Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Tips Membeli Buku

Ada duitnya wkwkw!

Ya maksud gw, harga buku di Indonesia bisa dibilang nggak murah terutama buku yang berbahasa asli misalnya Bahasa Inggris. Buku cetakan versi asli biasanya harganya bisa 2 kali harga buku terjemahannya, atau dua-tiga kali harga e-book. Ini e-book yang original ya, bukan yang bajakan. Kayak semacem beli di kindle atau books-nya google itu. 

Kadang emang sering pengen beli fisik bukunya tapi kok harganya sampe 300ribu banget, sedangkan hasrat ingin membaca ini tinggi sekali. Nah, kalau skenario yang begini yang terjadi (dan paling sering), gw biasanya cek toko buku bekas dulu. Di Bali ada beberapa toko buku bekas yang reliable, meskipun koleksinya kita nggak akan tau ya karena ya random juga. Satu di Sanur, satu di Ubud. 

Ini karena kapan hari gw udah beli bukunya Madeline yang Song of Achilles di Periplus, 200ribuan. Lalu nemuin bekasnya dengan sampul yang gw mau, cuma 25ribu. Jadi gw udah beli yang baru, beberapa hari kemudian gw ke toko buku bekas dan nemu itu. Setengah nangis ya karena yaampun 1/10 harga asli banget! 

Buku yang kiri itu masing-masing gw beli 25ribuan. Meski loncat-loncat tapi lumayan gw udah punya 2 koleksi House of Olympus 😂

Sejak itu gw selalu cek toko buku bekas dulu sebelum beli yang baru. 

Nah toko buku bekas ini biasanya unik. Di Ubud ada toko buku bekas namanya Ganesha. Harganya emang rerata masih "cuma" setengah harga yang baru. Tapi, kalau beli di situ dan udah selesai baca, bisa dijual di situ lagi dengan harga setengahnya lagi. Jadi misal harga bekasnya 50 ribu, kita udah selesai baca kita jual lagi ke sana, kita bisa jual dg harga 25 ribu. Ini keren juga sih. Toko bukunya tetep dapet untung, kita juga kalo misal nggak mau bawa pulang bukunya masih bisa dapet setengah harga. Ibarat minjem buku dg harga 1/4 harga asli. Tapi ya tentunya itu tidak penting bagi gw karena gw selalu simpen buku gw 😁

Kalau emang lebih ingin baca di kindle atau di layar, harga kindle cenderung masih sama dengan yang asli. Nggak sebeda jauh dari harga playbooknya google. Dia punya harga yang bisa potong setengahnya (rata-rata). Paling juga beda harga kalau beda sampul aja. Karena desain juga bayar ya. Nah, opsi gw kalau gw nggak ada budget buat beli yang baru versi asli, nggak nemu bekasnya, atau gw lagi nggak di Indonesia sedangkan buku yang gw mau cetakan Indonesia aja, ya gw beli dari playbook. Sering juga dia kasih diskon 40ribu buat pembelian pertama, dg harga buku di atas 70ribu. Lumayan tho. 

Opsi lain kalau nggak mau beli, ya pinjem dari aplikasi kayak ipusnas gitu. Tapi biasanya buku-buku best seller tuh antrinyaa lama kali. Udah gitu juga kalau udah dapet antrian dibatasi waktu bacanya. Kurang cocok buat gw, tapi cocok kalau misal nggak pengen koleksi tapi pengen baca.

Nggak terlalu suka baca on screen, jadi cuma punya 5 koleksi. Yang Ugly Love di akun lain krn dapet diskonnya di sana haha

Sebisa mungkin gw nggak beli yang bajakan lagi. Karena gw tau menulis itu perjuangannya panjang, dapetnya juga cuma dikit. Sebisa mungkin gw selalu beli yang asli, ntah baru atau bekas yang penting asli. Tapi ada temen gw yang kasih perspektif "Ya kalau penulisnya masih idup sih gw pasti beli yang asli. Kalau penulisnya udah meninggal mah ngapain kita memperkaya publisher" 😂 Gw kaget dengernya tapi juga agak setuju lol! 

Tapi gw tetep berpegang teguh pada originalitas sebuah buku. Kalau nggak mampu beli sekarang, ya nabung dulu buat dibeli di masa depan. 

Comments

  1. Beli buku di toko bekas emang jadi pilihan utama buat saya juga mbak 😁 btw, saya hampir selalu ngincer buku bekasnya dulu ada apa nggak tiap mau baca buku yang saya pengen. Karena di kota kecil ini nggak ada toko buku ya nyarinya di online. Kecuali emang untuk beberapa waktu kadang suka kangen sama gramedia, akhirnya mampir, lihat-lihat sekitar sejam belinya cuma satu. haha.. soalnya emang jelas nggak ada diskon dan harganya makin kesini makin melambung.

    Btw, kalau mau nyari buku bekas bisa di Facebook juga mbak, cari aja grup jual beli buku, tapi tetep harus cek bener2 penjualnya amanah apa nggak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa selain memperpanjang usia buku juga bisa lebih murah kan yaa.
      Ternyata akses kita terhadap buku2 bagus masih tetep terbatas ya? Di Gramed aja kalau buku terjemahan udah hampir pasti nggak kubeli kecuali tau kalau penerjemahnya bagus. Jadi ya memang solusinya si nyari bekas dulu. Ada juga di IG tuh fatchickenbooks buat buku2 impor terutama. Lumayan lah buat liat2.

      Kalo main ke toko buku kan tujuannya seringkali healing mas, bukan beli wkwkwkkw

      Di FB tuh kayaknya semua ada ya? Mungkin aku harus cek grup jual beli buku bekas di sana. Makasih lho infonya mas.

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Getting my Hands on Film Camera

In attempts to slow_myself_down_away_from_digital_life, I am getting my hands on film camera. Yes, the kind of camera where you need to put the film roll in and then start snapping. If you are lucky, the pictures will turn up good but if not then we let the fate decide. This is not my first rodeo on using film camera, but it definitely is the first ever to buy the film and develop it using my own money. It is not cheap, which I know.  What can I say, it's an expensive hobby.  I used my first film roll to take photos of my favorite people. So it has more human than random pictures. It was on family event. After the last shot, I wanted to develop it before I flew to Bali but they had no lab. Luckily we have the lab in Bali. I developed and scanned the film in Ojisanfilmlab Bali. They're just a google away. They sell the roll as well. I had to tell the TSA to do the hand checking rather putting it through the scanner. They understood.  Cimol hides himself in his favorite sp...

Pengalaman Bikin (Free) Schengen Visa di VFS Swiss

I know this is so normal but anyway I like to compare the experiences because people might have different cases and because I have nothing to lose so... here's my experience for applying Schengen Visa via Swiss (VFS). Kenapa nggak via Belanda? Karena rencana kita berkunjung lamanya ke Geneve - Swiss (ada urusan kerjaan suami gw) dan kami belum tau akan ke Belanda apa nggak saat itu (nggak jadi sih soalnya mepet banget).  Seperti yang sudah sering dibahas orang lain perihal syarat dan ketentuan apply Schengen visa, gw nggak akan nulis itu ya. Udah ada di website VFS, lengkap. Gw cuma tambahin dikit-dikit aja infonya yang mungkin sama seperti kasus yang baca kalo emang kebetulan sama sih 😂 "Ok jadi total pembayarannya 280 ribu rupiah ya" "HAH?? Cuma 200an mbak??? Visanya gratis???" "Suaminya masih WN Belanda kan mbak?" "Iya" "Oiya itu gratis, bisa pake visa tipe C. Jadi cuma bayar biaya admin aja" ...