Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Empat Kali Tes PCR dalam Sebulan

Rove Dubai

Thank god bukan karena sakit covid. Tes ini dilakukan sebelum gw melakukan perjalanan ke luar Indonesia untuk bertemu suami gw. Satu dan lain hal akhirnya diputuskan untuk bertemu di Dubai. Karena perlu PCR, bulan September awal kemarin menuju ke RS UNUD (Universitas Udayana) di Bali karena waktu itu dia jadi satu-satunya RS untuk PCR mandiri. Yang lain untuk rujukan aja. Nggak tau kalau sekarang, mungkin udah ada swasta yang melayani perjalanan mandiri. 

Harga tes 900 ribu dengan hasil akan didapatkan maksimal 3 hari (dulu). Waktu gw test ternyata hasil minimal keluar 3 hari karena RS Unud jadi lab utama untuk sample se-Bali (katanya) 😓 Dengan jadwal mepet waktu terbang (Dubai hanya menerima hasil tes yang maks diambil 96 jam sebelum perjalanan), akhirnya nekat ke Jakarta sehari sebelum jadwal penerbangan ke Dubai (yang akhirnya dimundurkan sehari lagi karena jadwal tes ulang). Terbang dari DPS ke CGK pakai rapid test, yang menurut gw nggak efektif. 

Setibanya di CGK, besoknya gw ambil tes di RS Mayapada Tangerang dg hasil test keluar dalam waktu 12 jam. Harganya 3 juta 😑 Tapi beneran 12 jam keluar. Negatif. Gw nggak tau hasil yang diambil di RS Unud karena nelpon pun harus jutaan kali baru kesambung. 

Esoknya gw terbang ke Dubai. 

Sebagai WNI yang masuk dalam zona merah versi Dubai, gw harus langsung test ulang saat tiba di bandara Dubai. Kali ini gratis. Terima kasih UAE. Hasilnya dikirim via sms, gw tunggu-tunggu ga masuk-masuk padahal gw selalu cek tiap beberapa jam sekali. Ternyata muncul di App Covid 19 yang harus diunduh ketika tiba di Dubai. Hasilnya not detected, nggak bilang negatif. Tapi kata suami gw ya negatif itu. 

App covid19 UAE

Tes di RS Unud menurut gw agak sakit karena efek nggak nyamannya terasa sampai seharian. Cukup di satu lubang hidung aja. Lalu di RS Mayapada sampel diambil di hidung dan kerongkongan, tapi after tastenya kerasa cuma 5 menit aja. Di Bandara Dubai, sampel diambil di dua lubang hidung dan nggak ada after taste.

Setelah sebulan, sebelum gw balik Indonesia gw harus test lagi. Kali ini di Emirates Specialties Hospital Dubai, harganya AED 220 (kira-kira 800 ribuan). Dubai sudah pasang harga maksimal untuk PCR harus AED 250. Sampel diambil di satu lubang hidung. Kami tes jam 10 malam untuk menghindari kerumunan dan panas. Hasil dikirimkan dalam bentuk SMS, lengkap dengan link untuk cetak hasilnya. Hasilnya, not detected, dikirimkan sms jam 4 pagi. Kurang dari 12 jam bahkan. Suami gw buka SMS jam 6 pagi dan kasih tau hasilnya ke gw, lalu kami lanjut tidur. 

Gw 10 bulan nggak ketemu suami gw. Sejak April 2020 rute gw cuma rumah - kantor - supermarket - pantai. Selebihnya, gw memilih untuk nggak pergi-pergi yang nggak penting. Bepergian selama pandemi ini buat gw nggak enak banget. Mahal di ongkos, berat di mental, capek di fisik. 

Tanggal 6 September gw berangkat dari Bali ke CGK, tanggal 7 September gw tes PCR, tanggal 8 September gw terbang dari CGK ke Dubai. Ketika pulangpun masih harus transit Jakarta yang jadi satu-satunya pintu masuk dari luar negeri. 

Tulisan ini ditulis sebagai bentuk dokumentasi (yaiyalah, apa lagi!). Sehingga, kondisi yang terjadi di lapangan kemungkinan besar berubah karena kejadian ini dialami bulan September awal. Semoga sih lebih baik. Tidak ada yang mengharapkan pandemi ini berlarut. Kurindu melihat senyum orang-orang di jalanan, ekspresi wajah mereka. Semoga segera usai.

Stay healthy folks!

Comments

  1. Kok meh ketemu bojo rekoso yah...

    Wkwkwkwk

    Selalu jaga kesehatan mbak'e. Mangan sing akeh gen orag setres.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Satu-satunya perjalanan yang sebelum-selama-hingga balikpun penuh derai air mata saking capeknya fisik dan mental.

      Wis yang penting semua jaga kesehatan untuk menyongsong 2021 wkwkw

      Delete
  2. iya nih semoga badai covid cepat berlalu, biar transportasi normal lagi

    ReplyDelete
  3. ya ampun perjuangan banget 10 bulan nggak ktmu suamik, dan mau ketemu pun ribet banget gara2 si covid ini, uhuhu
    semoga sehat2 di sana ya mbak sama suaminya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mau ngapa2in ribet deh ya sekarang.

      pokonya sama2 jaga kesehatan ya mbak. taun ini udah bisa tetep sehat aja udah syukuran ya :)

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Getting my Hands on Film Camera

In attempts to slow_myself_down_away_from_digital_life, I am getting my hands on film camera. Yes, the kind of camera where you need to put the film roll in and then start snapping. If you are lucky, the pictures will turn up good but if not then we let the fate decide. This is not my first rodeo on using film camera, but it definitely is the first ever to buy the film and develop it using my own money. It is not cheap, which I know.  What can I say, it's an expensive hobby.  I used my first film roll to take photos of my favorite people. So it has more human than random pictures. It was on family event. After the last shot, I wanted to develop it before I flew to Bali but they had no lab. Luckily we have the lab in Bali. I developed and scanned the film in Ojisanfilmlab Bali. They're just a google away. They sell the roll as well. I had to tell the TSA to do the hand checking rather putting it through the scanner. They understood.  Cimol hides himself in his favorite sp...

Gampangnya Apply e-visa Rusia

Red square Jadi, WNI diberi kemudahan untuk ke Rusia. Cukup dengan apply e-visa yang bisa didapatkan dalam hitungan hari saja. Meskipun sudah sering apply e-visa, tapi e-visa Rusia ini agak unik formulirnya. Jadi sebelum apply, gw baca gimana caranya di sini yang amat sangat runtut dan mudah dipahami. Sebelum isi formulir online, ada baiknya siapkan foto 3.5 x 4.5 dengan background putih dulu. Setelah itu jangan lupa untuk beli asuransi. Karena agak kepikiran, gw putuskan untuk beli asuransi dari perusahan yang ada di sana. Asuransi yang gw beli dari sini . Tadinya setelah beli kok nggak ada info apapun, bahkan bukti bayar pun nggak ada. Tapi petugasnya cukup tangkas setelah gw email, gw langsung dapat asuransinya. Nomer asuransi diperlukan untuk mengisi formulir, jadi harus beli asuransi sebelum apply visa.  Nah, bagi gw, ini formulir baru kali ini dapat pertanyaan yang unik-unik semacam apakah pernah pelatihan militer, wajib militer, pernah pegang / punya senjata, bahkan sampai ...

Setelah Schengen Visa Ditolak Jerman

Bentheim Gw tau Jerman tuh emang meticulous banget, tapi gw nggak sangka bakal se- meticulous itu. Kira-kira bulan Maret gw apply Schengen via Jerman. Kenapa via Jerman? Karena Belanda nggak ada slot heheheee. Rencana perginya bulan April kalau nggak salah waktu itu. Karena suami ada libur tapi cuma pendek banget, dan dia pengen banget pulang ke sana, yaudah lah coba aja. Dapet antrian, mana bayarnya 700ribu pula 😅 lalu pergilah gw submit semua dokumen gw.  Gw bukan yang pertama kali mengajukan Schengen, jadi gw udah "tau" harus submit apa aja. Karena sebagai orang yang menikah dengan warga EU, kami berhak untuk tidak menunjukkan buku tabungan (yg penting tabungan pasangan yang EU yg ditampilkan), dll. Dengan ina inu, eh ternyata diminta surat kerja lah, kalau freelancer harus kasih tau bukti kerjaan juga. Gw rasa ribet ya karena nggak formal kerjanya, jadi ya udah gw tulis ibu rumah tangga. Itu juga masih harus bikin surat pernyataan siapa yg membiayai biaya hidup gw kala...