Skip to main content

The Reward of Teaching

Buku belajar Bahasa Indonesia dalam berbagai bahasa. I've become a teacher since semester 9. That being said, my teaching journey started in 2013. Took hiatus for 2 something years then I came back to these exam sheets, students, books, and social interactions. Didn't even want to become one but I fell in love right after I jumped in.  I guess I need to ask to apologize to my dad. I was mad at him a long time ago because he asked me to be one lol. Well, maybe I just didn't like the idea of being a teacher in a class where your students don't even care about you telling stuff in front of the class. That actually made me realize that I prefer to teach whoever wants to learn. Although sometimes I just need to teach without knowing what's their reasons to learn, and that is also fine. I do what I had to do. That is why I hate grading because I don't mind giving them a perfect score but what's the point if they know nothing after the course ended? I never teach a

Biasa bagi orang, luar biasa bagi kita

Halo.. sudah lama bikin draft tapi masih ndak sempet posting. Masih perlu diperbaiki dulu. Tapi postingan ini saya tulis karena obrolan dengan grup FrontSummer.

Jadi ceritanya ada salah satu teman sedang galau. Galaunya karena dia merasa masih belum bisa membahagiakan ibunya. Well.. untuk hal yang itu saya juga merasakan dan hampir semua orang merasakannya. Ingin memberikan yang terbaik dan membahagiakan ibunya.

Kegalauan dimulai karena dia yang 'dirasakan'ibunya masih belum mapan, mungkin secara finansial atau kejelasan status. Setiap orangtua mengingkan anaknya mapan dan bekerja 'aman' sehingga membuat orangtua terkesan 'menuntut' anaknya untuk memiliki pekerjaan 'aman'. Sebenarnya posisi teman saya bukan tidak dalam keadaan menganggur. Dia ikut menjadi anak buah dari sebuah usaha swasta kecil yang membuat dia sering keluar kota untuk mengerjakan proyek kantor. Proyek itu menuntut dia untuk menguasai teknik analisa statistik.

Menurut saya, menurut saya lho, kerjaan dia itu keren banget. Iya keren, lah gimana ndak keren, ilmu dia kuliah kepakai, dia suka kerja disitu karena merasa passionnya, dan dia cukup puas dengan itu. Ya memang bukan perusahaan berskala besar, tapi klien dia juga bukan klien main-main. Jadi menurut saya itu keren.

Lain pandangan saya, lain menurut ibundanya. Menurut ibunya pekerjaan dia masih belum bisa dijadikan pegangan untuk masa depan. Sehingga ibunya menyuruh dia untuk melamar kerja sana sini, bahkan mendaftar untuk melanjutkan S2. Dia berusaha memahami apa mau ibundanya tapi masih tidak bisa memahaminya. Seolah hal ini membuatnya bimbang. Disatu sisi dia menyukai pekerjaannya sekarang. Di sisi lain ibunya menginginkan yan lain tapi tidak memberikan clue yang jelas kepadanya.

Berkeluh kesahlah dia kepada kami, kemudian saya menjawab 'tanyakan sama ibu maunya gimana dan apa? Kalau cocok sama ingin kamu, kejar. Tapi kalau ndak cocok, kamu rundingan dulu ngobrol dari hati ke hati maunya gimana. Ndak ada orangtua yang ndak ingin anaknya bahagia dan mapan kok'. Diapun menjawab dia tidak memiliki hal yang dia inginkan, dia tidak mengerti apa yang harus dilakukan, karena dimata ibunya apa yang dilakukannya masih salah dan kurang. Saya pun merespon 'dulu saya ndak boleh lho belajar bahasa korea, dg alasan belajar bahasa korea dan kegilaan saya terhadap korea bisa membuat nilai kuliah saya turun bahkan hancur. Tapi karena saya menyukainya, saya akhirnya meyakinkan mereka kalau saya bisa'. Beberapa masa berjalan selama belajar bahasa korea, nilai kuliah memang sempat turun karena faktor lain hal, bukan karena belajar hal lain. Papa sempat bilang 'ahh ntar juga kalau udah lulus kuliah bakal nyusahin papa juga. Bakal bingung nyari kerjaan, ntar minta cariin papanya'. Jujur, itu adalah hal yang saya paling tidak suka. Karena pernyataan itu sangat merendahkan kemampuan anaknya. Tapi karena agak sakit hati waktu itu, seketika saya menjawab 'enak aja, liat aja ntar, bahkan sebelum luluspun aku bisa dapet kerja. Dilamar kerjaan, bukan melamar kerjaan'. Dengan harapan doa tersebut bakal di approve sama yang maha kuasa.

Waktu berlalu dan ternyata saya ndak bisa lulus 8 semester, harus 9semester. Tapi 9 semester itu saya ndak nganggur. Dapat pekerjaan pertama, dilamar. Tadinya freelanch tapi setelah lulus jadi pengajar tetap. Meskipun saya telat lulus, tapi saya ndak pengangguran dan masih berkarya. Sudah terbukti omongan saya di approve sama yang kuasa. Meskipun saat itu orangtua masih belum bisa menerima karena anggapan yang sama seperti orangtua teman saya. Dinilai belum mapan dan tidak bisa memberikan masa depan yg layak. Padahal selama saya kerja disitu, saya bisa mengembangkan diri saya dengan maksimal. Mendapat pengalaman yang juga diluar dugaan saya. Pengalaman yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Satu tahun kemudian, saya bekerja di perusahaan besar dan orangtua saya bangga karena saya diterima kerja. Terlebih karena saya tidak melamar pekerjaan melainkan dilamar pekerjaan. You see!!! Perkataan saya kala dulu terbukti lagi. Saya tidak menyombongkan diri, tapi dua kali bekerja tanpa melamar kerja itu sungguh diluar dugaan saya.

Poinnya apa? Disaat kita melakukan sesuatu yang kita inginkan tapi orangtua tidak menyukainya, cobalah berdiskusi dulu dengan mereka. bukan bermaksud menentang mereka, hanya menceritakan hal yang kita inginkan dan apa yg sedang kita jalani saat ini. Apakah kita bahagia saat melakukannya. Kadang memang banyak orang yang meremehkan hal yang kita lakukan, tapi peduli apa? Hanya saja ketika orangtua menginginkan yg terbaik bagi kita, yakinkanlah kepada mereka bahwa kita bahagia dengan pilihan kita dan butuh dukungan dari mereka.

Intinya begini, kita bisa saja mengikuti apa kemauan orangtua kita meskipun kta tidak menyukainya. Tapi disisi lain, cobalah untuk mengisi 'senjata' kita. Bukan melulu soal menyenangkan orangtua tapi kiþa terpaksa. Kalau bisa ya kita enjoy menjalankannya. Kalaupun cara orangtua ternyata tidak cocok untuk kita, kita bisa keluarkan senjata kita sekaligus membuktikan kepada orangtua kalau pilihan kita tidak salah dan bermanfaat.

Tidak ada yang salah mengikuti kemauan orangtua, asal kita juga bahagia menjalaninya. Tapi selalu ingatlah, restu orangtua juga penting untuk perjalanan hidup kita 😊

Yakinlah, percayalah, berusahalah, dan berdoalah. Tertaut empat hal yang akan menjadikan satu keinginan menjadi kenyataan.

Good luck, and believe you can make it!

Comments

  1. Hukum utama seorang anak adalah wajib membahagiakan orang tua. Dan begitu juga sebaliknya, tidak ada orang tua yang ingin anaknya tidak bahagia.

    Tapi ketika masih muda, kita sudah mulai punya pola pikir sendiri yang terkadang mulai tidak sejalur dengan pola pikir orang tua.

    Aku pernah melewati fase itu, caraku mensiasatinya waktu itu,
    Tetap berusaha mendapatkan nilai baik, karena hal itu adalah bukti paling terlihat kalau kita masih tetap serius kuliah. Pasti dimaafkan kok jika telat lulus. Asal nilai tidak meluncur jatuh aja. Minimal IPK akhir diatas 3.6 lah. Pasti mereka tetap bangga kok..

    Karena tanggungjawab utama adalah kuliah. Ya artinya kita yang harus pintar bagi-bagi waktu antara kuliah & aktif organisasi, magang dll. Harus Seimbang.

    Yaa kalau dapet hasil sekali-sekali berikan mereka hadiah atau apa gitu.. Pasti pelan2 orang tua bakal tau kok anaknya itu "lebih dari anak yang lain"..

    Dan akhirnya memang membuahkan hasil Mbak. Saya sama seperti Mbak. Saya tidak pernah berburu tempat kerja, tapi perusahaan lah meminang saya..

    Nice posting :)
    Btw salam kenal yaa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul banget mas. Nurut orangtua itu nggak ada slaahnya kok, malah enak bgt bisa dilancarin jalannya ya..

      Salam kenal juga, makasi uda mampir. Sering sering mampir yaaa hihihi

      Delete
    2. Pasti Mbak :)
      Sudah di save kok alamat blognya. Hihihi

      Delete
    3. Hihihi bagooosssss hohohoho

      Btw saya komen di blog masnya kok ndak bs nongol ya foto saya? 😳

      Delete
    4. Pakeknya google plus kalo komen, jangan pake alamat blog atau email. Pas mau komen pencet google plusnya dulu, baru komen. Ntar fotonya keluar. Soalnya punya mas roy pakenya wordpress, udah beda platform.

      Delete
    5. Nah iya baru ketauan tadi pas buka dari pc. Lah pas komen pake hape, dan agak beda. Gak kliatan deh -_-

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

The Reward of Teaching

Buku belajar Bahasa Indonesia dalam berbagai bahasa. I've become a teacher since semester 9. That being said, my teaching journey started in 2013. Took hiatus for 2 something years then I came back to these exam sheets, students, books, and social interactions. Didn't even want to become one but I fell in love right after I jumped in.  I guess I need to ask to apologize to my dad. I was mad at him a long time ago because he asked me to be one lol. Well, maybe I just didn't like the idea of being a teacher in a class where your students don't even care about you telling stuff in front of the class. That actually made me realize that I prefer to teach whoever wants to learn. Although sometimes I just need to teach without knowing what's their reasons to learn, and that is also fine. I do what I had to do. That is why I hate grading because I don't mind giving them a perfect score but what's the point if they know nothing after the course ended? I never teach a

Dapet Visa UAE (Dubai) Gampang Banget

Dubai creek Beberapa waktu yang lalu, kita pusing berat karena H dapet libur kali ini cuman 10 hari. 10 hari dari yang biasanya 14 hari. Akhrinya diputuskan untuk tetap mengambil libur tapi nggak ke Indonesia.  Ternyata, beberapa hari kemudian, dia bilang, kalau liburnya malah jadi 7-8 hari aja. Mau ga mau saya yang harus kesana. Maksudnya terbang mendekatinya. Udah milih-milih negara mana yang harganya rasional, yang ga banyak makan waktu buat terbangnya H, dan tentunya ga ribet urus visa buat pemegang paspor hijau yang ga sesakti paspornya H.  Btw warna paspor Indonesia jadi biru ya sekarang?? Pilihan jatuh ke Dubai. Pemegang paspor hijau harus bikin visa, ya pusing lagi deh cara bikin visa Dubai nih gimana. Apa iya sesusah bikin visa schengen, visa US, visa lainnya. dari persyaratan sih standar ya, termasuk  record  bank account selama 3 bulan. Emang nggak pernah bikin visa Dubai sebelumnya ya, apalagi H yang paspornya super sakti kemana-mana (hampir) ga perlu visa, dia ga pernah ad

Catatan Kuliah (6) : Masuk bareng, keluar bareng (?)

Sanur Sebagai mahasiswa yang masih belum mengenal kerasnya kehidupan kala itu, kita berikrar "Kita masuk bareng kita juga harus keluar bareng." Naif? Iya tentu. Maklumin aja namanya juga mahasiswa baru kan. Maunya yang  flawless  terus. Tapi apa salahnya sih berdoa baik kali aja malaikat mengamini lol.  Ternyata, kenyataannya, tentu saja tidak. Iya kalau semua  setting  nya  default  semua mahasiswa tidak ada kesulitan yang berarti, dosen nggak resek, mahasiswa juga nggak resek, data nggak resek, pasti lulus bareng kita. Kehidupan perkuliahan keras di akhir hahaha Gw dari awal masuk kampus ngerasa kalo gw nggak akan lulus tepat waktu. Aneh ya, harusnya orang mikir lulus tepat waktu tapi gw udah ada feeling. Dan gw berusaha keras buat nggak terlalu jatuh dalam angka. Ya maksudnyaaaa karena gw anak minor komputasi jadi gw udah bisa tebak lah data yang gw pake pasti agak makan waktu. Jadi  range  kelulusan adalah 7 semester, 8 semester, 9 semester, diatas 9 semester. Temen gw ya