Skip to main content

Sayang Bumi Sayang Anak

Sharjah - UAE Gw suka banget belanja online. Ya karena praktis aja. Tentu saja gw juga suka banget belanja langsung on the spot  kalau lagi stress dan lagi ada waktu buat muter-muter. Tapi... ternyata gw jadi kesel tiap abis belanja online, gw harus berurusan dengan plastik-plastik bekas belanja.  "Dih plastik lagi." Emang, beberapa barang tentu saja perlu plastik/ bubble wrap  ekstra. Tapi banyak dari belanjaan gw yang nggak perlu itu semua. Tebel banget. Gw paham juga beberapa toko lebih milih dibungkus plastik tebel biar tokonya nggak dikomplain. Tapi bagi gw, udah kebangetan.  Gw tau kita nggak bisa sepenuhnya nggak pakai plastik. Kita masih akan pakai plastik. Konsekuensinya, ya kita harus tau sampah plastik ini harus diolah gimana biar nggak kebuang sia-sia. Mana nggak bisa terurai ratusan tahun lagi.  Masalahnya, plastik ini seringkali nggak bisa dipake lagi karena selotip yang muter. Susah lah di- breakdown lagi biar bisa dipakai ulang. Akhirnya, tentu saja dibuang pe

Santai Di Ubud

  
jalesveva jayamahe. taken at Ketapang 

Another bucket list, Ubud.

 
bye Java, hi Bali

Setelah menyambangi Banyuwangi, kita sepakat nyebrang lautan menuju Singaraja. Beruntungnya kita datang pas ada festival budaya di Singaraja, sekalian nyambangi teman kuliah yang juga baru nikah di bulan yang sama. Short meet up gitu ceritanya. 

Di Singaraja kita cenderung tidak melakukan banyak hal, karena baru tiba di Singaraja sekitar jam 2 siang (Gilimanuk - SIngaraja sekitar 3 jam). Sampai hotel istirahat sebentar, makan, trus jalan-jalan sekitar hotel yang mana itu juga satu tujuan wisata budaya, sejarah tapi nggak sesuai ekspektasinya HJ. Jadilah kita cuman nikmatin festival budaya aja.

 
old harbour 

 
sunset from Singaraja

Besoknya, kita meluncur ke Ubud. Kita super bingung gimana caranya ke Ubud karena di Singaraja minim transportasi umum. Bahkan teman saya yang sudah 2 tahun di Singaraja aja nggak paham-paham bener. Tanya resepsionis hotel, eh jawabannya nggak memuaskan sama sekali. Jadilah kita tanya orang lain dan mereka bilang harus carter angkot ke Lovina, trus dari sana bisa naik shuttle bus. Shuttle bus yang terkenal dan lumayan affordable disana itu salah satunya Perama tour. Ga pake babibu deh, angkot yang saya carter hargnya 60ribu nggak bisa ditawar. Sambil mbatin ini, 'angkot rasa bluebird' haha. Tapi yaudah anggep aja itu emang naik taksi di Surabaya. Trus kita ke Perama langsung beli aja tiket ke Ubud, per orangnya 125ribu kalau nggak salah sih. Nggak mahal kok, daripada harus carter mobil travel seharga 700ribu kan mending ini. Lagi nggak musim liburan jadinya di dalem mobil cuman kita berdua aja sampai di Kintamani baru ada 2 bule yang diambil. Cek aja websitenya Perama tour, jangan lupa telpon dulu takutnya udah fully booked.

Apa yang kita lakukan di Ubud selama 4 hari? Bersante kek di pante. Apalagi cobak? Hari pertama jalan santai di sekitaran Ubud, makan, ngopi, karena emang sampenya siang menjelang sore. Hari berikutnya barulah kita sewa sepeda instead of motor. Karena sebenernya yang ada di bucket list saya itu bersepeda di Bali/Lombok, nah selama di Gili nggak kesampean naek sepeda karena emang nggak seberapa nyaman pake sepeda daerah pante gitu, jadilah disini harus bersepeda. Padahal endingnya kita ngos-ngosan, HJ enak bener kalo sepedaan because he is Dutch! Sewa sepedanya 50ribu/hari. Lokasinya sekitaran homestay, btw kita nginep di homestay yang pemandangannya kearah hutan monyet itu. Suasanya hemm bikin pengen pindah ke Ubud. Harganya semalem sekitar 350-400ribu. Sarapan paginya, HJ suka pancake nya. Enak pokoknya disitu.

  
pemandangan tiap pagi depan kamar

Nah pas keliling itu, kita rencana ke Campuhan kan, ternyata udah terlalu siang dan daripada nggak menikmati akhirnya kita batalkan dan kita cuman muter-muter aja sekitaran Ubud. Baru malemnya liat Legong. Aduhaiiiiiii!

 
sunrise from Tjampuhan

Barulah besoknya kita bangun pagi bener, dan langsung jalan ke campuhan. Parkir sepedanya di depan pura situ, lanjut walking tour. Enak lho berangkat pagi-pagi. Seger banget. Jalan mulai jam setengah 7 dan sampai di titik yang ada di campuhan sekitar jam 8. Lumayan sih. Kita sarapan sebentar, trus lanjut jalan lagi dan itu jalan di kombinasi dari 2 walking tour. Jadilah semakin jauh dan absurd dong. But we did enjoy it. Setelah muter lumayan jauh, akhirnya kita sampai lagi ke tempat parkir sepeda, jam 10 lebih.

 
tegalalang, meskipun bukan di tegalalang yang beken itu, tapi ini juga di tegalalang kok. 

 

  

 

Balik lah kita ke homestay, mandi, trus tidur lagi. Bangun jam 1 buat 'late breakfast' (not even brunch hahaha), trus santai lagi di balkon depan kamar sambil liat-liat walang, jangkrik, tupai, burung, pokoknya hewan aneh-aneh pada lewat depan kamar deh. termasuk gw didatengin sama anjing lucuuuuu banget tapi gw takut, dia terlalu ramah ngasih tangannya 😂😓 bojoku ngguyu wae ndelok bojoe wedi asu!

 
typically Balinese

Hari terakhir, kita terbang dari Denpasar ke Malang langsung. Tau nggak kalo ke Malang dari DPS itu pesawatnya pake baling-baling gede kek baling-baling bambunya Doraemon??? Itu serem tauk! Eh tapi sisi positifnya, kita bisa liat Semeru yang super tinggi banget! Bener-bener tinggi banget! Sampe saya sih bilang ke HJ, 'Sayang, kita nggak usah mendaki Semeru lah ya, wong kita udah liat Semeru dari ketinggian ini' --- making excuse gara-gara capek nggak ketulungan pas ke Ijen 😂

Oiya kita juga pake Perama dari Ubud ke DPS, karena jadwalnya bakal telat untuk drop ke bandara. yaudah stop di Legian, ngopi cantik bentar, trus naek taksi ke bandara 15 menit aja. Perama bakal kasih member card lho di hari pertama pembelian, dan selanjutnya kita bakal dikasih diskon 5% apa 10% gitu kalo order lagi pake kartu itu. Apa nggak sumringah si istri ini dapet diskonan haha

Mendarat di Malang... gw nggak tau itu kenapa bandara di Malang itu posisinya ditengah kebun tebu sih? serem bener kalo sepi malem-malem gitu.

Comments

  1. congrats for you both

    eh ini aku liat old harbour di singaraja itu kan disana ada pura besar banget, nah tepat di belakang pura itu rumah orang tua aku.. alias kampungaku laa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. pura sebelah mananya klenteng may?

      Jadi kamu asli singaraja ya?

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

The Reward of Teaching

Buku belajar Bahasa Indonesia dalam berbagai bahasa. I've become a teacher since semester 9. That being said, my teaching journey started in 2013. Took hiatus for 2 something years then I came back to these exam sheets, students, books, and social interactions. Didn't even want to become one but I fell in love right after I jumped in.  I guess I need to ask to apologize to my dad. I was mad at him a long time ago because he asked me to be one lol. Well, maybe I just didn't like the idea of being a teacher in a class where your students don't even care about you telling stuff in front of the class. That actually made me realize that I prefer to teach whoever wants to learn. Although sometimes I just need to teach without knowing what's their reasons to learn, and that is also fine. I do what I had to do. That is why I hate grading because I don't mind giving them a perfect score but what's the point if they know nothing after the course ended? I never teach a

[Book] Dunia Cecilia

'apakah kalian membicarakan hal semacam itu di surga?' 'tapi kami berusaha tidak membicarakannya dekat-dekat Tuhan. ia sangat sensitif terhadap kritik' Yap, sepenggal dialog antara Cecilia dan malaikat Ariel. Saya mengenal Jostein Gaarder sejak kuliah. Ehhhh 'mengenal' dalam artian kenal bukunya ya, kalo bisa kenal pribadi mah bisa seneng jingkrak-jingkrak hehehe. Jadi karena teman saya mendapat tugas kuliah membaca satu novel filsafat berjudul Dunia Sophie, saya jadi sedikit mengetahui si bapak Gaarder ini. Enak ya tugasnya anak sastra baca novel, tugas anak matematika ya baca sih, tapi pembuktian kalkulus -_- Dunia Cecilia ini buku pertama Jostein Gaarder yang saya baca, karena buku Dunia Shopie sangatlah berat berdasar review teman saya. Saya sih nggak perlu baca buku itu karena teman saya sudah benar-benar mahir bercerita. Jadilah saya sudah paham bener cerita Dunia Sophie tanpa membacanya. Novel ini atas rekomendasi teman saya, dia bilang kala

Feeling Balanced

Never thought that I could feel this balanced. I now understand what zen is.  After all ups and downs that made me question my existential (probably won't be the last), I am starting to feel only love and less hate. As if love and compassion filling my heart every day. It's easy to annoy me normally, but so far, this past couple of months I feel less annoyed. So weird, crazy, yet amazing. Say, when I hear people talking about things I prefer not to talk about, like polygamy, I don't feel hate anymore. Usually, I'll say bad words, cursing them, you name it. But last night I watched a video about that and it made me feel "HA HA HA Stupid ignorant reasons" that was it. I thought I'll be emotional and angry, but I didn't. I even take pity for them. I know it's their right to do so, but the youngest wife wanted to go to college, and instead, she is married to that old guy who promised her to pay for her college. But that never happens (yet) even after 3