Skip to main content

The Reward of Teaching

Buku belajar Bahasa Indonesia dalam berbagai bahasa. I've become a teacher since semester 9. That being said, my teaching journey started in 2013. Took hiatus for 2 something years then I came back to these exam sheets, students, books, and social interactions. Didn't even want to become one but I fell in love right after I jumped in.  I guess I need to ask to apologize to my dad. I was mad at him a long time ago because he asked me to be one lol. Well, maybe I just didn't like the idea of being a teacher in a class where your students don't even care about you telling stuff in front of the class. That actually made me realize that I prefer to teach whoever wants to learn. Although sometimes I just need to teach without knowing what's their reasons to learn, and that is also fine. I do what I had to do. That is why I hate grading because I don't mind giving them a perfect score but what's the point if they know nothing after the course ended? I never teach a

Perjalanan Panjang Lukisan Diri

 

Mama mertua ceritanya membuat sketsa diriku sebagai hadiah ulangtahun kala itu. Namun ternyata sketsanya disempurnakan menjadi sebuah lukisan nan apik.

Cerita bermula ketika lukisan ini berangkat dari Amsterdam menuju Istanbul. Karena papa itu orang yang sangat kreatif dalam hal permak dan produksi sesuatu, dibikinkanlah frame untuk lukisan tersebut. Dengan ukuran yang pas, kemudahan untuk memasang lukisannya, semuanya sudah diperhitungkan secara matang. Bahkan bertanya kepada pihak bandara Ams apakah diperbolehkan membawa frame kayu ke kabin, dan mereka bilang okay nggak masalah.

bentuk mulanya begini, dengan frame kayu melingkar ke roll lukisannya

Tibalah lukisan cantik itu di Istanbul. Amsterdam - Istanbul tanpa ada masalah sedikitpun. Aman. Dan mereka berdua bilang 'Unpack aja kalau udah sampai Indonesia, jangan disini nanti susah packingnya lagi'. Manut.

Setelah 9 hari di Istanbul, saatnya saya dan suami terbang ke Tbilisi. Drama pun dimulai. Ketika melewati security check tiba-tiba mbak yang tanpa senyum menghiasi wajahnya itu bilang 'What is this?', kita jelasin aja panjang lebar dan dia seketika bilang 'NO'. Apa ya 'NO' ini? alasannya apa? Wong ini dari Amsterdam baek-baek aja lho. Kita minta penjelasan dan dia cuman bisa bilang NO tanpa senyum. Mamer bilang 'Elu ga senyum sama sekali, mau gw lukis lu?'. Saya nangis sih waktu itu, bukan karena gimana ya, karena saya nggak dapet perlakuan dan penjelasan baik dari petugasnya, plus itu hadiah dan papa sendiri yang bikin. Bayangin lah kita dikasih hadiah sama orang eh trus suruh dibuang, kan sakit rasanya....

Ya saya tau sih tongkat baseball ga boleh masuk kabin, tapi kan frame ini bukan tongkat baseball huhu

Tapi yang minta maaf malah papa karena jadi bikin repot :(

Akhirnya setelah dibuang, lukisanku sampai di Tbilisi dengan keadaan telanjang. Ya maksudnya cuman dalem roll aja. Masih segelan.

6 hari di Tbilisi, kita terbang balik lagi ke Istanbul (sebelum terbang ke Dubai). Karena merasa 'aman' setelah frame dibuang, ah pasti ntar nggak bakal ada masalah lah. Eh ternyata nyampe security check ditanyain 'Mana ijinnya?'. Ijin apaan ya???? Emang dikasih hadiah lukisan dari mertua yang mana dia bikin sendiri kudu ijin pemerintah gitu? Akhirnya kita disuruh menunggu sekitar 30 menitan, dan itu menyebalkan karena mereka sibuk sendiri pas ditanya kita nunggu siapa, mereka cuman jawab 'Tunggu aja'. Sebel gw.

30 menit berlalu, ada seorang mbak mini menghampiri dan bertanya apakah kita sudah declare lukisan ini? OMG! saya tau kalau barang mahal pasti harus di declare berdasarkan harga barang yang dibelinya (CMIIW), tapi ini barang pemberian, terlebih lagi mama nggak beli tapi bikin sendiri dilukis sendiri. Nah gimana ngitungnya harus declare coba? Kita jelasin, dia ngotot 'Pokoknya kalau lukisan itu harus declare dibandara manapun, nggak cuman di Georgia aja'. Nah trus penyelesaiannya gimana?

Setelah dia diskusi dengan bosnya, akhirnya kita dibolehin dengan syarat nanti sampai Istanbul harus di declare. Okay. Manut. Sampai Istanbul kita menuju tempat declare  dan nanya :
'Bang, ini perlu di declare nggak?'
'Berapa elu beli tong?'
'Kagak beli bang, nyak gw sendiri yang bikin buat gw'
'Yaudah nggak usah tong, wong gratis kan'

Disitu saya pengen balik lagi ke Tbilisi buat mencaci maki mbaknya. KATANYA suruh declare di bandara manapun diseluruh dunia behhhh. Yang bener aja mbak.

Nah trus kita terbang ke Dubai. Ntah kenapa Emirates di bandara Ataturk mendadak jadi ketat soal bagasi. Mungkin ya ada yang melanggar kali ya, kebetulan sih koperku udah aku proses transfer sampai Singapore, jadi nggak perlu ambil sendiri di Dubai (nggak ada visa juga buat ambil keluar custom). Petugas Emirates bersahabat banget deh bantuin sampe kelar. Tapi di ruang tunggu tiba-tiba ada ibu-ibu dimarahin gara-gara kopernya terlalu berat dan keukeh dibawa ke kabin. Jadilah mereka muter-muter ngecek penumpang kira-kira bawa barang yang terlarang nggak ini. Duh saya deg deg an lagi lah, sambil berdoa semoga ini lukisan aman aja sampe rumah. Soalnya ukurannya 60x70cm, dan itu udah nggak ukuran kabin kan?

Ternyata, lolos! Duh pengen sujud sukur deh. Tapi masih deg deg an juga dari Dubai ke Singapore. Berharap perjalanan mulus mulus aja kek pantat bayi. Dan dengan doa yang tiada henti, sampailah lukisan tersebut dengan selamat di Singapore.

 
di dalem MRT ngantuk berat sembari jagain ini lukisan biar nggak nggelundung soale udah nggak ada talinya buat nyangklongin 

Besoknya saatnya terbang final, Singapore-Surabaya. Deg deg ser lagi pas cetak boarding pass. Dan mbak Garuda nanya itu apa, setelah saya jelasin dia bilang 'Hmm sebenernya hari ini penerbangan agak tough ya, jadi kalo misal kabin banyak barangnya, kamu taro lukisan kamu dibawah kursi aja ya. Nggak apa-apa kan?' Uhh baik banget mbak ini. Iya nggak apa-apa mbak asal ga kamu sita aja lukisan ini.

....katanya tough mbak, wong kursinya banyak yang kosong di pesawat mbak, depan belakangku aja kosong kakak...

 Ada sedikit drama di Changi. Saya terbang jam 7.30 malem tapi saya udah di bandara jam 1 siang. Karena udah males jalan-jalan dan udah capek setelah lebih dari 24 jam nggak bubu dengan bener, nunggulah saya di bandara selama kurang lebih 7 jam. Eh la kok ya pas gate udah buka saya malah santai-santai sampai akhirnya last call. Orang capek itu bikin bego ya

2 jam Singapore-Surabaya, akhirnya mendarat dengan sempurna saya beserta lukisan ini dengan selamat. Setelah Amsterdam - Istanbul - Tbilisi - Istanbul - Dubai - Singapore - Surabaya.... akhirnya... dia terpasang cantik di frame yang dibeli di Malang deket rumah.

taraaaaaa finally

Tanpa saya harus nulis moral valuenya apa, kamu bisa baca sendiri dan menyimpulkan sendiri. Kalau ada yang kurang jelas, silakan tanya deh, daripada kamu menderita kek aku wkwkkw

Comments

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

The Reward of Teaching

Buku belajar Bahasa Indonesia dalam berbagai bahasa. I've become a teacher since semester 9. That being said, my teaching journey started in 2013. Took hiatus for 2 something years then I came back to these exam sheets, students, books, and social interactions. Didn't even want to become one but I fell in love right after I jumped in.  I guess I need to ask to apologize to my dad. I was mad at him a long time ago because he asked me to be one lol. Well, maybe I just didn't like the idea of being a teacher in a class where your students don't even care about you telling stuff in front of the class. That actually made me realize that I prefer to teach whoever wants to learn. Although sometimes I just need to teach without knowing what's their reasons to learn, and that is also fine. I do what I had to do. That is why I hate grading because I don't mind giving them a perfect score but what's the point if they know nothing after the course ended? I never teach a

Dapet Visa UAE (Dubai) Gampang Banget

Dubai creek Beberapa waktu yang lalu, kita pusing berat karena H dapet libur kali ini cuman 10 hari. 10 hari dari yang biasanya 14 hari. Akhrinya diputuskan untuk tetap mengambil libur tapi nggak ke Indonesia.  Ternyata, beberapa hari kemudian, dia bilang, kalau liburnya malah jadi 7-8 hari aja. Mau ga mau saya yang harus kesana. Maksudnya terbang mendekatinya. Udah milih-milih negara mana yang harganya rasional, yang ga banyak makan waktu buat terbangnya H, dan tentunya ga ribet urus visa buat pemegang paspor hijau yang ga sesakti paspornya H.  Btw warna paspor Indonesia jadi biru ya sekarang?? Pilihan jatuh ke Dubai. Pemegang paspor hijau harus bikin visa, ya pusing lagi deh cara bikin visa Dubai nih gimana. Apa iya sesusah bikin visa schengen, visa US, visa lainnya. dari persyaratan sih standar ya, termasuk  record  bank account selama 3 bulan. Emang nggak pernah bikin visa Dubai sebelumnya ya, apalagi H yang paspornya super sakti kemana-mana (hampir) ga perlu visa, dia ga pernah ad

Catatan Kuliah (6) : Masuk bareng, keluar bareng (?)

Sanur Sebagai mahasiswa yang masih belum mengenal kerasnya kehidupan kala itu, kita berikrar "Kita masuk bareng kita juga harus keluar bareng." Naif? Iya tentu. Maklumin aja namanya juga mahasiswa baru kan. Maunya yang  flawless  terus. Tapi apa salahnya sih berdoa baik kali aja malaikat mengamini lol.  Ternyata, kenyataannya, tentu saja tidak. Iya kalau semua  setting  nya  default  semua mahasiswa tidak ada kesulitan yang berarti, dosen nggak resek, mahasiswa juga nggak resek, data nggak resek, pasti lulus bareng kita. Kehidupan perkuliahan keras di akhir hahaha Gw dari awal masuk kampus ngerasa kalo gw nggak akan lulus tepat waktu. Aneh ya, harusnya orang mikir lulus tepat waktu tapi gw udah ada feeling. Dan gw berusaha keras buat nggak terlalu jatuh dalam angka. Ya maksudnyaaaa karena gw anak minor komputasi jadi gw udah bisa tebak lah data yang gw pake pasti agak makan waktu. Jadi  range  kelulusan adalah 7 semester, 8 semester, 9 semester, diatas 9 semester. Temen gw ya