Skip to main content

BUKU

Ganesha - Ubud. Toko buku favorit, sering jual buku antik. Benda yang gw sayang banget yaa buku-buku gw. Gw mau minjemin buku gw, tapi kalau buku gw diminta orang... hmmm... nggak dulu deh ya. Kalau minjemin pun pasti mikir-mikir dulu, orangnya bertanggungjawab apa nggak hehehee. Dari kecil, orangtua gw selalu minta untuk berhemat ya karena kita memang dari keluarga yang biasa saja. Uang jajan gw biasanya setengah dari uang jajan temen-temen gw. Bukannya mereka pelit, ya emang dibiasain hidup gak foya-foya aja. Lagian juga gw nggak punya alasan kan, karena belum punya duit sendiri haha!  Tapi kalau soal buku, nggak usah ditanya. Semahal apapun pasti dibeliin kalo emang perlu. Royal banget kalo soalan buku. Karena prinsip mereka, "Orangtua kamu ini nggak kaya, nggak mampu ngasih kamu duit banyak. Tapi kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk memberi kamu pendidikan terbaik yang kamu bisa dapatkan. Buku salah satunya. Jadi nggak boleh pelit." Betul, nilai kehidupan tersebut

Melihat dari Kacamata yang Berbeda

Jalan Veteran - UM

Dua minggu gw di Jawa. Rencana awal hanya pulang karena sepupu menikah, tapi ternyata diperpanjang sampai 2 minggu gegara tiket penerbangan yang tiba-tiba 2,5 juta dan 7 juta lol. 

Gw pakai kesempatan ini untuk ketemu temen-temen gw. Temen deket gw yang udah lama banget nggak ketemu. Tadinya sih nggak mau woro-woro agar ku tak perlu banyak keluar rumah dan yaa gw nggak suka juga terlalu banyak keluar rumah. Panas banget hey, jalanan padat pula. Paling juga keluar karena gw pengen makan makanan yang gw nggak bisa dapet di Bali. 


Tapi, ketemu temen-temen deket gw bener-bener hal yang bikin melek pikiran. Banyak banget perubahan mereka, menjadi pribadi yang lebih hebat dan gw terpesona dengan perkembangan mental mereka. Kita banyak cerita soal kehidupan dan lain sebagainya. Kesemuanya merupakan hal-hal yang pantas dibicarakan untuk dipetik pelajarannya. Hebatnya lagi, mereka nggak menggurui sama sekali. Bangga banget gw, beruntung karena lingkaran pertemanan gw yang sehat dan tidak penuh racun.


Tibalah kita semua dengan obrolan personal kita dengan orang tua ataupun orang-orang yang satu generasi dengan orang tua kita. Bisa gw bilang, orang tua gw bukan orang tua yang banyak menuntut. Mereka lepaskan gw dengan harapan gw bisa mencari penghidupan gw sendiri, jalan hidup gw sendiri dan juga kebahagiaan gw sendiri. Bukan tipe orang tua yang “kamu jadi dokter aja biar mama papa bangga”. Thank god. 


Gw bisa tau Bahwa usia 30an mulai masuk ke prahara dengan orang tua yang bisa jadi tidak sejalan karena mereka yang mulai menua dan perlu “perhatian lebih” sedangkan kita berada di titik sibuk-sibuknya dengan kehidupan kita. Ntah dari sisi karir maupun sisi lainnya. Bisa jadi cara mereka menunjukkan bahwa mereka ingin diperhatikan dengan cara yang kurang cocok dengan kita. Jadinya tengkar terus.


Tangan anak temen gw, baru pertama kali ketemu dia udah genggam tangan gw begini.


Satu sisi kita ingin kebebasan menentukan cara hidup kita sendiri, di sisi lain kita juga berusaha agar tidak terlalu “menjauh” dari orang tua. Hingga tiba pada satu kesimpulan yang “Ya sudah, mereka sedang memahami permasalahan dari sudut pandang mereka, kita pun begitu. Bagi kita memang baiknya A, tapi bagi mereka C. Selagi kita bisa coba berkompromi dengan B tanpa menyakiti prinsip kita ya sudah lebih baik kita lakukan saja agar tidak terlalu menyakiti hati mereka”


Bagi gw, itu merupakan hal yang luar biasa. Dulunya gw nggak akan mau menurunkan ego untuk orang lain, tapi makin tua gw makin mikir “Iya, selagi bisa nggak bikin prahara dan nggak menyakiti prinsip hidup kita yasudahlah.” Bisa jadi yang kita lakukan hanyalah permainan bahasa saja, tapi kembali lagi ke tujuan awal, selagi nggak menyakiti banyak pihak ya sudah. Malas menginisiasi keributan juga. Selama nggak melukai prinsip hidup gw, nggak membawa keburukan dan nggak bikin gw mengorbankan kehidupan gw ya sudah.


Makin lama makin belajar soal melihat persoalan dari kacamata yang mana. Bisa jadi kacamata gw nggak cocok dipakai untuk setiap persoalan yang ada. Ya gw berdamai aja dengan keadaan. Nggak memaksa juga. Toh, benar maupun salah adalah hal yang relatif. Nggak ada yang benar-benar betul dan nggak ada yang benar-benar salah. Bisa jadi kami semua menginginkan hal yang sama namun beda cara penyampaian atau sudut pandang. 


Apa yang kita lihat dengan kacamata kita belum tentu sama dengan apa yang mereka lihat dengan kacamata mereka. 

Comments

Popular posts from this blog

BUKU

Ganesha - Ubud. Toko buku favorit, sering jual buku antik. Benda yang gw sayang banget yaa buku-buku gw. Gw mau minjemin buku gw, tapi kalau buku gw diminta orang... hmmm... nggak dulu deh ya. Kalau minjemin pun pasti mikir-mikir dulu, orangnya bertanggungjawab apa nggak hehehee. Dari kecil, orangtua gw selalu minta untuk berhemat ya karena kita memang dari keluarga yang biasa saja. Uang jajan gw biasanya setengah dari uang jajan temen-temen gw. Bukannya mereka pelit, ya emang dibiasain hidup gak foya-foya aja. Lagian juga gw nggak punya alasan kan, karena belum punya duit sendiri haha!  Tapi kalau soal buku, nggak usah ditanya. Semahal apapun pasti dibeliin kalo emang perlu. Royal banget kalo soalan buku. Karena prinsip mereka, "Orangtua kamu ini nggak kaya, nggak mampu ngasih kamu duit banyak. Tapi kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk memberi kamu pendidikan terbaik yang kamu bisa dapatkan. Buku salah satunya. Jadi nggak boleh pelit." Betul, nilai kehidupan tersebut

Lessons Learned in 2021

March '21. Me, during the lowest point of my life. Yes, I still smile and dead inside lol. 2021 is personally not an easy year. It's the year where I questioned my existence as a human being. I thought being a kind person was enough.  Obviously, I felt insecure when the closest person told me how I was not special, doing less than what I could. That triggered me and I started to ask myself "What am I doing on this earth? What's my purpose as a human? What am I going to do? What do I want to do? What do I want to become? What kind of future do I want? What am I?"  That person only became the trigger, yet the problems existed inside me. So I realized completely that it was about me, not someone else. There was something wrong with me. When I knew that the problem is me, I seek help. Lucky me (or should I say, unlucky me?), I didn't have those scary nights alone. My best friend went through the same, so we're kinda helping each other. Though the trigger was d

Ujian hari senin

Kejadian ini terjadi tepat senin minggu lalu. Baru kali itu aku merasa 'WOW.. ini senin yeay'. Karena biasanya 'haduhh udah senen lagi'. Kebayang kan kalo seneng begitu dihari senen menyambut pagi dan hari itu rasanya langka banget. Otomatis pengennya hari itu berlangsung indah. Jam setengah 9 pagi, seperti biasa ke pantry ambil minum bareng sama temen sebangku. Dia bikin teh, aku nyuci botol sekalian ngisi dong. Seperti biasa juga, kadang aku males sih nyuci botol dengan ritual lengkapnya, akhirnya cuman bilas pake air panas. Ya mungkin nggak sampe 50 ml juga. Dikit banget deh. Temen juga selalu bersihin gitu gelasnya pake air panas. Pic source is here Eh lakok lakok... si bapak pantry yang serem itu tiba-tiba bilang 'Gak bisa ya gak nyuci botol pake air panas? Tiap sore itu banyak komplain gara-gara airnya abis'. Yakaliii air abis tinggal isi aja, ibu yang dulu aja nggak pernah ada komplain. Ya aku bilang lah ini cuman dikit, lagian yang ngelakuin ini