Skip to main content

The Reward of Teaching

Buku belajar Bahasa Indonesia dalam berbagai bahasa. I've become a teacher since semester 9. That being said, my teaching journey started in 2013. Took hiatus for 2 something years then I came back to these exam sheets, students, books, and social interactions. Didn't even want to become one but I fell in love right after I jumped in.  I guess I need to ask to apologize to my dad. I was mad at him a long time ago because he asked me to be one lol. Well, maybe I just didn't like the idea of being a teacher in a class where your students don't even care about you telling stuff in front of the class. That actually made me realize that I prefer to teach whoever wants to learn. Although sometimes I just need to teach without knowing what's their reasons to learn, and that is also fine. I do what I had to do. That is why I hate grading because I don't mind giving them a perfect score but what's the point if they know nothing after the course ended? I never teach a

Ah demo buruh lagi

Hai… lagi-lagi menyoal pendidikan ya. Lagi demo buruh dimana-mana, minta UMK dinaikin. Udah setuju dinaikkan, tapi kebijakan yang dihasilkan dinilai merugikan para buruh. Pemerintah dipandang lebih mementingkan dan memihak pengusaha. Katanya sih begitu. Tapi kurang paham juga.
Pada beberapa kasus ada pengusaha yang keberatan menaikkan upah buruh, namun ada juga yang menyanggupi menaikkan upah buruh dengan syarat dan ketentuan. Syaratnya apa? “Oke, gaji elu gue naikin tapi sebagian dari elo gue PHK”. Nahh… gimana ini ? bagaimana jika menghadapi hal seperti ini? Dengan diberhentikannya sebagian buruh, akan semakin menambah beban kerja para buruh lainnya. Walaupun gaji naik namun beban kerja lebih tinggi. Itu kalau menurutku adalah “gak ada bedanya gaji naik ataupun nggak”.

Memang beberapa pengusaha merupakan usaha skala kecil menengah, bukan kelas tinggi. Karena kalau kelas tinggi seperti perusahaan multinasional atau bahkan internasional, mereka akan membayar pegawainya diatas garis UMK. Bisa dibilang cukup, atau mungkin lebih ya. Tapi entah apa yang dirasakan buruh diluar sana. Ditengah kebutuhan hidup yang makin meningkat, hal itu bahkan tidak tercover oleh gaji bulanan yang mereka terima. Yah, bagaimana pintarnya cari tambahan uang diluar jadinya.
Hmm.. menyorot soal ini, apa yang harus diperbaiki? Saya bukan ahli dalam hal ini, tapi saya memiliki pandangan tentang hal ini. Sebagai orang yang memiliki concern terhadap pendidikan Indonesia, melihat hal ini, yang bisa saya simpulkan pertama kali adalah “Nah, ini lho pentingnya pendidikan. Itulah kenapa, pendidikan itu penting ah udah dibilangin kok”. Kenapa penting? Ahh tidaklah perlu disebutkan pentingnya apa, semua harusnya sudah tau.

Jadi gini, dari sudut pandang saya, buruh itu kebanyakan (maaf) orang yang tidak berpendidikan tinggi. Mereka maksimal lulusan SMA. Dan sekarang kita lihat dari sisi SMA, siswa SMA itu didesain untuk kuliah. Sedangkan jika lulus, tentunya hanya akan menjadi pekerja kasar. Beda lagi dengan siswa SMK, mereka memiliki skill lebih dari siswa SMA. Didunia kerja, lulusan SMA harus mengejar lebih keras agar minimal sebanding dengan lulusan SMK yang memiliki skill lebih dibidang masing-masing. Saya tidak mengatakan bahwa kita semua harus kuliah, no. pendidikan bisa didapatkan dari luar bangku kuliah jika kita memang serius mencari ilmu. Tak sedikit juga lulusan sarjana tapi ilmunya kalah dengan lulusan SMA karena memang tidak niat dalam mencari ilmu. Hanya mencari ijazah.

Perlu saya garis bawahi disini ya, berpendidikan tinggi bukan berarti menuntut kalian untuk kuliah, namun mencari ilmu yang lebih dari sekedar ilmu yang ada di sekolah. Memang ada kelebihan tertentu jika mengenyam pendidikan dibangku kuliah. Namun semua memiliki satu esensi yang sama yaitu mencari ilmu, pengalaman dan mengembangkan diri.
Berhubungan dengan pekerjaan tadi, seorang yang memiliki skill lebih akan “dicari” oleh pekerjaan. Bukan berarti kita sombong, tapi kenyataan berkata seperti itu. Ibarat mutiara, biar kata ditengah selokan kotor juga pasti dicari orang. Gitu la ya ibaratnya.

Jadi, bekali diri dengan skill dan pendidikan yang mumpuni. Jika kita memiliki skill yang bagus, yang mumpuni, bisa jadi tenaga kerja kita tidak akan menjadi pekerja kasar atau buruh kasar. Mereka akan menjadi pekerja dengan skill yang mumpuni. Lalu timbul pertanyaan, trus siapa yang menjadi pegawai kasar?? Robot! Atau pekerja dari negara lain?? Why not? Iya kan?? Kenapa nggak?? Sudah cukup bangsa kita disebut dengan bangsa babu. STOP! Indonesia bukan negara babu! Sudah saatnya kita yang impor tenaga kerja, bukan kita yang ekspor tenaga kerja kasar.

Sudah saatnya kita memperhatikan pendidikan. Stop berkata “buat apa sekolah tinggi-tinggi kalo ntar juga kerjanya Cuman didapur”, atau “halah, buat apa sampe sarjana kalo gaji aja kalah sama lulusan SMA”. Ahh! Sudah saatnya kita merubah mindset. Dan jangan salah ya, nasib suatu bangsa ada ditangan para wanitanya. Kok bisa? Dengan wanita yang berpendidikan tinggi, memiliki skill mumpuni, minimal mereka bisa mendidik anak-anaknya sebagai penerus bangsa dengan baik. Tujuannya? Untuk memajukan bangsa pastinya. Karena itu wanita, kalian harus berpendidikan tinggi untuk ikut memajukan bangsa.

Gampang gak? Hmm belum tentu, karena dukungan dari semua fasilitator seperti pemerintah, pendidik dan semua lapisan masyarakta. Tumbuhkan minat untuk belajar lebih dong. Jangan mau disebut2 sebagai bangsa babu!
So, sudah saatnya berubah kawan :)

*just another thought about education life

Comments

Popular posts from this blog

The Reward of Teaching

Buku belajar Bahasa Indonesia dalam berbagai bahasa. I've become a teacher since semester 9. That being said, my teaching journey started in 2013. Took hiatus for 2 something years then I came back to these exam sheets, students, books, and social interactions. Didn't even want to become one but I fell in love right after I jumped in.  I guess I need to ask to apologize to my dad. I was mad at him a long time ago because he asked me to be one lol. Well, maybe I just didn't like the idea of being a teacher in a class where your students don't even care about you telling stuff in front of the class. That actually made me realize that I prefer to teach whoever wants to learn. Although sometimes I just need to teach without knowing what's their reasons to learn, and that is also fine. I do what I had to do. That is why I hate grading because I don't mind giving them a perfect score but what's the point if they know nothing after the course ended? I never teach a

Dapet Visa UAE (Dubai) Gampang Banget

Dubai creek Beberapa waktu yang lalu, kita pusing berat karena H dapet libur kali ini cuman 10 hari. 10 hari dari yang biasanya 14 hari. Akhrinya diputuskan untuk tetap mengambil libur tapi nggak ke Indonesia.  Ternyata, beberapa hari kemudian, dia bilang, kalau liburnya malah jadi 7-8 hari aja. Mau ga mau saya yang harus kesana. Maksudnya terbang mendekatinya. Udah milih-milih negara mana yang harganya rasional, yang ga banyak makan waktu buat terbangnya H, dan tentunya ga ribet urus visa buat pemegang paspor hijau yang ga sesakti paspornya H.  Btw warna paspor Indonesia jadi biru ya sekarang?? Pilihan jatuh ke Dubai. Pemegang paspor hijau harus bikin visa, ya pusing lagi deh cara bikin visa Dubai nih gimana. Apa iya sesusah bikin visa schengen, visa US, visa lainnya. dari persyaratan sih standar ya, termasuk  record  bank account selama 3 bulan. Emang nggak pernah bikin visa Dubai sebelumnya ya, apalagi H yang paspornya super sakti kemana-mana (hampir) ga perlu visa, dia ga pernah ad

Catatan Kuliah (6) : Masuk bareng, keluar bareng (?)

Sanur Sebagai mahasiswa yang masih belum mengenal kerasnya kehidupan kala itu, kita berikrar "Kita masuk bareng kita juga harus keluar bareng." Naif? Iya tentu. Maklumin aja namanya juga mahasiswa baru kan. Maunya yang  flawless  terus. Tapi apa salahnya sih berdoa baik kali aja malaikat mengamini lol.  Ternyata, kenyataannya, tentu saja tidak. Iya kalau semua  setting  nya  default  semua mahasiswa tidak ada kesulitan yang berarti, dosen nggak resek, mahasiswa juga nggak resek, data nggak resek, pasti lulus bareng kita. Kehidupan perkuliahan keras di akhir hahaha Gw dari awal masuk kampus ngerasa kalo gw nggak akan lulus tepat waktu. Aneh ya, harusnya orang mikir lulus tepat waktu tapi gw udah ada feeling. Dan gw berusaha keras buat nggak terlalu jatuh dalam angka. Ya maksudnyaaaa karena gw anak minor komputasi jadi gw udah bisa tebak lah data yang gw pake pasti agak makan waktu. Jadi  range  kelulusan adalah 7 semester, 8 semester, 9 semester, diatas 9 semester. Temen gw ya