Skip to main content

Nyepi ke-4 di Bali

Taken at 3am-ish Tahun ini adalah tahun ke-4 gw nyepi di Bali. Ketagihan banyak Nyepi di Bali. Tahun ini juga semua serangkaian Nyepi terasa kembali normal. Normal dalam artian, kegiatan yang berhubungan dengan Nyepi sudah mulai dilaksanakan secara utuh. Karena 2-3 tahun sebelumnya masih nggak 100%, kali ini jauh lebih meriah.  Upacara dimana-mana. Jalanan ditutup, diputar, dimana-mana. Melasti yang bisa aja kalau kalian nggak tau ya "kejebak" macet. Gw nggak suka keramaian, tapi prosesi-prosesi kejutan yang gw nggak sengaja liat di jalanan tuh menyenangkan sekali. Riuhnya kerasa buat gw.  Big offerings 2-3 tahun lalu, seingat gw ATM tuh tutupnya H-1 Nyepi tapi jam-jam sore. Tahun ini jam 10 pagi ATM udah mati semua. Tahun ini juga gw tiba-tiba perlu urus visa yang mepet Nyepi, dengan janji temu hari kamis. Hari kamis ini masih ngembak geni, kegiatan belum ada yang 100%. Kalaupun ada pasti bukanya di atas jam 10 atau jam 1 siang.  Gw perlu print beberapa dokumen terakhir yang

Jugun Ianfu Bukan Pelacur!



 
Mardiyem, mantan jugun ianfu (pic : santijehannanda.com)

Menyambung postingan sebelumnya tentang Nyai, yang beken di era penjajahan Belanda hingga Jepang menginvasi Indonesia (sekitar taun 1942), Jepang memiliki cara tersendiri untuk memenuhi hasrat para prajuritnya. 

Jugun Ianfu sebutannya.

Berbeda dengan memelihara gundik di masa penjajahan Belanda, Jepang cenderung menyediakan wanita-wanita Negara jajahan untuk memenuhi hasrat seksualnya. Jika prajurit Belanda direkomendasikan untuk memelihara satu gundik (yang mana gundik tersebut memang mau untuk dijadikan gundik karena pilihannya sendiri), maka pemerintahan Jepang dengan 'senang hati' memaksa wanita Indonesia untuk dijadikan 'ransum' prajurit. Saya sedih sih menyebutnya ransum, seolah mereka makanan yang disajikan untuk dilahap. 

Bagaimana dengan teknisnya? Jepang 'merekrut' wanita-wanita bahkan anak-anak pun tak lepas darinya. Ada yang kurang beruntung berusia 12 tahun, bahkan yang belum mengalami menstruasi sekalipun tak luput dari kejamnya Jepang kala itu. Kemudian wanita-wanita tersebut dikumpulkan di suatu barak. Diperiksa kesehatannya untuk kemudian diberikan satu kamar khusus untuk melayani tamunya. Tamu kemudian datang masuk menggunakan karcis yang dibeli dari tiketing yang ada di depan barak. Bagi tamu yang mampu membayar lebih, biasanya mereka membeli tiket untuk beberapa jam dan tipe tamu yang seperti ini yang disukai para Jugun Ianfu karena dengan melayani satu tamu selama berjam-jam bisa sedikit memberikan mereka waktu untuk rehat dari memberikan 'pelayanan seks'. 

Ada satu kesamaan antara jugun ianfu dan juga gundik Belanda, yaitu sarana untuk memelihara kesehatan para prajurit dari penyakit perempoan (penyakit menular seksual). Kesehatan para jugun ianfu dikontrol rutin setiap bulan, jika ada yang menderita penyakit menular maka dia akan diisolasi hingga sembuh.

Seorang mantan jugun ianfu berani menuturkan kejadian yang dialaminya kala itu. Setelah menutup kenangan menyedihkan selama puluhan tahun, akhirnya dia berani membukanya. Momoye sebutannya. Semua wanita yang diculik, diberikan nama Jepang sebagai nama kerjanya. Momoye bahkan belum mengalami menstruasi saat dijadikan jugun ianfu. Dia bahkan tak tau apa itu berhubungan badan. Hari pertamanya 'bekerja', dia pun langsung digarap hingga belasan orang hingga mengalami pendarahan parah.

Jika beruntung, akan ada orang yang membeli tiket berjam-jam untuk sekedar ngobrol tanpa melakukan hubungan seksual. Hal ini sedikit melegakan bagi mereka untuk sekedar beristirahat sejenak (selain ketika menstruasi). Para prajurit diwajibkan menggunakan kapotjes (kondom) untuk berhubungan seksual agar tidak menghamili jugun ianfu. Ada salah seorang prajurit yang menyukai momoye dan menolak untuk menggunakan kondom. Hingga beberapa saat kemudian momoye ditemukan hamil, yang diketahui oleh pemimpin barak, yang menyebabkan dia harus menggugurkan kandungannya. Membunuh bayinya, serta merusak rahimnya. 

Pandangan saya pribadi, pemerintahan Jepang ini jauh lebih kejam daripada Belanda. Jepang, jika melihat orang tionghoa, akan dengan senang hati memperkosa kemudian membunuhnya. Ibarat kata darah mereka halal untuk dinikmati. Hal ini tentunya mengingatkan saya akan film Korea yang berjudul My Way. Dimana orang tionghoa dan Korea berada dalam kekuasaan Jepang yang super kejam.

Lagi-lagi, pandangan orang Indonesia terhadap mereka sangatlah membebani mereka. Layaknya seorang Nyai, mereka pun tidak dihargai karena dianggap pelacur. Hanya saja nasib para nyai masih lebih beruntung daripada jugun ianfu karena mereka hanya mengabdi kepada satu tuan dan hidup serumah dengan nyaman bersama tuannya. Terkuak bahwa pemerintahan Jepang kala itu memang menyediakan rumah bordil, yang mana tentu saja dianggap ajang pelacuran. Namun bukan orang yang rela melacurkan diri, tapi memang orang-orang yang diculik dan dirampas kehidupannya untuk menjadi budak seks. 

Perbudakan ini berakhir setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia 2. Barak menjadi tak terurus, tak ada pula kontrol kesehatan, tamu sudah jarang berkunjung, semua sepi hingga mereka memutuskan untuk melarikan diri dan menyelamatkan diri mereka dari perbudakan. 

 
Sampul buku (pic : erlangga.co.id)

Cerita ini digambarkan di buku yang berjudul Momoye : Mereka Memanggilku. Lagi-lagi, it's worth to read. Untuk mengenal sejarah melalui cerita. Untuk lebih mengenal dan memahami bahwa mereka bukanlah pelacur. Tapi mereka adalah korban perang. Korban perang yang dilupakan. 

Semoga Tuhan memberikan tempat yang indah disisinya, untuk mereka yang pernah dirampas kehidupan dan harga dirinya. 

Comments

Popular posts from this blog

Nyepi ke-4 di Bali

Taken at 3am-ish Tahun ini adalah tahun ke-4 gw nyepi di Bali. Ketagihan banyak Nyepi di Bali. Tahun ini juga semua serangkaian Nyepi terasa kembali normal. Normal dalam artian, kegiatan yang berhubungan dengan Nyepi sudah mulai dilaksanakan secara utuh. Karena 2-3 tahun sebelumnya masih nggak 100%, kali ini jauh lebih meriah.  Upacara dimana-mana. Jalanan ditutup, diputar, dimana-mana. Melasti yang bisa aja kalau kalian nggak tau ya "kejebak" macet. Gw nggak suka keramaian, tapi prosesi-prosesi kejutan yang gw nggak sengaja liat di jalanan tuh menyenangkan sekali. Riuhnya kerasa buat gw.  Big offerings 2-3 tahun lalu, seingat gw ATM tuh tutupnya H-1 Nyepi tapi jam-jam sore. Tahun ini jam 10 pagi ATM udah mati semua. Tahun ini juga gw tiba-tiba perlu urus visa yang mepet Nyepi, dengan janji temu hari kamis. Hari kamis ini masih ngembak geni, kegiatan belum ada yang 100%. Kalaupun ada pasti bukanya di atas jam 10 atau jam 1 siang.  Gw perlu print beberapa dokumen terakhir yang

Life recently #2

Ternyata seminggu nggak nulis ya.. udah ngelewatin jumat ceria juga 😁 Gara-garanya apa hayo???? Year-end schedule di kantor. Ini jadwal serem banget deh tiap tahunnya. 3 affiliates ini pada borongan ngasih kerjaan seabrek kepadaku yang lemah tak berdaya. Pulang juga sering jam 7 malem, mentok jam 8 tapi sih haha. Ogah bener 12 jam lebih kerja. Gara-gara kerjaan yang tak kunjung usai dan bakalan berlanjut hingga pertengahan desember, fokusku jadi kurang dong. Mana sibuk ngurus prenup juga.  When you feel depressed and stressed, you need something cold called ice cream. This one is Zangrandi ice cream Kemarin, waktu arrange janji sama notaris, karena males kelamaan via email akhirnya coba telpon lah ya, begini jadinya : Aku : halo… Dia : iya halooo… *dengan suara bantal* Lah kok suaranya begini sih Aku : dengan bapak x? dia : Bukan mbak *masih dengan suara bantal* Aku : hah? Bukan? Ini bukan notaries? dia : ini toko bangunan mbak Zingggggg…. Buru

Drama Jogjakarta #1

Ceritanya, apes sih, kan aku udah ngeyel banget buat tes bahasa Korea di Jogja. Udah set up the date deh, eh lakok jadwalnya sama pas dia dateng. Yaudah terpaksa kan akhirnya harus ikut dia ke Jogja. Ada dramanya? Ada dong jelas.    Jadi seperti rencana, yang mau tes itu saya sama sahabat saya. Kita sepakat berangkat dari Surabaya naek kereta. Oke fix kita berangkat dari Gubeng naek kereta Sancaka Pagi yang notabene bisnis (apa eksekutif ya?? Lupa ding). Karena hanya 5 jam perjalanan, ok saya bisa terima. Dan ini kereta bisnis, agak mendingan la ya daripada yang ekonomi. At least si mas bilang ‘I like it’. Lega deh.   Sancaka pagi Nah saya itu nggak pernah tau kalo Gubeng itu ada dua. Yang lama sama baru. Nah kita naek taksi kan bilang aja gubeng naek sancaka pagi, bapaknya udah tau sendiri dong. Belom check ini, jadi harus satu jam sebelum berangkat kalo nggak gitu nggak bisa keluar tiketnya. Kereta berangkat jam 7.30 pagi dan saya jam 6 sudah disana. Check in dan be