Skip to main content

Mengalahkan Rasa Takut akan Tenggelam

Makanan setelah renang di KOOD Sanur (serba vegan) Dari dulu takut banget sama air dengan volume yang besar. Mungkin di kehidupan gw sebelumnya gw pernah tenggelem kali ya. Makanya nggak pernah bisa renang. Karena ya takut tenggelam. Bahkan sekedar kecipak kecipuk aja takut. Sampai pindah ke Bali. Pindah ke Bali nggak berekspektasi setinggi itu sih. Ternyata, jadi lebih sering main air di pantai. Nggak renang, cuma berendam aja. Lama-lama jadi kebiasaan dan udah mulai terbiasa dengan air. Ternyata seru juga yaa. Kemudian dilatih suami gw buat berani snorkeling. Iya takut awalnya, nggak percaya meskipun dia bilang nggak akan tenggelam karena pake fin. Hmm masaaaa~~ Ya tetep pake pelampung sih. Pertama kali nyemplung, tentu saja heboh takut tenggelam padahal udah pake pelampung, pake fin, mana dipegangin juga. Tapi heboh aja, takut tenggelem. Ada 3 spot waktu itu, gw cuma nyemplung satu spot aja belum juga 15 menit udah naik kapal. Beberapa kali snorkeling akhirnya baru berani lepas pela

Investasi Valuta Asing? Nah, thanks

Warna warni Sanur.

Pertanyaan pagi ini gw dapet dari temen gw nanya "USD gimana? Pengen beli gw"

Ya gw tanya balik, buat apa? Buat investasi katanya. Gw secara personal nggak punya niatan investasi valuta asing. Ya kalo soal jual beli valas sih udah sering banget. Tapi gw nggak anggap itu investasi karena ... gw selalu doa baik buat negeri gw 😂

Inget nggak sebelum tahun 1998 yang mana USD 1 = IDR 2,000, lalu Soeharto lengser diikuti dengan krismon 98, USD 1 = IDR 16,650. Banyak yang bilang, "Bayangkan dulu sebelum taun 98 punya tabungan USD 1000, jadi berapa kali tuh pas tahun 98? Untung banyak kan?"

Ya banyak, tapi ya bangsat. Maksud gw, apakah kondisi saat itu baik bagi seluruh rakyat Indonesia? Oh tentu tidak. Harga beras dari yang nggak sampai IDR 100 aja jadi berkali-kali lipat harganya.

Emang sih dari beberapa kali dapet duit dalam bentuk selain IDR di saat naik-naiknya kurs itu ya gw seneng banget karena konversinya jadi lebih mahal. Tapi itu waktunya juga kurang enak. Bulan April 2020, dimana secara global kita semua menghadapi covid yang baru saja dinyatakan sebagai pandemi, harga IDR terhadap USD di kisaran 16 ribu. Banyak yang udah khawatir kalau kita akan melampui batas terburuk sepanjang masa seperti tahun 98. 

Harga saham? Anjlog seanjlog-anjlognya. ANTM gw dari 1000/lembar aja bisa jadi 200-350an bulan-bulan itu. BBRI dari 4500 jadi 2250/lembar. Ekonomi morat marit. 

Ya masa kita doain negeri kita yang jelek-jelek 😅 

Pilihan jual beli mata uang asing ini biasanya menjadi pilihan banyak orang atau pemula. Beberapa temen gw punya tabungan valas dengan alasan sebagai investasi tergampang. Mungkin karena pertimbangan mereka, mata uang kita trennya cenderung melemah dibandingkan dengan nilai tukar asing. Jadi akan lebih banyak "untungnya". 

Gw beli mata uang asing buat bentuk tabungan aja kalau pengen ke negara tersebut. Dengan pemikiran seperti itu, gw nggak akan terbebani dengan "Yah nilainya kok nggak naik-naik sih" karena nilai tukar mata uang tsb di negara yang dituju juga nggak akan berubah. 1 dolar di Amerika juga nilainya akan tetep 1 dolar di tabungan.

Tentu saja banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut. Bisa jadi perangai USD berbeda dengan perangai Dinar. Kalau memang mau investasi, bisa dipelajari dulu mata uang asing yang akan dibeli.

Ini adalah pandangan personal gw terhadap investasi valuta asing. Daripada gw buat beli valas, mendingan gw pake buat beli reksadana pasar index yang lajunya nurut IDX 😅 Karena gw yakin banget, perekonomian kita ini akan bagus banget di masa depan. Dan... ini adalah doa baik. Jadi kalau bisa doa baik, kenapa nggak?

Yang perlu diingat adalah, tiap jenis investasi memiliki warnanya masing-masing yang harus dikenali dan dipelajari. 

Jadi, gimana? Kamu investasi valas atau nabung valas? 

Comments

  1. Aku ngga nabung valas atau investasi valas, adanya investasi makan biar kenyang.🤣

    Kalo ada duit penginnya sih beli tanah, kan harganya naik tiap tahun. Tapi sayangnya ngga ada duit. Giliran ada duit malah belinya hape yang harganya turun terus tiap tahun.😂

    Iya, tahun 1998, $1 biasanya 2000 jadi 16.000 lebih. Apa-apa jadi mahal. Aku ingat beli rokok disuruh orang, biasanya sebungkus 1000 jadi 2500.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha yaa betul banget investasi perut itu yang paling yahud 😂

      Beli tanah di tempat yg kira2 10 taun ke depan jadi rame. Soalnya makin lama makin masuk ke desa2 makin banyak pembangunan perumahan dg harga yg lebih murah daripada kota besar. Bagus sih itu prospeknya. Sama kayak harga tanah di Tabanan per are kisaran 20-25jutaan, di Denpasar tanah se are bisa sampe M M an 😅

      Delete
    2. Satu are berapa M² mbak? 100 m² ya?

      Wajar kalo di Denpasar satu are 1m. Lha di daerah kabupaten serang Banten, 100 m kalo dipinggir jalan raya itu 450 juta, kemarin adik iparku beli.

      Tapi kalo di pelosok kampung cuma 20 juta, beda jauh ya.😂

      Delete
    3. iya betul 100m2. enak beli di pelosok yang bisa diprediksi rame kedepannya. orang2 sekarang belinya daerah tabanan. daerah denpasar mahhh yang mampu beli cuma yang mau bangun hotel2 gitu wkwkwkw

      Delete
  2. hihi aku ngakak mba prisca pas bagian inih

    USD 1000, jadi berapa kali tuh pas tahun 98? Untung banyak kan?"

    Ya banyak, tapi ya bangsat. hahahahhaha


    tapi kebayang emang, valas untuk konsep tabungan sepertinya lebih pas dan tepat guna apalagi pas kepake buat ke luar negeri dan ada savingnya di situ

    daripada yang dipantau harian as invest

    ReplyDelete
    Replies
    1. soalnya pas 98 saya ikutan kelompok yg ga punya $1000 mbak 😂

      iya enaknya kalo punya valas, pas keluar negeri bisa dipake langsung ga bingung2 tukar2 duit lagi. lumayan hemat biaya konversi juga

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Book : Semakin Dalam Di Jejak Langkah

  Buku ketiga dari Buru Tetralogi ini lebih berat dari Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa . Disini banyak disinggung tentang Multatuli yang mengungkap "kotornya" birokrasi. Kotor disini tentu saja soal korupsi. Semakin dalam membaca ternyata semakin paham kalo kemungkinan besar korupsi ini "warisan budaya" kolonial. Buku ini pun mengatakan bahwa kolonial berhutang banyak gulden kepada Hindia Belanda atas semua hitungan 'meleset'nya penerimaan pajak dan penyalurannya. Siapa yang nggak mau untung banyak? Ya kolonial menang banyak. Bahkan kalau mau benar-benar dihitung, bisa jadi mereka kalah. Tapi nggak mungkin kan diusut karena kolonial tau kalau mereka bakal ketauan salah dan memungkiri itu. Jadi yaaa, lenyap begitu saja. Disini Minke kawin setelah ditinggal Annelies yang Indo dia kawin dengan yang orang tionghoa. Lagi-lagi pula dia ditinggalkan karena istrinya sakit (kemudian kawin lagi dengan Prinses yang ntah darimana tapi yang jelas dia berpendid

Traveling During Pandemic

CGK to DPS I am one of the people who travel (relatively a lot) during a pandemic. Unfortunately, me being in a long-distance marriage, need mental and physical support once in a while.  In the beginning, we met after 8 months of the pandemic and then 3 or 4 months, then every 2 months. I went wild the first 8 months of the pandemic. Everything felt harder. I know many people feel the same, I am not the only one. We're just coping with the best we can do.  The island I call home 💙 It was so stressful the first time traveling during the pandemic. Like I said here , it's not really worth the effort if you're traveling "for fun". PCR price was crazy, every time we have to calculate the time, make it double as well as the price. Because we buy the time with money. I usually book a ticket at least 2-4 weeks before my travel, then went to the airport 2 hours before my flying time, everything felt so efficient but not during the pandemic. I booked my ticket a week befor

[Piknik] Prambanan lagi

Salah satu pesona Jawa Tengah adalah Candi Prambanan. Saya sudah 3 kali berkunjung ke situs warisan dunia ini. Candi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan jogja ini selalu menimbulkan kesan mistis bagi saya. Terletak tak jauh dari jalan raya, sehingga mengunjunginya pun sangat mudah. Berbeda dengan Candi Borobudur yang letaknya sangat jauh dari jalan raya besar.  Ok, menurut saya ada 3 cara menuju candi ini. Menggunakan bus transjogja, taksi, dan kendaraan pribadi. Bagi yang menggunakan transjogja, saya pernah menggunakannya berangkat dari daerah kampus UNY, daerah Depok Sleman. 1 kali transit, 2 kali berganti bus. Dengan harga transjogja yang kala itu, 2014, seharga 3500 rupiah. Tapi sampai saat ini masih sama harganya, menurut info dari teman. Lokasi shelter bis berada agak jauh dari pintu masuk lokasi candi, mungkin kira-kira 500meter sampai 1kilometer. Kalau jalan, menghabiskan waktu sekitar 15-20menit. Bisa juga naik becak untuk opsi yang lain. Lagi-lagi, jangan lupa men