Skip to main content

Praktisnya Menggunakan e-meterai

Sebagai pelaku kawin campur, meterai adalah hal kecil yang sering kali luput karena dikit-dikit tempel meterai untuk perihal pengajuan visa. Seringnya beli satu, dua taro dompet, eh nggak tau keselip di mana. Belum lagi kalau ternyata setelah dokumen dicetak - ditempel matere - lalu ditandatangani - kemudian discan, ini prosesnya kayak berulang banget dan bisa berkali-kali karena salah tanggal atau orang yang dituju atau dokumen udah keburu expired. Udah kecil, nggak murah, sering ilang pula wkwkwk.  e-meterai mulai diluncurkan tahun 2021. Gw belum pernah coba karena jujur masih bingung apa iya ini imigrasi nanti nerima e-meterai gw? Hingga hari ini, Januari 2023 gw harus kirim dokumen bermeterai untuk update alamat gw sebagai penjamin visa. Iya, nggak bisa via website langsung, harus kirim permohonan via email yang dilengkapi dokumen permohonan dg tanda tangan di atas meterai.  Hah hoh karena nggak ada printer di rumah, kalau ngeprint cuma perlu sebiji. Meterai udah ga ada juga. Akhir

Ah demo buruh lagi

Hai… lagi-lagi menyoal pendidikan ya. Lagi demo buruh dimana-mana, minta UMK dinaikin. Udah setuju dinaikkan, tapi kebijakan yang dihasilkan dinilai merugikan para buruh. Pemerintah dipandang lebih mementingkan dan memihak pengusaha. Katanya sih begitu. Tapi kurang paham juga.
Pada beberapa kasus ada pengusaha yang keberatan menaikkan upah buruh, namun ada juga yang menyanggupi menaikkan upah buruh dengan syarat dan ketentuan. Syaratnya apa? “Oke, gaji elu gue naikin tapi sebagian dari elo gue PHK”. Nahh… gimana ini ? bagaimana jika menghadapi hal seperti ini? Dengan diberhentikannya sebagian buruh, akan semakin menambah beban kerja para buruh lainnya. Walaupun gaji naik namun beban kerja lebih tinggi. Itu kalau menurutku adalah “gak ada bedanya gaji naik ataupun nggak”.

Memang beberapa pengusaha merupakan usaha skala kecil menengah, bukan kelas tinggi. Karena kalau kelas tinggi seperti perusahaan multinasional atau bahkan internasional, mereka akan membayar pegawainya diatas garis UMK. Bisa dibilang cukup, atau mungkin lebih ya. Tapi entah apa yang dirasakan buruh diluar sana. Ditengah kebutuhan hidup yang makin meningkat, hal itu bahkan tidak tercover oleh gaji bulanan yang mereka terima. Yah, bagaimana pintarnya cari tambahan uang diluar jadinya.
Hmm.. menyorot soal ini, apa yang harus diperbaiki? Saya bukan ahli dalam hal ini, tapi saya memiliki pandangan tentang hal ini. Sebagai orang yang memiliki concern terhadap pendidikan Indonesia, melihat hal ini, yang bisa saya simpulkan pertama kali adalah “Nah, ini lho pentingnya pendidikan. Itulah kenapa, pendidikan itu penting ah udah dibilangin kok”. Kenapa penting? Ahh tidaklah perlu disebutkan pentingnya apa, semua harusnya sudah tau.

Jadi gini, dari sudut pandang saya, buruh itu kebanyakan (maaf) orang yang tidak berpendidikan tinggi. Mereka maksimal lulusan SMA. Dan sekarang kita lihat dari sisi SMA, siswa SMA itu didesain untuk kuliah. Sedangkan jika lulus, tentunya hanya akan menjadi pekerja kasar. Beda lagi dengan siswa SMK, mereka memiliki skill lebih dari siswa SMA. Didunia kerja, lulusan SMA harus mengejar lebih keras agar minimal sebanding dengan lulusan SMK yang memiliki skill lebih dibidang masing-masing. Saya tidak mengatakan bahwa kita semua harus kuliah, no. pendidikan bisa didapatkan dari luar bangku kuliah jika kita memang serius mencari ilmu. Tak sedikit juga lulusan sarjana tapi ilmunya kalah dengan lulusan SMA karena memang tidak niat dalam mencari ilmu. Hanya mencari ijazah.

Perlu saya garis bawahi disini ya, berpendidikan tinggi bukan berarti menuntut kalian untuk kuliah, namun mencari ilmu yang lebih dari sekedar ilmu yang ada di sekolah. Memang ada kelebihan tertentu jika mengenyam pendidikan dibangku kuliah. Namun semua memiliki satu esensi yang sama yaitu mencari ilmu, pengalaman dan mengembangkan diri.
Berhubungan dengan pekerjaan tadi, seorang yang memiliki skill lebih akan “dicari” oleh pekerjaan. Bukan berarti kita sombong, tapi kenyataan berkata seperti itu. Ibarat mutiara, biar kata ditengah selokan kotor juga pasti dicari orang. Gitu la ya ibaratnya.

Jadi, bekali diri dengan skill dan pendidikan yang mumpuni. Jika kita memiliki skill yang bagus, yang mumpuni, bisa jadi tenaga kerja kita tidak akan menjadi pekerja kasar atau buruh kasar. Mereka akan menjadi pekerja dengan skill yang mumpuni. Lalu timbul pertanyaan, trus siapa yang menjadi pegawai kasar?? Robot! Atau pekerja dari negara lain?? Why not? Iya kan?? Kenapa nggak?? Sudah cukup bangsa kita disebut dengan bangsa babu. STOP! Indonesia bukan negara babu! Sudah saatnya kita yang impor tenaga kerja, bukan kita yang ekspor tenaga kerja kasar.

Sudah saatnya kita memperhatikan pendidikan. Stop berkata “buat apa sekolah tinggi-tinggi kalo ntar juga kerjanya Cuman didapur”, atau “halah, buat apa sampe sarjana kalo gaji aja kalah sama lulusan SMA”. Ahh! Sudah saatnya kita merubah mindset. Dan jangan salah ya, nasib suatu bangsa ada ditangan para wanitanya. Kok bisa? Dengan wanita yang berpendidikan tinggi, memiliki skill mumpuni, minimal mereka bisa mendidik anak-anaknya sebagai penerus bangsa dengan baik. Tujuannya? Untuk memajukan bangsa pastinya. Karena itu wanita, kalian harus berpendidikan tinggi untuk ikut memajukan bangsa.

Gampang gak? Hmm belum tentu, karena dukungan dari semua fasilitator seperti pemerintah, pendidik dan semua lapisan masyarakta. Tumbuhkan minat untuk belajar lebih dong. Jangan mau disebut2 sebagai bangsa babu!
So, sudah saatnya berubah kawan :)

*just another thought about education life

Comments

Popular posts from this blog

Praktisnya Menggunakan e-meterai

Sebagai pelaku kawin campur, meterai adalah hal kecil yang sering kali luput karena dikit-dikit tempel meterai untuk perihal pengajuan visa. Seringnya beli satu, dua taro dompet, eh nggak tau keselip di mana. Belum lagi kalau ternyata setelah dokumen dicetak - ditempel matere - lalu ditandatangani - kemudian discan, ini prosesnya kayak berulang banget dan bisa berkali-kali karena salah tanggal atau orang yang dituju atau dokumen udah keburu expired. Udah kecil, nggak murah, sering ilang pula wkwkwk.  e-meterai mulai diluncurkan tahun 2021. Gw belum pernah coba karena jujur masih bingung apa iya ini imigrasi nanti nerima e-meterai gw? Hingga hari ini, Januari 2023 gw harus kirim dokumen bermeterai untuk update alamat gw sebagai penjamin visa. Iya, nggak bisa via website langsung, harus kirim permohonan via email yang dilengkapi dokumen permohonan dg tanda tangan di atas meterai.  Hah hoh karena nggak ada printer di rumah, kalau ngeprint cuma perlu sebiji. Meterai udah ga ada juga. Akhir

Ujian hari senin

Kejadian ini terjadi tepat senin minggu lalu. Baru kali itu aku merasa 'WOW.. ini senin yeay'. Karena biasanya 'haduhh udah senen lagi'. Kebayang kan kalo seneng begitu dihari senen menyambut pagi dan hari itu rasanya langka banget. Otomatis pengennya hari itu berlangsung indah. Jam setengah 9 pagi, seperti biasa ke pantry ambil minum bareng sama temen sebangku. Dia bikin teh, aku nyuci botol sekalian ngisi dong. Seperti biasa juga, kadang aku males sih nyuci botol dengan ritual lengkapnya, akhirnya cuman bilas pake air panas. Ya mungkin nggak sampe 50 ml juga. Dikit banget deh. Temen juga selalu bersihin gitu gelasnya pake air panas. Pic source is here Eh lakok lakok... si bapak pantry yang serem itu tiba-tiba bilang 'Gak bisa ya gak nyuci botol pake air panas? Tiap sore itu banyak komplain gara-gara airnya abis'. Yakaliii air abis tinggal isi aja, ibu yang dulu aja nggak pernah ada komplain. Ya aku bilang lah ini cuman dikit, lagian yang ngelakuin ini

Dapet Visa UAE (Dubai) Gampang Banget

Dubai creek Beberapa waktu yang lalu, kita pusing berat karena H dapet libur kali ini cuman 10 hari. 10 hari dari yang biasanya 14 hari. Akhrinya diputuskan untuk tetap mengambil libur tapi nggak ke Indonesia.  Ternyata, beberapa hari kemudian, dia bilang, kalau liburnya malah jadi 7-8 hari aja. Mau ga mau saya yang harus kesana. Maksudnya terbang mendekatinya. Udah milih-milih negara mana yang harganya rasional, yang ga banyak makan waktu buat terbangnya H, dan tentunya ga ribet urus visa buat pemegang paspor hijau yang ga sesakti paspornya H.  Btw warna paspor Indonesia jadi biru ya sekarang?? Pilihan jatuh ke Dubai. Pemegang paspor hijau harus bikin visa, ya pusing lagi deh cara bikin visa Dubai nih gimana. Apa iya sesusah bikin visa schengen, visa US, visa lainnya. dari persyaratan sih standar ya, termasuk  record  bank account selama 3 bulan. Emang nggak pernah bikin visa Dubai sebelumnya ya, apalagi H yang paspornya super sakti kemana-mana (hampir) ga perlu visa, dia ga pernah ad