Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Ingin Tinggal di Pedesaan

Geneva

... tapi bukan di Indonesia 😂 Gatau deh ini akhir-akhir ini aku suka banget nontonin kanal orang di youtube yang tinggal di desa, bisa self sufficient banget, tenang, damai, slow. Trus nonton Gilmore Girls, Virgin River juga. Suka aja ngeliatnya. Emang bener kehidupan di desa memang terasa berjalan lebih lambat karena nggak ada yang ngejar-ngejar. Nggak macet dan nggak sebising kota.

Sebenernya mau gw simple. Gw emang banyak maunya sih tapi ya kenapa emang? Siapa tau diaminin malaikat lho. Gw pengennya tinggal di tempat desa yang alamnya itu masih lebih banyak daripada manusianya. Tapi kalo bisa sih fasilitasnya udah lengkap termasuk fasilitas kesehatan ya, terlebih lagi soal internet! Internet cepet adalah koentji. 

Sempet lho kepikiran, "Ah gw pengen tinggal di NZ. Jumlah kambingnya aja jauh lebih banyak dari jumlah manusianya." Atau tinggal di sana tapi yang masih bisa nemu kang bakso, lontong kupang, sate, cilok, cimol, lupis, getuk lindri lewat depan rumah gitu. Ya tuhan udah minta-minta, banyak mau lagi. Yaudahlah gapapa, kali aja diaminin malaikat. Trus pengen juga punya kucing yang bisa eek di luar tapi juga bisa jadi kucing rumahan yang manja. 

Gak harus desa yang nduesoooo banget gitu enggak. Kayak mertua gw idup di kota kecil yang jalan 10 menit aja udah masuk hutan-hutan, 30 menit aja udah ke negeri tetangga, internet cepet banget, segala fasilitas ada. Gitu lho yang gw mau. Apa gw ngikut mertua aja kali ya? 😆 Jangan ding. Melanggar prinsip lol.

Delden

Dulu gw mikir gw adalah city person. Tapi akhir-akhir ini bener-bener kewalahan banget rasanya. Ya gw yakin rasa kewalahan ini nggak gw aja yang ngerasain. Ditambah lagi dengan adanya pandemi ini lho yang bikin lelah makin berkepanjangan. Kerjaan semuanya dikerjain dari layar komputer, mata makin lebih cepet sepetnya, leher rasanya tegang kaku. Enak sih, enak banget. Privilege banget bisa kerja dari depan layar, dimana aja. Tapi nggak bisa seenaknya keluar rumah. Kalau keluar juga masih was-was juga. Rasanya kangen ketemu orang random untuk sekadar chit chat bertukar kabar, ngobrolin anjing liar, cuaca yang panasnya nggak ketulungan yang diikuti dengan rekomendasi minuman seger yang bisa didapat. 

I know we have our own battles in life. Gw cuma manusia biasa yang hobi ngeluh dan banyak mau aja 😂

Ah udah ah. Jangan lupa guys, masih pakai masker ya dan VAKSIN lah kalau dapat kesempatan! Jangan kasih kendoorr!!! 

Have a good one and stay safe, people! 💚 

Comments

  1. Mungkin jenuh dengan rutinitas sehari-hari di kota jadinya pengin hidup di pedesaan. :)

    Sama dengan orang desa, pengin juga liburan ke kota, soalnya di desa sepi, cuma bunyi jangkrik doang kalo malam krik krik krik...😂😂😃

    ReplyDelete
    Replies
    1. HAHAHAHAH bener banget. Kita memang cenderun menginginkan yang kita ga punya ya hahaha

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Getting my Hands on Film Camera

In attempts to slow_myself_down_away_from_digital_life, I am getting my hands on film camera. Yes, the kind of camera where you need to put the film roll in and then start snapping. If you are lucky, the pictures will turn up good but if not then we let the fate decide. This is not my first rodeo on using film camera, but it definitely is the first ever to buy the film and develop it using my own money. It is not cheap, which I know.  What can I say, it's an expensive hobby.  I used my first film roll to take photos of my favorite people. So it has more human than random pictures. It was on family event. After the last shot, I wanted to develop it before I flew to Bali but they had no lab. Luckily we have the lab in Bali. I developed and scanned the film in Ojisanfilmlab Bali. They're just a google away. They sell the roll as well. I had to tell the TSA to do the hand checking rather putting it through the scanner. They understood.  Cimol hides himself in his favorite sp...

Tentukan Jangka Waktu Investasi

Seperti Ganesha bukan? Dewa ilmu pengetahuan dan lambang kecerdasan. Favorit gw. Tapi ini speaker sih 😆   "Aku mau investasi" "Oke bentuknya apa dan berapa lama?" "Hmm ya pokoknya apa lah yang cocok buatku" Ya you kira I dukun? Selain menentukan profil resiko , acara yang perlu untuk dipikirkan adalah menentukan berapa lama jangka waktu investasi. Ada yang membagi kedalam dua kategori yaitu pendek dan panjang, ada pula yang membaginya ke tiga kategori yaitu jangka pendek, menengah, dan panjang. Nah kebutuhan ini hanya investor yang tahu. Tentunya tiap orang nggak bisa disamakan kebutuhannya.  Jangka pendek biasanya berkisar tidak lebih dari 5 tahun. Biasanya deposito dan obligasi dimasukkan dalam kategori ini. Biasanya yang jangka pendek ini selalu mendapat return pasti, karena selalu pasti jadi resikonya sangat rendah sekali. Kemudian jangan lupa untuk mengecek apakah return yang ditawarkan masih mampu untuk menghalau laju inflasi untuk beberapa tahun ...