Skip to main content

Sayang Bumi Sayang Anak

Sharjah - UAE Gw suka banget belanja online. Ya karena praktis aja. Tentu saja gw juga suka banget belanja langsung on the spot  kalau lagi stress dan lagi ada waktu buat muter-muter. Tapi... ternyata gw jadi kesel tiap abis belanja online, gw harus berurusan dengan plastik-plastik bekas belanja.  "Dih plastik lagi." Emang, beberapa barang tentu saja perlu plastik/ bubble wrap  ekstra. Tapi banyak dari belanjaan gw yang nggak perlu itu semua. Tebel banget. Gw paham juga beberapa toko lebih milih dibungkus plastik tebel biar tokonya nggak dikomplain. Tapi bagi gw, udah kebangetan.  Gw tau kita nggak bisa sepenuhnya nggak pakai plastik. Kita masih akan pakai plastik. Konsekuensinya, ya kita harus tau sampah plastik ini harus diolah gimana biar nggak kebuang sia-sia. Mana nggak bisa terurai ratusan tahun lagi.  Masalahnya, plastik ini seringkali nggak bisa dipake lagi karena selotip yang muter. Susah lah di- breakdown lagi biar bisa dipakai ulang. Akhirnya, tentu saja dibuang pe

Mengintip Grand Mosque Sheikh Zayed

 Pergi ke UAE tak lengkap tanpa mengunjungi Grand Mosque Sheikh Zayed yang ada di Abu Dhabi. Meskipun tujuan awal ada di Dubai, tapi kita niat mlipir ke Abu Dhabi yang jaraknya 2 jam dari Dubai menggunakan bis.

Kita pun menuju terminal Al-Ghubaibah untuk membeli tiket bis menuju Abu Dhabi. Karena ketololan saya, saya sama sekali nggak tau kalau antrian beli tiket dipisah antara cowo sama cewe, pas dipanggil 'mam, please here!', saya sih ngah ngoh aja. Ternyata baru sadar kalo antriannya cowo semuanya dan untungnya HJ langsung 'nyelametin' mukak istrinya ini buat pindah ke loket seberang karena kita salah loket. Well.. at least gw nggak ngeliat mukaknya para cowo-cowo yang udah ngelirik gw dari atas sampe bawah sembari (mungkin) mikir 'ini cewe sakit?'. Beda budaya kaka

 
pulangnya pengen top up kartunya eh tapi malah dikasih tiket kertas begini

Ok, tiket ditangan. Kali ini saya dikasih kartu transportasi yang multifungsi ala negeri maju which is jadi hobi teranyar sekarang. Seneng dong! Tapi dompet nggak muat lama-lama hahha!. Dari Al-Ghubaibah ke Abu Dhabi harganya sekitar AED 25, dengan jarak tempuh 2 jam. Sepanjang jalan kita ngapain? Tidur! Karena emang kanan kiri hamparan gurun dan semua hal yang berbau gurun. Kita bangun setengah jam sebelum turun bis.

 
terminal Abu Dhabi, bagian bis menuju Dubai

Kita memutuskan berangkat dari Dubai sekitar jam 2 siang, jadi sampai di Abu Dhabi sekitar jam 4 sore dan itu masih panas banget.

Setelah turun bis, kita naik taksi menuju masjid yang jaraknya 15 menit dari terminal bis.

Masjidnya super sekali. Super gede. Karena ini adalah masjid terbesar di UEA, dan bener-bener strict banget kalau mau masuk sana. Yang jelas ada aturan dalam berpakaian. Saya yang tadinya pake jeans, akhirnya ganti celana. kalaupun baju nggak sesuai, nanti akan dipinjami jubah untuk wanita dan laki-laki. Jubahnya persis kek jubah yang dipake di The Handmaid's tale. Lucu gitu.

aturan berpakaian

Masjid ini luas tempat parkirnya, hmm sebut saja tamannya ya. Jalan menuju masjidnya itu lho lama. Sebelum masuk juga ada security check macam masuk bandara, saya berkali-kali bunyi ternyata saya baru sadar kalo sepatu saya kan ada metal-nya (yang baru bener-bener saya sadari pas disuruh nyeker di bandara Dubai). Nah interiornya dominasi warna putih, pilarnya asik banget, tempat wudhunya uuuhhhh uwapiiikkk tenan. Nah ada juga perpustakaannya tapi kita nggak masuk sih. Kita udah keburu butuh AC jadinya kita mlipir ke coffee shop nya. Tapi kita sholat disana, maghrib. Adzannya subhanallah, luar biasa bikin tenang. and guess what? I am the only one who wear mukena hahaha!

 

 

 

 

 
sunset

 

 

  
sayang tempat wudhunya ga boleh difoto dan saya ternyata bisa juga mematuhi aturan hahaha

 
nah baju yang coklat diseberang itu buat cewek, yang putih buat cowo

 

  

Kalau ke UEA jangan lupa mampir yaaa...

Comments

  1. wih apik
    pingin gulung2 ndek tengah iku, subhamanllah
    jiboober gak oleh mlebu yo mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. huwalah mas, gulung2 yo sido digeret pulisi e tho hahaha

      ora oleh melbu mas, langsung dikrukupi wes ahah

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

[Book] Dunia Cecilia

'apakah kalian membicarakan hal semacam itu di surga?' 'tapi kami berusaha tidak membicarakannya dekat-dekat Tuhan. ia sangat sensitif terhadap kritik' Yap, sepenggal dialog antara Cecilia dan malaikat Ariel. Saya mengenal Jostein Gaarder sejak kuliah. Ehhhh 'mengenal' dalam artian kenal bukunya ya, kalo bisa kenal pribadi mah bisa seneng jingkrak-jingkrak hehehe. Jadi karena teman saya mendapat tugas kuliah membaca satu novel filsafat berjudul Dunia Sophie, saya jadi sedikit mengetahui si bapak Gaarder ini. Enak ya tugasnya anak sastra baca novel, tugas anak matematika ya baca sih, tapi pembuktian kalkulus -_- Dunia Cecilia ini buku pertama Jostein Gaarder yang saya baca, karena buku Dunia Shopie sangatlah berat berdasar review teman saya. Saya sih nggak perlu baca buku itu karena teman saya sudah benar-benar mahir bercerita. Jadilah saya sudah paham bener cerita Dunia Sophie tanpa membacanya. Novel ini atas rekomendasi teman saya, dia bilang kala

Feeling Balanced

Never thought that I could feel this balanced. I now understand what zen is.  After all ups and downs that made me question my existential (probably won't be the last), I am starting to feel only love and less hate. As if love and compassion filling my heart every day. It's easy to annoy me normally, but so far, this past couple of months I feel less annoyed. So weird, crazy, yet amazing. Say, when I hear people talking about things I prefer not to talk about, like polygamy, I don't feel hate anymore. Usually, I'll say bad words, cursing them, you name it. But last night I watched a video about that and it made me feel "HA HA HA Stupid ignorant reasons" that was it. I thought I'll be emotional and angry, but I didn't. I even take pity for them. I know it's their right to do so, but the youngest wife wanted to go to college, and instead, she is married to that old guy who promised her to pay for her college. But that never happens (yet) even after 3

The Reward of Teaching

Buku belajar Bahasa Indonesia dalam berbagai bahasa. I've become a teacher since semester 9. That being said, my teaching journey started in 2013. Took hiatus for 2 something years then I came back to these exam sheets, students, books, and social interactions. Didn't even want to become one but I fell in love right after I jumped in.  I guess I need to ask to apologize to my dad. I was mad at him a long time ago because he asked me to be one lol. Well, maybe I just didn't like the idea of being a teacher in a class where your students don't even care about you telling stuff in front of the class. That actually made me realize that I prefer to teach whoever wants to learn. Although sometimes I just need to teach without knowing what's their reasons to learn, and that is also fine. I do what I had to do. That is why I hate grading because I don't mind giving them a perfect score but what's the point if they know nothing after the course ended? I never teach a