Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Pengalaman Bikin (Free) Schengen Visa di VFS Swiss



I know this is so normal but anyway I like to compare the experiences because people might have different cases and because I have nothing to lose so... here's my experience for applying Schengen Visa via Swiss (VFS).

Kenapa nggak via Belanda? Karena rencana kita berkunjung lamanya ke Geneve - Swiss (ada urusan kerjaan suami gw) dan kami belum tau akan ke Belanda apa nggak saat itu (nggak jadi sih soalnya mepet banget). 

Seperti yang sudah sering dibahas orang lain perihal syarat dan ketentuan apply Schengen visa, gw nggak akan nulis itu ya. Udah ada di website VFS, lengkap. Gw cuma tambahin dikit-dikit aja infonya yang mungkin sama seperti kasus yang baca kalo emang kebetulan sama sih 😂

"Ok jadi total pembayarannya 280 ribu rupiah ya"
"HAH?? Cuma 200an mbak??? Visanya gratis???"
"Suaminya masih WN Belanda kan mbak?"
"Iya"
"Oiya itu gratis, bisa pake visa tipe C. Jadi cuma bayar biaya admin aja"
"Mulai kapan mbak?"
"Udah lama mbak, emang gitu ada kelonggaran untuk yang memiliki pasangan orang Eropa"

Mbaknya nggak ngomong jenis visanya sih, gw sendiri yang cari akhirnya.

Jadi, suami gw yang WN Belanda menjadi salah satu perks gw bisa dapet gratis Schengen visa dan hanya membayar biaya administrasinya aja sebesar 200-300k rupiah aja. Ternyata hal ini sudah tertera di website VFS dengan Schengen visa type C yang menyebutkan: 

You are eligible if you can prove objectively that all of the following requirements are met:
  1. You are a family member of an EU/EEA/Swiss national. (this includes a spouse, registered partner, child who is under 21 or a depending family member); and
  2. you are accompanying the EU/EEA/Swiss national or planning to join him/her; and
  3. this EU/EEA/Swiss national is traveling to or is residing in another member state than that of which he/she is a national.
Tapi.. TAPI TAPI... hal ini tidak berlaku jika: This procedure does not apply to family members of Dutch nationals travelling to or living in the Netherlands, unless they have recently worked/lived in another EU/EER country or Switzerland.


Geneve, Nov 2019

Jadi kalo gw pulang kampung, gw tetep harus bayar visanya. Pulang ke Belanda. Gw cerita suami gw, dia bilang "No wonder!" LOL gw nggak paham juga. Tapi ya gw seneng aja dong dapet gratis juga. 

Prosesnya singkat, hari ini submit data, besok udah rilis visanya, lusanya paspor dikirim, besoknya paspor udah ditangan. Gw pake kurir bayar 150 ribu karena Bali masuk area 2. Gw dapet visanya sesuai tanggal masuk dan keluar Eropanya. Tapi, VFS Swiss cuma ada di Jakarta, di Bali nggak ada jadi mau nggak mau gw harus ke Jakarta. Tiket ke Jakarta lebih mahal daripada harga visa gw dududuu.

Yang apply via Swiss bisa dibilang nggak sebanyak Belanda. Kemarin gw sendirian aja sampai 10 menit kemudian baru ada orang kedua. Proses ambil biometriknya juga singkat sih. Masuk jam 9 kurang 10 menitan, jam 9 lebih 5 udah selesai. Appointment gw jam 9 pagi tapi karena nggak ada yang antri ya dibolehin masuk juga. 

Sesingkat dan semudah itu sih.

Comments

  1. Replies
    1. lho ya gapapa, emang aku sengaja bikin iri wekkkk :P

      telat wisan sampean mas, wes kawin wissssssss gaiso golek bule maneh hahahahahahha

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Seolah Kalian Tau Segalanya

'Ihiw, ada bahan obrolan baru buat dianalisa dan dinyinyirin nih. Si dia mau kawin sama bule. Duitnya banyak kali. Ato kalo gak gitu yaaa dia cuma buat mainan aja' Kita nggak akan pernah memuaskan hasrat banyak orang demi membuat mereka semua senang. Jika kita ingin membuat pasangan hidup kita bahagia, ya wajar, ya normal. Tapi tidak untuk membuat para suporter ataupun hanya penonton dalam hidup kita bahagia juga kah? Toh dari setiap langkah yang kita ambil, benar maupun salah juga masih saja bisa diambil celah salahnya untuk diwejangi ala mereka. Atau lebih bekennya, dinyinyirin. Mungkin beberapa tulisan saya tentang menikahi WNA banyak yang terdengar 'keras', maafkan saya yang sedang jengkel-jengkelnya. Menikah dengan orang yang berbeda yang datangnya ribuan miles jauhnya dari Indonesia juga bukan hal yang mudah, you know! Tapi orang dengan mudahnya saja melihat kita yang sedang jalan berdua dan bertanya, atau nyeletuk istilahnya, 'Guidenya ya mbak?'...

Jangan minta oleh-oleh!

    Taken from internet Pernah nggak kalau kita mau bepergian, trus orang-orang pada bilang 'Jangan lupa oleh-olehnya ya' ? Pasti pernah dong ya... Yang jelas saya nggak pernah ngerti kenapa orang sering meminta sesuatu ketika kita pergi somewhere. Dulu waktu kecil juga saya suka bilang begitu. Siapa yang pergi kemana pasti deh 'jangan lupa oleh-olehnya ya om, tante pakdhe, budhe, mas, mbak'. Tapi lama kelamaan saya mikir 'saya cuman ngomong aja tanpa niat minta oleh-oleh', kecuali kalo memang kita menitipkan hal itu karena memang hanya ada ditempat yang akan dikunjungi orang tersebut, misal buku. Pernah nitip beliin buku di Korea karena emang adanya disana. Jadi esensinya oleh-oleh itu apa? Saya juga kurang tau soalnya udah nggak pernah lagi minta dibawain oleh-oleh. HJ pulang ke Belanda sana saya cuma minta beliin buku. Itupun nggak dibeliin gara-gara bukunya nggak bagus kata dia. Oleh-oleh pun ada yang sekedar apa adanya karena emang adanya begitu...