Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Girlfriend Collapsible Menstrual Cup

Gw kira gelas aja yang bisa collapsible, menstrual cup juga bisa ternyata. 

Gw tertarik beli si menstrual cup ini karena kok unik ya bisa dilipet gitu. Meskipun pada dasarnya umur menstrual cup sendiri bisa di atas 5 tahun. Tapi sayangnya menstrual cup yang udah gw pake tiga tahun itu  gw simpan di kamar mandi, saat Bali berminggu-minggu hujan yang menyebabkan dia jadi berjamur. Ini murni keteledoran gw.

Waktu gw liat tempatnya "eh kok jamuran ya" lalu kulihat menstrual cup nya yang juga jamuran. Yaudah nggak mau ambil resiko. Makanan berjamur dikit aja gw buang apalagi ini yang masuk ke tubuh lewat bagian yang juga bisa rawan terserang jamur. 

Karena sudah wishlist Filmore Girlfriend menstrual cup lama banget, akhirnya gw beli ya karena butuh juga. Punya menstrual cup satu aja cukup. Awalnya agak kagok ya karena kebiasaan pake mens cup yang bentuk bulet utuh gitu. Tapi yang ini mirip tangga berundak gitu. Apa sih, yang model lingkar paling kecil, lingkar tengah agak besaran dikit, lingkar paling atas paling besar. 

Kalau di menscup yang bentuknya bulet dari ujung sampai ujung, begitu dimasukkan biasanya ada bunyi "plop" tandanya menscup udah masuk sempurna dan udah ke-vacuum dengan sempurna. Nah yang ini, karena bentuknya yang berundak, gw jujur bingung. Bingung karena mikir ini di dalam udah beneran kebuka apa belum ya. 

Tapi ternyata itu jadi salah satu keunggulannya. Waktu pakai yang bulet, gw harus memastikan dari yang paling ujung bawah beberapa mm di atasnya udah bulet semua, nggak ada bagian yang tertekuk (karena folding waktu masukin menscup). Nah kalau yang Girlfriend ini, karena bawahnya bentuk kecil dan sudah ada lekukan (untuk collapsible-nya) jadi dia sudah otomatis ngasih tau kalau ini udah masuk ke dalam dengan benar dan ter-vacuum sempurna. 

Lucu banget, gw nunggu beberapa saat karena khawatir belum pas tapi ternyata udah masuk. Tentu saja hal yang paling bisa jadi penanda dia udah masuk sempurna atau nggak berasa ada yang ganjel atau nggak. Kalau masih kerasa ganjel, berarti masih belum masuk sempurna. Pakai menscup itu harus nggak berasa, baru betul. Kalau masih terasa ganjel, antara itu kurang ke dalam atau masih ada yang nekuk. 

Untuk kadar silikonnya si Girlfriend agak lebih empuk daripada yang Gcup. Bagi gw sih keduanya sama-sama gampang masuknya kok. Hal yang jadi pembeda adalah gampang nggaknya si cup terbuka sempurna di dalam. Bentuk yang utuh bulet dari ujung ke ujung buat gw agak sulit kadang kebukanya. Meski udah 3 tahun pakai juga, kadang gw masih perlu 2-3 kali keluar masukin cup buat mastiin dia udah beneran kebuka sempurna di dalam. Tapi gw juga masih belum terbiasa pakai yang collapsible jadi masih beberapa kali gw harus pastiin itu udah kebuka. 

But, is it worth to buy? 

Banyak komentar orang yang beli Girlfriend bilang kalau bentuknya nggak gitu intimidating bagi orang yang pertama kali pake menscup, yang gw juga setuju banget karena ketika di-fold dia akan keliatan kecil dan ramah. Seolah meyakinkan pemakai kalau dia nggak akan nyakitin gitu. 

Dari sisi harga tentunya lebih mahal daripada Gcup. Girlfriend harganya sekitar 400-500an, tergantung belinya waktu promo tanggal kembar atau nggak. Kalau Gcup masih bisa dijangkau dengan harga di bawah 200ribu, dan udah cukup bagus. Gw pakai udah 3 tahun dan baru ganti karena jamur. Bukan bahannya yang gampang berjamur ya, ya tapi gw simpannya aja keliru kemarin.  

Bentuk Girlfriend ini juga bukan satu-satunya yang collapsible ya, cuma karena produk lokal jadi ya kenapa nggak? Semoga ini bertahan lebih dari 3 tahun dan nggak beli baru karena gw yang teledor.

Menstrual cup really changed my life. I regret I didn't start this way way way earlier. 

Comments

Popular posts from this blog

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Getting my Hands on Film Camera

In attempts to slow_myself_down_away_from_digital_life, I am getting my hands on film camera. Yes, the kind of camera where you need to put the film roll in and then start snapping. If you are lucky, the pictures will turn up good but if not then we let the fate decide. This is not my first rodeo on using film camera, but it definitely is the first ever to buy the film and develop it using my own money. It is not cheap, which I know.  What can I say, it's an expensive hobby.  I used my first film roll to take photos of my favorite people. So it has more human than random pictures. It was on family event. After the last shot, I wanted to develop it before I flew to Bali but they had no lab. Luckily we have the lab in Bali. I developed and scanned the film in Ojisanfilmlab Bali. They're just a google away. They sell the roll as well. I had to tell the TSA to do the hand checking rather putting it through the scanner. They understood.  Cimol hides himself in his favorite sp...

Pengalaman Bikin (Free) Schengen Visa di VFS Swiss

I know this is so normal but anyway I like to compare the experiences because people might have different cases and because I have nothing to lose so... here's my experience for applying Schengen Visa via Swiss (VFS). Kenapa nggak via Belanda? Karena rencana kita berkunjung lamanya ke Geneve - Swiss (ada urusan kerjaan suami gw) dan kami belum tau akan ke Belanda apa nggak saat itu (nggak jadi sih soalnya mepet banget).  Seperti yang sudah sering dibahas orang lain perihal syarat dan ketentuan apply Schengen visa, gw nggak akan nulis itu ya. Udah ada di website VFS, lengkap. Gw cuma tambahin dikit-dikit aja infonya yang mungkin sama seperti kasus yang baca kalo emang kebetulan sama sih 😂 "Ok jadi total pembayarannya 280 ribu rupiah ya" "HAH?? Cuma 200an mbak??? Visanya gratis???" "Suaminya masih WN Belanda kan mbak?" "Iya" "Oiya itu gratis, bisa pake visa tipe C. Jadi cuma bayar biaya admin aja" ...