Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Ah demo buruh lagi

Hai… lagi-lagi menyoal pendidikan ya. Lagi demo buruh dimana-mana, minta UMK dinaikin. Udah setuju dinaikkan, tapi kebijakan yang dihasilkan dinilai merugikan para buruh. Pemerintah dipandang lebih mementingkan dan memihak pengusaha. Katanya sih begitu. Tapi kurang paham juga.
Pada beberapa kasus ada pengusaha yang keberatan menaikkan upah buruh, namun ada juga yang menyanggupi menaikkan upah buruh dengan syarat dan ketentuan. Syaratnya apa? “Oke, gaji elu gue naikin tapi sebagian dari elo gue PHK”. Nahh… gimana ini ? bagaimana jika menghadapi hal seperti ini? Dengan diberhentikannya sebagian buruh, akan semakin menambah beban kerja para buruh lainnya. Walaupun gaji naik namun beban kerja lebih tinggi. Itu kalau menurutku adalah “gak ada bedanya gaji naik ataupun nggak”.

Memang beberapa pengusaha merupakan usaha skala kecil menengah, bukan kelas tinggi. Karena kalau kelas tinggi seperti perusahaan multinasional atau bahkan internasional, mereka akan membayar pegawainya diatas garis UMK. Bisa dibilang cukup, atau mungkin lebih ya. Tapi entah apa yang dirasakan buruh diluar sana. Ditengah kebutuhan hidup yang makin meningkat, hal itu bahkan tidak tercover oleh gaji bulanan yang mereka terima. Yah, bagaimana pintarnya cari tambahan uang diluar jadinya.
Hmm.. menyorot soal ini, apa yang harus diperbaiki? Saya bukan ahli dalam hal ini, tapi saya memiliki pandangan tentang hal ini. Sebagai orang yang memiliki concern terhadap pendidikan Indonesia, melihat hal ini, yang bisa saya simpulkan pertama kali adalah “Nah, ini lho pentingnya pendidikan. Itulah kenapa, pendidikan itu penting ah udah dibilangin kok”. Kenapa penting? Ahh tidaklah perlu disebutkan pentingnya apa, semua harusnya sudah tau.

Jadi gini, dari sudut pandang saya, buruh itu kebanyakan (maaf) orang yang tidak berpendidikan tinggi. Mereka maksimal lulusan SMA. Dan sekarang kita lihat dari sisi SMA, siswa SMA itu didesain untuk kuliah. Sedangkan jika lulus, tentunya hanya akan menjadi pekerja kasar. Beda lagi dengan siswa SMK, mereka memiliki skill lebih dari siswa SMA. Didunia kerja, lulusan SMA harus mengejar lebih keras agar minimal sebanding dengan lulusan SMK yang memiliki skill lebih dibidang masing-masing. Saya tidak mengatakan bahwa kita semua harus kuliah, no. pendidikan bisa didapatkan dari luar bangku kuliah jika kita memang serius mencari ilmu. Tak sedikit juga lulusan sarjana tapi ilmunya kalah dengan lulusan SMA karena memang tidak niat dalam mencari ilmu. Hanya mencari ijazah.

Perlu saya garis bawahi disini ya, berpendidikan tinggi bukan berarti menuntut kalian untuk kuliah, namun mencari ilmu yang lebih dari sekedar ilmu yang ada di sekolah. Memang ada kelebihan tertentu jika mengenyam pendidikan dibangku kuliah. Namun semua memiliki satu esensi yang sama yaitu mencari ilmu, pengalaman dan mengembangkan diri.
Berhubungan dengan pekerjaan tadi, seorang yang memiliki skill lebih akan “dicari” oleh pekerjaan. Bukan berarti kita sombong, tapi kenyataan berkata seperti itu. Ibarat mutiara, biar kata ditengah selokan kotor juga pasti dicari orang. Gitu la ya ibaratnya.

Jadi, bekali diri dengan skill dan pendidikan yang mumpuni. Jika kita memiliki skill yang bagus, yang mumpuni, bisa jadi tenaga kerja kita tidak akan menjadi pekerja kasar atau buruh kasar. Mereka akan menjadi pekerja dengan skill yang mumpuni. Lalu timbul pertanyaan, trus siapa yang menjadi pegawai kasar?? Robot! Atau pekerja dari negara lain?? Why not? Iya kan?? Kenapa nggak?? Sudah cukup bangsa kita disebut dengan bangsa babu. STOP! Indonesia bukan negara babu! Sudah saatnya kita yang impor tenaga kerja, bukan kita yang ekspor tenaga kerja kasar.

Sudah saatnya kita memperhatikan pendidikan. Stop berkata “buat apa sekolah tinggi-tinggi kalo ntar juga kerjanya Cuman didapur”, atau “halah, buat apa sampe sarjana kalo gaji aja kalah sama lulusan SMA”. Ahh! Sudah saatnya kita merubah mindset. Dan jangan salah ya, nasib suatu bangsa ada ditangan para wanitanya. Kok bisa? Dengan wanita yang berpendidikan tinggi, memiliki skill mumpuni, minimal mereka bisa mendidik anak-anaknya sebagai penerus bangsa dengan baik. Tujuannya? Untuk memajukan bangsa pastinya. Karena itu wanita, kalian harus berpendidikan tinggi untuk ikut memajukan bangsa.

Gampang gak? Hmm belum tentu, karena dukungan dari semua fasilitator seperti pemerintah, pendidik dan semua lapisan masyarakta. Tumbuhkan minat untuk belajar lebih dong. Jangan mau disebut2 sebagai bangsa babu!
So, sudah saatnya berubah kawan :)

*just another thought about education life

Comments

Popular posts from this blog

Getting my Hands on Film Camera

In attempts to slow_myself_down_away_from_digital_life, I am getting my hands on film camera. Yes, the kind of camera where you need to put the film roll in and then start snapping. If you are lucky, the pictures will turn up good but if not then we let the fate decide. This is not my first rodeo on using film camera, but it definitely is the first ever to buy the film and develop it using my own money. It is not cheap, which I know.  What can I say, it's an expensive hobby.  I used my first film roll to take photos of my favorite people. So it has more human than random pictures. It was on family event. After the last shot, I wanted to develop it before I flew to Bali but they had no lab. Luckily we have the lab in Bali. I developed and scanned the film in Ojisanfilmlab Bali. They're just a google away. They sell the roll as well. I had to tell the TSA to do the hand checking rather putting it through the scanner. They understood.  Cimol hides himself in his favorite sp...

Gampangnya Apply e-visa Rusia

Red square Jadi, WNI diberi kemudahan untuk ke Rusia. Cukup dengan apply e-visa yang bisa didapatkan dalam hitungan hari saja. Meskipun sudah sering apply e-visa, tapi e-visa Rusia ini agak unik formulirnya. Jadi sebelum apply, gw baca gimana caranya di sini yang amat sangat runtut dan mudah dipahami. Sebelum isi formulir online, ada baiknya siapkan foto 3.5 x 4.5 dengan background putih dulu. Setelah itu jangan lupa untuk beli asuransi. Karena agak kepikiran, gw putuskan untuk beli asuransi dari perusahan yang ada di sana. Asuransi yang gw beli dari sini . Tadinya setelah beli kok nggak ada info apapun, bahkan bukti bayar pun nggak ada. Tapi petugasnya cukup tangkas setelah gw email, gw langsung dapat asuransinya. Nomer asuransi diperlukan untuk mengisi formulir, jadi harus beli asuransi sebelum apply visa.  Nah, bagi gw, ini formulir baru kali ini dapat pertanyaan yang unik-unik semacam apakah pernah pelatihan militer, wajib militer, pernah pegang / punya senjata, bahkan sampai ...

Setelah Schengen Visa Ditolak Jerman

Bentheim Gw tau Jerman tuh emang meticulous banget, tapi gw nggak sangka bakal se- meticulous itu. Kira-kira bulan Maret gw apply Schengen via Jerman. Kenapa via Jerman? Karena Belanda nggak ada slot heheheee. Rencana perginya bulan April kalau nggak salah waktu itu. Karena suami ada libur tapi cuma pendek banget, dan dia pengen banget pulang ke sana, yaudah lah coba aja. Dapet antrian, mana bayarnya 700ribu pula 😅 lalu pergilah gw submit semua dokumen gw.  Gw bukan yang pertama kali mengajukan Schengen, jadi gw udah "tau" harus submit apa aja. Karena sebagai orang yang menikah dengan warga EU, kami berhak untuk tidak menunjukkan buku tabungan (yg penting tabungan pasangan yang EU yg ditampilkan), dll. Dengan ina inu, eh ternyata diminta surat kerja lah, kalau freelancer harus kasih tau bukti kerjaan juga. Gw rasa ribet ya karena nggak formal kerjanya, jadi ya udah gw tulis ibu rumah tangga. Itu juga masih harus bikin surat pernyataan siapa yg membiayai biaya hidup gw kala...