Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit. Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya. Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego. Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...
Mardiyem, mantan jugun ianfu (pic : santijehannanda.com)
Menyambung postingan sebelumnya tentang Nyai, yang beken di
era penjajahan Belanda hingga Jepang menginvasi Indonesia (sekitar taun 1942),
Jepang memiliki cara tersendiri untuk memenuhi hasrat para prajuritnya.
Jugun Ianfu sebutannya.
Berbeda dengan memelihara gundik di masa penjajahan Belanda,
Jepang cenderung menyediakan wanita-wanita Negara jajahan untuk memenuhi hasrat
seksualnya. Jika prajurit Belanda direkomendasikan untuk memelihara satu gundik (yang mana gundik tersebut memang mau untuk dijadikan gundik karena pilihannya sendiri), maka pemerintahan Jepang dengan 'senang hati' memaksa wanita Indonesia untuk dijadikan 'ransum' prajurit. Saya sedih sih menyebutnya ransum, seolah mereka makanan yang disajikan untuk dilahap.
Bagaimana dengan teknisnya? Jepang 'merekrut' wanita-wanita bahkan anak-anak pun tak lepas darinya. Ada yang kurang beruntung berusia 12 tahun, bahkan yang belum mengalami menstruasi sekalipun tak luput dari kejamnya Jepang kala itu. Kemudian wanita-wanita tersebut dikumpulkan di suatu barak. Diperiksa kesehatannya untuk kemudian diberikan satu kamar khusus untuk melayani tamunya. Tamu kemudian datang masuk menggunakan karcis yang dibeli dari tiketing yang ada di depan barak. Bagi tamu yang mampu membayar lebih, biasanya mereka membeli tiket untuk beberapa jam dan tipe tamu yang seperti ini yang disukai para Jugun Ianfu karena dengan melayani satu tamu selama berjam-jam bisa sedikit memberikan mereka waktu untuk rehat dari memberikan 'pelayanan seks'.
Ada satu kesamaan antara jugun ianfu dan juga gundik Belanda, yaitu sarana untuk memelihara kesehatan para prajurit dari penyakit perempoan (penyakit menular seksual). Kesehatan para jugun ianfu dikontrol rutin setiap bulan, jika ada yang menderita penyakit menular maka dia akan diisolasi hingga sembuh.
Seorang mantan jugun ianfu berani menuturkan kejadian yang dialaminya kala itu. Setelah menutup kenangan menyedihkan selama puluhan tahun, akhirnya dia berani membukanya. Momoye sebutannya. Semua wanita yang diculik, diberikan nama Jepang sebagai nama kerjanya. Momoye bahkan belum mengalami menstruasi saat dijadikan jugun ianfu. Dia bahkan tak tau apa itu berhubungan badan. Hari pertamanya 'bekerja', dia pun langsung digarap hingga belasan orang hingga mengalami pendarahan parah.
Jika beruntung, akan ada orang yang membeli tiket berjam-jam untuk sekedar ngobrol tanpa melakukan hubungan seksual. Hal ini sedikit melegakan bagi mereka untuk sekedar beristirahat sejenak (selain ketika menstruasi). Para prajurit diwajibkan menggunakan kapotjes (kondom) untuk berhubungan seksual agar tidak menghamili jugun ianfu. Ada salah seorang prajurit yang menyukai momoye dan menolak untuk menggunakan kondom. Hingga beberapa saat kemudian momoye ditemukan hamil, yang diketahui oleh pemimpin barak, yang menyebabkan dia harus menggugurkan kandungannya. Membunuh bayinya, serta merusak rahimnya.
Pandangan saya pribadi, pemerintahan Jepang ini jauh lebih kejam daripada Belanda. Jepang, jika melihat orang tionghoa, akan dengan senang hati memperkosa kemudian membunuhnya. Ibarat kata darah mereka halal untuk dinikmati. Hal ini tentunya mengingatkan saya akan film Korea yang berjudul My Way. Dimana orang tionghoa dan Korea berada dalam kekuasaan Jepang yang super kejam.
Lagi-lagi, pandangan orang Indonesia terhadap mereka sangatlah membebani mereka. Layaknya seorang Nyai, mereka pun tidak dihargai karena dianggap pelacur. Hanya saja nasib para nyai masih lebih beruntung daripada jugun ianfu karena mereka hanya mengabdi kepada satu tuan dan hidup serumah dengan nyaman bersama tuannya. Terkuak bahwa pemerintahan Jepang kala itu memang menyediakan rumah bordil, yang mana tentu saja dianggap ajang pelacuran. Namun bukan orang yang rela melacurkan diri, tapi memang orang-orang yang diculik dan dirampas kehidupannya untuk menjadi budak seks.
Perbudakan ini berakhir setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia 2. Barak menjadi tak terurus, tak ada pula kontrol kesehatan, tamu sudah jarang berkunjung, semua sepi hingga mereka memutuskan untuk melarikan diri dan menyelamatkan diri mereka dari perbudakan.
Sampul buku (pic : erlangga.co.id)
Cerita ini digambarkan di buku yang berjudul Momoye : Mereka Memanggilku. Lagi-lagi, it's worth to read. Untuk mengenal sejarah melalui cerita. Untuk lebih mengenal dan memahami bahwa mereka bukanlah pelacur. Tapi mereka adalah korban perang. Korban perang yang dilupakan.
Semoga Tuhan memberikan tempat yang indah disisinya, untuk mereka yang pernah dirampas kehidupan dan harga dirinya.


Saya suka tulisannya, sangat informatif.
ReplyDeleteArtikel tentang gundik masa Hindia Belanda, ada?