Skip to main content

Mengalahkan Rasa Takut akan Tenggelam

Makanan setelah renang di KOOD Sanur (serba vegan) Dari dulu takut banget sama air dengan volume yang besar. Mungkin di kehidupan gw sebelumnya gw pernah tenggelem kali ya. Makanya nggak pernah bisa renang. Karena ya takut tenggelam. Bahkan sekedar kecipak kecipuk aja takut. Sampai pindah ke Bali. Pindah ke Bali nggak berekspektasi setinggi itu sih. Ternyata, jadi lebih sering main air di pantai. Nggak renang, cuma berendam aja. Lama-lama jadi kebiasaan dan udah mulai terbiasa dengan air. Ternyata seru juga yaa. Kemudian dilatih suami gw buat berani snorkeling. Iya takut awalnya, nggak percaya meskipun dia bilang nggak akan tenggelam karena pake fin. Hmm masaaaa~~ Ya tetep pake pelampung sih. Pertama kali nyemplung, tentu saja heboh takut tenggelam padahal udah pake pelampung, pake fin, mana dipegangin juga. Tapi heboh aja, takut tenggelem. Ada 3 spot waktu itu, gw cuma nyemplung satu spot aja belum juga 15 menit udah naik kapal. Beberapa kali snorkeling akhirnya baru berani lepas pela

Tentang Istanbul


Sebelum menginjakkan kaki di Istanbul, jelas lah kita napak kaki dulu di bandaranya ya. Soale kita terbang cui, kecuali kalo kita jalur darat dari Siria uhhh.

Okay... kali ini saya cuma nulis hal-hal yang tampak mata dan nggak semuanya menyenangkan tentang Istanbul. Kotanya cantik sih, saya akui cantik dan saya suka apalagi sejarahnya. Nah pertama kita napak kaki dulu di bandara ya. Sumpah demi apapun, antrian customnya panjang banget. Mungkin sekali antrian kita maEh tapi ada lho yang begitu. sedih liatnya.
suk, kita harus menanti ratusan orang didepan kita. Kita 2 kali antri custom sekitar 20 menit. Termasuk leletnya petugas imigrasi cek visa dan paspor kita. Suami sih prosesnya cepet (mungkin karena doi orang EU ya), saya butuh hmmm 3-5 menit ketika pertama kali masuk imigrasi Istanbul. Sampai depan mas loket imigrasi juga deg deg ser, jangan sampe lah suruh balik visa suruh pake VoA bisa nangis ditempat ini. Antrinya panjang bener.

Singapura juga rame lho, tapi cepet prosesnya (karena sekalinya ada yg bermasalah pasti langsung dilempar ke tim khusus, jadi bukan loket yang ngurus masalah tersebut)

Selain antri imigrasi yang ga cepet, koper mertua juga katanya di pos nomer sekian ternyata ada di nomer keberapa. Jadilah pas menanti mertua, kita nunggu selama 1,5 jam.

Selain itu bandaranya termasuk sempit, terlalu crowded. Kalau diliat dari jumlah orang yang masuk imigrasi, tentunya dapat dengan mudah disimpulkan kalau Istanbul jadi destinasi favorit ya. Karena banyak orang datang kesana. Tapi kenapa bandaranya kesannya sumpek banget. Kayak jalan pun pasti nyenggol orang. Dubai juga banyak orang di bandaranya tapi nggak pernah tuh senggolan sama orang disana. Pengap lah istilahnya ini bandara.

Petugasnya, nggak ada senyumnya. Paling pelit senyum deh, kecuali staf Emirates disana yang bahkan sempet muji dress yang saya pakai hari itu katanya cantik dan lucu (dress-nya lah). Petugas Turkish juga agak kurang responsif. Meskipun di akhir kita sudah dapet penyelesaian sih, tapi butuh 30 menit juga. Dan ada petugas security check yang nggak senyum blas, dia yang ngambil frame kayu lukisan saya. Bisa dimaklumi sih frame kayunya pasti suruh buang nggak boleh dibawa ke kabin tapi mbok ya senyum dikit kek. Kita nanya alesan jawabannya cuma NO NO NO. Apapun pertanyaan kita jawabnya no. Dan ya, mereka nggak bisa Bahasa Inggris. Ini bandara internasional hello. Dan juga nggak ada wifi ya. wifi ada sih tapi nggak gitu bisa. Jangankan bisa, ngirim code ke nomer hape kita aja nggak nyampe. Padahal kan ya kena roaming kan kita yang bayar.

Oke cukup ya tentang bandaranya. Intinya saya nggak suka sama bandaranya dan suami nyesel kenapa juga kudu flight balik ke Istanbul abis dari Tbilisi.

Nah, di Istanbul itu kayaknya kota penuh perokok aktif semua. Jadi lebih sedikit perokok pasifnya. Ciwi ciwi pada pake baju syari juga ngerokok. Ini yang bikin kaget. Bukan soal kaget banyak wanita perokoknya sih, tapi cukup kaget banyaknya perokok aktif disana. Mungkin lebih banyak daripada orang Indonesia. Yang gw pikirin 'wah, ini pasar gede nih buat ex kantor gw' 😂

Mungkin karena hobi mereka juga pake water pipe juga (shisha) jadi kesannya udah biasa aja. Ngerokok itu sama kayak bernafas. Kita cobain water pipe tapi saya yang nggak suka begituan nggak doyan. Sekali hisap langsung batuk batuk. Harga untuk satu varian sih kisaran 20-40 lira. Tergantung rasa yang dipesan.

Banyak pengemis juga. Itu sih pengungsi dari Siria. jadi mereka ini nggak ada di pagi hari tapi ada mulai sore hari sampai malam hari. Tiap hari kita sedia uang receh buat dikasih mereka. Ada juga pemulung disana. Kita kirain orang Indonesia ini yang paling menyedihkan level kemampuan bahasa inggrisnya, ternyata Istanbul juga.

Yang paling asik, penjual jagung bakar, jagung rebus sama kestane nya. Itu bener-bener snack pas buat brunch atopun sore hari. harga jagungnya 2-3 lira, kestane 10 lira untuk 100gram. Kestanenya dibakar, kalo mertua lebih suka yang raw dan setelah cobain, yang raw ternyata enak juga sih.

Tapi kalau ada pertanyaan, bakalan dateng lagi kesini nggak? Uhmm kita berdua kompak bilang 'Maybe... but not that soon. Maybe in future' (rada males sama bandaranya huhu)

Ini cuman sisi nggak asiknya ya, tapi kalo kotanya cantik kok. Saya suka sama old town nya Istanbul 💙

Comments

Popular posts from this blog

Book : Semakin Dalam Di Jejak Langkah

  Buku ketiga dari Buru Tetralogi ini lebih berat dari Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa . Disini banyak disinggung tentang Multatuli yang mengungkap "kotornya" birokrasi. Kotor disini tentu saja soal korupsi. Semakin dalam membaca ternyata semakin paham kalo kemungkinan besar korupsi ini "warisan budaya" kolonial. Buku ini pun mengatakan bahwa kolonial berhutang banyak gulden kepada Hindia Belanda atas semua hitungan 'meleset'nya penerimaan pajak dan penyalurannya. Siapa yang nggak mau untung banyak? Ya kolonial menang banyak. Bahkan kalau mau benar-benar dihitung, bisa jadi mereka kalah. Tapi nggak mungkin kan diusut karena kolonial tau kalau mereka bakal ketauan salah dan memungkiri itu. Jadi yaaa, lenyap begitu saja. Disini Minke kawin setelah ditinggal Annelies yang Indo dia kawin dengan yang orang tionghoa. Lagi-lagi pula dia ditinggalkan karena istrinya sakit (kemudian kawin lagi dengan Prinses yang ntah darimana tapi yang jelas dia berpendid

Traveling During Pandemic

CGK to DPS I am one of the people who travel (relatively a lot) during a pandemic. Unfortunately, me being in a long-distance marriage, need mental and physical support once in a while.  In the beginning, we met after 8 months of the pandemic and then 3 or 4 months, then every 2 months. I went wild the first 8 months of the pandemic. Everything felt harder. I know many people feel the same, I am not the only one. We're just coping with the best we can do.  The island I call home 💙 It was so stressful the first time traveling during the pandemic. Like I said here , it's not really worth the effort if you're traveling "for fun". PCR price was crazy, every time we have to calculate the time, make it double as well as the price. Because we buy the time with money. I usually book a ticket at least 2-4 weeks before my travel, then went to the airport 2 hours before my flying time, everything felt so efficient but not during the pandemic. I booked my ticket a week befor

[Piknik] Prambanan lagi

Salah satu pesona Jawa Tengah adalah Candi Prambanan. Saya sudah 3 kali berkunjung ke situs warisan dunia ini. Candi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan jogja ini selalu menimbulkan kesan mistis bagi saya. Terletak tak jauh dari jalan raya, sehingga mengunjunginya pun sangat mudah. Berbeda dengan Candi Borobudur yang letaknya sangat jauh dari jalan raya besar.  Ok, menurut saya ada 3 cara menuju candi ini. Menggunakan bus transjogja, taksi, dan kendaraan pribadi. Bagi yang menggunakan transjogja, saya pernah menggunakannya berangkat dari daerah kampus UNY, daerah Depok Sleman. 1 kali transit, 2 kali berganti bus. Dengan harga transjogja yang kala itu, 2014, seharga 3500 rupiah. Tapi sampai saat ini masih sama harganya, menurut info dari teman. Lokasi shelter bis berada agak jauh dari pintu masuk lokasi candi, mungkin kira-kira 500meter sampai 1kilometer. Kalau jalan, menghabiskan waktu sekitar 15-20menit. Bisa juga naik becak untuk opsi yang lain. Lagi-lagi, jangan lupa men