Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Feeling Balanced

Never thought that I could feel this balanced. I now understand what zen is. 

After all ups and downs that made me question my existential (probably won't be the last), I am starting to feel only love and less hate. As if love and compassion filling my heart every day. It's easy to annoy me normally, but so far, this past couple of months I feel less annoyed. So weird, crazy, yet amazing.

Say, when I hear people talking about things I prefer not to talk about, like polygamy, I don't feel hate anymore. Usually, I'll say bad words, cursing them, you name it. But last night I watched a video about that and it made me feel "HA HA HA Stupid ignorant reasons" that was it. I thought I'll be emotional and angry, but I didn't. I even take pity for them. I know it's their right to do so, but the youngest wife wanted to go to college, and instead, she is married to that old guy who promised her to pay for her college. But that never happens (yet) even after 3 years of marriage. Poor girl has to take care of their kids. Anyway, not my business.

I even asked myself, "Why am I feeling okay for so long? Is this normal?" There are usually a lot of emotions going on in my life, shifting one to another in a few seconds. Well... some things still annoy me but the shield I have told me "This is your choice to choose whether you want to be angry, feel annoyed, anything. But those don't really matter actually." So I choose peace. 

"Nah, doesn't matter." There is no hidden feeling too. I became so honest to myself, about what I felt in a certain situation. The love flows harder than anger or hate. So love wins! 

This is what makes me feel more love for my husband. Like I have overflowing love, so I need to spread it to people or beings around me. I became more conscious, content, more sensitive to those around me. Well, being more sensitive is still a work in progress because it's new and hard, affecting my body and mind shifting. I still hate having headaches and mood swings that don't even come within me. 

I am ditching not-so-important stuff, putting my phone down which got me more time to read books. Btw, I read 7 books in less than 2 months. For me, that's a big number. I got my reading appetite back after years. Life feels more relaxed even though I have a lot of things to do or work on. Mentally state right now: relaxed and content. It's that peace of mind that everyone wants to feel.

How about you? Have you found your peace of mind yet?

Comments

  1. Keren sekali masih bisa baca buku.
    Rindu banget membaca tulisan di kertas, nih. Huhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Akupun terkejut bisa habis 7 buku 2 bulan. Udah bertahun2 ngabisin satu buku satu tahun aja susah banget. Mungkin krn capek ngeliat layar hp/laptop kali ya? Akhirnya matanya memilih untuk istirahat dg baca tulisan di kertas.

      Delete
    2. PErnah nyoba buat baca ebook, tapi serasa mata cepat pegal.

      Delete
    3. Coba pakai kindle, cahayanya lebih deket ke buku kertas daripada layar.

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Jumat ceria

Hari ini memang bukan hari jumat, tapi cuman mau bilang aja sih kalo hari yang paling aku tunggu-tunggu itu hari jumat. Why?   Karena jumat itu selalu ceria, kalopun ada meeting besar pasti di hari jumat dan banyak cemilan, orang-orang pada berangkat sholat jumat, yang nasrani juga mengikuti misa di kantor, bisa pake baju bebas dan bebas berekspresi sepuas-puasnya, dan..... bisa video call sepuasnyaaaaaa kapanpun karena dia libur kerja 😍😍 gambarnya lucu 😁  taken from internet

Melewati Pusuk Pass, Lombok

Kembali ke Pulau Lombok setelah dari Gili Air, kita pun 'turun' gunung menuju daerah selatan. Kita pun melewati Pusuk Pass atau orang suka bilang monkey forest. Tadinya sih dikira kayak kita masuk hutan trus yang banyak monyetnya, tapi ternyata jalanan pinggir tebing yang ada banyak monyet main-main disana. Sama persis kayak jalanan kearah rumah nenek. sampahnya nggak seharusnya disitu ya? Berhentilah kita disana. Takutnya monyetnya kayak yang di Bali itu, yang suka nyuri, eh ternyata nggak sih. Monyetnya anteng diem, makan mulu. Salah satu kesalahan pengunjung adalah memberikan makanan ke si monyet-monyet. Nggak apa sih kasih makan tapi plastiknya ya jangan dibuang disana juga lah. Sebenernya bukan dibuang disana sih, tapi monyetnya aja yang narik ngambil plastik makanan disana. Jadilah disitu kotor semua gara-gara plastik sisa makanan tadi. Eh namanya monyet ya masa iya bisa dikasih tau, 'hey monyet jangan buang sampah sembarangan!', kan ya nggak mun...