Skip to main content

The Reward of Teaching

Buku belajar Bahasa Indonesia dalam berbagai bahasa. I've become a teacher since semester 9. That being said, my teaching journey started in 2013. Took hiatus for 2 something years then I came back to these exam sheets, students, books, and social interactions. Didn't even want to become one but I fell in love right after I jumped in.  I guess I need to ask to apologize to my dad. I was mad at him a long time ago because he asked me to be one lol. Well, maybe I just didn't like the idea of being a teacher in a class where your students don't even care about you telling stuff in front of the class. That actually made me realize that I prefer to teach whoever wants to learn. Although sometimes I just need to teach without knowing what's their reasons to learn, and that is also fine. I do what I had to do. That is why I hate grading because I don't mind giving them a perfect score but what's the point if they know nothing after the course ended? I never teach a

Mengurus Visa C317 di KJRI Dubai

Disclaimer: tulisan ini tentang pengalaman mengurus visa C317 di luar negeri (konsuler/kedubes Indonesia), tulisan agak panjang dan tentang birokrasi, pun keadaan di lapangan bisa berubah setiap saat.

Setelah berbulan-bulan bergelut dengan imigrasi via DM di segala platform, akhirnya bulan September sekitar minggu kedua WNA yang memiliki keluarga di Indonesia boleh masuk Indonesia menggunakan visa index C317. Bukan hanya yang punya keluarga di sini tapi juga yang akan bekerja dll. Langkah awal mendapatkan KITAS dari sini. 

Sebenernya ini dari dulu jadi hal yang kurang mengasyikkan bagi keluarga campur. Bukan karena sulitnya tapi karena ketidakjelasan informasi tentang dokumen apa saja yang harus dipersiapkan serta timeline yang bisa direncanakan. Nggak ada informasi di satu tempat yang terintegrasi antara satu dengan yang lainnya. Pengambilan vitas yang ada di konsuler maupun kedutaan besar Indonesia pun memiliki syarat yang berbeda. Why tho?

Selalu ingat untuk menanyakan syarat & dokumen tambahan ke KBRI/KJRI tujuan via email/telpon (kalau diangkat sih 😆).

Belum lagi tentang berapa lama visa harus digunakan sebelum expired (atau harus mengajukan ulang dan tentu saja harus membayar ulang). Ada yang dapat 60 hari, ada yang dapat 90 hari. Sebelum dapat visa ini, gw sempet tanya imigrasi karena penasaran aja ini sebetulnya udah ditentukan di satu tempat atau terserah yang ngasih jangka waktu. Tapi jawaban imigrasi via DM Instagram cuma bilang "Nanti ada kok kak di situ tertulis". Yaah.. gw juga tau kalo itu. 

Okay, timeline pengajuan visa adalah:

17 September 2020 (kamis): 

Pengajuan telex. Ini gw udah daftar di websitenya berbulan-bulan lalu jadi gw tinggal login aja. Login dan isi data semuanya pagi jam 9 Dubai (kira-kira 13.00 WIB). Pengisian ini hanya tersedia jam 09.00-16.00 aja. Selain jam itu, website nggak bisa diapa-apain. Siapkan dulu semua dokumen yang diminta. Ini ada guideline untuk mengisi yang bisa diunduh dari websitenya. Jangan lupa resize ukuran JPEG. Surat permohonannya pakai materai 6000. Penting untuk membawa materai 6000 kemanapun. 

Website: https://visa-online.imigrasi.go.id  

Untuk telex, persyaratannya sama ya karena diajukan online ke pusat. Nggak ada perbedaan disini. Jangan sampai salah tulis nama sponsor atau ketidaksingkronan hal-hal lainnya. Gw ajuin visa bareng WNA yang mau kerja di Indonesia, telex dia atas nama kantornya tapi sponsornya personal atas nama pribadi. Agak riweh jadinya. 

Agak deg-degan juga karena surat permohonan gw tulis kalau suami gw kerja (di luar Indonesia) tapi di aplikasi telex gw tulis tidak bekerja (karena emang sbg pemegang visa keluarga dia ga bisa kerja di Indonesia). Selain itu juga ada banyak banget pilihan pekerjaan yang bikin gw bingung pilihnya. Kira-kira 80+ jenis pekerjaan dan nggak ada opsi "Lainnya".

Catatan tambahan: registrasi sponsor untuk telex memakan waktu 24 jam biasanya. Pertimbangkan hal ini sebelum daftar semuanya serba mepet. Waktu gw registrasi jadi sponsor telex, data gw disetujui setelah seminggu (di bulan-bulan awal pandemi).

22 September 2020 (selasa):

Gw dapat email untuk bayar telex sebesar 200 ribu. Email ini masuk jam 4 sore waktu UAE (sekitar pukul 7 malam WIB). Bingung juga harus bayarnya gimana ini, kalo minta tolong orang yang di Indonesia berarti baru bisa besoknya bayar. Tapi setelah gw cek lagi, ada satu poin "Pembayaran PNBP persetujuan visa dilakukan di Bank/pos Persepsi Simponi dengan menginformasikan kode billing tercantum di atas". Secara nggak sengaja, paginya gw bayar obligasi via Mandiri yang dibayarkan online dan masuk ke pos PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak). Gw cek masukin kode billing visa, ternyata bener dan bisa dibayar. Akhirnya gw bayar online saat itu juga kira-kira jam 10 malem WIB. 

Gw yakin nggak semua orang tau apa itu Bank/Pos Persepsi Simponi. Cek kilat sih, yang bisa pake bayar online itu di bank BRI, BNI, Mandiri, BCA. 

25 September 2020 (jumat):

Telex disetujui. Kami siapkan dokumen pendukung tambahan. Email ke Konjen RI Dubai seminggu sebelumnya dibales tapi agak bingungin. Jd gw telpon, jutaan kali nggak diangkat. Nggak heran sih 😅 Gw jarang banget bisa nyambung telpon ke kantor pemerintahan. 

Syarat-syarat yang dikirimkan konsuler via email. Untuk nomer 8 khusus untuk yang bekerja di Indonesia.

27 September 2020 (minggu):

Rencananya submit dokumen hari ini karena Minggu adalah working day di Dubai. Tapi ternyata kami kelupaan dummy ticket. Satu dan lain hal akhirnya kami submit dokumen hari Senin saja. 

28 September 2020 (senin):

Dokumen berikut adalah yang diminta di KJRI Dubai. Tentunya tanyakan ke KJRI/KBRI setempat tentang apa yang harus dibawa. Dokumen lengkap antara lain: 

1. Formulir visa (bisa diunduh sendiri di sini), 

2. Paspor suami dan copy,

3. Foto 3x4 (dua lembar), 

4. Print out telex, 

5. Surat undangan sponsor untuk pemohon visa yang ditujukan ke KJRI/KBRI setempat, 

6. Copy tabungan (kami pakai milik suami), 

7. Copy KTP sponsor, 

8. Copy dummy ticket

9. Copy surat nikah (harusnya opsional karena nggak disebutkan di persyaratan tapi nggak dibalikin juga). 

Bayar AED605. Nggak murah juga untuk visa yang single entry untuk nantinya dikonversi ke KITAS yang juga bayar lagi.

Dummy ticket biasanya gw bikin dari Thai Air karena gratis, tapi karena pandemi jadi nggak banyak opsi penerbangan jadi kami pakai Emirates, pakai hold fare bayar sekitar $30.

Karena kondisi sedang pandemi, dokumen tambahannya yaitu Surat kesediaan karantina setibanya di Indonesia. Selain itu, harus bikin appointment untuk submit dokumen yang kami ketauhi setibanya di depan KJRI. Oh tentu saja kami tidak tau dan tidak mau balik dengan tangan kosong. Akhirnya langsung WA bikin appointment untuk hari itu. Belum juga dibalas WA gw, ternyata dibolehin masuk bapak penjaganya. Begini kira-kira yang gw bilang, "Pak ini kami nggak tau kalau harus bikin perjanjian dulu, kemarin sudah telpon berkali-kali tapi nggak ada yang angkat pak. Ini mau submit untuk vitas pak". Bapaknya dengan santai bilang, "Oh telex? Yaudah situ masuk pos itu dulu nanti saya cek dokumennya ya. Tunggu dulu". Di pos pemeriksaan (suhu dan dokumen), beliau bilang kurang surat kesediaan karantina setibanya di Indonesia. Kemudian beliau bantu dengan, "Mbak coba bilang ke dalam, minta pinjam komputernya untuk ngetik trus emailin ke situ. Nanti kalo nggak boleh saya bantu ngomong deh. Cobain aja dulu". Ternyata dibolehin, langsung gw email juga. Gw kira bakal diprint trus suami gw ttd gitu, ternyata waktu verifikasi dokumen gw bilang kalo gw udah email, si bapaknya bilang yaudah gapapa, pokoknya mau karantina nantinya. 

KJRI Dubai additional info 

Bapak yang ngecek dokumen di pos depan nanya gw dokumen telex yang diajuin apa aja, gw kira mau verifikasi ternyata beliau nggak begitu tau karena cukup terheran waktu pengajuan telex gw seminggu udah approve. Beliau sempet nanya lagi waktu kita ambil paspor, ternyata karena teman beliau nggak bisa apply telex, katanya.

1 Oktober 2020 (kamis):

Ambil paspor biasanya pukul 14.00-16.00, tapi bapak yang terima dokumen bilang "Kalau mau ambil jam 10an juga boleh kok mbak, gapapa dateng aja" yang mana itu juga satu keuntungan karena paspor suami akan dikirimkan ke dubes lain untuk visa kerjanya. Kami datang jam 10, nunggu antrian 15 menitan, vitaspun disetujui dengan jangka waktu 1 tahun, single entry, dengan masa expiration: 90 hari. Vitas harus digunakan dalam waktu 90 hari dan tentunya harus segera dikonversi ke KITAS setibanya di Indonesia.

Gw berterimakasih banget sama KJRI Dubai yang bener-bener membantu banget dalam kondisi pandemi begini semuanya dimudahkan. Cuma yaaa, masih bertanya-tanya kenapa si telpon itu susah banget nyambungnya 😅 Selain itu, bener-bener berterimakasih banget terutama ke bapak yang bukain gerbang dan cek dokumen kami yang gw nggak tau namanya. Makasih banget.

Mungkin tulisan ini tidak 100% plek ketiplek dengan KBRI/KJRI tujuan kamu. Tapi gw harap, tulisan ini bisa memberikan gambaran tentang proses pengurusan dari telex hingga pengambilan vitas. Gambaran tentang apa yang harus kamu lakukan 1-2 minggu kedepan setelah apply telex. 

Semoga ada yang terbantu dari tulisan ini. Good luck!

Update: Saat ini e-visa sudah mulai diterapkan, hingga tak perlu lagi datang ke KBRI/KJRI sesuai dengan pengumuman dari Imigrasi (https://twitter.com/ditjen_imigrasi/status/1321050401957945344?s=20)

Comments

  1. wah pastinya post ini sangat membantu sekali tuk yang sedang mencari info bagaimana mengurus visa C317 di luar negeri di Dubai..
    lumayan juga ya, prosesnya ada kiranya makan semingguan, tapi alhamdulilah lancar

    walaupun memang kalau telepon faailitas publik kadang sibuk terus ya, dimana mana kayaknya rata rata gitu deh ihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang selalu menjadi misteri hingga kini. Telpon yang selalu sibuk hahaha

      Delete
  2. Ngurus dokumen apapun kalo udah berhubungan sama pemerintahan itu pasti gak jelas. Gak jelas syaratnya, gak jelas waktunya dan gak jelas orangnya. Jangankan ngurus visa, ngurus paspor aja kadang bisa beda syaratnya antar kantor imigrasi. Aku cuma bisa sabar kalo ngurus begituh....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha beneran itu paspor beda kanwil aja beda aturan. Anehnya, kalo ke KBRI itu pelayanannya super banget dan efisien. Udah pernah urus visa di KBRI Singapore & Dubai, bener-bener top banget.

      Tapi si kanim ini udah termasuk pelayanannya bagus kalo dibandingin sama lembaga pemerintah lainnya yang pernah bersentuhan denganku wkwk

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

The Reward of Teaching

Buku belajar Bahasa Indonesia dalam berbagai bahasa. I've become a teacher since semester 9. That being said, my teaching journey started in 2013. Took hiatus for 2 something years then I came back to these exam sheets, students, books, and social interactions. Didn't even want to become one but I fell in love right after I jumped in.  I guess I need to ask to apologize to my dad. I was mad at him a long time ago because he asked me to be one lol. Well, maybe I just didn't like the idea of being a teacher in a class where your students don't even care about you telling stuff in front of the class. That actually made me realize that I prefer to teach whoever wants to learn. Although sometimes I just need to teach without knowing what's their reasons to learn, and that is also fine. I do what I had to do. That is why I hate grading because I don't mind giving them a perfect score but what's the point if they know nothing after the course ended? I never teach a

Dapet Visa UAE (Dubai) Gampang Banget

Dubai creek Beberapa waktu yang lalu, kita pusing berat karena H dapet libur kali ini cuman 10 hari. 10 hari dari yang biasanya 14 hari. Akhrinya diputuskan untuk tetap mengambil libur tapi nggak ke Indonesia.  Ternyata, beberapa hari kemudian, dia bilang, kalau liburnya malah jadi 7-8 hari aja. Mau ga mau saya yang harus kesana. Maksudnya terbang mendekatinya. Udah milih-milih negara mana yang harganya rasional, yang ga banyak makan waktu buat terbangnya H, dan tentunya ga ribet urus visa buat pemegang paspor hijau yang ga sesakti paspornya H.  Btw warna paspor Indonesia jadi biru ya sekarang?? Pilihan jatuh ke Dubai. Pemegang paspor hijau harus bikin visa, ya pusing lagi deh cara bikin visa Dubai nih gimana. Apa iya sesusah bikin visa schengen, visa US, visa lainnya. dari persyaratan sih standar ya, termasuk  record  bank account selama 3 bulan. Emang nggak pernah bikin visa Dubai sebelumnya ya, apalagi H yang paspornya super sakti kemana-mana (hampir) ga perlu visa, dia ga pernah ad

Catatan Kuliah (6) : Masuk bareng, keluar bareng (?)

Sanur Sebagai mahasiswa yang masih belum mengenal kerasnya kehidupan kala itu, kita berikrar "Kita masuk bareng kita juga harus keluar bareng." Naif? Iya tentu. Maklumin aja namanya juga mahasiswa baru kan. Maunya yang  flawless  terus. Tapi apa salahnya sih berdoa baik kali aja malaikat mengamini lol.  Ternyata, kenyataannya, tentu saja tidak. Iya kalau semua  setting  nya  default  semua mahasiswa tidak ada kesulitan yang berarti, dosen nggak resek, mahasiswa juga nggak resek, data nggak resek, pasti lulus bareng kita. Kehidupan perkuliahan keras di akhir hahaha Gw dari awal masuk kampus ngerasa kalo gw nggak akan lulus tepat waktu. Aneh ya, harusnya orang mikir lulus tepat waktu tapi gw udah ada feeling. Dan gw berusaha keras buat nggak terlalu jatuh dalam angka. Ya maksudnyaaaa karena gw anak minor komputasi jadi gw udah bisa tebak lah data yang gw pake pasti agak makan waktu. Jadi  range  kelulusan adalah 7 semester, 8 semester, 9 semester, diatas 9 semester. Temen gw ya