Skip to main content

Tulisan Disalin Jutaan Kali

Sharjah - UAE 2020 Minggu lalu gw coba google nama gw yang gw pake buat nulis. Gw tau lah konsekuensinya mengunggah segala hal ke segala bentuk platform online resikonya apa. Wong foto gw aja dicuri dijadiin ilustrasi portal online, yg bukan gw pelakunya tapi muka gw disensor seolah gw pelakunya 😟 Nah yang gw temuin kemarin kebanyakan adalah tulisan gw dari travelingyuk.com yang disalin media-media lain untuk numpang promosi jualan mereka.  Nggak cuma diambil segaris dua garis sih, tapi bener-bener disalin dari atas sampai bawah. Memang betul mereka tetep nyantumin nama gw disana, berikut dengan sumbernya di travelingyuk . Semacem mereka ambil artikel dari website yang udah terkenal daripada punya  content writer  sendiri .  Tapi kok ya rasanya zonk ya. Gw nulis buat travelingyuk sebagai kontributor lepas, yang dibayar per tulisan. Kebayang nggak sih tulisan gw disalin beberapa kali ke media yang beda-beda, bisa kaya dong gw kalo dibayar 😆 ada pijat plus plus wasebu cilandak guys

Investasi waktu


Terlahir sebagai cucu pertama bagi kakek nenekku (orangtua dari ibu). Kakek nenekku yang memang dipanggil papi dan mami sangat memanjakanku sebagai cucu kesayangan dan tinggal bersamaku. Aku sangat akrab dan dekat dengan mereke berdua. Dimanjakan mereka adalah hal biasa meskipun aku tidak terlalu manja sebagai cucu. Lebih sering membantah semua perkataan mereka karena merasa apapun yang kulakukan, meskipun salah akan tetap didukung dan dicintai mereka. Setidaknya mereka tidak akan menyalahkanku. Mungkin di sisi itulah aku manja dan merasa memanfaatkan kasih sayang mereka yang berlebih.
Ketika aku kelas 1 SMA, papi sakit parah hingga harus opname beberapa minggu di rumah sakit. Setelah sembuh pun papi tidak segera pulang kerumah karena harus menjalani masa penyembuhan dirumah tante yang kebetulan bekerja sebagai tenaga medis.

Setelah beberapa saat sembuh, akhirnya papi pulang kerumah. Malam hari tanggal 1 Januari 2007. Tapi malam tahun baru itupun aku tidak bisa menikmati hari libur karena disibukkan dengan tugas-tugas sekolah yang kala itu sangat menumpuk. Aku hanya menyapa papi sewajarnya dan kemudian melanjutkan tugasku yang menumpuk. Saat itu aku berpikir  “Ah, masih bisa ketemu papi besok. Besok aja deh ketemu papi”. Aku hanya sibuk memikirkan tugasku di lantai 1, sedangkan semua orang menyambut papiku dirumah (papi dan mami tinggal dilantai 2).

Papa dan mama mendatangiku dan mengatakan bahwa papi ingin bertemu denganku. Aku disuruh keatas (ke lantai 2), untuk menemui papiku. Karena papiku sangat merindukanku. Aku hanya menjawab, “Nanti aja ma, kalau tugasku sudah selesai, nanti aku ke papi”. Bukan hanya mama dan papa, mamipun mengatakan hal yang sama padaku berulang-ulang, hingga aku merasa bahwa semua orang sangat menggangguku dengan permintaan itu. Hingga mami mengatakan kepadaku, “Papi cuma pengen ketemu kamu. Papi kangen sama kamu. Masa sih gak bisa ninggalin tugasmu sebentar aja? 5 menit juga cukup”. Aku bahkan merasa agak jengkel kepada mereka semua. Aku masih tetap mengerjakan tugasku tanpa mempedulikan semua orang.
Hari sabtu, 6 Januari 2007, aku sekolah seperti biasa. Bersenda gurau seperti biasa dengan teman-teman, bahkan melebihi biasanya. Tak bisa sedikitpun menahan tawa yang sudah melewati batas. Karena berada didalam kelas, telepon genggam aku matikan sehingga tidak mengetahui kalau mama menghubungiku berkali-kali. Hingga seorang petugas TU sekolah memanggilku dan mengatakan bahwa ada saudaraku yang menjemputku. Aku hanya bertanya-tanya mengapa. Tapi saudaraku tidak menjawabku dan hanya mengajakku pulang. Dalam perjalanan, aku menyalakan HP ternyata banyak sms mama yang mengatakan bahwa papi kritis.

Aku tidak ingin menduga-duga apa yang terjadi.

Sesampainya dirumah, aku hanya bisa melihat papiku terbujur kaku. Seseorang yang beberapa hari yang lalu pulang kerumah dengan wajah dan tubuh yang segar bugar, tapi 5 hari kemudian terbujur kaku didepanku tanpa aku bisa memenuhi satu permintaan terakhirnya. Permintaan kecil darinya. Yang bisa kulakukan saat itu adalah menangis dan menyesal, tidak sanggup memenuhi permintaan terakhirnya karena egoku. Karena berpikir bahwa masih ada hari esok untuk menemuinya. Karena kesombongan seorang manusia terhadap kuasa Tuhannya.

Sampai saat inipun masih ada perasaan bersalah ketika mengingat hal tersebut. Yah, mungkin hal itu akan selalu jadi penyesalan terbesarku sepanjang hidupku.

Tapi aku tersadar akan sesuatu, aku harus terus memperbaiki diri agar bisa membanggakan bagi keluargaku. Setidaknya untuk mama, papa, mami, papi, dan kedua adikku. Sejak saat itu aku berjanji untuk selalu ada untuk keluargaku apapun alasannya. Meskipun itu adalah permintaan paling konyol sekalipun. Aku berjanji untuk mulai melakukan banyak hal yang bisa membuat keluargaku bangga. Hingga akhirnya aku bisa lulus kuliah dengan susah payah dan mendapatkan pekerjaan pertamaku. Akupun mendapatkan kesempatan untuk menulis buku dan menerbitkannya. Meskipun bukan buku best seller yang dibayar dengan harga yang tinggi namun bisa membuat senyum keluargaku mengembang dan bangga karena pencapaian kecilku adalah bayaran yang lebih dari cukup untukku.

Beberapa bulan lalu mami sakit parah hingga masuk ICU. Ketakutanku kembali. Namun karena pengobatan yang serius, kondisi mamiku mulai berangsur membaik. Namun masih belum bisa keluar dari ruang ICU. Masih harus menunggu hingga tekanan darahnya normal. Hingga pada suatu ketika, seorang teman baik memberikan kabar bahwa ada tawaran untuk bekerja di salah satu perusahaan besar disini. Akupun memberitahukan berita tersebut kepada mama dan mami diruang ICU dan membuat mereka senang dan  sangat berharap aku diterima diperusahaan tersebut. Aku berusaha untuk mendapatkan pekerjaan itu demi mereka. Setelah mendapat kabar tersebut, keesokan harinya kondisi mami normal dan boleh meninggalkan ruang ICU, bahkan keluar dari rumah sakit pada keesokan lusa.

Akhirnya aku mendapatkan pekerjaan itu dengan lancar, dan membuat kondisi mami makin membaik hingga bisa beraktifitas seperti biasanya.
Karena kehilangan papi yang sangat kucintai banyak membuatku belajar betapa keluarga sangatlah penting melebihi apapun. Kemanapun kita pergi, hanya kepada keluargalah, kepada orang yang kita cintai kita akan pulang. Investasikan sedikit waktu untuk orang yang kau cintai, sedikit saja. Barangkali itu yang menjadi oase di kerasnya kehidupan ini.


--

Comments

Popular posts from this blog

Ujian hari senin

Kejadian ini terjadi tepat senin minggu lalu. Baru kali itu aku merasa 'WOW.. ini senin yeay'. Karena biasanya 'haduhh udah senen lagi'. Kebayang kan kalo seneng begitu dihari senen menyambut pagi dan hari itu rasanya langka banget. Otomatis pengennya hari itu berlangsung indah. Jam setengah 9 pagi, seperti biasa ke pantry ambil minum bareng sama temen sebangku. Dia bikin teh, aku nyuci botol sekalian ngisi dong. Seperti biasa juga, kadang aku males sih nyuci botol dengan ritual lengkapnya, akhirnya cuman bilas pake air panas. Ya mungkin nggak sampe 50 ml juga. Dikit banget deh. Temen juga selalu bersihin gitu gelasnya pake air panas. Pic source is here Eh lakok lakok... si bapak pantry yang serem itu tiba-tiba bilang 'Gak bisa ya gak nyuci botol pake air panas? Tiap sore itu banyak komplain gara-gara airnya abis'. Yakaliii air abis tinggal isi aja, ibu yang dulu aja nggak pernah ada komplain. Ya aku bilang lah ini cuman dikit, lagian yang ngelakuin ini

Jumat ceria

Hari ini memang bukan hari jumat, tapi cuman mau bilang aja sih kalo hari yang paling aku tunggu-tunggu itu hari jumat. Why?   Karena jumat itu selalu ceria, kalopun ada meeting besar pasti di hari jumat dan banyak cemilan, orang-orang pada berangkat sholat jumat, yang nasrani juga mengikuti misa di kantor, bisa pake baju bebas dan bebas berekspresi sepuas-puasnya, dan..... bisa video call sepuasnyaaaaaa kapanpun karena dia libur kerja 😍😍 gambarnya lucu 😁  taken from internet

[Book] Dunia Cecilia

'apakah kalian membicarakan hal semacam itu di surga?' 'tapi kami berusaha tidak membicarakannya dekat-dekat Tuhan. ia sangat sensitif terhadap kritik' Yap, sepenggal dialog antara Cecilia dan malaikat Ariel. Saya mengenal Jostein Gaarder sejak kuliah. Ehhhh 'mengenal' dalam artian kenal bukunya ya, kalo bisa kenal pribadi mah bisa seneng jingkrak-jingkrak hehehe. Jadi karena teman saya mendapat tugas kuliah membaca satu novel filsafat berjudul Dunia Sophie, saya jadi sedikit mengetahui si bapak Gaarder ini. Enak ya tugasnya anak sastra baca novel, tugas anak matematika ya baca sih, tapi pembuktian kalkulus -_- Dunia Cecilia ini buku pertama Jostein Gaarder yang saya baca, karena buku Dunia Shopie sangatlah berat berdasar review teman saya. Saya sih nggak perlu baca buku itu karena teman saya sudah benar-benar mahir bercerita. Jadilah saya sudah paham bener cerita Dunia Sophie tanpa membacanya. Novel ini atas rekomendasi teman saya, dia bilang kala