Skip to main content

Mengalahkan Rasa Takut akan Tenggelam

Makanan setelah renang di KOOD Sanur (serba vegan) Dari dulu takut banget sama air dengan volume yang besar. Mungkin di kehidupan gw sebelumnya gw pernah tenggelem kali ya. Makanya nggak pernah bisa renang. Karena ya takut tenggelam. Bahkan sekedar kecipak kecipuk aja takut. Sampai pindah ke Bali. Pindah ke Bali nggak berekspektasi setinggi itu sih. Ternyata, jadi lebih sering main air di pantai. Nggak renang, cuma berendam aja. Lama-lama jadi kebiasaan dan udah mulai terbiasa dengan air. Ternyata seru juga yaa. Kemudian dilatih suami gw buat berani snorkeling. Iya takut awalnya, nggak percaya meskipun dia bilang nggak akan tenggelam karena pake fin. Hmm masaaaa~~ Ya tetep pake pelampung sih. Pertama kali nyemplung, tentu saja heboh takut tenggelam padahal udah pake pelampung, pake fin, mana dipegangin juga. Tapi heboh aja, takut tenggelem. Ada 3 spot waktu itu, gw cuma nyemplung satu spot aja belum juga 15 menit udah naik kapal. Beberapa kali snorkeling akhirnya baru berani lepas pela

Secuil Jejak Kejayaan Byzantium : Hagia Sophia

 
taken from rooftop restaurant

Kita tadinya nggak berencana pakai tour guide buat masuk Ayasofya, tapi berhubung si Kadir ini lucu banget dan menarik marketingnya, akhirnya kita ambil dia buat jadi guide kita (meskipun papa paham juga sejarahnya ayasofya dan berkali-kali nanya ke Kadir sampe Kadir merasa 'terancam' karena yang dipandu keliatannya lebih paham daripada dia 😂).

Enaknya pake guide, kita bisa dapet prioritas masuk Ayasofya tanpa antri lama, apalagi kalau guide nya orangnya kreatif dan nggak bikin suasana garing. Harga sewa guidenya sekitar 100 lira (25 euro), plus kalo puas ya bisa kasih tips buat dia. Kalau pun nggak mau pakai pemandu, bisa juga sewa audio guide (tapi gw jamin itu boring banget).

 
bagian depan ayasofya

 
salah satu pintu masuk ayasofya
 
Harga tiket masuk ayasofya 40 lira. Kebanyakan harga masuk tempat wisata, museum, apapun yang berbayar ini sekitar 40 lira.

Jadi, ayasofya ini adalah bangunan yang tua banget (sekitar lebih dari 1400 tahun), awalnya digunakan sebagai katedral, trus kemudian diubah menjadi masjid, nah sekarang jadi museum. Ceritanya, ayasofya dibangun oleh ribuan pekerja dan selesai dalam waktu yang relatif singkat (pekerjanya dari Romawi tentunya, karena waktu itu jaman kejayaan Byzantium).


Awal mulanya dibangun sekitar abad ke 3 jamannya emperor Konstantinos hanya gereja kecil dengan atap kayu yang ya mungkin kalau ditiup angin terbang begitu aja. Tapi dihancurin dan otomatis hancur lah itu. Kemudian dibangun lagi gereja, eh dihancurin lagi. Kenapa sih doyan banget hancur-hancurin ya. Nah pas sekitar abad ke 6 ini barulah berdiri bangunan pengganti cikal bakalnya Ayasofya yang sekarang ini berdiri.


Berapa orang yang terlibat? Ribuan. Dan untuk bangunan semegah itu dijamannya (dijaman sekarang juga sih), bangunan tersebut selesai dalam waktu yang super singkat (maaf lah lupa sesingkat apa pokoknya nggak selama bangun wisma atlet SEA games lah). Uh kebayang dong ribuan orang disuruh bangun bangunan super mewah dengan bahan-bahan yang nggak murah dan tanpa alat berat, banyak sih korbannya (tapi dramanya ga sedrama papa nabrak tiang 😓).

 

Marmer selalu menjadi bahan utama di setiap bangunan yang ada di Istanbul. Ntah mengapa mereka lebih memilih marmer yang mahal dan agak risky gampang rusak meskipun terlihat megah. Ah ya suka-suka mereka sih wong duit ada hahaha. Lantainya yang marmer ada di gerbang depan ayasofya terlihat sedikir penyok. Kadir merekonstruksi kejadian masa lalu, konon katanya kepenyokan lantai ini disebabkan oleh penjaga pintu yang selalu menghentakkan kakinya ketika raja mulai masuk kedalam ruangan.


Ruangan ini super sekali. Kamu pernah nggak ngerasain kayak ketarik masuk ke masa lalu ribuan tahun lalu? I felt it. Bayangin ya, kita masuk ke ruangan yang dibangun di abad ke 6, yang merupakan salah satu bangunan tertua di dunia, dengan sejarah yang super panjang, saya sih waktu itu ngerasa nggak bisa napas. Bayangin aja lah kayak time traveler dari tahun 2017 balik ke taun 600an. Yaa meskipun nggak pernah ngerasain time traveling sih, ya pokoknya feeling itu lah.

in a very deep discussion 😃

Nah didalemnya, jelas dulu dipake macem-macem ya, kegiatan kenegaraan termasuk coronation. Jadi raja-raja tuh pasti di lantik disini dulu. Interior dibangun dengan banyak mozaik yang menggambarkan kisah para raja. Saya yakin sih mozaiknya digambar sesuai dengan perjalanan emperor. Nggak serta mereta langsung digambar sekali jadi. Karena ada juga kisah Saint Irene Prisca (bukan gw lol!) yang lahir dimasa mendekati abad ke 10.

  
Saint Irene Prisca with John and  one of her son

 
last one before the exit


 

Melalui masa ribuan tahun dengan awal mula tempat ini adalah katedral, tentu dong ornamen di dalamnya ini penuh dengan mahakarya mengagumi katolik terutama ortodoks. Oke ya jaman dulu itu Byzantium itu ortodoks, bahkan sampai Saint Irene menikah dengan Raja dari Byzantium ini harus convert dulu ke ortodoks. Nah,ketika masa islam mulai mencapai kejayaannya, Ottoman ini taking over kekuasaan byzantium sekitar abad 14. Singkat kata, byzantium dikuasai ottoman (meskipun cerita soal taking over nya nggak singkat juga sih).

 
some details

Sekitar taun 1453, ayasofya dikonversi menjadi masjid hingga sekitar tahun 1936 dikonversi menjadi museum oleh presiden pertama Turki - Attaturk. Part yang menurut saya seru part ini, dimana masa konversi adalah masa untuk merubah interior gereja yang penuh ornamen menjadi masjid yang tidak boleh ada ornamen didalamnya. Orang muslim percaya bahwa sebisa mungkin tidak ada gambar-gambar dalam tempat ibadah. Serunya lagi, Turks masa itu sangat menghormati Nabi Isa yang mana beliau juga merupakan nabi penting dalam sejarah islam. Karena saking menghargainya, mereka pun akhirnya melakukan sedikit perombakan gereja dengan harapan tidak terlalu merubah desain aslinya tapi juga masih bisa diterima menurut aturan Islam. Beberapa ornamen ditutup dengan hati-hati sehingga tidak menyerupai manusia atau benda hidup lainnya. Kadir aja sampe bilang kalo kita makasih banget dan berhutang budi banyak banget ke muslim masa itu yang renovasi ayasofya ini. Karena mereka masih bisa menghargai peninggalan sejarah dan nggak anarkis serta merta diganti ala aturan mereka. Ini yang namanya menyelamatkan sejarah juga. Hayo... we should learn from this lho.

 
manis ya
Setelah berubah menjadi masjid, mulailah altar diubah menjadi mimbar, serta diberikan dekorasi lain yang lebih islami dan lebih 'masjid'. Satu lagi yang seru, mereka membiarkan ornamen Yesus di bagian depan dan menambahkan kaligrafi Allah dan Muhammad di kedua sisinya. Dapat juga dilihat nama besar lainnya seperti Abubakar, Omar, Usman, Ali, Hasan, Husein.

 
taken from second floor
 
 

 

 

OIya di bagian depan ayasofya ada kuburan. Konon katanya kuburan itu diperuntukan keluarga sultan dan itu merupakan bekas tempat pembabtisan kala ayasofya masih gereja. Dibagian belakang juga ada tempat wudhu ya. Tempat wudhu disana spesial banget deh pokoknya. Istimewa. kayaknya yang wudhu berdiri itu disini aja ya hahaha.

 

 

Ayasofya, salah satu saksi sejarah panjang masa kejayaan byzantium hingga ottoman dan saat ini, menjadi bangunan yang berhasil menarik saya kembali ke ribuan tahun yang lalu. Papa mertua udah pernah sebutin namanya tapi lupa. Semacem feeling yang sangat kuat yang membawa kita kembali ke masa kejayaan tempat tersebut dan menyerap energi di lingkungan tersebut. Seriously ini satu-satunya tempat yang memberikan saya sensasi luar biasa ketarik ke ribuan tahun yang lalu.

 
gelato ... would never taste the same as in Gili Air 😂 padahal gelato juga bukan asli indonesia

Dan Kadir, I owe you a review in Tripadvisor  😌

Comments

  1. terima kasih sudah menjadi mata saya untuk hagia sophia hehe
    nunut blog ya : https://www.mrohmanwijaya.com/

    ReplyDelete
  2. Katedral, lalu jadi masjid, kemudian museum? Wah, tidak terlalu banyak sepertinya bangunan yang punya sejarah begini ya.. :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Book : Semakin Dalam Di Jejak Langkah

  Buku ketiga dari Buru Tetralogi ini lebih berat dari Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa . Disini banyak disinggung tentang Multatuli yang mengungkap "kotornya" birokrasi. Kotor disini tentu saja soal korupsi. Semakin dalam membaca ternyata semakin paham kalo kemungkinan besar korupsi ini "warisan budaya" kolonial. Buku ini pun mengatakan bahwa kolonial berhutang banyak gulden kepada Hindia Belanda atas semua hitungan 'meleset'nya penerimaan pajak dan penyalurannya. Siapa yang nggak mau untung banyak? Ya kolonial menang banyak. Bahkan kalau mau benar-benar dihitung, bisa jadi mereka kalah. Tapi nggak mungkin kan diusut karena kolonial tau kalau mereka bakal ketauan salah dan memungkiri itu. Jadi yaaa, lenyap begitu saja. Disini Minke kawin setelah ditinggal Annelies yang Indo dia kawin dengan yang orang tionghoa. Lagi-lagi pula dia ditinggalkan karena istrinya sakit (kemudian kawin lagi dengan Prinses yang ntah darimana tapi yang jelas dia berpendid

Traveling During Pandemic

CGK to DPS I am one of the people who travel (relatively a lot) during a pandemic. Unfortunately, me being in a long-distance marriage, need mental and physical support once in a while.  In the beginning, we met after 8 months of the pandemic and then 3 or 4 months, then every 2 months. I went wild the first 8 months of the pandemic. Everything felt harder. I know many people feel the same, I am not the only one. We're just coping with the best we can do.  The island I call home 💙 It was so stressful the first time traveling during the pandemic. Like I said here , it's not really worth the effort if you're traveling "for fun". PCR price was crazy, every time we have to calculate the time, make it double as well as the price. Because we buy the time with money. I usually book a ticket at least 2-4 weeks before my travel, then went to the airport 2 hours before my flying time, everything felt so efficient but not during the pandemic. I booked my ticket a week befor

[Piknik] Prambanan lagi

Salah satu pesona Jawa Tengah adalah Candi Prambanan. Saya sudah 3 kali berkunjung ke situs warisan dunia ini. Candi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan jogja ini selalu menimbulkan kesan mistis bagi saya. Terletak tak jauh dari jalan raya, sehingga mengunjunginya pun sangat mudah. Berbeda dengan Candi Borobudur yang letaknya sangat jauh dari jalan raya besar.  Ok, menurut saya ada 3 cara menuju candi ini. Menggunakan bus transjogja, taksi, dan kendaraan pribadi. Bagi yang menggunakan transjogja, saya pernah menggunakannya berangkat dari daerah kampus UNY, daerah Depok Sleman. 1 kali transit, 2 kali berganti bus. Dengan harga transjogja yang kala itu, 2014, seharga 3500 rupiah. Tapi sampai saat ini masih sama harganya, menurut info dari teman. Lokasi shelter bis berada agak jauh dari pintu masuk lokasi candi, mungkin kira-kira 500meter sampai 1kilometer. Kalau jalan, menghabiskan waktu sekitar 15-20menit. Bisa juga naik becak untuk opsi yang lain. Lagi-lagi, jangan lupa men