Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Bacaan Hingga Pertengahan 2022

Periplus

Semangat gw membaca kembali berkobar karena ada saingan. Iya, gw jadi kompetitif kalo ada orang ngelakuin hal yang gw seneng. Tapi bukan iri yang negatif ya, ini bener-bener dukungan yang gw perlukan sih jadi gw bisa dapet referensi bacaan juga. Siapa lagi kalo bukan Prisca temen gw yang tiba-tiba WA, "BEB BUKU INI BAGUS, LAU HARUS BELI!"

Bagus sekali. Splurging banget kalo soal buku. Hal yang mau ngabisin duit berapapun, suami, ortu, dan semesta akan selalu mendukungku 😂

Jadi sejak gw memutuskan untuk membaca buku fiksi dan self help bergantian, otak gw rasanya fresh banget. Kadang memang buku-buku nonfiksi itu bikin wah otak tapi juga bikin capek karena kita "dibebani" sedikit dengan melakukan koreksi terhadap hidup kita. Nggak salah, emang seharusnya begitu, cuma pada satu titik ngerasa capek. Itulah pertanda berpindah ke buku fiksi. 

Buku-buku yang gw baca memiliki kecenderungan menggelitik cara berpikir gw. Gw nggak takut kalau gw harus meruntuhkan "kepercayaan" gw untuk mendapatkan cara pandang yang baru. Karena mengenal perspektif yang lain itu menyenangkan sekali. Bisa tau alasan di balik hal-hal yang dilakukannya, dan nggak jadi asal judging. 

Oke, ini buku-buku yang udah gw baca sampai Mei 2022. Januari lalu gw udah selesaikan Dunia Sophie. Lalu gw lanjutin ke buku-buku berikut. 


Love for the imperfect things - Haenim Sunim. Jujur gw lebih suka banget sama yang Everything we can see when we slow down. Tapi buku ini juga nggak kalah keren. Karena kadang kita luput ngeliat hal-hal kecil di sekeliling kita yang bisa bikin kita bahagia. Mengenal diri kita sendiri dan jujur ke diri sendiri adalah hal yang harus kita lakukan. Fokus ke dalam dulu, bahagia ke dalam diri sendiri dulu, barulah kita akan bisa menerima hal-hal dari luar. 


How to See - Thich Nhat Hanh. Buku ini juga mengajarkan kita cara melihat sesuatu yang menurut konstruksi sosial bisa aja nggak wajar, tapi ada makna tersembunyi darinya. Perspektif dan menjadi lebih mindful.


Somewhere Only We Know - Alex Thian. Buku ini sebenernya hadiah dari temen gw waktu gw mau pindah Bali. Buku adalah hadiah yang gw bakalan cheerish banget sampe kapanpun. Meskipun buku ini bukan my cup of tea tapi gw setuju sama kutipan di atas. Karena gw baru-baru ini ngerti rasanya.


Aku lala padamu - Sujiwo Tedjo. Siapa yang nggak tau mbah nyentrik yang satu ini. Tulisannya seringkali bikin, "HAH MAKSUDNYA?" tapi sekalinya klik, pasti langsung ngangguk-angguk setuju.



Laut Bercerita - Leila S Chudori. Sempet maju mundur gw beli nggak ya, sampai Prisca baca baru gw beli. Karena kata orang sedih, jadi kan gw kek aduh lah jangan sedih-sedih. Ternyata bagus! Latar belakang penculikan mahasiswa tahun 1998 yang nasibnya nggak diketahui sampai sekarang. Gw nangis di beberapa halaman terakhir, ngebayangin mereka yg nggak tau nasib anak, suaminya, keluarganya. Masih hidup atau sudah mati. Satu hal yang gw pertanyakan, orang-orang yg menyiksa dan menghilangkan mereka ini, apakah bisa hidup tenang sampai sekarang? Apa bisa tidur dan nggak dapet mimpi buruk? 


It Ends With Us - Colleen Hoover. Setelah gagal bertahan, akhirnya gw beli juga buku ini. Ini satu-satunya buku yang bikin gw nangis sesenggukan hampir di tiap halamannya. Nggak cuma sesenggukan tapi ya ketawa, terharu, ya macem-macem semua emosi gw diaduk banget di sini. Karena gw ngerasain banget gimana cintanya Ryle ke Lily. Ya beruntungnya gw nggak ngalamin abusive-nya. Tapi cinta dua insan itu gw tau rasanya gimana. Ternyata setelah selesai baca baru tau kalau ini menceritakan bagian hidup dari penulis juga. Makanya bener-bener ngerasa raw banget. Ketarik banget ke pusaran buku. Buku ini ada lanjutannya bulan Oktober besok. It Starts With Us. Udah nggak sabar pengen beli! 


Tuhan ada di hatimu - Husein Ja'far Al Hadar. Si pemuda tersesat satu ini jadi salah satu favorit gw karena penyampaian ilmunya yang nggak ndakik-ndakik, pake logika dan nggak cuma dalil aja, gaya bercerita yang fun banget. Yang paling penting, nggak mengkafir-kafirkan orang. Worth to read banget! 

Gw masih punya beberapa buku yang ngantri buat diselesaikan juga. Untuk versi buku berbahasa Inggris gw sebisa mungkin beli versi non-Indonesia karena trauma terjemahannya yang rusak. Karena buku bagus dg terjemahan hancur itu bisa bikin patah hati sepatah-patahnya. 

Jadi kalian udah baca buku apa aja? Ada yang bisa direkomendasikan ke gw nggak?

Comments

Popular posts from this blog

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Jumat ceria

Hari ini memang bukan hari jumat, tapi cuman mau bilang aja sih kalo hari yang paling aku tunggu-tunggu itu hari jumat. Why?   Karena jumat itu selalu ceria, kalopun ada meeting besar pasti di hari jumat dan banyak cemilan, orang-orang pada berangkat sholat jumat, yang nasrani juga mengikuti misa di kantor, bisa pake baju bebas dan bebas berekspresi sepuas-puasnya, dan..... bisa video call sepuasnyaaaaaa kapanpun karena dia libur kerja 😍😍 gambarnya lucu 😁  taken from internet

Sudah Vaksin Covid Lengkap

Sei sapi yang kucintai Yes, it's my biggest flex this year.  Setelah vaksin pertama akhir Mei kemarin, akhirnya gw udah dapet suntikan kedua tanggal 21 Agustus 2021. Cantik kan tanggalnya?  Masih di RS yang sama, Surya Husadha, kali ini gw berangkat pagi. Yaa... 15 menit lebih pagi daripada vaksin pertama 😬 Karena gw ketiduran, seperti biasa. Hari itu hari sabtu, memang sengaja milih akhir pekan waktu vaksin pertama. Kita nggak tau efeknya bakalan gimana kan.  Vaksin pertama gw bisa bilang hampir ga ada efek apapun sih. Cuma ke UGD aja hari ketiga karena asam lambung naik banget. Setelah gw inget-inget, gw emang nggak banyak makan setelah vaksin malah gegoleran dan kata dokternya "Kalau abis vaksin tuh makan mbak yang banyak, protein yang banyak, jangan malah ga makan. Jadinya asam lambung naik kan?" Yasudah abis disuntik ranitidin, sejam juga gw udah mendingan.  Jadi gw bertekad "Ok setelah vaksin kedua, gw harus makan yang banyak!!!" Setelah gw datang di RS,...