Skip to main content

I Thought I Hate People, but...

Sanur ... but I actually don't! That I realized when I had dinner with H and he asked me, "Do you think she's married? The seller, she looks young but not too young."  So I said, "Uhmm I don't know and I don't care."  He then said again, "Yea I know, but I am curious about people. I am curious about what they're doing in life." That's when it came to my mind, "Wait a minute! I am also curious about people, but not their personal life like marital status, how many kids they have, what religion they believe in. I am curious about what they think about things! Ah that's why I love talking to people, no matter how introvert I am but talking to people still excites me." Then we finished our big nasi goreng together.  Looking back at it, I never really like people randomly talking to me when I was in the zone... Like zoning in and out talking to myself. But actually no, maybe it was only that we didn't sync so I went &qu

Secuil Jejak Kejayaan Byzantium : Hagia Sophia

 
taken from rooftop restaurant

Kita tadinya nggak berencana pakai tour guide buat masuk Ayasofya, tapi berhubung si Kadir ini lucu banget dan menarik marketingnya, akhirnya kita ambil dia buat jadi guide kita (meskipun papa paham juga sejarahnya ayasofya dan berkali-kali nanya ke Kadir sampe Kadir merasa 'terancam' karena yang dipandu keliatannya lebih paham daripada dia 😂).

Enaknya pake guide, kita bisa dapet prioritas masuk Ayasofya tanpa antri lama, apalagi kalau guide nya orangnya kreatif dan nggak bikin suasana garing. Harga sewa guidenya sekitar 100 lira (25 euro), plus kalo puas ya bisa kasih tips buat dia. Kalau pun nggak mau pakai pemandu, bisa juga sewa audio guide (tapi gw jamin itu boring banget).

 
bagian depan ayasofya

 
salah satu pintu masuk ayasofya
 
Harga tiket masuk ayasofya 40 lira. Kebanyakan harga masuk tempat wisata, museum, apapun yang berbayar ini sekitar 40 lira.

Jadi, ayasofya ini adalah bangunan yang tua banget (sekitar lebih dari 1400 tahun), awalnya digunakan sebagai katedral, trus kemudian diubah menjadi masjid, nah sekarang jadi museum. Ceritanya, ayasofya dibangun oleh ribuan pekerja dan selesai dalam waktu yang relatif singkat (pekerjanya dari Romawi tentunya, karena waktu itu jaman kejayaan Byzantium).


Awal mulanya dibangun sekitar abad ke 3 jamannya emperor Konstantinos hanya gereja kecil dengan atap kayu yang ya mungkin kalau ditiup angin terbang begitu aja. Tapi dihancurin dan otomatis hancur lah itu. Kemudian dibangun lagi gereja, eh dihancurin lagi. Kenapa sih doyan banget hancur-hancurin ya. Nah pas sekitar abad ke 6 ini barulah berdiri bangunan pengganti cikal bakalnya Ayasofya yang sekarang ini berdiri.


Berapa orang yang terlibat? Ribuan. Dan untuk bangunan semegah itu dijamannya (dijaman sekarang juga sih), bangunan tersebut selesai dalam waktu yang super singkat (maaf lah lupa sesingkat apa pokoknya nggak selama bangun wisma atlet SEA games lah). Uh kebayang dong ribuan orang disuruh bangun bangunan super mewah dengan bahan-bahan yang nggak murah dan tanpa alat berat, banyak sih korbannya (tapi dramanya ga sedrama papa nabrak tiang 😓).

 

Marmer selalu menjadi bahan utama di setiap bangunan yang ada di Istanbul. Ntah mengapa mereka lebih memilih marmer yang mahal dan agak risky gampang rusak meskipun terlihat megah. Ah ya suka-suka mereka sih wong duit ada hahaha. Lantainya yang marmer ada di gerbang depan ayasofya terlihat sedikir penyok. Kadir merekonstruksi kejadian masa lalu, konon katanya kepenyokan lantai ini disebabkan oleh penjaga pintu yang selalu menghentakkan kakinya ketika raja mulai masuk kedalam ruangan.


Ruangan ini super sekali. Kamu pernah nggak ngerasain kayak ketarik masuk ke masa lalu ribuan tahun lalu? I felt it. Bayangin ya, kita masuk ke ruangan yang dibangun di abad ke 6, yang merupakan salah satu bangunan tertua di dunia, dengan sejarah yang super panjang, saya sih waktu itu ngerasa nggak bisa napas. Bayangin aja lah kayak time traveler dari tahun 2017 balik ke taun 600an. Yaa meskipun nggak pernah ngerasain time traveling sih, ya pokoknya feeling itu lah.

in a very deep discussion 😃

Nah didalemnya, jelas dulu dipake macem-macem ya, kegiatan kenegaraan termasuk coronation. Jadi raja-raja tuh pasti di lantik disini dulu. Interior dibangun dengan banyak mozaik yang menggambarkan kisah para raja. Saya yakin sih mozaiknya digambar sesuai dengan perjalanan emperor. Nggak serta mereta langsung digambar sekali jadi. Karena ada juga kisah Saint Irene Prisca (bukan gw lol!) yang lahir dimasa mendekati abad ke 10. Dia menikah dengan John, meski secara politis.

  
Saint Irene Prisca with John II Komnenos and one of her sons.

 
last one before the exit


 

Melalui masa ribuan tahun dengan awal mula tempat ini adalah katedral, tentu dong ornamen di dalamnya ini penuh dengan mahakarya mengagumi katolik terutama ortodoks. Oke ya jaman dulu itu Byzantium itu ortodoks, bahkan sampai Saint Irene menikah dengan Raja dari Byzantium ini harus convert dulu ke ortodoks. Nah,ketika masa islam mulai mencapai kejayaannya, Ottoman ini taking over kekuasaan byzantium sekitar abad 14. Singkat kata, byzantium dikuasai ottoman (meskipun cerita soal taking over nya nggak singkat juga sih).

 
some details

Sekitar taun 1453, ayasofya dikonversi menjadi masjid hingga sekitar tahun 1936 dikonversi menjadi museum oleh presiden pertama Turki - Attaturk. Part yang menurut saya seru part ini, dimana masa konversi adalah masa untuk merubah interior gereja yang penuh ornamen menjadi masjid yang tidak boleh ada ornamen didalamnya. Orang muslim percaya bahwa sebisa mungkin tidak ada gambar-gambar dalam tempat ibadah. Serunya lagi, Turks masa itu sangat menghormati Nabi Isa yang mana beliau juga merupakan nabi penting dalam sejarah islam. Karena saking menghargainya, mereka pun akhirnya melakukan sedikit perombakan gereja dengan harapan tidak terlalu merubah desain aslinya tapi juga masih bisa diterima menurut aturan Islam. Beberapa ornamen ditutup dengan hati-hati sehingga tidak menyerupai manusia atau benda hidup lainnya. Kadir aja sampe bilang kalo kita makasih banget dan berhutang budi banyak banget ke muslim masa itu yang renovasi ayasofya ini. Karena mereka masih bisa menghargai peninggalan sejarah dan nggak anarkis serta merta diganti ala aturan mereka. Ini yang namanya menyelamatkan sejarah juga. Hayo... we should learn from this lho.

 
manis ya
Setelah berubah menjadi masjid, mulailah altar diubah menjadi mimbar, serta diberikan dekorasi lain yang lebih islami dan lebih 'masjid'. Satu lagi yang seru, mereka membiarkan ornamen Yesus di bagian depan dan menambahkan kaligrafi Allah dan Muhammad di kedua sisinya. Dapat juga dilihat nama besar lainnya seperti Abubakar, Omar, Usman, Ali, Hasan, Husein.

 
taken from second floor
 
 

 

 

OIya di bagian depan ayasofya ada kuburan. Konon katanya kuburan itu diperuntukan keluarga sultan dan itu merupakan bekas tempat pembabtisan kala ayasofya masih gereja. Dibagian belakang juga ada tempat wudhu ya. Tempat wudhu disana spesial banget deh pokoknya. Istimewa. kayaknya yang wudhu berdiri itu disini aja ya hahaha.

 

 

Ayasofya, salah satu saksi sejarah panjang masa kejayaan byzantium hingga ottoman dan saat ini, menjadi bangunan yang berhasil menarik saya kembali ke ribuan tahun yang lalu. Papa mertua udah pernah sebutin namanya tapi lupa. Semacem feeling yang sangat kuat yang membawa kita kembali ke masa kejayaan tempat tersebut dan menyerap energi di lingkungan tersebut. Seriously ini satu-satunya tempat yang memberikan saya sensasi luar biasa ketarik ke ribuan tahun yang lalu.

 
gelato ... would never taste the same as in Gili Air 😂 padahal gelato juga bukan asli indonesia

Comments

  1. terima kasih sudah menjadi mata saya untuk hagia sophia hehe
    nunut blog ya : https://www.mrohmanwijaya.com/

    ReplyDelete
  2. Katedral, lalu jadi masjid, kemudian museum? Wah, tidak terlalu banyak sepertinya bangunan yang punya sejarah begini ya.. :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Tips Membeli Buku

Ada duitnya wkwkw! Ya maksud gw, harga buku di Indonesia bisa dibilang nggak murah terutama buku yang berbahasa asli misalnya Bahasa Inggris. Buku cetakan versi asli biasanya harganya bisa 2 kali harga buku terjemahannya, atau dua-tiga kali harga e-book. Ini e-book yang original ya, bukan yang bajakan. Kayak semacem beli di kindle atau books-nya google itu.  Kadang emang sering pengen beli fisik bukunya tapi kok harganya sampe 300ribu banget, sedangkan hasrat ingin membaca ini tinggi sekali. Nah, kalau skenario yang begini yang terjadi (dan paling sering), gw biasanya cek toko buku bekas dulu. Di Bali ada beberapa toko buku bekas yang reliable , meskipun koleksinya kita nggak akan tau ya karena ya random juga. Satu di Sanur, satu di Ubud.  Ini karena kapan hari gw udah beli bukunya Madeline yang Song of Achilles di Periplus, 200ribuan. Lalu nemuin bekasnya dengan sampul yang gw mau, cuma 25ribu. Jadi gw udah beli yang baru, beberapa hari kemudian gw ke toko buku bekas dan nemu itu. Set

Mendaftar Pelatihan di Prakerja

Sanur Jadi dulu program ini diluncurkan pemerintah untuk kasih insentif orang yang di PHK atau tidak bekerja pas pandemi. Jadi ya gw tentu saja nggak punya hak tho. Sebagai orang yang nggak punya hak, ya gw nggak ikutan lah. Trus temen gw beberapa bulan lalu bilang, ikut aja soalnya ini buat yg kerja yg mau nunjang skill juga lho.  "Hah masa sih?" Yaudah pas liat oh ya bener juga, jadi gw daftar. Daftar pertama di gelombang 20 nggak lolos. Trus ya udah patah hati dah lah gausah daftar. Eh tiba-tiba minggu lalu temen gw lolos gelombang berapa gitu, lalu bilang kalau gelombang 29 udah buka. Yaudah deh ikutan aja. Eh lolos dong. Pembukaan gelombang ini termasuk cepet. Hampir tiap minggu selalu ada gelombang baru yang dibuka. Jadi daftar di gelombangnya itu selama 3 harian, pengumumannya 3 hari kemudian, lalu 3 hari kemudian udah bukaan baru. Bener-bener cepet banget. Nah temen gw yang lagi S2 nggak bisa ikutan padahal dia juga kerja sebagai pengajar. Alasannya KTP sudah terdafta

I Thought I Hate People, but...

Sanur ... but I actually don't! That I realized when I had dinner with H and he asked me, "Do you think she's married? The seller, she looks young but not too young."  So I said, "Uhmm I don't know and I don't care."  He then said again, "Yea I know, but I am curious about people. I am curious about what they're doing in life." That's when it came to my mind, "Wait a minute! I am also curious about people, but not their personal life like marital status, how many kids they have, what religion they believe in. I am curious about what they think about things! Ah that's why I love talking to people, no matter how introvert I am but talking to people still excites me." Then we finished our big nasi goreng together.  Looking back at it, I never really like people randomly talking to me when I was in the zone... Like zoning in and out talking to myself. But actually no, maybe it was only that we didn't sync so I went &qu