Skip to main content

Surviving -20 Celcius in Moscow

frozen lake in Moscow I'd say surviving because I am a tropical girl coming from 30-35 degree Celcius. So yes, this is about surviving such differences in temperature. I spent my whole life in a tropical country then I have to be in a -20 celcius, not an easy situation.  Obviously, I came prepared. I have been in a 0 celcius and learned that double triple layering is the right answer. Moscow has heater that runs nonstop since the beginning of (probably, I dont remember) November until early May. So you technically can not turn it off or on. Many days it gets too hot inside. Going to the mall in Moscow got me super sleepy and tired because it feels most of the time like in Sauna. So, double triple layering in Moscow is the right thing to do.  November temperature usually started to feel chilly, still not lower than 0. December will get colder can be minus. But January and February are the coldest season. This year dropped to -20 (that I can remember). The average temperature wa...

Dibalik Kumuhnya Yangon, Tempat Ibadah Berjejer Mesra

 

Myanmar terkenal dengan sebutan old version nya dari Asia Tenggara. Dari segi perekonomian dan pengembangan kotanya sih nggak terlihat mencolok maupun tertata rapi. Kalau secara penampakan dibandingkan dengan Jakarta sih masih 11-12 lah. Ada gedung-gedung tinggi mencolok lengkap dengan brand mahal didalamnya, tapi tak jauh dari situ banyak perkampungan kumuh.

Sama halnya dengan makanan pinggir jalan, banyak dijual makanan dengan harga murah dan juga dengan level kebersihan yang ntah seberapa. Kalau dilihat sekilas sih mirip beberapa tempat makanan pinggir jalan yang ada di Indonesia, tapi ntah kenapa di Yangon terlihat lebih jorok. Jadi kita nggak berani terlalu dalam mencicipi. Padahal biasanya hajar aja.

Tapi dibalik itu semua, bangunan cantik dibelakangnya sangat menggoda dan menarik. Bangunan yang dibangun kolonial Inggris ini sangat cantik dan menarik karena masih pada bentuk dan posisi yang sama. Bahkan rute jalannya pun berbentuk "kotak". Sungguh sangat kurang asia sekali.

Sayangnya banyak pula yang tak terawat. Hanya ada beberapa bangunan yang terawat dan masih digunakan sebagai kantor maupun tempat pelayanan publik seperti bank, kantor imigrasi, tapi lebih banyak yang terbengkalai. Perjalanan mengelilinginya pun bikin tersesat karena tiap sudutnya terlihat sama lol.

Ada satu yang menarik hatiku, yaitu dimana ada masjid, gereja, sinagoge, temple, pagoda, klenteng juga di satu lingkungan yang sama. Bukan yang terlalu jauh jauh tapi ada di tempat yang tak jauh. Gw selalu cinta sama tempat ibadah yang letaknya berdampingan berdekatan mesra. Bayangkan aja ada suara adzan dari masjid bersautan dengan suara pujian dari pagoda, bel gereja yang berbunyi bersautan dengan lonceng dari klenteng dengan bau dupa khasnya (hanya sinagoge saja yang sunyi karena memang sepi aja).



Hal ini sangat unik dan menarik mengingat terkenalnya Myanmar dengan kasus rohingya nya. Ntah keoriginalitasan kasus Rohingya ini apa yang sebenarnya, gw juga nggak akan bahas disini karena gw nggak paham akar masalahnya daripada salah tulis. Tapi yang jelas keberadaan banyak tempat ibadah di satu lokasi yang sama ini unik.

Kata suami gw "Siapa bilang di Myanmar lu nggak bisa sholat di masjid? Nih buktinya masjid banyak bener disini. Ada lebih dari tiga nih. Tinggal pilih aja yang mana  maunya". Ketika dia bilang begitu, disaat itu gw sadar, "Lho iya ya, kok banyak masjid disini ya??"

Dan OH! Aku suka sekali keluar masuk tempat ibadah orang lain untuk mengagumi betapa cantiknya dekorasi dalamnya dan juga makin bersyukur dengan apa yang kuyakini. Ntah kenapa, it works that way.

Comments

  1. Weeeit, di antara kumuhnya Yangon, ada tempat ibadah yang duh bagus juga ya, Mbaaa ya.

    Oiyaaa, masalah Rohingya itu, sudah selesai belum sih, sekarang? ._.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepertinya sih belum, karena masih intense disana. Masih banyak peace keepers disana karena beberapa kota besar malah nda bisa dimasuki krn konflik yang ntah konflik apa. Yangon termasuk aman utk dikunjungi, tp kota2 dket perbatasan ndak bisa

      tapi bagus ya, mreka berjejer mesra gitu. suka bgt liatnya. kamu harus kesana deh :)

      Delete
  2. Baru tau gimana gambaran kota Yangon, aslik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahhh hehehe masih ada beberapa lain yg akan menyusul. Cantik kok yangon 😄

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Jumat ceria

Hari ini memang bukan hari jumat, tapi cuman mau bilang aja sih kalo hari yang paling aku tunggu-tunggu itu hari jumat. Why?   Karena jumat itu selalu ceria, kalopun ada meeting besar pasti di hari jumat dan banyak cemilan, orang-orang pada berangkat sholat jumat, yang nasrani juga mengikuti misa di kantor, bisa pake baju bebas dan bebas berekspresi sepuas-puasnya, dan..... bisa video call sepuasnyaaaaaa kapanpun karena dia libur kerja 😍😍 gambarnya lucu 😁  taken from internet

Fire in the Building

Who would have thought that I  experienced fire in the building.  This is my first time living in an appartement. Of course I never chose appartement when living in Indonesia because it’s a real high risk when the earthquake happen. But here we are placed in an appartement. What got me relieved the first time that we are in the lowest floor so if something happen we will be quickly evacuated.  That’s what I thought.  Until it really happened.  We slept around midnight and abruptly woken up by the noise outside. I thought it was the drunk people just got back from night club or the restaurant next door was doing some deep cleaning. So loud that I had to wake up. My husband peeked outside and immediately said “fire brigade outside, you wait here!” I was just “am I dreaming or what?” I put on clothes, checked outside and saw a few of fire trucks. I checked the other side of the appartement and saw a few of police cars and ambulances.  “Oh no, something serious...

Melewati Pusuk Pass, Lombok

Kembali ke Pulau Lombok setelah dari Gili Air, kita pun 'turun' gunung menuju daerah selatan. Kita pun melewati Pusuk Pass atau orang suka bilang monkey forest. Tadinya sih dikira kayak kita masuk hutan trus yang banyak monyetnya, tapi ternyata jalanan pinggir tebing yang ada banyak monyet main-main disana. Sama persis kayak jalanan kearah rumah nenek. sampahnya nggak seharusnya disitu ya? Berhentilah kita disana. Takutnya monyetnya kayak yang di Bali itu, yang suka nyuri, eh ternyata nggak sih. Monyetnya anteng diem, makan mulu. Salah satu kesalahan pengunjung adalah memberikan makanan ke si monyet-monyet. Nggak apa sih kasih makan tapi plastiknya ya jangan dibuang disana juga lah. Sebenernya bukan dibuang disana sih, tapi monyetnya aja yang narik ngambil plastik makanan disana. Jadilah disitu kotor semua gara-gara plastik sisa makanan tadi. Eh namanya monyet ya masa iya bisa dikasih tau, 'hey monyet jangan buang sampah sembarangan!', kan ya nggak mun...