit rasanya....

Ya saya tau sih tongkat baseball ga boleh masuk kabin, tapi kan frame ini bukan tongkat baseball huhu

Tapi yang minta maaf malah papa karena jadi bikin repot :(

Akhirnya setelah dibuang, lukisanku sampai di Tbilisi dengan keadaan telanjang. Ya maksudnya cuman dalem roll aja. Masih segelan.

6 hari di Tbilisi, kita terbang balik lagi ke Istanbul (sebelum terbang ke Dubai). Karena merasa 'aman' setelah frame dibuang, ah pasti ntar nggak bakal ada masalah lah. Eh ternyata nyampe security check ditanyain 'Mana ijinnya?'. Ijin apaan ya???? Emang dikasih hadiah lukisan dari mertua yang mana dia bikin sendiri kudu ijin pemerintah gitu? Akhirnya kita disuruh menunggu sekitar 30 menitan, dan itu menyebalkan karena mereka sibuk sendiri pas ditanya kita nunggu siapa, mereka cuman jawab 'Tunggu aja'. Sebel gw.

30 menit berlalu, ada seorang mbak mini menghampiri dan bertanya apakah kita sudah declare lukisan ini? OMG! saya tau kalau barang mahal pasti harus di declare berdasarkan harga barang yang dibelinya (CMIIW), tapi ini barang pemberian, terlebih lagi mama nggak beli tapi bikin sendiri dilukis sendiri. Nah gimana ngitungnya harus declare coba? Kita jelasin, dia ngotot 'Pokoknya kalau lukisan itu harus declare dibandara manapun, nggak cuman di Georgia aja'. Nah trus penyelesaiannya gimana?

Setelah dia diskusi dengan bosnya, akhirnya kita dibolehin dengan syarat nanti sampai Istanbul harus di declare. Okay. Manut. Sampai Istanbul kita menuju tempat declare  dan nanya :
'Bang, ini perlu di declare nggak?'
'Berapa elu beli tong?'
'Kagak beli bang, nyak gw sendiri yang bikin buat gw'
'Yaudah nggak usah tong, wong gratis kan'

Disitu saya pengen balik lagi ke Tbilisi buat mencaci maki mbaknya. KATANYA suruh declare di bandara manapun diseluruh dunia behhhh. Yang bener aja mbak.

Nah trus kita terbang ke Dubai. Ntah kenapa Emirates di bandara Ataturk mendadak jadi ketat soal bagasi. Mungkin ya ada yang melanggar kali ya, kebetulan sih koperku udah aku proses transfer sampai Singapore, jadi nggak perlu ambil sendiri di Dubai (nggak ada visa juga buat ambil keluar custom). Petugas Emirates bersahabat banget deh bantuin sampe kelar. Tapi di ruang tunggu tiba-tiba ada ibu-ibu dimarahin gara-gara kopernya terlalu berat dan keukeh dibawa ke kabin. Jadilah mereka muter-muter ngecek penumpang kira-kira bawa barang yang terlarang nggak ini. Duh saya deg deg an lagi lah, sambil berdoa semoga ini lukisan aman aja sampe rumah. Soalnya ukurannya 60x70cm, dan itu udah nggak ukuran kabin kan?

Ternyata, lolos! Duh pengen sujud sukur deh. Tapi masih deg deg an juga dari Dubai ke Singapore. Berharap perjalanan mulus mulus aja kek pantat bayi. Dan dengan doa yang tiada henti, sampailah lukisan tersebut dengan selamat di Singapore.

 
di dalem MRT ngantuk berat sembari jagain ini lukisan biar nggak nggelundung soale udah nggak ada talinya buat nyangklongin 

Besoknya saatnya terbang final, Singapore-Surabaya. Deg deg ser lagi pas cetak boarding pass. Dan mbak Garuda nanya itu apa, setelah saya jelasin dia bilang 'Hmm sebenernya hari ini penerbangan agak tough ya, jadi kalo misal kabin banyak barangnya, kamu taro lukisan kamu dibawah kursi aja ya. Nggak apa-apa kan?' Uhh baik banget mbak ini. Iya nggak apa-apa mbak asal ga kamu sita aja lukisan ini.

....katanya tough mbak, wong kursinya banyak yang kosong di pesawat mbak, depan belakangku aja kosong kakak...

 Ada sedikit drama di Changi. Saya terbang jam 7.30 malem tapi saya udah di bandara jam 1 siang. Karena udah males jalan-jalan dan udah capek setelah lebih dari 24 jam nggak bubu dengan bener, nunggulah saya di bandara selama kurang lebih 7 jam. Eh la kok ya pas gate udah buka saya malah santai-santai sampai akhirnya last call. Orang capek itu bikin bego ya

2 jam Singapore-Surabaya, akhirnya mendarat dengan sempurna saya beserta lukisan ini dengan selamat. Setelah Amsterdam - Istanbul - Tbilisi - Istanbul - Dubai - Singapore - Surabaya.... akhirnya... dia terpasang cantik di frame yang dibeli di Malang deket rumah.

taraaaaaa finally

Tanpa saya harus nulis moral valuenya apa, kamu bisa baca sendiri dan menyimpulkan sendiri. Kalau ada yang kurang jelas, silakan tanya deh, daripada kamu menderita kek aku wkwkkw

Comments

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

If Money Wasn't The Problem, What Would You Do?

In this extraordinary life, I would be a teacher still.  Helping people to understand even some little things to make them feel worthy and understand themselves better. It seems that teaching has become a calling for me. Not about teaching such specific subject like mathematics or so, but more like... I like to give new perspectives for people, and having them saying "Oh.... I see..." is satisfying for me. Of course, by teaching I can learn so many new perspectives from different people too. It's like the more I teach the more I learn, and that is so true. Maybe more like a guide. I like giving guidance to people who needs it. No, I don't like giving unsolicited guiding. I like to guide people who wants to be guided. I'd teach them how to love, love themselves first. Yea sure when we are talking about things, they would say "do useful things like engineering, plumbing, this and that" but they tend to forget that we need some balance in life. Not saying t

Cerita Karantina di Hotel

Cerita karantina selanjutnya 2 kali di hotel. Kali ini, semuanya berjalan lebih terkoordinir. List hotel karantina bisa dilihat di sini . Jadi nggak ada lagi drama nggak diladenin karena ina inu. Tinggal pilih hotel, hubungi hotel via WA atau email, kirim dokumen yang diperlukan, lalu kita dapat QR code yang nantinya ditunjukkan ke pihak bandara.  Karantina pertama kali di hotel gw bulan September kalau nggak Oktober 2021 dan bulan Januari 2022. Gw pesen di dua hotel berbeda. Karantina di hotel pertama dapet rejeki cuma 3 hari, jadi biaya yang dikeluarkan juga nggak sebanyak kemaren yang 7 hari.  dipakein gelang rumah sakit, dilepas pas check out. Nah, alurnya secara detail ada yang berubah sedikit tapi secara garis besar masih sama. Begitu datang, urus dokumen ini itu, lalu kita di PCR di lokasi. PCR ini hasilnya didapat dalam waktu 1 dan 2 jam karena ada dua lab yang berbeda. Waktu pertama kali gw karantina, gw harus nunggu hasil di bandara sebelum diangkut ke hotel. Tapi karantina k

Ujian hari senin

Kejadian ini terjadi tepat senin minggu lalu. Baru kali itu aku merasa 'WOW.. ini senin yeay'. Karena biasanya 'haduhh udah senen lagi'. Kebayang kan kalo seneng begitu dihari senen menyambut pagi dan hari itu rasanya langka banget. Otomatis pengennya hari itu berlangsung indah. Jam setengah 9 pagi, seperti biasa ke pantry ambil minum bareng sama temen sebangku. Dia bikin teh, aku nyuci botol sekalian ngisi dong. Seperti biasa juga, kadang aku males sih nyuci botol dengan ritual lengkapnya, akhirnya cuman bilas pake air panas. Ya mungkin nggak sampe 50 ml juga. Dikit banget deh. Temen juga selalu bersihin gitu gelasnya pake air panas. Pic source is here Eh lakok lakok... si bapak pantry yang serem itu tiba-tiba bilang 'Gak bisa ya gak nyuci botol pake air panas? Tiap sore itu banyak komplain gara-gara airnya abis'. Yakaliii air abis tinggal isi aja, ibu yang dulu aja nggak pernah ada komplain. Ya aku bilang lah ini cuman dikit, lagian yang ngelakuin ini