Skip to main content

Mengalahkan Rasa Takut akan Tenggelam

Makanan setelah renang di KOOD Sanur (serba vegan) Dari dulu takut banget sama air dengan volume yang besar. Mungkin di kehidupan gw sebelumnya gw pernah tenggelem kali ya. Makanya nggak pernah bisa renang. Karena ya takut tenggelam. Bahkan sekedar kecipak kecipuk aja takut. Sampai pindah ke Bali. Pindah ke Bali nggak berekspektasi setinggi itu sih. Ternyata, jadi lebih sering main air di pantai. Nggak renang, cuma berendam aja. Lama-lama jadi kebiasaan dan udah mulai terbiasa dengan air. Ternyata seru juga yaa. Kemudian dilatih suami gw buat berani snorkeling. Iya takut awalnya, nggak percaya meskipun dia bilang nggak akan tenggelam karena pake fin. Hmm masaaaa~~ Ya tetep pake pelampung sih. Pertama kali nyemplung, tentu saja heboh takut tenggelam padahal udah pake pelampung, pake fin, mana dipegangin juga. Tapi heboh aja, takut tenggelem. Ada 3 spot waktu itu, gw cuma nyemplung satu spot aja belum juga 15 menit udah naik kapal. Beberapa kali snorkeling akhirnya baru berani lepas pela

Mengintip Grand Mosque Sheikh Zayed

 Pergi ke UAE tak lengkap tanpa mengunjungi Grand Mosque Sheikh Zayed yang ada di Abu Dhabi. Meskipun tujuan awal ada di Dubai, tapi kita niat mlipir ke Abu Dhabi yang jaraknya 2 jam dari Dubai menggunakan bis.

Kita pun menuju terminal Al-Ghubaibah untuk membeli tiket bis menuju Abu Dhabi. Karena ketololan saya, saya sama sekali nggak tau kalau antrian beli tiket dipisah antara cowo sama cewe, pas dipanggil 'mam, please here!', saya sih ngah ngoh aja. Ternyata baru sadar kalo antriannya cowo semuanya dan untungnya HJ langsung 'nyelametin' mukak istrinya ini buat pindah ke loket seberang karena kita salah loket. Well.. at least gw nggak ngeliat mukaknya para cowo-cowo yang udah ngelirik gw dari atas sampe bawah sembari (mungkin) mikir 'ini cewe sakit?'. Beda budaya kaka

 
pulangnya pengen top up kartunya eh tapi malah dikasih tiket kertas begini

Ok, tiket ditangan. Kali ini saya dikasih kartu transportasi yang multifungsi ala negeri maju which is jadi hobi teranyar sekarang. Seneng dong! Tapi dompet nggak muat lama-lama hahha!. Dari Al-Ghubaibah ke Abu Dhabi harganya sekitar AED 25, dengan jarak tempuh 2 jam. Sepanjang jalan kita ngapain? Tidur! Karena emang kanan kiri hamparan gurun dan semua hal yang berbau gurun. Kita bangun setengah jam sebelum turun bis.

 
terminal Abu Dhabi, bagian bis menuju Dubai

Kita memutuskan berangkat dari Dubai sekitar jam 2 siang, jadi sampai di Abu Dhabi sekitar jam 4 sore dan itu masih panas banget.

Setelah turun bis, kita naik taksi menuju masjid yang jaraknya 15 menit dari terminal bis.

Masjidnya super sekali. Super gede. Karena ini adalah masjid terbesar di UEA, dan bener-bener strict banget kalau mau masuk sana. Yang jelas ada aturan dalam berpakaian. Saya yang tadinya pake jeans, akhirnya ganti celana. kalaupun baju nggak sesuai, nanti akan dipinjami jubah untuk wanita dan laki-laki. Jubahnya persis kek jubah yang dipake di The Handmaid's tale. Lucu gitu.

aturan berpakaian

Masjid ini luas tempat parkirnya, hmm sebut saja tamannya ya. Jalan menuju masjidnya itu lho lama. Sebelum masuk juga ada security check macam masuk bandara, saya berkali-kali bunyi ternyata saya baru sadar kalo sepatu saya kan ada metal-nya (yang baru bener-bener saya sadari pas disuruh nyeker di bandara Dubai). Nah interiornya dominasi warna putih, pilarnya asik banget, tempat wudhunya uuuhhhh uwapiiikkk tenan. Nah ada juga perpustakaannya tapi kita nggak masuk sih. Kita udah keburu butuh AC jadinya kita mlipir ke coffee shop nya. Tapi kita sholat disana, maghrib. Adzannya subhanallah, luar biasa bikin tenang. and guess what? I am the only one who wear mukena hahaha!

 

 

 

 

 
sunset

 

 

  
sayang tempat wudhunya ga boleh difoto dan saya ternyata bisa juga mematuhi aturan hahaha

 
nah baju yang coklat diseberang itu buat cewek, yang putih buat cowo

 

  

Kalau ke UEA jangan lupa mampir yaaa...

Comments

  1. wih apik
    pingin gulung2 ndek tengah iku, subhamanllah
    jiboober gak oleh mlebu yo mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. huwalah mas, gulung2 yo sido digeret pulisi e tho hahaha

      ora oleh melbu mas, langsung dikrukupi wes ahah

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Book : Semakin Dalam Di Jejak Langkah

  Buku ketiga dari Buru Tetralogi ini lebih berat dari Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa . Disini banyak disinggung tentang Multatuli yang mengungkap "kotornya" birokrasi. Kotor disini tentu saja soal korupsi. Semakin dalam membaca ternyata semakin paham kalo kemungkinan besar korupsi ini "warisan budaya" kolonial. Buku ini pun mengatakan bahwa kolonial berhutang banyak gulden kepada Hindia Belanda atas semua hitungan 'meleset'nya penerimaan pajak dan penyalurannya. Siapa yang nggak mau untung banyak? Ya kolonial menang banyak. Bahkan kalau mau benar-benar dihitung, bisa jadi mereka kalah. Tapi nggak mungkin kan diusut karena kolonial tau kalau mereka bakal ketauan salah dan memungkiri itu. Jadi yaaa, lenyap begitu saja. Disini Minke kawin setelah ditinggal Annelies yang Indo dia kawin dengan yang orang tionghoa. Lagi-lagi pula dia ditinggalkan karena istrinya sakit (kemudian kawin lagi dengan Prinses yang ntah darimana tapi yang jelas dia berpendid

Traveling During Pandemic

CGK to DPS I am one of the people who travel (relatively a lot) during a pandemic. Unfortunately, me being in a long-distance marriage, need mental and physical support once in a while.  In the beginning, we met after 8 months of the pandemic and then 3 or 4 months, then every 2 months. I went wild the first 8 months of the pandemic. Everything felt harder. I know many people feel the same, I am not the only one. We're just coping with the best we can do.  The island I call home 💙 It was so stressful the first time traveling during the pandemic. Like I said here , it's not really worth the effort if you're traveling "for fun". PCR price was crazy, every time we have to calculate the time, make it double as well as the price. Because we buy the time with money. I usually book a ticket at least 2-4 weeks before my travel, then went to the airport 2 hours before my flying time, everything felt so efficient but not during the pandemic. I booked my ticket a week befor

[Piknik] Prambanan lagi

Salah satu pesona Jawa Tengah adalah Candi Prambanan. Saya sudah 3 kali berkunjung ke situs warisan dunia ini. Candi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan jogja ini selalu menimbulkan kesan mistis bagi saya. Terletak tak jauh dari jalan raya, sehingga mengunjunginya pun sangat mudah. Berbeda dengan Candi Borobudur yang letaknya sangat jauh dari jalan raya besar.  Ok, menurut saya ada 3 cara menuju candi ini. Menggunakan bus transjogja, taksi, dan kendaraan pribadi. Bagi yang menggunakan transjogja, saya pernah menggunakannya berangkat dari daerah kampus UNY, daerah Depok Sleman. 1 kali transit, 2 kali berganti bus. Dengan harga transjogja yang kala itu, 2014, seharga 3500 rupiah. Tapi sampai saat ini masih sama harganya, menurut info dari teman. Lokasi shelter bis berada agak jauh dari pintu masuk lokasi candi, mungkin kira-kira 500meter sampai 1kilometer. Kalau jalan, menghabiskan waktu sekitar 15-20menit. Bisa juga naik becak untuk opsi yang lain. Lagi-lagi, jangan lupa men