Skip to main content

Taking a Train from Moscow City to Yaroslavky

walking to the wagon We chose deliberately in the winter to travel from Moscow to Yaroslavsky. In my defense, we kinda had to use the holiday a little bit. If we're waiting for the good weather, it probably not gonna happen for 3 months and then nothing again. So this trip was taken on February 2026. So we've decided to take a few days off going from Moscow to half of the golden ring. The name ring, means literally ring. Refers to a few cities that used to be very important in the past. Starting from Moscow city (where which we're coming from, technically). I have to mention the cities here anyway; Sergiyev Posad, Pereslavl Zalessky, Rostov Veliky, Yaroslavl, Kostroma, Ivanovo, Vladimir, and Suzdal. there will be info about the train  We took the train trip from Moscow. I would say it's the "normal type" of train. So we sat next to each other. Two seaters next to each other. I think my husband took the non-economy one. He booked the train from the app, tutu. T...

Biasa bagi orang, luar biasa bagi kita

Halo.. sudah lama bikin draft tapi masih ndak sempet posting. Masih perlu diperbaiki dulu. Tapi postingan ini saya tulis karena obrolan dengan grup FrontSummer.

Jadi ceritanya ada salah satu teman sedang galau. Galaunya karena dia merasa masih belum bisa membahagiakan ibunya. Well.. untuk hal yang itu saya juga merasakan dan hampir semua orang merasakannya. Ingin memberikan yang terbaik dan membahagiakan ibunya.

Kegalauan dimulai karena dia yang 'dirasakan'ibunya masih belum mapan, mungkin secara finansial atau kejelasan status. Setiap orangtua mengingkan anaknya mapan dan bekerja 'aman' sehingga membuat orangtua terkesan 'menuntut' anaknya untuk memiliki pekerjaan 'aman'. Sebenarnya posisi teman saya bukan tidak dalam keadaan menganggur. Dia ikut menjadi anak buah dari sebuah usaha swasta kecil yang membuat dia sering keluar kota untuk mengerjakan proyek kantor. Proyek itu menuntut dia untuk menguasai teknik analisa statistik.

Menurut saya, menurut saya lho, kerjaan dia itu keren banget. Iya keren, lah gimana ndak keren, ilmu dia kuliah kepakai, dia suka kerja disitu karena merasa passionnya, dan dia cukup puas dengan itu. Ya memang bukan perusahaan berskala besar, tapi klien dia juga bukan klien main-main. Jadi menurut saya itu keren.

Lain pandangan saya, lain menurut ibundanya. Menurut ibunya pekerjaan dia masih belum bisa dijadikan pegangan untuk masa depan. Sehingga ibunya menyuruh dia untuk melamar kerja sana sini, bahkan mendaftar untuk melanjutkan S2. Dia berusaha memahami apa mau ibundanya tapi masih tidak bisa memahaminya. Seolah hal ini membuatnya bimbang. Disatu sisi dia menyukai pekerjaannya sekarang. Di sisi lain ibunya menginginkan yan lain tapi tidak memberikan clue yang jelas kepadanya.

Berkeluh kesahlah dia kepada kami, kemudian saya menjawab 'tanyakan sama ibu maunya gimana dan apa? Kalau cocok sama ingin kamu, kejar. Tapi kalau ndak cocok, kamu rundingan dulu ngobrol dari hati ke hati maunya gimana. Ndak ada orangtua yang ndak ingin anaknya bahagia dan mapan kok'. Diapun menjawab dia tidak memiliki hal yang dia inginkan, dia tidak mengerti apa yang harus dilakukan, karena dimata ibunya apa yang dilakukannya masih salah dan kurang. Saya pun merespon 'dulu saya ndak boleh lho belajar bahasa korea, dg alasan belajar bahasa korea dan kegilaan saya terhadap korea bisa membuat nilai kuliah saya turun bahkan hancur. Tapi karena saya menyukainya, saya akhirnya meyakinkan mereka kalau saya bisa'. Beberapa masa berjalan selama belajar bahasa korea, nilai kuliah memang sempat turun karena faktor lain hal, bukan karena belajar hal lain. Papa sempat bilang 'ahh ntar juga kalau udah lulus kuliah bakal nyusahin papa juga. Bakal bingung nyari kerjaan, ntar minta cariin papanya'. Jujur, itu adalah hal yang saya paling tidak suka. Karena pernyataan itu sangat merendahkan kemampuan anaknya. Tapi karena agak sakit hati waktu itu, seketika saya menjawab 'enak aja, liat aja ntar, bahkan sebelum luluspun aku bisa dapet kerja. Dilamar kerjaan, bukan melamar kerjaan'. Dengan harapan doa tersebut bakal di approve sama yang maha kuasa.

Waktu berlalu dan ternyata saya ndak bisa lulus 8 semester, harus 9semester. Tapi 9 semester itu saya ndak nganggur. Dapat pekerjaan pertama, dilamar. Tadinya freelanch tapi setelah lulus jadi pengajar tetap. Meskipun saya telat lulus, tapi saya ndak pengangguran dan masih berkarya. Sudah terbukti omongan saya di approve sama yang kuasa. Meskipun saat itu orangtua masih belum bisa menerima karena anggapan yang sama seperti orangtua teman saya. Dinilai belum mapan dan tidak bisa memberikan masa depan yg layak. Padahal selama saya kerja disitu, saya bisa mengembangkan diri saya dengan maksimal. Mendapat pengalaman yang juga diluar dugaan saya. Pengalaman yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Satu tahun kemudian, saya bekerja di perusahaan besar dan orangtua saya bangga karena saya diterima kerja. Terlebih karena saya tidak melamar pekerjaan melainkan dilamar pekerjaan. You see!!! Perkataan saya kala dulu terbukti lagi. Saya tidak menyombongkan diri, tapi dua kali bekerja tanpa melamar kerja itu sungguh diluar dugaan saya.

Poinnya apa? Disaat kita melakukan sesuatu yang kita inginkan tapi orangtua tidak menyukainya, cobalah berdiskusi dulu dengan mereka. bukan bermaksud menentang mereka, hanya menceritakan hal yang kita inginkan dan apa yg sedang kita jalani saat ini. Apakah kita bahagia saat melakukannya. Kadang memang banyak orang yang meremehkan hal yang kita lakukan, tapi peduli apa? Hanya saja ketika orangtua menginginkan yg terbaik bagi kita, yakinkanlah kepada mereka bahwa kita bahagia dengan pilihan kita dan butuh dukungan dari mereka.

Intinya begini, kita bisa saja mengikuti apa kemauan orangtua kita meskipun kta tidak menyukainya. Tapi disisi lain, cobalah untuk mengisi 'senjata' kita. Bukan melulu soal menyenangkan orangtua tapi kiþa terpaksa. Kalau bisa ya kita enjoy menjalankannya. Kalaupun cara orangtua ternyata tidak cocok untuk kita, kita bisa keluarkan senjata kita sekaligus membuktikan kepada orangtua kalau pilihan kita tidak salah dan bermanfaat.

Tidak ada yang salah mengikuti kemauan orangtua, asal kita juga bahagia menjalaninya. Tapi selalu ingatlah, restu orangtua juga penting untuk perjalanan hidup kita 😊

Yakinlah, percayalah, berusahalah, dan berdoalah. Tertaut empat hal yang akan menjadikan satu keinginan menjadi kenyataan.

Good luck, and believe you can make it!

Comments

  1. Hukum utama seorang anak adalah wajib membahagiakan orang tua. Dan begitu juga sebaliknya, tidak ada orang tua yang ingin anaknya tidak bahagia.

    Tapi ketika masih muda, kita sudah mulai punya pola pikir sendiri yang terkadang mulai tidak sejalur dengan pola pikir orang tua.

    Aku pernah melewati fase itu, caraku mensiasatinya waktu itu,
    Tetap berusaha mendapatkan nilai baik, karena hal itu adalah bukti paling terlihat kalau kita masih tetap serius kuliah. Pasti dimaafkan kok jika telat lulus. Asal nilai tidak meluncur jatuh aja. Minimal IPK akhir diatas 3.6 lah. Pasti mereka tetap bangga kok..

    Karena tanggungjawab utama adalah kuliah. Ya artinya kita yang harus pintar bagi-bagi waktu antara kuliah & aktif organisasi, magang dll. Harus Seimbang.

    Yaa kalau dapet hasil sekali-sekali berikan mereka hadiah atau apa gitu.. Pasti pelan2 orang tua bakal tau kok anaknya itu "lebih dari anak yang lain"..

    Dan akhirnya memang membuahkan hasil Mbak. Saya sama seperti Mbak. Saya tidak pernah berburu tempat kerja, tapi perusahaan lah meminang saya..

    Nice posting :)
    Btw salam kenal yaa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul banget mas. Nurut orangtua itu nggak ada slaahnya kok, malah enak bgt bisa dilancarin jalannya ya..

      Salam kenal juga, makasi uda mampir. Sering sering mampir yaaa hihihi

      Delete
    2. Pasti Mbak :)
      Sudah di save kok alamat blognya. Hihihi

      Delete
    3. Hihihi bagooosssss hohohoho

      Btw saya komen di blog masnya kok ndak bs nongol ya foto saya? 😳

      Delete
    4. Pakeknya google plus kalo komen, jangan pake alamat blog atau email. Pas mau komen pencet google plusnya dulu, baru komen. Ntar fotonya keluar. Soalnya punya mas roy pakenya wordpress, udah beda platform.

      Delete
    5. Nah iya baru ketauan tadi pas buka dari pc. Lah pas komen pake hape, dan agak beda. Gak kliatan deh -_-

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Surviving -20 Celcius in Moscow

frozen lake in Moscow I'd say surviving because I am a tropical girl coming from 30-35 degree Celcius. So yes, this is about surviving such differences in temperature. I spent my whole life in a tropical country then I have to be in a -20 celcius, not an easy situation.  Obviously, I came prepared. I have been in a 0 celcius and learned that double triple layering is the right answer. Moscow has heater that runs nonstop since the beginning of (probably, I dont remember) November until early May. So you technically can not turn it off or on. Many days it gets too hot inside. Going to the mall in Moscow got me super sleepy and tired because it feels most of the time like in Sauna. So, double triple layering in Moscow is the right thing to do.  November temperature usually started to feel chilly, still not lower than 0. December will get colder can be minus. But January and February are the coldest season. This year dropped to -20 (that I can remember). The average temperature wa...

Happiness is ...

Few days ago I met new friends. They are friends of my friend. I helped them for their competition. It's good to know them since the way they think about something is unique and quite close to mine. Until one of them ask me : 'What is happiness for you?' I told them that for me happiness is when I stop compare myself with others and not being compared with anybody else (well, you can compare me with others but don't tell me if you do haha!). I used to compare myself with people. For following their success path might be ok, but for having the same life as theirs who seen successful and happy, I don't think so. So I stop to compare myself with others and it make me feel enough. I feel more relax, since I don't have to pretend or to be somebody else. I feel more 'me' because I only think about me and free to do what I want to do (or to think what I want to think). But one of them said 'For me happiness is when you can breathe, eat, sleep, and p...

Tiga bulan pertama hidup di luar Indonesia

Gw kira rasanya akan sama aja. Ada rasa kangen ya wajar karena jauh dari tempat yang selama ini kita sebut familiar. Tapi ternyata ada rasa rindu yang pukulannya berbeda.  Di kasus gw, gw cuma kenal satu orang Indonesia. Beliau bilang kalau mau temen jalan-jalan bisa lah berkabar biar jalan bareng. Tapi karena gw ada kerja dari senin-jumat, sedangkan beliau nggak, jadinya waktu kami seringkali nggak pas. Sedangkan di akhir pekan, gw habiskan bersama suami.  Bulan pertama masih terasa integrasi. Berusaha mengenal supermarket mana yang jual apa. Cari ini itu di mana. Menghafal jalur transportasi umum. Mengenal, membaca dan memahami nama daerah atau tempat dari huruf cyrilic-nya untuk sekedar "kalau nyasar, bisa kasih tau suami lagi ada di mana" karena seringkali online maps dihambat pemerintah.  Bulan kedua sudah mulai mengenal banyak hal. Sudah punya kartu atm untuk pembayaran. Visa panjang juga sudah di tangan. Mulai berhati-hati dengan banyak hal, mana yang boleh mana ya...