Skip to main content

Merah Putih

Gw sama Indonesia itu ibarat dua sejoli dalam love and hate relationship. Gw terlahir di tanah yang diperjuangkan orang-orang terdahulu. Nggak keitung berapa juta nyawa hilang untuk itu. Gw bersyukur gw nggak perlu lagi bawa bambu runcing untuk merebut negeri ini dari tangan penjajah. Sejak sebelum nikah gw mulai "berteman" dengan birokrasi dua negara. Birokrasi dari Belanda, tentu saja tidak seribet birokrasi di negeri ini. Segala macam email akan segera dibalas dan dibantu untuk dihubungkan ke pihak terkait atau yang menangani itu. Bahkan untuk permintaan Schengen visa tipe kunjungan keluarga di masa pandemik ini diberikan high priority dan email dibalas dalam sekejap. Sedangkan di Indonesia, aaahhh yaaa gitu dehh.

Tapi, nggak akan pernah gw pungkiri tiap kali gw denger lagu Indonesia Raya gw selalu mewek. Tiap kali liat bendera Indonesia, gw diam sebentar  berterima kasih atas nikmat bisa tinggal di negeri ini tanpa perlu memegang senjata. Gw bener-bener marah saat suami g…

Impulsive Buying?

Satu-satunya sisi impulsifku

Kadang gw mikir, gw ini termasuk impulsive buyer nggak ya?

Satu hal yang bikin kita nggak akan jadi impulsive buyer adalah soal duit. Temen gw pernah nanya apakah gw sering beli-beli barang yang nggak direncanakan gitu. Jujur sih jarang banget sekarang. Dulu bisa aja gw ga ada angin badai tiba-tiba beli HP flip seken karena pengen aja punya, padahal juga nggak dipake 😑 

Sejak beberapa tahun terakhir gw udah mulai nahan diri untuk beli barang tanpa rencana. Biasanya gw tulis barang apa yang pengen atau butuh dibeli, dimasukin ke daftar prioritas berdasarkan list keinginan atau kebutuhan, kemudian direncanakan dan dibeli ketika duitnya udah ngumpul. 

Misal nih, gw butuh sepatu baru warnanya gw pengen putih, kebetulan harganya 600 ribu. Tapi di saat bersamaan gw juga butuh meja kerja yang kebetulan juga harganya 600 ribu. Udah ditulis sejak beberapa bulan lalu dan tinggal eksekusi aja kalau duitnya udah terkumpul. Ternyata saat duit terkumpul, urgensi beli meja kerja lebih tinggi daripada beli sepatu. Ya yang tereksekusi meja kerja jadinya. Tapi kalau ada duit lagi yang ntah kapan longgar , ya gw bakal beli sepatu itu karena udah masuk ke daftar tunggu eksekusi. 

Bukan tiba-tiba hari itu liat hari itu juga beli. 

Sama halnya dengan kaos F.R.I.E.N.D.S yang gw udah masuk list udah lama tapi nggak kebeli-beli karena belum nemu kaosnya. Eh waktu ada diskon, harganya sesuai budget, tentu langsung gw ambil. Kalaupun gw tiba-tiba pengen sesuatu, gw pasti tunggu selama seminggu apakah gw masih punya nafsu untuk memilikinya? Kalau masih, gw tunggu lagi sampai sebulan. Kalau perasaan gw udah datar nggak pengen lagi yaudah gw lepas. Karena pertimbangan gw sekarang lebih ke butuh apa nggak sih barang-barang ini. Atau kadang ketika mencari pilihan harga lain di marketplace udah secara sengaja aja tiba-tiba bosen dan males beli lagi.

Barang kecil-kecil yang nominalnya kadang 50 ribuan atau 100 ribuan ini kadang masuk pos "jajan" yang sering jadi pusat keboncosan tanpa disadari. Gw sadari ini cewek banyak banget godaan beli barang-barang murah-murah lucu-lucu yang nggak guna, potensi bocornya alusnya lebih tinggi daripada cowok. Cowok kalau mau jajan jarang banget yang harganya murah. Jarang aja cowo tiba-tiba beli tas lucu kecil buat kondangan seharga 100 ribu di Miniso kan?

Alasan lain gw jadi nggak gampang beli-beli adalah nggak adanya tempat untuk menyimpan barang-barang itu. Gw selalu berusaha nggak numpuk barang dan sortir barang yang gw nggak pake lagi. Prosesi sortir menyortir ini nggak asik lho 😓

Satu hal yang gw nggak bisa nggak jadi impulsive buyer adalah makanan. Apapun jenis makanannya kalau saat itu on the spot gw pengen makan itu ya gw beli. Nggak pake mikir-mikir. Karena... disimpannya di perut kemudian dibuang juga pada akhirnya 😁

Are you an impulsive buyer?

Comments

  1. Sama banget mbak. Dua tahun ini nggak begitu napsu beli2 barang, tp begitu ada diskon sering kalap pdhl barang yg nggak masuk wishlist. Huhu
    Mungkin boleh ditiru kl mau memutuskan beli barang tunggu reaksi 1 minggu dlu ya. Apakah masih butuh dan napsu atau berlalu gitu aja. Hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Demi masa depan dompet yg lebih cerah ya mbak ahahha

      Delete
  2. Aku sudah gak impulsive buyer lagi..


    Karna duitnya gak ada yang buat beli...


    Wkwkwkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. HMM sejatinya itu yang sering terjadi padaku hahaha

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

[Piknik] Prambanan lagi

Salah satu pesona Jawa Tengah adalah Candi Prambanan. Saya sudah 3 kali berkunjung ke situs warisan dunia ini. Candi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan jogja ini selalu menimbulkan kesan mistis bagi saya. Terletak tak jauh dari jalan raya, sehingga mengunjunginya pun sangat mudah. Berbeda dengan Candi Borobudur yang letaknya sangat jauh dari jalan raya besar. 
Ok, menurut saya ada 3 cara menuju candi ini. Menggunakan bus transjogja, taksi, dan kendaraan pribadi. Bagi yang menggunakan transjogja, saya pernah menggunakannya berangkat dari daerah kampus UNY, daerah Depok Sleman. 1 kali transit, 2 kali berganti bus. Dengan harga transjogja yang kala itu, 2014, seharga 3500 rupiah. Tapi sampai saat ini masih sama harganya, menurut info dari teman. Lokasi shelter bis berada agak jauh dari pintu masuk lokasi candi, mungkin kira-kira 500meter sampai 1kilometer. Kalau jalan, menghabiskan waktu sekitar 15-20menit. Bisa juga naik becak untuk opsi yang lain. Lagi-lagi, jangan lupa menaw…

[Book] Dunia Cecilia

'apakah kalian membicarakan hal semacam itu di surga?' 'tapi kami berusaha tidak membicarakannya dekat-dekat Tuhan. ia sangat sensitif terhadap kritik'
Yap, sepenggal dialog antara Cecilia dan malaikat Ariel. Saya mengenal Jostein Gaarder sejak kuliah. Ehhhh 'mengenal' dalam artian kenal bukunya ya, kalo bisa kenal pribadi mah bisa seneng jingkrak-jingkrak hehehe. Jadi karena teman saya mendapat tugas kuliah membaca satu novel filsafat berjudul Dunia Sophie, saya jadi sedikit mengetahui si bapak Gaarder ini. Enak ya tugasnya anak sastra baca novel, tugas anak matematika ya baca sih, tapi pembuktian kalkulus -_-



Dunia Cecilia ini buku pertama Jostein Gaarder yang saya baca, karena buku Dunia Shopie sangatlah berat berdasar review teman saya. Saya sih nggak perlu baca buku itu karena teman saya sudah benar-benar mahir bercerita. Jadilah saya sudah paham bener cerita Dunia Sophie tanpa membacanya.

Novel ini atas rekomendasi teman saya, dia bilang kalau novel ini ri…

Pake Jenius

Beberapa waktu lalu sering liat counter Jenius di Matos, yang lalu kutemui pula di MOG. Anak Malang tau lah dua mall ini. Nah udah cari info sana sini ya, kok kayaknya asik gitu. Jadi memberanikan diri untuk sign up. Apakah perlu kujelaskan fitur dan fungsinya secara mendetail? Karena sudah banyak tercecer informasinya di internet. Nggak ah, gw mau bahas pengalaman gw pake kartu ini selama sebulan ini.

Sign up lah aku di counter MOG (ya gusti kejebak lagi gw pake nambah kartu-kartuan begini). Kemudian, berkatalah mbaknya "Transfer aja mbak satu juta kesini, kita lagi ada promo kalau transaksi pertama kali satu juta akan ada free kartu member starbucks dengan saldo 50ribu. Lumayan lho mbak Starbucks". Gw nggak fanatik Sbucks (cuma kalo harus beli Chai tea selalu kesini). Dan tanpa sadar pun gw transfer sejuta ke akun jenius gw. Because, why not? Lagian juga mindah duit gw sendiri ke rekening yang lain kan? Nggak ilang duit juga.

Jadilah kudapat kartu Jenius beserta k…