Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Melihat dari Kacamata yang Berbeda


Dua minggu gw di Jawa. Rencana awal hanya pulang karena sepupu menikah, tapi ternyata diperpanjang sampai 2 minggu gegara tiket penerbangan yang tiba-tiba 2,5 juta dan 7 juta lol. 

Gw pakai kesempatan ini untuk ketemu temen-temen gw. Temen deket gw yang udah lama banget nggak ketemu. Tadinya sih nggak mau woro-woro agar ku tak perlu banyak keluar rumah dan yaa gw nggak suka juga terlalu banyak keluar rumah. Panas banget hey, jalanan padat pula. Paling juga keluar karena gw pengen makan makanan yang gw nggak bisa dapet di Bali. 


Tapi, ketemu temen-temen deket gw bener-bener hal yang bikin melek pikiran. Banyak banget perubahan mereka, menjadi pribadi yang lebih hebat dan gw terpesona dengan perkembangan mental mereka. Kita banyak cerita soal kehidupan dan lain sebagainya. Kesemuanya merupakan hal-hal yang pantas dibicarakan untuk dipetik pelajarannya. Hebatnya lagi, mereka nggak menggurui sama sekali. Bangga banget gw, beruntung karena lingkaran pertemanan gw yang sehat dan tidak penuh racun.


Tibalah kita semua dengan obrolan personal kita dengan orang tua ataupun orang-orang yang satu generasi dengan orang tua kita. Bisa gw bilang, orang tua gw bukan orang tua yang banyak menuntut. Mereka lepaskan gw dengan harapan gw bisa mencari penghidupan gw sendiri, jalan hidup gw sendiri dan juga kebahagiaan gw sendiri. Bukan tipe orang tua yang “kamu jadi dokter aja biar mama papa bangga”. Thank god. 


Gw bisa tau Bahwa usia 30an mulai masuk ke prahara dengan orang tua yang bisa jadi tidak sejalan karena mereka yang mulai menua dan perlu “perhatian lebih” sedangkan kita berada di titik sibuk-sibuknya dengan kehidupan kita. Ntah dari sisi karir maupun sisi lainnya. Bisa jadi cara mereka menunjukkan bahwa mereka ingin diperhatikan dengan cara yang kurang cocok dengan kita. Jadinya tengkar terus.


Tangan anak temen gw, baru pertama kali ketemu dia udah genggam tangan gw begini.


Satu sisi kita ingin kebebasan menentukan cara hidup kita sendiri, di sisi lain kita juga berusaha agar tidak terlalu “menjauh” dari orang tua. Hingga tiba pada satu kesimpulan yang “Ya sudah, mereka sedang memahami permasalahan dari sudut pandang mereka, kita pun begitu. Bagi kita memang baiknya A, tapi bagi mereka C. Selagi kita bisa coba berkompromi dengan B tanpa menyakiti prinsip kita ya sudah lebih baik kita lakukan saja agar tidak terlalu menyakiti hati mereka”


Bagi gw, itu merupakan hal yang luar biasa. Dulunya gw nggak akan mau menurunkan ego untuk orang lain, tapi makin tua gw makin mikir “Iya, selagi bisa nggak bikin prahara dan nggak menyakiti prinsip hidup kita yasudahlah.” Bisa jadi yang kita lakukan hanyalah permainan bahasa saja, tapi kembali lagi ke tujuan awal, selagi nggak menyakiti banyak pihak ya sudah. Malas menginisiasi keributan juga. Selama nggak melukai prinsip hidup gw, nggak membawa keburukan dan nggak bikin gw mengorbankan kehidupan gw ya sudah.


Makin lama makin belajar soal melihat persoalan dari kacamata yang mana. Bisa jadi kacamata gw nggak cocok dipakai untuk setiap persoalan yang ada. Ya gw berdamai aja dengan keadaan. Nggak memaksa juga. Toh, benar maupun salah adalah hal yang relatif. Nggak ada yang benar-benar betul dan nggak ada yang benar-benar salah. Bisa jadi kami semua menginginkan hal yang sama namun beda cara penyampaian atau sudut pandang. 


Apa yang kita lihat dengan kacamata kita belum tentu sama dengan apa yang mereka lihat dengan kacamata mereka. 

Comments

Popular posts from this blog

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Jumat ceria

Hari ini memang bukan hari jumat, tapi cuman mau bilang aja sih kalo hari yang paling aku tunggu-tunggu itu hari jumat. Why?   Karena jumat itu selalu ceria, kalopun ada meeting besar pasti di hari jumat dan banyak cemilan, orang-orang pada berangkat sholat jumat, yang nasrani juga mengikuti misa di kantor, bisa pake baju bebas dan bebas berekspresi sepuas-puasnya, dan..... bisa video call sepuasnyaaaaaa kapanpun karena dia libur kerja 😍😍 gambarnya lucu 😁  taken from internet

Seolah Kalian Tau Segalanya

'Ihiw, ada bahan obrolan baru buat dianalisa dan dinyinyirin nih. Si dia mau kawin sama bule. Duitnya banyak kali. Ato kalo gak gitu yaaa dia cuma buat mainan aja' Kita nggak akan pernah memuaskan hasrat banyak orang demi membuat mereka semua senang. Jika kita ingin membuat pasangan hidup kita bahagia, ya wajar, ya normal. Tapi tidak untuk membuat para suporter ataupun hanya penonton dalam hidup kita bahagia juga kah? Toh dari setiap langkah yang kita ambil, benar maupun salah juga masih saja bisa diambil celah salahnya untuk diwejangi ala mereka. Atau lebih bekennya, dinyinyirin. Mungkin beberapa tulisan saya tentang menikahi WNA banyak yang terdengar 'keras', maafkan saya yang sedang jengkel-jengkelnya. Menikah dengan orang yang berbeda yang datangnya ribuan miles jauhnya dari Indonesia juga bukan hal yang mudah, you know! Tapi orang dengan mudahnya saja melihat kita yang sedang jalan berdua dan bertanya, atau nyeletuk istilahnya, 'Guidenya ya mbak?'...