Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit. Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya. Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego. Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...
Masih tentang Yangon kemarin, ngomong-ngomong, Yangon ini kota yang ketika dikunjungi tuh rada susah nyari yang namanya souvenir. Gw bukan tipe orang yang suka beli-beli souvenir buat orang sekampung sih tapi gw selalu usahain beli buat orangtua gw dan juga om gw. Udah itu berdua doang, gw bahkan jarang banget beli buat gw sendiri kecuali kalo butuh dan unik. Cuma di Bangkok kemarin aja sih yang gila-gilaan belanjanya gw. Pertama kali khilaf 😁 Karena kegiatan belanja, beli-beli, liat-liat souvenir ini selalu nggak ada di agenda suami gw, jadilah gw slalu curi-curi waktu buat nginguk toko souvenir. Ini pertama kalinya rada susah nemuin toko souvenir ya di Yangon ini. Nggak ada tuh yang pinggir jalan toko souvenir berantakan gitu. Waktu coba cari, nemu satu yang menurut orang banyak ini pusatnya belanja barang-barang dari Myanmar. Bogyoke Market namanya. Pasar ini, yang kusuka tentu bangunannya dong. Bangunannya ala Inggris karena memang dibangun di masa kolo...