Skip to main content

Mengalahkan Rasa Takut akan Tenggelam

Makanan setelah renang di KOOD Sanur (serba vegan) Dari dulu takut banget sama air dengan volume yang besar. Mungkin di kehidupan gw sebelumnya gw pernah tenggelem kali ya. Makanya nggak pernah bisa renang. Karena ya takut tenggelam. Bahkan sekedar kecipak kecipuk aja takut. Sampai pindah ke Bali. Pindah ke Bali nggak berekspektasi setinggi itu sih. Ternyata, jadi lebih sering main air di pantai. Nggak renang, cuma berendam aja. Lama-lama jadi kebiasaan dan udah mulai terbiasa dengan air. Ternyata seru juga yaa. Kemudian dilatih suami gw buat berani snorkeling. Iya takut awalnya, nggak percaya meskipun dia bilang nggak akan tenggelam karena pake fin. Hmm masaaaa~~ Ya tetep pake pelampung sih. Pertama kali nyemplung, tentu saja heboh takut tenggelam padahal udah pake pelampung, pake fin, mana dipegangin juga. Tapi heboh aja, takut tenggelem. Ada 3 spot waktu itu, gw cuma nyemplung satu spot aja belum juga 15 menit udah naik kapal. Beberapa kali snorkeling akhirnya baru berani lepas pela

Empat Kali Tes PCR dalam Sebulan

Rove Dubai

Thank god bukan karena sakit covid. Tes ini dilakukan sebelum gw melakukan perjalanan ke luar Indonesia untuk bertemu suami gw. Satu dan lain hal akhirnya diputuskan untuk bertemu di Dubai. Karena perlu PCR, bulan September awal kemarin menuju ke RS UNUD (Universitas Udayana) di Bali karena waktu itu dia jadi satu-satunya RS untuk PCR mandiri. Yang lain untuk rujukan aja. Nggak tau kalau sekarang, mungkin udah ada swasta yang melayani perjalanan mandiri. 

Harga tes 900 ribu dengan hasil akan didapatkan maksimal 3 hari (dulu). Waktu gw test ternyata hasil minimal keluar 3 hari karena RS Unud jadi lab utama untuk sample se-Bali (katanya) 😓 Dengan jadwal mepet waktu terbang (Dubai hanya menerima hasil tes yang maks diambil 96 jam sebelum perjalanan), akhirnya nekat ke Jakarta sehari sebelum jadwal penerbangan ke Dubai (yang akhirnya dimundurkan sehari lagi karena jadwal tes ulang). Terbang dari DPS ke CGK pakai rapid test, yang menurut gw nggak efektif. 

Setibanya di CGK, besoknya gw ambil tes di RS Mayapada Tangerang dg hasil test keluar dalam waktu 12 jam. Harganya 3 juta 😑 Tapi beneran 12 jam keluar. Negatif. Gw nggak tau hasil yang diambil di RS Unud karena nelpon pun harus jutaan kali baru kesambung. 

Esoknya gw terbang ke Dubai. 

Sebagai WNI yang masuk dalam zona merah versi Dubai, gw harus langsung test ulang saat tiba di bandara Dubai. Kali ini gratis. Terima kasih UAE. Hasilnya dikirim via sms, gw tunggu-tunggu ga masuk-masuk padahal gw selalu cek tiap beberapa jam sekali. Ternyata muncul di App Covid 19 yang harus diunduh ketika tiba di Dubai. Hasilnya not detected, nggak bilang negatif. Tapi kata suami gw ya negatif itu. 

App covid19 UAE

Tes di RS Unud menurut gw agak sakit karena efek nggak nyamannya terasa sampai seharian. Cukup di satu lubang hidung aja. Lalu di RS Mayapada sampel diambil di hidung dan kerongkongan, tapi after tastenya kerasa cuma 5 menit aja. Di Bandara Dubai, sampel diambil di dua lubang hidung dan nggak ada after taste.

Setelah sebulan, sebelum gw balik Indonesia gw harus test lagi. Kali ini di Emirates Specialties Hospital Dubai, harganya AED 220 (kira-kira 800 ribuan). Dubai sudah pasang harga maksimal untuk PCR harus AED 250. Sampel diambil di satu lubang hidung. Kami tes jam 10 malam untuk menghindari kerumunan dan panas. Hasil dikirimkan dalam bentuk SMS, lengkap dengan link untuk cetak hasilnya. Hasilnya, not detected, dikirimkan sms jam 4 pagi. Kurang dari 12 jam bahkan. Suami gw buka SMS jam 6 pagi dan kasih tau hasilnya ke gw, lalu kami lanjut tidur. 

Gw 10 bulan nggak ketemu suami gw. Sejak April 2020 rute gw cuma rumah - kantor - supermarket - pantai. Selebihnya, gw memilih untuk nggak pergi-pergi yang nggak penting. Bepergian selama pandemi ini buat gw nggak enak banget. Mahal di ongkos, berat di mental, capek di fisik. 

Tanggal 6 September gw berangkat dari Bali ke CGK, tanggal 7 September gw tes PCR, tanggal 8 September gw terbang dari CGK ke Dubai. Ketika pulangpun masih harus transit Jakarta yang jadi satu-satunya pintu masuk dari luar negeri. 

Tulisan ini ditulis sebagai bentuk dokumentasi (yaiyalah, apa lagi!). Sehingga, kondisi yang terjadi di lapangan kemungkinan besar berubah karena kejadian ini dialami bulan September awal. Semoga sih lebih baik. Tidak ada yang mengharapkan pandemi ini berlarut. Kurindu melihat senyum orang-orang di jalanan, ekspresi wajah mereka. Semoga segera usai.

Stay healthy folks!

Comments

  1. Kok meh ketemu bojo rekoso yah...

    Wkwkwkwk

    Selalu jaga kesehatan mbak'e. Mangan sing akeh gen orag setres.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Satu-satunya perjalanan yang sebelum-selama-hingga balikpun penuh derai air mata saking capeknya fisik dan mental.

      Wis yang penting semua jaga kesehatan untuk menyongsong 2021 wkwkw

      Delete
  2. iya nih semoga badai covid cepat berlalu, biar transportasi normal lagi

    ReplyDelete
  3. ya ampun perjuangan banget 10 bulan nggak ktmu suamik, dan mau ketemu pun ribet banget gara2 si covid ini, uhuhu
    semoga sehat2 di sana ya mbak sama suaminya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mau ngapa2in ribet deh ya sekarang.

      pokonya sama2 jaga kesehatan ya mbak. taun ini udah bisa tetep sehat aja udah syukuran ya :)

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Book : Semakin Dalam Di Jejak Langkah

  Buku ketiga dari Buru Tetralogi ini lebih berat dari Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa . Disini banyak disinggung tentang Multatuli yang mengungkap "kotornya" birokrasi. Kotor disini tentu saja soal korupsi. Semakin dalam membaca ternyata semakin paham kalo kemungkinan besar korupsi ini "warisan budaya" kolonial. Buku ini pun mengatakan bahwa kolonial berhutang banyak gulden kepada Hindia Belanda atas semua hitungan 'meleset'nya penerimaan pajak dan penyalurannya. Siapa yang nggak mau untung banyak? Ya kolonial menang banyak. Bahkan kalau mau benar-benar dihitung, bisa jadi mereka kalah. Tapi nggak mungkin kan diusut karena kolonial tau kalau mereka bakal ketauan salah dan memungkiri itu. Jadi yaaa, lenyap begitu saja. Disini Minke kawin setelah ditinggal Annelies yang Indo dia kawin dengan yang orang tionghoa. Lagi-lagi pula dia ditinggalkan karena istrinya sakit (kemudian kawin lagi dengan Prinses yang ntah darimana tapi yang jelas dia berpendid

Traveling During Pandemic

CGK to DPS I am one of the people who travel (relatively a lot) during a pandemic. Unfortunately, me being in a long-distance marriage, need mental and physical support once in a while.  In the beginning, we met after 8 months of the pandemic and then 3 or 4 months, then every 2 months. I went wild the first 8 months of the pandemic. Everything felt harder. I know many people feel the same, I am not the only one. We're just coping with the best we can do.  The island I call home 💙 It was so stressful the first time traveling during the pandemic. Like I said here , it's not really worth the effort if you're traveling "for fun". PCR price was crazy, every time we have to calculate the time, make it double as well as the price. Because we buy the time with money. I usually book a ticket at least 2-4 weeks before my travel, then went to the airport 2 hours before my flying time, everything felt so efficient but not during the pandemic. I booked my ticket a week befor

[Piknik] Prambanan lagi

Salah satu pesona Jawa Tengah adalah Candi Prambanan. Saya sudah 3 kali berkunjung ke situs warisan dunia ini. Candi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan jogja ini selalu menimbulkan kesan mistis bagi saya. Terletak tak jauh dari jalan raya, sehingga mengunjunginya pun sangat mudah. Berbeda dengan Candi Borobudur yang letaknya sangat jauh dari jalan raya besar.  Ok, menurut saya ada 3 cara menuju candi ini. Menggunakan bus transjogja, taksi, dan kendaraan pribadi. Bagi yang menggunakan transjogja, saya pernah menggunakannya berangkat dari daerah kampus UNY, daerah Depok Sleman. 1 kali transit, 2 kali berganti bus. Dengan harga transjogja yang kala itu, 2014, seharga 3500 rupiah. Tapi sampai saat ini masih sama harganya, menurut info dari teman. Lokasi shelter bis berada agak jauh dari pintu masuk lokasi candi, mungkin kira-kira 500meter sampai 1kilometer. Kalau jalan, menghabiskan waktu sekitar 15-20menit. Bisa juga naik becak untuk opsi yang lain. Lagi-lagi, jangan lupa men