Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit. Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya. Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego. Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...
Sembari membuang kebosanan karena gw di rumah aja dan nggak berani beli makanan via online padahal gw udah kangen nasi kuning ambon, nasi campur bali, nasi sembarang kalir aku kangennn tapi yaaaa udah tahan dulu tahan!!!! Jadi tiba-tiba pagi ini gw dan Frontsummer lagi ngobrolin soal negara-negara di Eropa perihal social distancing ini. Karena di desa-desa kecil di Eropa sana kan jarak rumahnya udah kayak orang musuhan gitu kan. Jauuuuhh banget. Trus ada yang nyamber, "Iya gapapa jauh-jauhan ntar bisa buka warung pecel samping rumah." Nah... jadilah bahas makanan dan harganya di Eropa sana. Karena gw kemarin ke Geneve, masih kebayang banget ya tuhan mahalnya makanan di sana. Ini bukan gw bandingin konversi ke IDR lho ya. Ini bandingannya negara Eropa lainnya. Sarapannya orang Geneve mirip orang Prancis karena emang mepet Prancis dan mereka pun berbahasa Prancis. Bagi beberapa orang yang tinggal di sana bilang kalau Genf itu so France minded lol. Rata-rata cafe menyedi...