Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Menyatu Bersama Menjangan

regular visitor

Hore! Udah ketemu suami, udah fully charged. Hmmm nggak ding, nggak full banget soalnya saya sakit 😢

Tanggal 11 kemarin, HJ pilih untuk terbang langsung ke Bali. Dubai - Bali, rencananya sih pake Emirates tapi jam yang masuk akal itu Singapore air, jadilah pake SQ.

Stopover singkat di Singapore, dia berburu tas yang udah lama diincar di Dubai ternyata sold out, nemu di Spore. Thanks to Desi dan Andri yang udah mau muter buat ngecek availability nya tas itu. Nah saya nyampe Bali jam 10 pagi, HJ nyampe jam 11. Kata dia antri customnya panjang banget, jadi nunggu gitu, sejam kok ndak keluar-keluar ya... ternyata kopernya ga kebawa. Dua jam ditunggu tetep nggak ada kopernya. Akhirnya dia bikin laporan ke SQ kalo kopernya nggak keangkut. Yaudah deh saya nunggu lamaan lagi ya, eh tiba-tiba dia nongol geret kopernya juga. Untungnya kopernya diangkut penerbangan dari Singapore ke Bali yang nyampe jam 12. Tapi karena delay itu dia dapet kompensasi 500ribu, sembari bilang 'Wow, I got five red ones for the delay of my suitcase'.

Pak supir dari hotel telah menanti yang ntah mulai jam berapa, yang jelas dari Menjangan ke Denpasar itu jauh!

Setelah semua fix, kita langsung menuju hotel di Menjangan karena kita ambil PADI Diving course (Open water) sama Blue Season di Menjangan. Sekitar 5 jam dari Denpasar menuju Pemuteran. Bener-bener jauh dan malesnya kalo ke Bali ya gini ini. Segala-gala effortnya gede.

Setelah lima jam...

Sunset, kita langsung diturunkan di Lobi, yang kebetulan tempatnya di lantai satu Bali Bistro Tower.

Bali Bistro tower

 
itu gunung Ijen 

Jadi begini intinya, hotel ini letaknya di dalem hutan yang banyak menjangannya dan juga monyetnya, dan hewan-hewan lainnya. Saya nggak nyangka sih. Tempatnya asik banget, tenang, damai (kecuali pas keluarga monyet datang berkunjung).


 


 

Kebetulan kamar kita di upgrade ke beach villa, jadi semacem bungalow ngadep ke pantai gitu deh ya. Oh iya nama hotelnya The Menjangan. Letaknya bener-bener pisah dari mana-mana. Jadi jarak dari lobi ke bungalow kita itu 1,5 km an. Kalo mau jalan ke restoran, atau ke tempat lain, bisa dianter kendaraan khusus sana. Hotelnya juga mengusung konsep eco friendly yang sedotan aja nggak pake plastik (berujung kita beli 5 potong sedotan ini).

 
kamar dari depan menghadap pantai

 
pantai lagi surut

 

 

 
salam malam yang selalu berganti-ganti

 

 

 
balkon

 
beach club - maksudnya yang mau berjemur disini monggo... gw mah ogahhh

Lima hari disana, yang seharusnya dipake buat diving course tapi malah nggak jadi karena hari kedua setelah latihan pake SCUBA mendadak saya sakit tenggorokan dan batuk demam pilek. Nggak asik buat diving, lebih tepatnya kalo pilek nggak boleh diving sih. Akhirnya kita snorkeling aja di sekitar Pulau Menjangan. Uh helloooo I saw the baby sharks there 😚

 
sunset at Jetty

Di sekitar beach villa, dimana bungalow kita berada, ada Pantai Restoran, pusat diving juga disekitar situ, ada pula Jetty tempat yang yaaa oke lah buat berjemur buat para pengejar kulit tanned (bukan gw ya) dan juga disitu tempat snorkeling meskipun yang diliat nggak banyak, juga pusatnya water sport.

 

 

 

 


Hotel ini juga menyediakan horse riding buat yang pengen nyobain naek kuda. Ada juga mangrove spa, tempat pijetnya bener-bener di sekitaran mangrove. Jadi satu bilik untuk 2 orang menghadap ke pantai.

Tempatnya asik kok, alami banget, cuman ya isolated banget. Karena kampung terdekat pun jaraknya 15 menit dari hotel. Jadi mau nggak mau harus makan disana, no other option. Tapi cocok banget buat relaksasi. Bangun pagi-pagi, udah ada rusa di depan kamar. Siang dikit, udah banyak monyet kejar-kejaran rebutan kelapa. Mandinya outdoor diliatin squirrel dari kejauhan. Sarapan pagi bisa sambil liatin ikan-ikan yang renangnya keatas kebawah dibawah  meja kita. Sambil liat orang mancing ditengah laut sih dengan warna kapal yang kuning super mencolok.

Tapi karena musim hujan kali ya, jam 1 siang udah mulai deh hujan deres banget sampe malem. Malemnya lebih sering rintik-rintik. Jadi bawaanya pengen tidur terus 😄

Hotel ini mengusung tema ramah lingkungan yang hmmm botol air putih aja pakai yang kaca, sejenis equil gitu. Trus ada botol yang bisa dipakai untuk penghuni kamarnya, bisa diisi air dimanapun yang ada di resort. Ada pula recycled plastic bag untuk mengangkut semua barang kita buat snorkeling atau diving atau apapun sih terserah. Sebisa mungkin tempat ini mengurangi penggunaan plastik.



 

 

 
saya masih jatuh cinta sama reusable straw ini

Restoran yang ada disana pun menyediakan makanan sehat. Mana ada nasi putih? Nggak ada, yang ada nasi merah dan aku bukan fans berat nasi merah. Roti pun gandum. Setiap sebelum makan selalu dikasih mini jus sehat yang kalo pas sih enak dan menyehatkan, kalo nggak pas yaaa cukup sehat aja tapi nggak enak-enak bangett. HJ mah pemakan segala. Enak nggak enak kalo itu sehat pasti diembat.

 

 

 
roti gandum

 
nasi merah goreng 

 
paket lunch untuk diving course, memang plastik tapi bisa digunakan berkali-kali. Bukan kertas minyak maupun sterofoam yang sekali pakai.

Kita pun membicarakan tentang menggilanya plastik di Indonesia ini. Bener-bener ya, kita harus sudah mengurangi penggunaan plastik. Kasian lho alamnya. Bumi makin menua, dan makin kusam dengan plastik-plastik sampah kita. 

Yuk mari kurangi penggunaan plastik! Untuk masa depan yang lebih baik 😄

Comments

Popular posts from this blog

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Getting my Hands on Film Camera

In attempts to slow_myself_down_away_from_digital_life, I am getting my hands on film camera. Yes, the kind of camera where you need to put the film roll in and then start snapping. If you are lucky, the pictures will turn up good but if not then we let the fate decide. This is not my first rodeo on using film camera, but it definitely is the first ever to buy the film and develop it using my own money. It is not cheap, which I know.  What can I say, it's an expensive hobby.  I used my first film roll to take photos of my favorite people. So it has more human than random pictures. It was on family event. After the last shot, I wanted to develop it before I flew to Bali but they had no lab. Luckily we have the lab in Bali. I developed and scanned the film in Ojisanfilmlab Bali. They're just a google away. They sell the roll as well. I had to tell the TSA to do the hand checking rather putting it through the scanner. They understood.  Cimol hides himself in his favorite sp...

Taking a Train from Moscow City to Yaroslavky

walking to the wagon We chose deliberately in the winter to travel from Moscow to Yaroslavsky. In my defense, we kinda had to use the holiday a little bit. If we're waiting for the good weather, it probably not gonna happen for 3 months and then nothing again. So this trip was taken on February 2026. So we've decided to take a few days off going from Moscow to half of the golden ring. The name ring, means literally ring. Refers to a few cities that used to be very important in the past. Starting from Moscow city (where which we're coming from, technically). I have to mention the cities here anyway; Sergiyev Posad, Pereslavl Zalessky, Rostov Veliky, Yaroslavl, Kostroma, Ivanovo, Vladimir, and Suzdal. there will be info about the train  We took the train trip from Moscow. I would say it's the "normal type" of train. So we sat next to each other. Two seaters next to each other. I think my husband took the non-economy one. He booked the train from the app, tutu. T...