Skip to main content

The Reward of Teaching

Buku belajar Bahasa Indonesia dalam berbagai bahasa. I've become a teacher since semester 9. That being said, my teaching journey started in 2013. Took hiatus for 2 something years then I came back to these exam sheets, students, books, and social interactions. Didn't even want to become one but I fell in love right after I jumped in.  I guess I need to ask to apologize to my dad. I was mad at him a long time ago because he asked me to be one lol. Well, maybe I just didn't like the idea of being a teacher in a class where your students don't even care about you telling stuff in front of the class. That actually made me realize that I prefer to teach whoever wants to learn. Although sometimes I just need to teach without knowing what's their reasons to learn, and that is also fine. I do what I had to do. That is why I hate grading because I don't mind giving them a perfect score but what's the point if they know nothing after the course ended? I never teach a

Otak Setengah-Setengah



semoga gambar ini menjawab rasa penasaran orang ketika mengetahui saya kuliah matematika. this is exactly what I did. bercerita melalui teorema dan conjecture


Otak bawaan saya dominan kearah eksak. Saya pun juga memutuskan untuk kuliah jurusan matematika. Ketika sebagian besar orang eksakta sangat membenci Bahasa (Bahasa Inggris dan Bahasa asing lainnya), saya sangat mencintai belajar Bahasa. Sejak masih SD, saya suka sekali belajar Bahasa asing. Pertama belajar pasti Bahasa inggris dong. Kemudian saya jatuh cinta dengan Bahasa Spanyol (yang sampe saat ini nggak mahir-mahir gara-gara nggak punya guru). 

Padahal, sayang sekali jika ada seorang jenius dibidang eksakta, tapi kemampuan bahasanya nggak mumpuni. Semisal temen saya, yang pinter banget kimia, fisika, matematika, eh tapi bahasanya nol. Jadilah adegan,
‘eh nyontek kimia lu’
‘enak aja nyontek, mikir sendiri’
‘ehh yaudah Bahasa Inggris lu juga mikir sendiri ya. Awas kalo nyontek gw’

Ngancemnya serius, biologi, kimia, fisika, matematika dituker sama Bahasa Inggris. Kemana-mana juga gampangan Bahasa Inggris daripada MIPA itu 😂😂

Hanya ada beberapa jenius eksakta seangkatan saya yang mumpuni Bahasa Asingnya. Mereka berani melanjutkan studi di luar negeri dan berkembang luar biasa. Sedangkan yang tidak mampu berbahasa asing, hanya stuck didalam negeri dalam tempurung kerdilnya dan mengatakan :

‘Buat apa bisa Bahasa asing, emang Bahasa Indonesia kamu udah bener? Nasionalis dong’

Ah pertanyaan itu selalu saya jawab sesimpel, ‘buat apa pinter eksakta kalo nggak bisa ngejar ilmu lebih luas, cari pengalaman di tempat asing biar bisa diamalin buat negerimu’

Diem deh. Tapi beberapa detik kemudian mereka bilang, ‘dasar kamu kumpeni, mau aja dibodohin pake bahasa asing’. 

Nggak mau kalah dong saya, saya jawab, ‘eh lu nggak nyontek gw Bahasa Inggris juga nggak bakal lulus lu. Gw mah masih bisa matematika, fisika, kimia, biologi biarpun nggak sepinter elu, nah situ? Bahasa Inggris mampu?’

Jahat ya saya😂😂😂

Lama-lama saya jadi bisa berbicara Bahasa Inggris dan sedikitttttttttt sekali Bahasa Spanyol. Sampai akhirnya saya belajar Bahasa Korea. Lingkungan saya pun terbiasa dengan Bahasa asing, termasuk Bahasa Jerman, jadilah saya familiar dengan beberapa Bahasa Jerman. Meskipun tidak belajar formal, tapi saya bisa sedikit menimpali menggunakan Bahasa Jerman ini. Pun ketika teman saya ngajar bingung nyari Bahasa Jermannya apa, eh saya nyaut jawab hal yang dia cari, dia malah marah. Katanya kok bisa saya yang nggak formal kuliah Bahasa Jerman bisa-bisanya skak mat ke dia yang kuliah Bahasa Jerman. Ah jadi kangen masa itu.

Nah sekarang ini saya sedang belajar Bahasa Belanda. Karena nanti saya pengen anak saya bisa Bahasa Indonesia dan Belanda. Jadilah saya harus mudeng juga kan. Lagipula juga biar nggak diomongin HJ sama nenek kalo mereka lagi ngobrol. So far so good. Progresnya juga oke sih. Dapet bantuan sana sini. Kalo pas HJ nggak mau jelasin, ya lari ke papanya hahaha. 


Karena familiar dengan Bahasa Jerman, belajar Bahasa belanda pun nggak sebegitu kaget. Kata orang kan susah banget ini Bahasa, yaaaa sejauh ini sih belom susah. Apalagi kan cuman buat ngobrol sehari-hari aja. Nggak buat bikin tesis juga kan. Jadi masih santai. Terbiasa dengan Bahasa Jerman, Bahasa Indonesiapun sangat membantu. Karena banyak dari kata Bahasa Indonesia diserap dari Bahasa Belanda. Contohnya tas aja deh, yang bener-bener saya kira originally Bahasa Indonesia, eh ternyata Bahasa Belanda juga. Schaak = catur, itulah kenapa banyak orang jawa bilang ‘main catur’ dengan kata ‘main skak’. Koffer = koper, mirip kan? Oiya, kalo ada yang bilang ‘ahh stupid tuh, masa nulis coffee aja koffie’, itu bisa jadi diambil dari Bahasa Belanda ya saudara-saudara. Jadi bukan yang bikin oon ga bisa Bahasa Inggris, tapi emang itu dari Bahasa lain. Bioscoop juga lho, bioskop. Ada lagi hem (kemeja), nenek saya lebih suka bilang hem daripada kemeja. Ya karena itu emang dari sono. Dan masih banyak yang lainnya.

Kenapa saya suka belajar Bahasa asing? Seperti kata Bung Karno, pelajari Bahasanya, kuasai orangnya. Jadi saya harus belajar bahasanya, baru kuasai dia sepenuhnya 😏 *senyum jahat*

update : gw sekarang lagi belajar bahasa Pashto lol

Comments

  1. Nih bahasa keseharian saya....


    BAHASA KALBU.....

    ReplyDelete
  2. tetep. Bahasa Tagalog di hati

    😂😂😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huahahahaha teuteeeppp
      Gampang kah? Kayake ngomongnya susah

      Delete
    2. gampang2 susah sih, yg jelas bnyk kata mirip bhs Jawa, jadi klo kita orang jawa agak di untungkan

      Delete
    3. Iya katanya kek gitu. Mungkin efek ekspansi majapahit kali yaaaa

      Wong suriname aja juga ada jawanya juga haha

      Delete
  3. Kereeen ih.. sya pernah latah pengen belajar bahasa jerman, tapi etspi langsung mundur pas tau, vocab di bhsa jerman ternyata rempong, pke jenis kelamin. Remfooooong. Wkwkwkk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha iya bner, kl bhasa eropa kebanyakan pake kelamin. Spanyol juga, belanda jg kok
      Yg penting suka dlu, kalo udah suka mah rempong apa jg lewat haha

      Delete
  4. Belajar bahasa asing perlu, tapi jangan sampai melupakan bahasa daerah, karena dalam uud bahasa daerah di pelihara oleh negara

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa bener. Aku juga masih proses bljr bahasa Jawa yg bener. Nyesel dulu ga suka

      Delete
  5. 2 kali belajar bahasa china sama mahasiswa china yang belajar di UM. Dan sampai saat ini cuma bisa itung-itungan 1 sampe 10. Sama bilang xie xie, bue ke qi, ahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahah iya dikampus dlu ada ya program bahasa china gt. Aku juga dftr tapi pas mau mulai udah keder duluan haha

      Delete
    2. Kalau aku pas udah kerja ini. Untuk pegawai cuma bayar 10rebu aja buat ganti buku materi. hahaha.

      Delete
  6. aku juga sama, tapi sekarang di lapangan yang tiap ari ketemu malah gapernah ngomong. sok sibuk mulu dpn komp. malah yg aku kasih contekan maenannya uda ke singapore. sediihh kan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sedih ya, aku juga sering gt. Yg dicontekin idupnya lebih enak
      Tau gt aku dulu nyontek aja maksimalin biar lbh sukses sekarangnya haha

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

The Reward of Teaching

Buku belajar Bahasa Indonesia dalam berbagai bahasa. I've become a teacher since semester 9. That being said, my teaching journey started in 2013. Took hiatus for 2 something years then I came back to these exam sheets, students, books, and social interactions. Didn't even want to become one but I fell in love right after I jumped in.  I guess I need to ask to apologize to my dad. I was mad at him a long time ago because he asked me to be one lol. Well, maybe I just didn't like the idea of being a teacher in a class where your students don't even care about you telling stuff in front of the class. That actually made me realize that I prefer to teach whoever wants to learn. Although sometimes I just need to teach without knowing what's their reasons to learn, and that is also fine. I do what I had to do. That is why I hate grading because I don't mind giving them a perfect score but what's the point if they know nothing after the course ended? I never teach a

Dapet Visa UAE (Dubai) Gampang Banget

Dubai creek Beberapa waktu yang lalu, kita pusing berat karena H dapet libur kali ini cuman 10 hari. 10 hari dari yang biasanya 14 hari. Akhrinya diputuskan untuk tetap mengambil libur tapi nggak ke Indonesia.  Ternyata, beberapa hari kemudian, dia bilang, kalau liburnya malah jadi 7-8 hari aja. Mau ga mau saya yang harus kesana. Maksudnya terbang mendekatinya. Udah milih-milih negara mana yang harganya rasional, yang ga banyak makan waktu buat terbangnya H, dan tentunya ga ribet urus visa buat pemegang paspor hijau yang ga sesakti paspornya H.  Btw warna paspor Indonesia jadi biru ya sekarang?? Pilihan jatuh ke Dubai. Pemegang paspor hijau harus bikin visa, ya pusing lagi deh cara bikin visa Dubai nih gimana. Apa iya sesusah bikin visa schengen, visa US, visa lainnya. dari persyaratan sih standar ya, termasuk  record  bank account selama 3 bulan. Emang nggak pernah bikin visa Dubai sebelumnya ya, apalagi H yang paspornya super sakti kemana-mana (hampir) ga perlu visa, dia ga pernah ad

Catatan Kuliah (6) : Masuk bareng, keluar bareng (?)

Sanur Sebagai mahasiswa yang masih belum mengenal kerasnya kehidupan kala itu, kita berikrar "Kita masuk bareng kita juga harus keluar bareng." Naif? Iya tentu. Maklumin aja namanya juga mahasiswa baru kan. Maunya yang  flawless  terus. Tapi apa salahnya sih berdoa baik kali aja malaikat mengamini lol.  Ternyata, kenyataannya, tentu saja tidak. Iya kalau semua  setting  nya  default  semua mahasiswa tidak ada kesulitan yang berarti, dosen nggak resek, mahasiswa juga nggak resek, data nggak resek, pasti lulus bareng kita. Kehidupan perkuliahan keras di akhir hahaha Gw dari awal masuk kampus ngerasa kalo gw nggak akan lulus tepat waktu. Aneh ya, harusnya orang mikir lulus tepat waktu tapi gw udah ada feeling. Dan gw berusaha keras buat nggak terlalu jatuh dalam angka. Ya maksudnyaaaa karena gw anak minor komputasi jadi gw udah bisa tebak lah data yang gw pake pasti agak makan waktu. Jadi  range  kelulusan adalah 7 semester, 8 semester, 9 semester, diatas 9 semester. Temen gw ya