Skip to main content

Tiga bulan pertama hidup di luar Indonesia

Gw kira rasanya akan sama aja. Ada rasa kangen ya wajar karena jauh dari tempat yang selama ini kita sebut familiar. Tapi ternyata ada rasa rindu yang pukulannya berbeda.  Di kasus gw, gw cuma kenal satu orang Indonesia. Beliau bilang kalau mau temen jalan-jalan bisa lah berkabar biar jalan bareng. Tapi karena gw ada kerja dari senin-jumat, sedangkan beliau nggak, jadinya waktu kami seringkali nggak pas. Sedangkan di akhir pekan, gw habiskan bersama suami.  Bulan pertama masih terasa integrasi. Berusaha mengenal supermarket mana yang jual apa. Cari ini itu di mana. Menghafal jalur transportasi umum. Mengenal, membaca dan memahami nama daerah atau tempat dari huruf cyrilic-nya untuk sekedar "kalau nyasar, bisa kasih tau suami lagi ada di mana" karena seringkali online maps dihambat pemerintah.  Bulan kedua sudah mulai mengenal banyak hal. Sudah punya kartu atm untuk pembayaran. Visa panjang juga sudah di tangan. Mulai berhati-hati dengan banyak hal, mana yang boleh mana ya...

I Let Go Of Anger

Since I've found my missing piece, I've been feeling complete, whole, happiest. Everything. It feels like my soul is one now. It gives me feelings that I've never felt before. Before I could feel any of this, I had an emotional roller coaster for months, I had restless nights, I had days with anxiety, I felt numb, I cried every night, I went to a psychologist, I was constantly tired. It was not easy and it happened for a few months before I turned 30.

I even felt like giving up. "So how? Will I keep going or give up now? Should I give up now? It feels a lot easier when I give up" I had those thoughts for so long. 

But then I realize something, "No, I do not quit. I am a fighter!" So I didn't quit, no matter how shitty those days were, I decided not to quit. So I keep going. I started to exercise, I started to eat healthy, less sugar on my tea and coffee, I sleep early waking up early. I started to map my mind and emotions one by one, putting them in their boxes. 

Then out of the blue, that led me to meet my other soul. The soul that I knew is always there, waiting for me to say hi. I knew that I had something missing from my soul. Since I get to know my other soul, I get to learn more about myself. I understand myself more. I love myself more. It's like I am telling my soul "Hey, I love you" and it feels so liberating. It's not "I love you, but..." no, it's "I love you."

All questions, feelings, instincts I have had for almost 30 years now all make sense. I got the answers.

The unconditional love to my soul, the moment when I realize that "I am so in love with you and you're doing great until today. 10 years old you would be so proud to see how great you are today" It feels great. I let go of things I could not control. Not everything is under my control.

The side effect of feeling those unconditional love to my soul is I am able to let go of anger. I am no longer mad, angry about things in the past. I do remember still about what happened, vividly. But those don't affect me the way they used to be. It doesn't trigger me anymore. I am at peace. The peace of mind that I wanted to feel for so long, is finally here. 

I am letting go of anger and that feels great. Nothing makes me happier the same way I love my own soul. I am feeling enough. My happiness is not depending on other people or other things, it depends on me. The way I accept myself, the way I don't hold grudge or anger, the way I am feeling enough, those feelings are beyond anything I could imagine.

I am content. The missing piece of my soul has been found. I love myself, more than anything now. I thank myself for surviving this far.

It's a spiritual journey that marks my 30's life. I am grateful and thank my closest people. They're always there to listen to my rant at 3 AM even though they didn't completely understand what I felt, they tried their best to comfort me, and I am lucky to have them. 

Thank you, universe for the good karma. I learn a lot. 

Comments

  1. biasanya emang menuju ke usia matang, dalam hal ini mba pris yang akan menuju kepala 3...dan fase fase usia lainnya selalu terjadi pergolakan batin sih ya...#aku sekarang kadang masih sih...wkwkkw...sering gelisah, ada kecemasan terhadap apa...mikirin ke depan akan gemana...dll

    tapi bener banget tuh akhiirnya melarikan dirinya ke hal hal yang bermanfaat...aku juga sama...yu mar ki toast...mari kita toast

    aku juga uda mulai konsen perawatan, katanya merawat diri sendiri akan bisa bangkitin mood dan self love hahay..ku juga mulai giat olah raga juga...tapi ga bisa lari kayak dulu sebelum rempong kayak sekarang jadinya kuganti pake senam sendiri di rumah hihi...zumba ngedance atau apa deh goyang dangdut juga wkkwkwk...maksudnya sambik dengerin musik ceritanya olahraga...ngurangi gula garem supaya badan dan kulit bagus itu juga uda mulai kuniatkan

    semangatttt saaaayyyy hehhehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. nguragin gula garam bisa bikin kulit bagus? WOW kubaru tahu! haha makin niat ini!

      betul mba, tiap fase hidup ada tantangannya masing-masing. tinggal kita ngolah dan ngadepinnya aja yg gimana. apakah kita akan menang atau kita akan belajar? ga ada yg namanya kalah sih.

      eh sama mbae, kadang aku jg cari di youtube yg goyang2 gitu. lumayan 10 menit aja udah keringetan banget. kalo butuh udara fresh baru keluar jalan keliling kompleks atau taman. enak sih pikiran jd lebih bersih juga kan ya, kek nggak sumpek gitu jadinya.

      yuk bisa yuk! mens sana in corpore sano!

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Jumat ceria

Hari ini memang bukan hari jumat, tapi cuman mau bilang aja sih kalo hari yang paling aku tunggu-tunggu itu hari jumat. Why?   Karena jumat itu selalu ceria, kalopun ada meeting besar pasti di hari jumat dan banyak cemilan, orang-orang pada berangkat sholat jumat, yang nasrani juga mengikuti misa di kantor, bisa pake baju bebas dan bebas berekspresi sepuas-puasnya, dan..... bisa video call sepuasnyaaaaaa kapanpun karena dia libur kerja 😍😍 gambarnya lucu 😁  taken from internet

Melewati Pusuk Pass, Lombok

Kembali ke Pulau Lombok setelah dari Gili Air, kita pun 'turun' gunung menuju daerah selatan. Kita pun melewati Pusuk Pass atau orang suka bilang monkey forest. Tadinya sih dikira kayak kita masuk hutan trus yang banyak monyetnya, tapi ternyata jalanan pinggir tebing yang ada banyak monyet main-main disana. Sama persis kayak jalanan kearah rumah nenek. sampahnya nggak seharusnya disitu ya? Berhentilah kita disana. Takutnya monyetnya kayak yang di Bali itu, yang suka nyuri, eh ternyata nggak sih. Monyetnya anteng diem, makan mulu. Salah satu kesalahan pengunjung adalah memberikan makanan ke si monyet-monyet. Nggak apa sih kasih makan tapi plastiknya ya jangan dibuang disana juga lah. Sebenernya bukan dibuang disana sih, tapi monyetnya aja yang narik ngambil plastik makanan disana. Jadilah disitu kotor semua gara-gara plastik sisa makanan tadi. Eh namanya monyet ya masa iya bisa dikasih tau, 'hey monyet jangan buang sampah sembarangan!', kan ya nggak mun...

Selamat hari guru

Saya pernah lho jadi pengajar, and I found myself in it. Ya kurang lebih 2 tahunan lah saya mengajar. Awalnya sih nggak mau ngajar, karena malu dan nggak bisa ngomong didepan umum. Eh setelah dicoba ternyata keranjingan. Tapi saya nggak mau disebut sebagai guru, kenapa? Berat banget artinya. digugu lan ditiru, kalo kata orang Jawa. Dalem kan artinya? dijadikan sebagai seorang panutan, contoh dan teladan. Alesan lain nggak mau disebut guru karena saya masih doyan petakilan, kalo jadi guru kan kudu kalem ahaiiii. Saya nggak kalem. Saya lebih suka menyebut diri saya pendidik (educator) kala itu, bukan pengajar (teacher). Meskipun secara arti kayaknya lebih berat pendidik deh ya, tapi saya nggak mau aja related sama pengajar yang nggak memperdulikan anak didikannya, nggak menjaga moralitas dan tata krama anak didiknya, saya nggak suka meskipun nggak semuanya lho. Nggak semua, catet, nggak semua! Karena sebagai pendidik memberikan saya tanggung jawab lebih kepada anak didik saya.  ...