Skip to main content

Romanticizing My Cooking

Bakso I have to admit that my love for cooking is growing. It's growing and I can't believe it myself. This feeling has been like this since probably two years ago. Before, cooking felt like a hard work that I had to fulfill. It still is, but the difference is I enjoy it now. So it does not feel like I am forcing myself.  Back then whenever I cooked, it's either wrong recipe or incorrect measurement. It never tasted right. So I gave up cooking just because I never found the right one. And then I started to feel that I wanna eat better. I don't want to just eat whatever, I want to know what goes into my body. If I prepare it myself, then I know it's good one.  I don't eat too much sugar, sometimes it is hard to buy one thing outside and has a lot of sugar in it. So cooking it myself will allow me to control the amount of sugar. So I found recipes and I tried to make them. As to my surprise, they taste right! Exactly how they should have tasted. That made me happy

Takut Ngomong Ah

  
Hujan Locale Ubud

Kemarin, kita lagi ngidam yang namanya fast food. Yang kadang belinya cuman setahun 2-3 kali aja. Demi memuaskan hasrat kita, akhirnya meluncurlah ke salah satu gerai fast food terkemuka di dunia ini yang tak akan kusebut merk nya. Srettt Malang macet shay... cuman sekilometer aja butuh waktu 15 menit. Mau jalan juga kemaren ujan. Yawes naksi aja.

Nah sampailah kita disana. Gw kirain si bojo mau ngomong bahasa Indonesia ya secara dia harus latihan ngobrol trus pake bahasa Indonesia but.... nope. Doi kan rada cerewet ya, dia maunya saus yang mirip kek yang dijual di Ams sana. Mana ada!

Kemudian dia bertanya kepada mbaknya, "What kind of sauce you have here?"

Tak kusangka, pertanyaan sesederhana itu bikin mbaknya kelabakan. Reaksi pertama adalah senyum-senyum gajelas, deg deg, kemudian manggil temennya yang bisa bahasa Inggris. Eike udah laper bok, langsung aja gw terjemahin. Mungkin sih agak ga sopan (karena gw kalo laper tuh bukan gw).

Abis itu gw mikir, pertanyaan semudah sesimpel itu dalam bahasa Inggris aja lulusan yang gw gatau lulusan apa dia, tapi yang pasti dia udah lulus SMA/SMK tho? Yang udah belajar bahasa Inggris mungkin sedari kelas 4 SD tapi ternyata dapet pertanyaan semacem itu udah keder.

Gw bukan jelek2in ya, ini pertanyaan cuman "Lu punya saus apa aja cin?" dia ga bisa ngerti. Apalagi kalo dikasih pertanyaan "What kind of impact that possibly happen from the summit in Singapore between Donald Trump and Kim Jong Un?" Apa nggak mati berdiri dia?

Meskipun Indonesia termasuk dini dalam memasukkan pelajaran Bahasa Inggris ke kurikulum pendidikan negeri ini, faktanya, cuman berapa persen siswa lulus SMA yang bisa ngobrol pake Bahasa Inggris? Jangankan bisa, yang berani ngomong aja deh, berapa orang?

Banyak temen gw yang pinter banget soal gramatika bahasa Inggris tapi nol soal ngobrol. Mereka pinter soal teori tapi takuttt banget kalo disuruh praktek. Gw jujur aja, gramar gw jelek banget. Ancur lah bisa dibilang gitu. Tapi gw sebodo amat ya, kenapa gw brani ngomong?? Gw kaget lah pas tau tulisan temen gw pake bahasa inggris yang keren banget tapi nggak pernah gw denger mereka ngomong bahasa Inggris...???

Gw inget banget dulu pelajaran Bahasa Inggris gw ngerasa agak pinteran pas SMP dan bisa berani ngomong gara-gara guru gw pas SMP bilang 'Lu gratul-gratul ga masalah, mereka pasti paham lu ngomong apa. yang penting lu brani. Salah urusan mburi". Iye bener juga kan. Sejak saat itu gw yang super pemalu ini jadi lebih berani ngomong (tapi gw males ngomong kalo pas dikerumunan orang cerewet. Kalah cuy!).

Gw doyan banget kan ya ngeritik pendidikan negeri ini wkwkkw. Kali aja ada pengajar nyasar ke blog gw dan mikir hal yang sama kek gw trus akhirnya mereka ubah cara ngajar mereka dududuudduuu.

Jadi menurut gw sih, cara ngajar kebanyakan guru disini lebih di dikte. Di ajarin biar apal segala macem teori tapi pas suruh ngomong atau mengungkapkan pendapat langsung diem. Nyatanya, hal ini nggak cuman buat bahasa Inggris aja. Gampangnya, coba masuk kelas, pelajaran apapun dehh, ntar pas gurunya nanya "ADA YANG DITANYAKAN???" maka seketika kelas akan senyap laksana kuburan!

Iya nggak?? IYALAH! Gw juga pernah sekolah kali

Tapi emang bener, gw pun ngerasa kalo gw dulu tuh jarang banget ngungkapin pendapat. Gw milih diem daripada salah ntar di bully satu sekolahan cuyy. Jadilah kebawa sampe beberapa waktu sampe pada akhirnya gw sadar kalo gw diem mulu sih lu jadi anggep gw sependapat kek lu dong. Oke gw speak up deh ya. Kita akhiri kebisuan ini.

Jadilah gw lebih brani ngomong sekarang .... yang kadang ujung-ujungnya bikin orang mikir "Lu berubah ya sekarang" Mungkin lebih tepatnya gw udah bangun oi. Yang kemaren-kemaren iya iya in omongan lu tuh gw males debat wkwkkw.

Wis wis, intinya, kalo kita nggak berani ngomong, ya nggak bakal maju. Sik tapi kalo ngomong juga jangan asal jeplak ya. Kudu di filter dulu, apalagi berita hoax. Tapi kalo latihan ngomong bahasa Inggris mah hajarrr!!!! Salah salah ntar juga lu sadar betapa begonya lu dulu pas belajar wkwkwkkw

Comments

Popular posts from this blog

Romanticizing My Cooking

Bakso I have to admit that my love for cooking is growing. It's growing and I can't believe it myself. This feeling has been like this since probably two years ago. Before, cooking felt like a hard work that I had to fulfill. It still is, but the difference is I enjoy it now. So it does not feel like I am forcing myself.  Back then whenever I cooked, it's either wrong recipe or incorrect measurement. It never tasted right. So I gave up cooking just because I never found the right one. And then I started to feel that I wanna eat better. I don't want to just eat whatever, I want to know what goes into my body. If I prepare it myself, then I know it's good one.  I don't eat too much sugar, sometimes it is hard to buy one thing outside and has a lot of sugar in it. So cooking it myself will allow me to control the amount of sugar. So I found recipes and I tried to make them. As to my surprise, they taste right! Exactly how they should have tasted. That made me happy

Mengenal Nyai, Eyang Buyut Orang Indo Kebanyakan

  Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya tentang darah campuran Eropa, saya pernah janji nulis tentang orang Indo dan Nyai, nenek buyut dari para Indo kebanyakan. Sekarang kita liat definisi dari Indo sendiri. Jadi Indo (Indo-Europeaan atau Eropa Hindia) adalah para keturunan yang hidup di Hindia Belanda (Indonesia) atau di Eropa yang merupakan keturunan dari orang Indonesia dengan orang Eropa (Kebanyakan Belanda, Jerman, Prancis, Belgia). Itulah kenapa saya agak risih mendengar orang menyebut Indonesia dengan singkatan Indo. Karena kedua hal itu beda definisi dan arti. Sekarang apa itu Nyai? Apa definisi dari Nyai? Nyai adalah seorang perempuan pribumi (bisa jadi orang Indonesia asli), Tionghoa dan Jepang yang hidup bersama lelaki Eropa di masa Hindia Belanda. Hidup bersama atau samenleven yang artinya kumpul kebo, tidak menikah. Fungsinya nyai itu apa? Fungsinya diatas seorang baboe dan dibawah seorang istri, tapi wajib melakukan kewajiban seorang baboe dan istri. Karena mem

[Piknik] Prambanan lagi

Salah satu pesona Jawa Tengah adalah Candi Prambanan. Saya sudah 3 kali berkunjung ke situs warisan dunia ini. Candi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan jogja ini selalu menimbulkan kesan mistis bagi saya. Terletak tak jauh dari jalan raya, sehingga mengunjunginya pun sangat mudah. Berbeda dengan Candi Borobudur yang letaknya sangat jauh dari jalan raya besar.  Ok, menurut saya ada 3 cara menuju candi ini. Menggunakan bus transjogja, taksi, dan kendaraan pribadi. Bagi yang menggunakan transjogja, saya pernah menggunakannya berangkat dari daerah kampus UNY, daerah Depok Sleman. 1 kali transit, 2 kali berganti bus. Dengan harga transjogja yang kala itu, 2014, seharga 3500 rupiah. Tapi sampai saat ini masih sama harganya, menurut info dari teman. Lokasi shelter bis berada agak jauh dari pintu masuk lokasi candi, mungkin kira-kira 500meter sampai 1kilometer. Kalau jalan, menghabiskan waktu sekitar 15-20menit. Bisa juga naik becak untuk opsi yang lain. Lagi-lagi, jangan lupa men