Gw kira rasanya akan sama aja. Ada rasa kangen ya wajar karena jauh dari tempat yang selama ini kita sebut familiar. Tapi ternyata ada rasa rindu yang pukulannya berbeda. Di kasus gw, gw cuma kenal satu orang Indonesia. Beliau bilang kalau mau temen jalan-jalan bisa lah berkabar biar jalan bareng. Tapi karena gw ada kerja dari senin-jumat, sedangkan beliau nggak, jadinya waktu kami seringkali nggak pas. Sedangkan di akhir pekan, gw habiskan bersama suami. Bulan pertama masih terasa integrasi. Berusaha mengenal supermarket mana yang jual apa. Cari ini itu di mana. Menghafal jalur transportasi umum. Mengenal, membaca dan memahami nama daerah atau tempat dari huruf cyrilic-nya untuk sekedar "kalau nyasar, bisa kasih tau suami lagi ada di mana" karena seringkali online maps dihambat pemerintah. Bulan kedua sudah mulai mengenal banyak hal. Sudah punya kartu atm untuk pembayaran. Visa panjang juga sudah di tangan. Mulai berhati-hati dengan banyak hal, mana yang boleh mana ya...
Dubai creek
Beberapa waktu yang lalu, kita pusing berat karena suami gw dapet libur kali ini cuman 10 hari. 10 hari dari yang biasanya 14 hari. Akhrinya diputuskan untuk tetap mengambil libur tapi nggak ke Indonesia.
Ternyata, beberapa hari kemudian, dia bilang, kalau liburnya malah jadi 7-8 hari aja. Mau ga mau saya yang harus terbang mendekatinya. Udah milih-milih negara mana yang harganya rasional, yang ga banyak makan waktu buat terbangnya dia dan tentunya ga ribet urus visa buat pemegang paspor hijau yang ga sesakti paspornya dia.
Pilihan jatuh ke Dubai. Pemegang paspor hijau harus bikin visa, ya pusing lagi deh cara bikin visa Dubai nih gimana. Apa iya sesusah bikin visa schengen, visa US, visa lainnya. Dari persyaratan sih standar ya, termasuk record bank account selama 3 bulan. Gw belum pernah bikin visa Dubai sebelumnya ya, apalagi H yang paspornya super sakti kemana-mana (hampir) ga perlu visa, dia ga pernah ada pengalaman bikin visa kecuali Visa Sosial Budaya kemaren. Setelah pencarian panjang sana sini akhirnya nemu bikin visa Dubai cepet, gampang, praktis, nggak lama pula.
Parkiran Emirates di DXB
Apakah itu??
Visa Dubai via Emirates airlines. Jadi kita yang terbang PP pakai emirates, pasti bisa apply visa dengan lebih mudah. Maksudnya begini, setelah kita beli tiket emirates PP, kita masuk website emirates dan apply visa disana. Jadi nggak perlu mengajukan visa via VFS yang ada di Jakarta.
Prosesnya gampang. Yang diperluin cuman foto paspor dengan background putih, scan paspor depan belakang, sama scan booking hotel kalau bisa (meski nggak diminta dulu). Bayarnya pake kartu kredit. Udah itu aja, nggak perlu copy bank selama tiga bulan. Bisa juga kalau misal punya visa UK, Schengen, US, dll yang disebutkan di sana, halamannya bisa dilampirkan di dokumen tambahan.
Caranya gimana? Cukup masukin kode booking di websitenya Emirates, trus manage booking, kemudian apply visa. Bagian ini yang kadang nyempil. Berkali-kali apply pun tetep sering lupa. Posisinya ada di bagian bawah sendiri sebelah kanan.
Tapi jangan lupa ukuran scan dan fotonya disesuaikan dengan request. Scan nggak boleh lebih dari 200kb, untuk fotonya nggak boleh lebih dari 40kb. Kalau nggak bisa resize, tenang saja, sekarang mereka menyediakan tools untuk itu.
Setelah beli tiket emirates PP, suami gw mulai ngurusin visa Dubai via emirates. Nah tetep ya dagdigdug dong ya, nungguin tiap jam cek email. Sampe kata si suami, ‘udah tenang aja, pasti disetujui kok’. Akhirnya setelah 16 jam menanti, visa dapet juga..
Kenapa lebih cepet disetujui? Jujur gw nggak bisa bandingkan karena gw cuma pernah pengajuan via Emirates. Tapi ya tetep aja ya, mereka tetep cek track record kita. Ada banyak kasus yang punya nama mirip dengan buronan atau kriminal jadi agak ditandai, kabarnya.
Suami gw pilih proses jalur ekspress, makanya jadinya bisa kurang dari sehari (per 2025, ekspress visa selesai dalam waktu 1-2 hari), maksimal 5 hari. Meskipun ada pilihan visa 96 jam, 30 hari, 90 hari, paspor Indonesia entah kenapa selalu otomatis 30 hari single entry. Harga visa ini bisa dibilang mahal untuk ukuran single entry. Yang 96 jam saja sekitar 800ribu rupiah. Yang 30 hari sekitar 1,2 juta. Tapi kalau apply visanya 96 jam sebelum terbang, pasti otomatis dimasukin ke servis ekspress sih.
Update: tulisan ini diperbarui secara berkala jika diperlukan
Pertama, Sejak akhir tahun 2017 FlyDubai juga bergabung dengan Emirates melayani sponsor visa. Jadi ada opsi selain flydubai yang bisa dipilih jika Emirates terlalu mahal.
Kedua, jangan pilih fasilitas evisa express jika kalian apply hari kamis karena jumat sabtu adalah hari libur. Bisa percuma evisa jadi hari senin dengan bayar seharga express (yang seharusnya bisa harga biasa).
Ketiga, berkali-kali apply visa Dubai sebagai WNI, pilihan durasi visanya selalu otomatis Single Entry 30 days. Meskipun di halaman sebelum pembayaran bisa juga memilih single atau multiple entry.
Keempat, ada tambahan berupa input nomer Makani dan landscape di tempat menginap. Nomor Makani bisa dilihat di sini. Untuk landscape pilih aja bangunan sekitar yang jadi penanda, misal nginepnya di Burj Khalifa, landscapenya bisa Dubai Mall.
Kelima (Nov 2025), aplikasinya jadi lebih detail sekarang dan dokumen yang diperlukan tambah hotel reservasi, bukti visa tinggal (kalau tinggal di negara yang beda dari asal), halaman depan paspor (yang ada bagian garuda itu, bukan bio), halaman belakang (lembar pengesahan dan ttd itu), bukti tiket onward (menurut gw aneh karena ya bisanya pengajuan via emirates kan kalau tiketnya sudah PP). Kalau ada yang kurang, bakal dapet email dari DVPC untuk melengkapi dokumen dan dibantu untuk mengunggah kalau nggak bisa dilakukan sendiri.


paspor Indonesia jadi biru ya sekarang??
ReplyDelete----
iya pasporku juga, tapi udah keburu PD bebas visanya gak berubah, tetep -_-
eh maaf lahir batin ya mbak, salam buat HJ
Mas pas bkin paspor kmrn suruh kasih syarat 25juta gak di tabunagn?
Deletewah bermanfaat sekali
ReplyDeletesyukurlah :)
DeleteBerarti kalau untuk Visa dari Emirates itu otomatis akan di Approved semua ya min? Kemungkinan ga di Approve nya kecil? Mohon informasi nya ya min Thanks
ReplyDeleteuntuk sekarang selain emirates, Flydubai juga support evisa. Jadi kecil kemungkinan utk ditolak kecuali kalau kita pnya catatan buruk ketika di dubai atau meninggalkan kesan krg menyenangkan di dubai :)
DeleteHallo mbak.. Mau tanya pas dr CGK - SIN nya naik apa? Dan apakah harus keluar imigrasi dan ambil luggage kemudian baru bsa masuk lagi untuk sambung Emirates? Terminalnya sama kah?
ReplyDeleteTrims
Halo mbak maaf baru balas, kolom komentarku rusak huhu.
DeleteDulu karena flight ku terpisah jd aku beli dari SUB-SIN kalo ga GA, SQ, tergantung maskapai mana yg kasih diskon lbh banyak :D soalnya pasti bawa koper jd beli yg sekalian free bagasi.
Kalo perihal harus keluar imigrasi, penerbangan terpisah biasanya gitu kalo beda airlines. Kalo sama sih bisa minta ke counter check in nanti bilang aja biar kopernya langsung di turunin DXB
Hi mau tanya dong. Passport observation page itu yang mana ya? Apa gak perlu upload ini?
ReplyDeleteHalo! Keperluan paspor biasanya halaman depan berisi identitas dan halaman akhir yg ada tanda tangannya. Biasanya aku juga lampirkan copy visa Schengen juga (dan negara lain yg disebutkan di situ) di bagian untuk unggah data pendukungnya.
DeleteHi mau tanya dong. Passport observation page itu yang mana ya? Apa gak perlu upload ini?
ReplyDeleteHi mau tanya dong. Passport observation page itu yang mana ya? Apa gak perlu upload ini?
ReplyDelete