Skip to main content

Romanticizing My Cooking

Bakso I have to admit that my love for cooking is growing. It's growing and I can't believe it myself. This feeling has been like this since probably two years ago. Before, cooking felt like a hard work that I had to fulfill. It still is, but the difference is I enjoy it now. So it does not feel like I am forcing myself.  Back then whenever I cooked, it's either wrong recipe or incorrect measurement. It never tasted right. So I gave up cooking just because I never found the right one. And then I started to feel that I wanna eat better. I don't want to just eat whatever, I want to know what goes into my body. If I prepare it myself, then I know it's good one.  I don't eat too much sugar, sometimes it is hard to buy one thing outside and has a lot of sugar in it. So cooking it myself will allow me to control the amount of sugar. So I found recipes and I tried to make them. As to my surprise, they taste right! Exactly how they should have tasted. That made me happy

BUKU

Ganesha - Ubud. Toko buku favorit, sering jual buku antik.

Benda yang gw sayang banget yaa buku-buku gw. Gw mau minjemin buku gw, tapi kalau buku gw diminta orang... hmmm... nggak dulu deh ya. Kalau minjemin pun pasti mikir-mikir dulu, orangnya bertanggungjawab apa nggak hehehee.

Dari kecil, orangtua gw selalu minta untuk berhemat ya karena kita memang dari keluarga yang biasa saja. Uang jajan gw biasanya setengah dari uang jajan temen-temen gw. Bukannya mereka pelit, ya emang dibiasain hidup gak foya-foya aja. Lagian juga gw nggak punya alasan kan, karena belum punya duit sendiri haha! 

Tapi kalau soal buku, nggak usah ditanya. Semahal apapun pasti dibeliin kalo emang perlu. Royal banget kalo soalan buku. Karena prinsip mereka, "Orangtua kamu ini nggak kaya, nggak mampu ngasih kamu duit banyak. Tapi kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk memberi kamu pendidikan terbaik yang kamu bisa dapatkan. Buku salah satunya. Jadi nggak boleh pelit."

Betul, nilai kehidupan tersebut didapatkan dari kakek gw yang punya anak 8 orang (atau 7, gw sendiri lupa). Beliau pernah bilang ke gw, "Mbah ini nggak kaya, mbah cuma mampu ngasih anak pendidikan buat bekal mereka cari uang sendiri nanti. Kalau mbah kasih uang, pasti bakal habis. Tapi kalau dikasih pendidikan, uang bakal ngikut mereka."

Di titik kehidupan gw, dengan tingkat kedewasaan gw yang belum matang, gw bersyukur banget terlahir di keluarga yang memegang prinsip bahwa pendidikan adalah hal yang paling utama. Jadi gw terbiasa banget tumbuh bareng buku. 

Karena tumbuh dengan buku yang harganya tidak murah bagi pasar Indonesia, akhirnya gw selalu sayangi buku gw. Pasti gw rawat buku gw. Ya kalau perkara warna buku berubah sih nggak terhindarkan ya. Tapi gw nggak pernah terlantarin buku gw. 

Kebetulan juga suami gw ini tukang beli dan baca buku. Kalau gw sempet jadi pembaca rutin sampai pernah berhenti membaca selama bertahun-tahun dan berubah hobi jadi tukang beli buku. Tapi sejak 2021 September gw ngerasain joy membaca buku yang sempat hilang. Suami gw, saking banyaknya bukunya, bener-bener BUANYAK banget bukunya, sekarang tiap habis beli - baca - tinggal. Tinggal dalam artian, di mana dia selesai membaca buku itu, ya buku itu akan ditinggal di tempat itu. Kan gw nggak gitu ya! Sayang banget harga buku tuh mahal bagi gw. Itu anggap aja sebesar 2-5% dari pendapatan bulanan. Sedangkan bagi suami gw, tiap beli buku hanya mengeluarkan 0.2% saja dari pendapatannya. KAN BEDA BANGET! 

Kemarin gw baca Percy Jackson habis dalam waktu 5 hari. Gw minta series keduanya. Pertanyaan suami gw, "Yaudah tinggal aja di sini, koper juga udah nggak muat dimasukin buku." Ya allah sayang banget, ini bisa jadi koleksi lho 😂 Jadi sekarang tiap gw liat buku bagusnya dia, pasti gw minta kalau dia udah selesai baca. Tentu saja biar gw tumpuk di rumah 😂

Ngomong-ngomong soal buku, gw sekarang baca buku diselang-seling satu fiksi satu non-fiksi dalam waktu bersamaan atau setiap habis baca satu fiksi, besoknya ke non-fiksi. Otak gw jadi lebih seger. Akhir-akhir ini banyak banget bacaan bagus buat gw yang menurut gw orang harus baca sih. Gw kasih rekomendasinya dikit-dikit ya, siapa tahu tertarik. 


The Things You Can See Only When You Slow Down - Haemin Sunim. Buku ini soal kita yang melulu "sibuk" tapi nggak pernah mikirin esensi kehidupan ini apa sih. Buku ini cocok buat yang lagi mengalami banyak pertanyaan dalam hidup. Coba dipahami, hidup ini lebih dari sekadar punya rumah, mobil mewah, status dan jabatan. It's deeper than that. 

Dunia Sophie - Jostein Gaarder. Gw penyuka tulisan Gaarder. Buku ini gw beli tahun 2016, tau buku ini dari sobat gw anak sastra yang dapat PR baca buku ini. Lama banget karena temen gw bilang kalau buku ini "berat" (literally - metaphorically). Ya memang nggak ringan, tapi ya nggak yang berat banget sampai nggak bisa ngabisin gitu. Selesai baca 3 mingguan. Isinya tentang filsafat kehidupan dari jaman Romawi kuno sampai yang terbaru di dunia kita.


Brief Answers to the Big Questions - Stephen Hawking. Ini buku wajib banget dibaca semua orang agar kita mencoba mengulik hal yang paling remeh dalam hidup, bisa menjadi hal paling dalam yang harus dijawab. Nggak kok, beliau nggak ngajarin buat jadi ateis. Beliau memang atheis, tapi tulisan dan otaknya sungguh brilian sekali. Kita beruntung memilikinya sebagai salah satu ilmuwan. 

The School of Life - Alain de Botton. Ini tentang yaaa... kehidupan. Mengenal diri sendiri, mengendalikan emosi diri, ego diri, melihat semua hal dari perspektif yang lain. BAGUS. Seperti tuntunan hidup.


The Alchemist - Paulo Choelho. This is my favorite ever! Karena gw ngerasain apa yang dia tulis. 

Loving the Wounded Soul - Regis Machdy. Cerita tentang Regis yang mengalami depresi tahunan. Gw nyelesein buku ini dalam waktu 3 hari. Kalau dirapel sih bisa cuma 4 jam kelar. Karena gw ngalamin apa yang ditulis Regis. Masa-masa krisis, depresif, meskipun nggak separah Regis tapi gw tahu gimana perasaan itu. Kebetulan gw udah mulai menuju ke arah yang lebih baik, secara mental. Makanya gw bisa baca cepet. Temen gw yang lagi mengalami masa ini, dia baca udah berbulan-bulan karena keadaan mentalnya sedang tidak baik-baik saja, mengerti apa yang dialami Regis dan akhirnya belum mampu menyelesaikannya. Karena memang berat buku ini. Menurut gw, ini buku wajib dibaca semua orang agar kita semua bisa berdamai dengan luka dari masa lalu yang mempengaruhi kehidupan sekarang. 

Yaudah itu aja dulu. Kalau fiksi mah, tergantung selera masing-masing ya. Kasih tahu dong buku rekomendasi kalian apa. Kali aja sesuai selera baca gw 😍


Comments

  1. Bacaannya berat2 banget ya Mbak , kalo saya malah bacaannya kebanyakan muter2 di genre horror sama komedi 😁

    Btw, saya juga tipe yang sayang banget sama buku, bahkan kalo lagi niat komik yang volumenya banyak itu saya plastikin lagi jadi satu biar lebih terawat dan aman dari debu, dulu juga suka nyampulin novel pake sampul bening. Tapi sekarang karena kebanyakan beli buku udah nggak sanggup lagi 😄

    Berarti Mbak Prisca ini koleksi bukunya pasti luar biasa ya 😄, apalagi walaupun harganya mahal nggak gentar kalau buat buku, ditambah suami juga hobi baca, ah surga banget 😄

    ReplyDelete
    Replies
    1. HAHA nggak juga mas. Kalau fiksi kan relatif yaa suka nggaknya, kalo non-fiksi kayaknya lebih bisa terukur deh. Mungkin ya wkwkw

      Rekomendasiin bacaan humor dong mas. Udah lama nih gak baca yg konyol2. Aku suka baca yg begituan juga, soalnya cepet banget sejam dua jam kelar dan bahagia ngakak trus. Eh yg horor deh sekalian. Terakhir baca yg horor kayaknya pas SMA deh.

      Tapi emang nyampulin buku, kek melindunginya dari debu dan jamur tuh nyenengin banget ya. Apalagi pas liat tumpukan rapi gitu, rasanya kayak pencapaian aja. Ku juga rajin nyampulin buku. Paling suka sih nyobek plastik buku baru. Tapi males nyampah plastik abisnya wkwk

      Koleksi bukunya suamiku sendiri udah bisa buat perpus. Sayang ada di negaranya sana, kalo di drop kesini semua bisa-bisa bayar pajak masuknya lebih gede dari ongkirnya hahaha!

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Romanticizing My Cooking

Bakso I have to admit that my love for cooking is growing. It's growing and I can't believe it myself. This feeling has been like this since probably two years ago. Before, cooking felt like a hard work that I had to fulfill. It still is, but the difference is I enjoy it now. So it does not feel like I am forcing myself.  Back then whenever I cooked, it's either wrong recipe or incorrect measurement. It never tasted right. So I gave up cooking just because I never found the right one. And then I started to feel that I wanna eat better. I don't want to just eat whatever, I want to know what goes into my body. If I prepare it myself, then I know it's good one.  I don't eat too much sugar, sometimes it is hard to buy one thing outside and has a lot of sugar in it. So cooking it myself will allow me to control the amount of sugar. So I found recipes and I tried to make them. As to my surprise, they taste right! Exactly how they should have tasted. That made me happy

Mengenal Nyai, Eyang Buyut Orang Indo Kebanyakan

  Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya tentang darah campuran Eropa, saya pernah janji nulis tentang orang Indo dan Nyai, nenek buyut dari para Indo kebanyakan. Sekarang kita liat definisi dari Indo sendiri. Jadi Indo (Indo-Europeaan atau Eropa Hindia) adalah para keturunan yang hidup di Hindia Belanda (Indonesia) atau di Eropa yang merupakan keturunan dari orang Indonesia dengan orang Eropa (Kebanyakan Belanda, Jerman, Prancis, Belgia). Itulah kenapa saya agak risih mendengar orang menyebut Indonesia dengan singkatan Indo. Karena kedua hal itu beda definisi dan arti. Sekarang apa itu Nyai? Apa definisi dari Nyai? Nyai adalah seorang perempuan pribumi (bisa jadi orang Indonesia asli), Tionghoa dan Jepang yang hidup bersama lelaki Eropa di masa Hindia Belanda. Hidup bersama atau samenleven yang artinya kumpul kebo, tidak menikah. Fungsinya nyai itu apa? Fungsinya diatas seorang baboe dan dibawah seorang istri, tapi wajib melakukan kewajiban seorang baboe dan istri. Karena mem

[Piknik] Prambanan lagi

Salah satu pesona Jawa Tengah adalah Candi Prambanan. Saya sudah 3 kali berkunjung ke situs warisan dunia ini. Candi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan jogja ini selalu menimbulkan kesan mistis bagi saya. Terletak tak jauh dari jalan raya, sehingga mengunjunginya pun sangat mudah. Berbeda dengan Candi Borobudur yang letaknya sangat jauh dari jalan raya besar.  Ok, menurut saya ada 3 cara menuju candi ini. Menggunakan bus transjogja, taksi, dan kendaraan pribadi. Bagi yang menggunakan transjogja, saya pernah menggunakannya berangkat dari daerah kampus UNY, daerah Depok Sleman. 1 kali transit, 2 kali berganti bus. Dengan harga transjogja yang kala itu, 2014, seharga 3500 rupiah. Tapi sampai saat ini masih sama harganya, menurut info dari teman. Lokasi shelter bis berada agak jauh dari pintu masuk lokasi candi, mungkin kira-kira 500meter sampai 1kilometer. Kalau jalan, menghabiskan waktu sekitar 15-20menit. Bisa juga naik becak untuk opsi yang lain. Lagi-lagi, jangan lupa men