Gw kira rasanya akan sama aja. Ada rasa kangen ya wajar karena jauh dari tempat yang selama ini kita sebut familiar. Tapi ternyata ada rasa rindu yang pukulannya berbeda. Di kasus gw, gw cuma kenal satu orang Indonesia. Beliau bilang kalau mau temen jalan-jalan bisa lah berkabar biar jalan bareng. Tapi karena gw ada kerja dari senin-jumat, sedangkan beliau nggak, jadinya waktu kami seringkali nggak pas. Sedangkan di akhir pekan, gw habiskan bersama suami. Bulan pertama masih terasa integrasi. Berusaha mengenal supermarket mana yang jual apa. Cari ini itu di mana. Menghafal jalur transportasi umum. Mengenal, membaca dan memahami nama daerah atau tempat dari huruf cyrilic-nya untuk sekedar "kalau nyasar, bisa kasih tau suami lagi ada di mana" karena seringkali online maps dihambat pemerintah. Bulan kedua sudah mulai mengenal banyak hal. Sudah punya kartu atm untuk pembayaran. Visa panjang juga sudah di tangan. Mulai berhati-hati dengan banyak hal, mana yang boleh mana ya...
Traditional Turkish coffee in an authentic cup and a traditional bread called Simit.
Sebenarnya sih udah
nulis soal Istanbul, tapi ada di iPad HJ dan lupa belum transfer. Jadi kita
re-type aja meskipun feelingnya nggak sama huhu.
I was writing about Istanbul when we traveled to Kazbegi. It
took so long time and boring because my husband was sitting next to driver, and
I sat next to a couple who doesn’t speak English and so proud to speak Russian.
So I was the only one who said nothing during the trip. Percuma, Bahasa Inggrisnya adekku yang masih SD aja jauh lebih oke dari
mereka.
Oke… sebelumnya nggak pernah mikir bakal ke Turki. Tapi
karena beberapa pertimbangan, serta ada satu misi penting yaitu ketemu mertua,
akhirnya kita (lebih tepatnya, dia) putuskan untuk ketemu di Turki. Karena
mertua nggak bisa travel terlalu
jauh, dipilihlah Istanbul sebagai titik temu kita berempat. Yang paling jauh ya
tentu saja saya. Jauh dan tentunya penuh drama (dramanya nanti aja, banyak
pelajarannya kok huhu).
Kita berdua sampai di Istanbul 5 hari lebih awal dari
mereka. Karena kita inginnya familiar dulu dengan keadaan sekitar, jadi nanti
pas jalan sama mertua bisa jelasin satu dua tiga hal (yang ternyata nyampe
ratusan).
Hmmm.. tentunya yang pertama diinjak di Istanbul adalah
bandaranya dong ya. Nggak Cuma Istanbul aja sih haha. Ceritanya begini, kita
berdua baru kali ini ke Istanbul, mana ada sih orang betah antri lama-lama ya,
eh kita surprisingly kaget banget
ketika melihat antrian di imigrasi sepanjang ular piton mau beranak. Luar biasa
panjangnya. I mean, gw pernah antri di
Singapore panjang banget, tapi nggak sampe 5 menit udah kelar.
Saya pernah baca di blog mana-mana kalo antrian di Istanbul
itu panjang, ya saya kira sih hanya mentok 100 lah, atau orang sejumlah satu
pesawat. Ternyata ya Tuhan, panjangnya bukan main. Biasanya ada penanda buat
kita jalan mengular itu kan ya, nah panjangnya itu lebih panjang dari imigrasi
Surabaya, Dubai, Singapore, panjang banget lah intinya, dan juga ada sekitar
10-15 baris. Kita perlu waktu sekitar 20-30 menitan, sampe antrian koper bagasi
udah kelar malahan. Coba bayangin aja, misal nih (amit-amit) kita udah punya e-visa, ehh ternyata e-visa kita keliatan ga valid, trus suruh antri bikin VoA, opo yo ora mateng kuwi mbaleni antri tekan kaitan? nangis nggelundung nang pojokan wis 😂
Udah antri lama, dan pas cek nama saya, ada kali 5 menit
lebih. Gatau lah mungkin mereka takut kali ya kalo gw mau nyebrang ke Suriah.
Demi nama siapapun deh gw ga minat nyebrang nyusup berkorban bodoh demi join
grup asal Suriah sana.
Oke enough about it
here, gonna write it later.
Ya namanya juga travel ke tempat baru, pasti banyak lessons to learn. Yang jelas saya seneng
banget bisa ketemu mertua disana, yaa meskipun mereka berkorban banget bisa
travel kesana. Semoga lain kali saya yang bisa kesana biar mereka nggak
jauh-jauh keluar dari rumah. Visa ohhhh
visaaaa...
Ditulis sesaat setelah
landed di bandara Juanda, Surabaya. (sesaat??? 4 jam setelah mendarat)
See ya..
Strictly prohibited to take my photos without permission

Wes? Ngono tok? Nang ndi serune jal....
ReplyDeleteyo sik tho mas, iki kan opening tho. sabarrrr haha
DeleteEh kuwi roti simit raine jan muantep tenan! :)
ReplyDeleteMau jawaban jujur apa ndak? Hahaa
Delete