Skip to main content

Romanticizing My Cooking

Bakso I have to admit that my love for cooking is growing. It's growing and I can't believe it myself. This feeling has been like this since probably two years ago. Before, cooking felt like a hard work that I had to fulfill. It still is, but the difference is I enjoy it now. So it does not feel like I am forcing myself.  Back then whenever I cooked, it's either wrong recipe or incorrect measurement. It never tasted right. So I gave up cooking just because I never found the right one. And then I started to feel that I wanna eat better. I don't want to just eat whatever, I want to know what goes into my body. If I prepare it myself, then I know it's good one.  I don't eat too much sugar, sometimes it is hard to buy one thing outside and has a lot of sugar in it. So cooking it myself will allow me to control the amount of sugar. So I found recipes and I tried to make them. As to my surprise, they taste right! Exactly how they should have tasted. That made me happy

Tips Membeli Buku

Ada duitnya wkwkw!

Ya maksud gw, harga buku di Indonesia bisa dibilang nggak murah terutama buku yang berbahasa asli misalnya Bahasa Inggris. Buku cetakan versi asli biasanya harganya bisa 2 kali harga buku terjemahannya, atau dua-tiga kali harga e-book. Ini e-book yang original ya, bukan yang bajakan. Kayak semacem beli di kindle atau books-nya google itu. 

Kadang emang sering pengen beli fisik bukunya tapi kok harganya sampe 300ribu banget, sedangkan hasrat ingin membaca ini tinggi sekali. Nah, kalau skenario yang begini yang terjadi (dan paling sering), gw biasanya cek toko buku bekas dulu. Di Bali ada beberapa toko buku bekas yang reliable, meskipun koleksinya kita nggak akan tau ya karena ya random juga. Satu di Sanur, satu di Ubud. 

Ini karena kapan hari gw udah beli bukunya Madeline yang Song of Achilles di Periplus, 200ribuan. Lalu nemuin bekasnya dengan sampul yang gw mau, cuma 25ribu. Jadi gw udah beli yang baru, beberapa hari kemudian gw ke toko buku bekas dan nemu itu. Setengah nangis ya karena yaampun 1/10 harga asli banget! 

Buku yang kiri itu masing-masing gw beli 25ribuan. Meski loncat-loncat tapi lumayan gw udah punya 2 koleksi House of Olympus 😂

Sejak itu gw selalu cek toko buku bekas dulu sebelum beli yang baru. 

Nah toko buku bekas ini biasanya unik. Di Ubud ada toko buku bekas namanya Ganesha. Harganya emang rerata masih "cuma" setengah harga yang baru. Tapi, kalau beli di situ dan udah selesai baca, bisa dijual di situ lagi dengan harga setengahnya lagi. Jadi misal harga bekasnya 50 ribu, kita udah selesai baca kita jual lagi ke sana, kita bisa jual dg harga 25 ribu. Ini keren juga sih. Toko bukunya tetep dapet untung, kita juga kalo misal nggak mau bawa pulang bukunya masih bisa dapet setengah harga. Ibarat minjem buku dg harga 1/4 harga asli. Tapi ya tentunya itu tidak penting bagi gw karena gw selalu simpen buku gw 😁

Kalau emang lebih ingin baca di kindle atau di layar, harga kindle cenderung masih sama dengan yang asli. Nggak sebeda jauh dari harga playbooknya google. Dia punya harga yang bisa potong setengahnya (rata-rata). Paling juga beda harga kalau beda sampul aja. Karena desain juga bayar ya. Nah, opsi gw kalau gw nggak ada budget buat beli yang baru versi asli, nggak nemu bekasnya, atau gw lagi nggak di Indonesia sedangkan buku yang gw mau cetakan Indonesia aja, ya gw beli dari playbook. Sering juga dia kasih diskon 40ribu buat pembelian pertama, dg harga buku di atas 70ribu. Lumayan tho. 

Opsi lain kalau nggak mau beli, ya pinjem dari aplikasi kayak ipusnas gitu. Tapi biasanya buku-buku best seller tuh antrinyaa lama kali. Udah gitu juga kalau udah dapet antrian dibatasi waktu bacanya. Kurang cocok buat gw, tapi cocok kalau misal nggak pengen koleksi tapi pengen baca.

Nggak terlalu suka baca on screen, jadi cuma punya 5 koleksi. Yang Ugly Love di akun lain krn dapet diskonnya di sana haha

Sebisa mungkin gw nggak beli yang bajakan lagi. Karena gw tau menulis itu perjuangannya panjang, dapetnya juga cuma dikit. Sebisa mungkin gw selalu beli yang asli, ntah baru atau bekas yang penting asli. Tapi ada temen gw yang kasih perspektif "Ya kalau penulisnya masih idup sih gw pasti beli yang asli. Kalau penulisnya udah meninggal mah ngapain kita memperkaya publisher" 😂 Gw kaget dengernya tapi juga agak setuju lol! 

Tapi gw tetep berpegang teguh pada originalitas sebuah buku. Kalau nggak mampu beli sekarang, ya nabung dulu buat dibeli di masa depan. 

Comments

  1. Beli buku di toko bekas emang jadi pilihan utama buat saya juga mbak 😁 btw, saya hampir selalu ngincer buku bekasnya dulu ada apa nggak tiap mau baca buku yang saya pengen. Karena di kota kecil ini nggak ada toko buku ya nyarinya di online. Kecuali emang untuk beberapa waktu kadang suka kangen sama gramedia, akhirnya mampir, lihat-lihat sekitar sejam belinya cuma satu. haha.. soalnya emang jelas nggak ada diskon dan harganya makin kesini makin melambung.

    Btw, kalau mau nyari buku bekas bisa di Facebook juga mbak, cari aja grup jual beli buku, tapi tetep harus cek bener2 penjualnya amanah apa nggak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa selain memperpanjang usia buku juga bisa lebih murah kan yaa.
      Ternyata akses kita terhadap buku2 bagus masih tetep terbatas ya? Di Gramed aja kalau buku terjemahan udah hampir pasti nggak kubeli kecuali tau kalau penerjemahnya bagus. Jadi ya memang solusinya si nyari bekas dulu. Ada juga di IG tuh fatchickenbooks buat buku2 impor terutama. Lumayan lah buat liat2.

      Kalo main ke toko buku kan tujuannya seringkali healing mas, bukan beli wkwkwkkw

      Di FB tuh kayaknya semua ada ya? Mungkin aku harus cek grup jual beli buku bekas di sana. Makasih lho infonya mas.

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Romanticizing My Cooking

Bakso I have to admit that my love for cooking is growing. It's growing and I can't believe it myself. This feeling has been like this since probably two years ago. Before, cooking felt like a hard work that I had to fulfill. It still is, but the difference is I enjoy it now. So it does not feel like I am forcing myself.  Back then whenever I cooked, it's either wrong recipe or incorrect measurement. It never tasted right. So I gave up cooking just because I never found the right one. And then I started to feel that I wanna eat better. I don't want to just eat whatever, I want to know what goes into my body. If I prepare it myself, then I know it's good one.  I don't eat too much sugar, sometimes it is hard to buy one thing outside and has a lot of sugar in it. So cooking it myself will allow me to control the amount of sugar. So I found recipes and I tried to make them. As to my surprise, they taste right! Exactly how they should have tasted. That made me happy

Mengenal Nyai, Eyang Buyut Orang Indo Kebanyakan

  Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya tentang darah campuran Eropa, saya pernah janji nulis tentang orang Indo dan Nyai, nenek buyut dari para Indo kebanyakan. Sekarang kita liat definisi dari Indo sendiri. Jadi Indo (Indo-Europeaan atau Eropa Hindia) adalah para keturunan yang hidup di Hindia Belanda (Indonesia) atau di Eropa yang merupakan keturunan dari orang Indonesia dengan orang Eropa (Kebanyakan Belanda, Jerman, Prancis, Belgia). Itulah kenapa saya agak risih mendengar orang menyebut Indonesia dengan singkatan Indo. Karena kedua hal itu beda definisi dan arti. Sekarang apa itu Nyai? Apa definisi dari Nyai? Nyai adalah seorang perempuan pribumi (bisa jadi orang Indonesia asli), Tionghoa dan Jepang yang hidup bersama lelaki Eropa di masa Hindia Belanda. Hidup bersama atau samenleven yang artinya kumpul kebo, tidak menikah. Fungsinya nyai itu apa? Fungsinya diatas seorang baboe dan dibawah seorang istri, tapi wajib melakukan kewajiban seorang baboe dan istri. Karena mem

[Piknik] Prambanan lagi

Salah satu pesona Jawa Tengah adalah Candi Prambanan. Saya sudah 3 kali berkunjung ke situs warisan dunia ini. Candi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan jogja ini selalu menimbulkan kesan mistis bagi saya. Terletak tak jauh dari jalan raya, sehingga mengunjunginya pun sangat mudah. Berbeda dengan Candi Borobudur yang letaknya sangat jauh dari jalan raya besar.  Ok, menurut saya ada 3 cara menuju candi ini. Menggunakan bus transjogja, taksi, dan kendaraan pribadi. Bagi yang menggunakan transjogja, saya pernah menggunakannya berangkat dari daerah kampus UNY, daerah Depok Sleman. 1 kali transit, 2 kali berganti bus. Dengan harga transjogja yang kala itu, 2014, seharga 3500 rupiah. Tapi sampai saat ini masih sama harganya, menurut info dari teman. Lokasi shelter bis berada agak jauh dari pintu masuk lokasi candi, mungkin kira-kira 500meter sampai 1kilometer. Kalau jalan, menghabiskan waktu sekitar 15-20menit. Bisa juga naik becak untuk opsi yang lain. Lagi-lagi, jangan lupa men